Senin, 17 Agustus 2015

You (Not) Always Get What You Give.

Prolog
Don’t give up
You’ve got a reason to live
Can’t forget
We only get what we give
(New Radicals, You Get What You Give)

Empat kalimat diatas adalah cuplikan dari salah satu lagu favorit saya. Penyanyinya yaitu sebuah band tahun 90an asal Amerika bernama New Radicals, walaupun saya mulai suka lagu ini semenjak jadi fans serial Glee. Judul lagunya ‘You Get What You Give”, entah kenapa judul lagu tersebut sangat menempel di kepala saya. Rasanya kalimat itu sangat tepat sehingga saya meyakininya, bahwa apa yang saya dapatkan adalah sama dengan apa yang telah saya berikan. Sampai hari ini ketika kalimat tersebut terasa tidak pas lagi. Tempat ini telah merevisi keyakinan saya. Karena di tempat ini saya merasa telah mendapatkan lebih dari apa yang telah dan bisa saya berikan untuk tempat ini dan seluruh penghuninya. Saya anggap disitulah letaknya kebaikan Tuhan yang rahmatnya memang tanpa batas. Ternyata you (not) always get what you give.

Awal Mula
Banyak orang menganalogikan hidup layaknya sebagai sebuah buku yang terdiri dari bab-bab dengan cerita yang saling sambung-menyambung. Jikalah memang demikian, maka bab kehidupan saya yang ini memiliki kisah yang cukup panjang. Tiga setengah tahun lamanya, entah setara dengan berapa halaman. Kalau suatu hari nanti cerita hidup saya memang dibukukan, dan kisah di bab ini dibaca orang, saya rasa mereka akan mendapatkan banyak keceriaan serta semangat belajar saat membacanya. Yaa ditambah dengan beberapa kekhawatiran dan kebingungan sih, karena segala sesuatunya tidak ada yang sempurna kan? Bab ini adalah bab tentang pengalaman saya bekerja di suatu perusahaan makanan bernama PT Nutrifood Indonesia. Dan per 14 Agustus 2015 kemarin, saya mengakhiri bab tersebut untuk memulai lagi bab baru di buku cerita kehidupan saya. Satu keputusan “ingin sekolah lagi” membuat bab ini harus diakhiri, dan cerita baru akan segera dimulai.
     
Awal mula keinginan sekolah kembali menghantui hidup saya (haha) ketika awal 2014 saya ditawari pindah ke bagian Water Treatment Plant di kantor. Memang sih, dari lulus S1 dulu saya punya rencana untuk suatu hari nanti saya mau melanjutkan pendidikan sampai jenjang S2. Tapi selama waktu berjalan, saya kembali mempertanyakan rencana tersebut karena saya jadi sering kepikiran “Apakah semua sarjana harus ngambil master? Kenapa sarjana harus kuliah lagi sih?”. Pada saat itu bagi saya pertanyaan ini penting karena menginjak usia “twenty something” kayaknya udah bukan saatnya melakukan sesuatu karena ikut arus, ngikutin orang, atau melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Nah, terjebak dalam pertanyaan tersebut membuat saya sejenak melupakan keinginan sekolah. Hingga di awal tahun 2014, ketika tawaran pindah ke bagian WTP yang benar-benar di luar rencana saya itu hinggap kepada saya, saya merasa diingatkan pada cita-cita yang lama, yaitu menjadi Enviromental Engineer. Iya, saya pernah dengan serius memikirkan keinginan ini saat SMA, tapi berbagai alasan membuat saya saat itu akhirnya memutuskan kuliah di jurusan yang lain, tapi juga sama sekali tidak saya sesali karena saya mendapatkan banyak berkah dari keputusan tersebut.  WTP memang tidak secara langsung berkaitan dengan Enviromental Engineer, tapi sejujurnya saat itu otak polos saya berpikir “Udah 4 tahun kuliah life science, kerja di perusahaan makanan, dari bagian RnD sampai Logistik, kok ujung-ujungnya ditawarin bagian WTP yang dikit-dikit  berkaitan dengan lingkungan ya?”. Paulo Coelho dalam buku The Alchemist mungkin menganggap kejadian seperti ini sebagai “pertanda”, sementara saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai petunjuk dari Yang Kuasa. Berbagai kontemplasi pun membuat saya semakin yakin bahwa 2015 saya mau kuliah. Keinginan ini benar-benar membuat saya bergerak, sehingga di tahun 2014 saya mulai browsing-browsing soal kuliah, apply beasiswa dan berbagai usaha lainnya, hingga pada akhirnya rezeki saya untuk balik lagi ke ITB, di jurusan Magister Teknik Lingkungan.

