Kamis, 13 September 2018

Mungkin ya..

Mungkin ya.. 
Karena manusia diizinkan memilih dan membuat keputusan. 
Karena manusia diizinkan berusaha. 
Juga karena manusia diberikan apa yang mereka mau. 
Mereka jadi merasa bahwa "hidup gue adalah dalam kontrol gue". 
Masalahnya, keyakinan bahwa "manusia berkuasa dengan kehidupannya" membuat pikiran menjadi sempit karena segalanya diukur oleh standar kebenaran yang nggak jelas datangnya dari mana, atau standar yang hanya berdasarkan akal manusia yang penuh keterbatasan (dengan kata lain, standar yang salah).  
Sejatinya akal ini tidak pernah diciptakan untuk mendefinisikan kebenaran. 

Karena udah belagu banget merasa memegang kendali, manusia lupa bahwa mau gimana juga, nggak ada yang bisa mengalahkan fakta bahwa manusia adalah ciptaan. 
Ada yg nyiptain. Ada "Master"-nya. Maha Pencipta sekaligus Maha Pemberi. 
Begitulah apa yang manusia rasa miliki itu tak lebih dari sekedar pemberian. 
Jadi inget, dulu waktu gue baru lahir di dunia, tanpa sadar dan tanpa berusaha, ada rezeki air susu buat gue, ditambah baju, selimut, tempat tidur, dan lain sebagainya. Ya dikasih aja gitu, tanpa memilih dan meminta (Alhamdulillah). Sekarang udah gede, kenapa gue jadi belagu ya merasa apa yang gue miliki adalah karena semata2 usaha gue sendiri? 

Dan satu hal lagi sih yang gue sendiri, sebagai salah satu manusia tersebut pun sering lupa, Maha Pencipta yang menciptakan gue dan seluruh alam semesta, jugalah sebagai "Master" yang punya aturan main. 
Kadang2 gue kepikiran, gue roll-depan-belakang-jungkir-balik hidup selama ini, sebenarnya tuh udah sesuai belum sih sama aturan main yang nyiptain gue? 
Gue cuma nggak mau hidup gue berjalan 'otomatis'. Otomatis dalam artian hidup yang berjalan tanpa kesadaran dan keterusan lupa. Lupa diri, dan lupa siapa Tuhannya. 


Al-Fatihah.

Ushikum wa nafsiy bitaqwallah

Sabtu, 01 September 2018

Ikut Euforia Asian Games 2018



Gue tidak menemukan judul yang lebih tepat selain apa yang tertulis di atas. Yaps, gue mengikuti dan sangat menikmati euforia pesta olah raga terbesar di Asia ini. Walaupun nggak berkesempatan nonton satu pertandingan pun secara langsung, atau nonton ke-epic-an opening ceremony-nya itu, atau closing ceremony yang Insya Allah akan diselenggarakan besok malam, tapi tetap saja gue mengikuti arus berita dan menonton pertandingannya di TV. Gue download aplikasi Asian Games di handphone supaya bisa update berita dan perolehan medali, gue nonton berita-berita soal atlet Indonesia di Youtube, and most of all gue ikhlas traffic di Jakarta jadi harus Ganjil-Genap 15 jam sehari, 7 hari seminggu.

Gue perhatikan selama 15 hari ini, atlet beneran jadi bintang di negeri ini, dan menariknya nggak cuma atlet badminton yang relatif sudah sering merasakan spot light, tapi atlet panjat tebing, pencak silat, sepak takraw, dan olah raga yang nggak populer-populer amat di Indonesia pun bernasib sama. Mereka jadi bahan berita, menjadi sorotan, lebih dikenal, dan banyak diidolakan, which is good. Karena menurut gue mengidolakan atlet tuh lebih konstruktif dibanding mengidolakan bintang sinetron, hehehe. Menariknya lagi, event besar ini membuat gue pribadi (dan cukup yakin berlaku juga untuk masyarakat pada umumnya) jadi lebih sering menonton pertandingan olah raga, padahal sebelumnya nggak peduli-peduli amat, kecuali badminton dan piala dunia (yang nggak ada Indonesia juga). Knowledge tentang olah raganya jadi nambah juga. Jadi tahu ‘hooo sepak takraw tuh mainnya begini’, ‘hooo lari estafet tuh aturannya begini’, dan ‘hooo’ yang lainnya. Termasuk juga memunculkan beberapa kekaguman kayak “itu gimana caranya panjat tebing bisa secepet itu” atau “gile ya China bisa jago di semua cabang olah raga”, atau kekaguman yang lebih sampah seperti “itu atlet renang badangnya bisa kotak-kotak semua yaaa”. Ah ya, dan ada juga satu pertanyaan tak terjawab sampai saat ini “kenapa sih pemain voli tuh dikit-dikit tos mulu, mau bola masuk atau nggak masuk, pastiii tos”.
Walaupun knowledge bertambah, sayangnya sih event ini belum berhasil menginspirasi gue untuk rajin berolah raga, hahaha. Sempet tuh udah pengen banget nyemplung kolam renang gara-gara lihat pertandingan nomor renang, tapi apa daya setiap weekend pagi itu aku lemah ingin bobo lebih lama, hihihi.  

Masih dalam rangka euforia Asian Games, gue kepiran bahwa dalam konteks nasionalisme dan bela negara, selain tentara, atlet tuh profesi yang konkret banget sih kontribusinya ke negara. Musuhnya jelas (lawan tanding), perangnya jelas (adu skill dalam olah raga), yang dibela juga jelas banget (negerinya sendiri). Jadi kalau berhasil dapetin medali tuh kayaknya bisa (walaupun tidak boleh) sombong untuk bilang “Gue udah kasih sesuatu untuk Indonesia.” Karena tujuannya juga jelas banget, yaitu untuk menang dan mengibarkan bendera Indonesia di tiang tertinggi, maka usaha dan pengorbanan yang mereka lakukan juga rasanya worth every second deh. Terlepas dari soal penghargaan dan urusan kesejahteraan, profesi ini menjadi sangat menarik. Semoga makin banyak yang terinspirasi jadi atlet, ya kalau gue sih udah nggak mungkin, lari 6 keliling SARAGA aja dulu gue mau tewas. Mungkin anak gue nanti jadi atlet. Ibu dukung nak, apalagi kalau kamu bisa dapet bonus 1,5 M kayak sekarang, dadakan milyuner deh keluarga kita.  #materialmom #halu.

Pertandingan Asian Games juga sempat membuat gue berkontemplasi (coz overthinking is my middle name, hihihi). Di suatu pertandingan yang gue tonton di TV, gue sempet kepikiran, kayaknya kalau ada negeri ini mau bersatu, kita tuh butuh common enemy deh untuk menyatukan. Kelihatan banget kan kalau ada pertandingan olah raga Indonesia melawan asing, semua orang Indonesia akan kompak membela, berteriak dan berdoa untuk kemenangan Indonesia. Nggak ada yang peduli tuh dengan perbedaan-perbedaan, yang dipedulikan hanya mengalahkan musuh. Jadi kayaknya tuh kita butuh musuh untuk bisa kita lawan bareng-bareng, baru deh kita bisa bersatu. Tapi terus gue merasa pikiran gue agak terlalu radikal. Lalu entah inspirasi darimana (bisa jadi hidayah dari Tuhan), setelah gue pikirin lagi kayaknya solusi persatuan itu bukan keberadaan common enemy nya. Ya kali masa negeri ini harus dijajah asing dulu baru beneran bisa bersatu untuk melawan penjajah. Yang penting itu punya satu tujuan yang  sama, common goal. Adanya common goal sebagai landasan persatuan menurut gue solusi yang lebih bertanggung jawab dibandingkan berharap ada common enemy yang mempersatukan, karena common goal lahirnya yang dari kesadaran diri kita sendiri. Nah, supaya kuat ikatannya dan berkelanjutan, common goal itu nggak bisa sesuatu yang biasa-biasa aja, harus sesuatu yang paling tinggi, paling penting dan berdampak paling positif. Sesuatu yang butuh seumur hidup untuk mengusahakannya, supaya bersatunya juga nggak sehari dua hari doang tapi selama-lamanya. Pertanyaannya sekarang, apa sih common goal yang sebesar itu? emang ada? hehehe dalam hati kayaknya gue tahu apa jawabannya (tapi terus nggak mau ditulis disini :p)