Selama waktu berjalan, ada kalanya saya merasa ragu akan keinginan tersebut. Kadang terpikir bisa jadi saya hanya asal mengait-ngaitkan. Sempat terpikir juga daripada nyari sekolah mending fokus nyari suami :p. Hingga suatu saat ada yang menampar saya dengan kata-katanya, dia bilang “mau sampai kapan ragu-ragu terus?” Wadezig! Diomongin kayak gitu dengan nada suara agak naik sama rasanya kayak ditampar bolak-balik. Akhirnya dengan mengucapkan bismillah, saya membulatkan niat saya untuk kuliah, dan menjalankan semua prosesnya. Dari proses apply sekolah, hingga proses resign dari kantor.

The Day
Hingga sampailah ke hari ini, 14 Agustus 2015, hari terakhir saya di kantor. Dari satu minggu sebelumnya sebenarnya saya udah sering mellow sendiri kalau ingat dalam waktu singkat saya akan meninggalkan segala rutinitas, pekerjaan, serta teman-teman di kantor. Padahal kalau mau logis, Bandung kan deket yee, kalau weekend juga bisa aja janjian dan ketemuan, tapi tetep aja baper (bawa perasaan). Yah, ternyata se-heartless-heartless-nya saya, tetep aja saya sedih ninggalin tempat ini.

Selama saya di kantor, saya cukup sering menghadiri acara farewell (dan sebagian besar farewell di Nutrifood menurut saya dibikin dengan niat banget). Kalau boleh jujur, sebenarnya saya nggak terlalu expect di hari terakhir saya di kantor bakal ada yang bikinin farewell, soalnya mengingat temen-temen se-departement saya (sebut saja Dodi dan Fahim :p), kayaknya mereka kurang sensitif gitu untuk bikin acara seperti farewell (hahaha peace yaa Dodi & Fahim). Eh, ternyata saya yang underestimate sama mereka, karena ternyata mereka sweet banget loh. Bersama beberapa teman yang lain mereka membuatkan saya dan Rani (seorang teman yang memutuskan untuk resign untuk kuliah lagi juga) sebuah acara farewell yang sangat berkesan untuk kami berdua. Kayaknya saya butuh sejuta kalimat untuk menjelaskan betapa berkesannya acara kemarin. Mudah-mudahan gambar-gambar ini bisa mendeskripsikan betapa bersyukurnya saya punya rekan kerja sekaligus teman-teman seperti mereka semua (thanks a lot ya guys untuk sharing foto-fotonya)




Jadi ceritanya tema farewellnya “Talkshow Hitam Putih” (foto kanan atas). Foto kiri atas itu saya dan Rani lagi foto sama MC kondang Dedy Dhiaksa Corbuzier dan Prima Jengkelin (the best MC ever di Nutrifood Ciawi deh ini). Kiri bawah, ceritanya Tahmid lagi menghibur kita semua dengan nyanyi lagu Jordan Hill yang “Remember Me This Way”. Aslinya bikin sedih. Terus kanan bawah itu foto kumpulan kado dari banyak orang di kantor. Farewell ini bikin perasaan saya campur aduk, terharu, senang dan yang paling dominan adalah perasaan penuh syukur karena Alloh menakdirkan saya untuk bekerja di Nutrifood.


Foto diatas mengabadikan saya bersama dua atasan saya, yaitu Pak Mursid dan Mbak Sonia. Tanpa mereka sadari saya banyak mengambil pelajaran dari bagaimana mereka memimpin saya dan rekan-rekan yang lain. Dan apa yang mereka sampaikan saat acara tersebut benar-benar saya anggap sebagai suatu penghargaan untuk diri saya sendiri. Apalagi waktu Pak Mursid bilang bahwa sampai saat ini dia merasa memberikan saya kepercayaan adalah suatu keputusan yang benar. Aduh itu rasanya mencelos aja gitu, lega aja dengernya :D


Bab Nutrifood di buku kehidupan saya menghadirkan banyak sekali tokoh yang memberikan warna sendiri-sendiri. Ada yang berperan sebagai panutan, sahabat, teman curhat, teman belajar, rekan kerja, dan lain sebagainya. Apapun peranan mereka, saya bersyukur karena mereka telah menjadi bagian dari buku cerita kehidupan saya. Dan berada satu tim dengan mereka semua, sejatinya adalah kehormatan bagi diri saya sendiri. Oiya, waktu farewell kemarin mungkin kelihatannya saya cuma nangis sedikit (bukannya nggak sedih, tapi MCnya kocak banget jadi tiap mau sedih langsung pengen ketawa lagi, hehehe). Tapi sejujurnya saya beneran banjir air mata waktu baca notes dari teman-teman yang terangkum dalam buku ini:

Confirm, buku ini akan masuk ke treasure box saya. Treasure box yang isinya banyak barang beharga yang saya miliki sedari kecil dan saya jaga hingga hari ini. Iya, buku ini akan jadi salah satunya.

Saya masih ingat di Juli 2011 saya sempat menulis di blog ini tentang rasa syukur dan kebahagiaan yang saya rasakan ketika wisuda dari ITB. Hari ini, 14 Agustus 2015, ketika saya wisuda dari Nutrifood, saya merasakan perasaan yang persis sama: haru, bahagia dan perasaan sangat bersyukur. Sebagaimana saya tulis dalam email perpisahan saya: 
“Nurifood dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah memberikan saya lebih dari apa yang mungkin bisa saya berikan untuk tempat ini. Tidak sekedar memberikan gaji setiap bulan, tapi tempat ini mengajarkan saya nilai-nilai yang berharga, memberikan saya kesempatan belajar, berkembang, serta berkenalan dengan banyak teman baik”.
Dari situ saya menyadari, ternyata..“you (not) always get what you give”

Epilog.
Bab kehidupan saya yang baru sebagai mahasiswa S2 akan dimulai sebentar lagi. Dengan doa dan restu dari banyak orang, saya jadi semakin optimis bahwa 2 tahun ke depan juga akan sama mengasikannya dengan 3,5 tahun terakhir. Kita tidak pernah tahu rencana Alloh. Jika Tuhan memanjangkan umur saya dan bab-bab di buku kehidupan saya terus berlanjut, maka mungkin saja Nutrifood kembali menjadi bagiannya di masa depan. Saat ini saya tidak tahu, dan tidak ada satupun orang yang tahu, tapi saya percaya pada saatnya nanti saya akan tahu J.

Saya mengawali tulisan ini dengan lirik lagu. Maka saya ingin mengakhirinya juga dengan lirik lagu, dan paling tepat rasanya mencuplik lagu milik band Inggris super legendaris: The Beatles. 

There are places I remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I’ve loved them all


Salam,
Venessa Allia

1 comments:

dodi wijaya mengatakan...

Aaaaahh... Masaaaa sihhh.. Tulisaannya agak ngeselinnn d bagiaaaan dodi dan fahimmm yee.. Hahahaha