Hmmm apalagi ya yang menarik dari Asian Games? Kalau soal dua tokoh politik yang berpelukan dipersatukan oleh gold medalist pencak silat, gue males ngebalesnya karena udah dibahas dimana-mana. Oh fakta menarik lagi yang gue tangkap dari event ini adalah yaampuun atletnya muda-muda banget yaaa sekarang. Gue bangga sekali dengan adek-adek gemes berprestasi iniiii. Dan yang tidak kalah menariknya, kalau dulu gue kok jarang ngeliat atlet good looking kecuali pemain sepak bola, sekarang kok atlet Indonesia yang good looking bertaburan di mana-mana. Hahaha, monmaap paragraf yang ini agak sampah sedikit :D.

Satu hal lagi yang membuat gue begitu menikmati euforia Asian Games ini, yaitu waktu yang dihabiskan bersama Papa dan Mama untuk nonton pertandingan bersama. Soalnya jarang-jarang nih ada acara TV yang bisa kita nikmati bertiga karena yaa masing-masing punya preferensi sendiri, termasuk preferensi untuk nggak nonton TV, hihihi. Belum lagi obrolan-obrolan saat menikmati pertandingannya. Ah priceless. Thank you so much Asian Games!

Terakhir, kali ini mau sok-sokan jadi pengamat. Indonesia butuh banget-nget-nget fokus dan total pada pembinaan olah raga olimpiade yang banyak nomornya, kayak atletik, gimnastik dan renang. Supaya kita bisa dapet lebih banyak medali lagiiii. Coba deh bandingin sepak bola sama nomor lari 100 m. Sepak bola butuh sangat banyak resources untuk dapat 1 medali emas, sementara lari, less resources for same result. Efficient. Ya gue yakin sih fakta ini sudah disadari banyak orang sedari lama, tulisan ini hanya ingin menggaris bawahi lagi bahwa penting banget untuk Indonesia jago di nomor renang dan atletik.

Alhamdulillah Asian Games 2018 di Indonesia bisa dibilang sukses. Sejauh ini belum denger ada major problem yang bikin malu negara. Dibalik kesuksesan ini pastiiii ada orang-orang yang pusing dan khawatir, ada mereka yang setia berdoa, ada juga mereka yang sempat ribut dan bertengkar, ada pun yang ingin segera menyudahi event ini karena lelah. Untuk mereka semua, semoga lelahmu menjadi berkah dari Allah. Ammiinn.

Oke deh, udah dulu ya. Tulisan yang cukup panjang dari gue yang sudah lama nggak blogging, hehe.
Stay positive yaaa!

Salam,
Venessa Allia

Sabtu, 21 Juli 2018

Cerpen Ketiga: Kisah Pak Sopir


Kisah Pak Sopir

             “Halo Teh Navia, rumahnya yang warna kuning, kan? Saya sudah di depan rumah ya,” suara sopir taksi online terdengar di telepon. Via pun memintanya menunggu. Dia segera mengambil sepatu coklat tanpa hak di gudang lalu memakainya, membuka kembali shoulder bag miliknya untuk memastikan bahwa barang-barang penting sudah dibawa semuanya: dompet, ponsel, power bank, kotak bedak, pembalut, tisu, kunci rumah dan minyak wangi. Via yakin tidak ada barang yang tertinggal, dia siap berangkat.
            “Bun, Via berangkat sekarang ya, Via bawa kunci kok jadi nanti Ibun bobo aja nggak usah nunggu Via pulang,” kata Via menghampiri ibundanya yang sedang membaca majalah di ruang tengah untuk berpamitan.
            “Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, Nak,” ucap Ibun sambil menutup majalah di tangan. Dilihatnya anak gadis semata wayangnya yang sudah tumbuh dewasa, parasnya persis seperti saat ia muda. Kulitnya putih, rambutnya ikal sebahu dan matanya yang terkesan galak, bedanya Via jauh lebih modis dibandingkan dia dulu.
            “Konsernya sih baru selesai jam 9, Bun. Habis itu Via langsung pulang kok dianterin Dewi. Tenang aja. Via jalan sekarang ya, udah ditungguin sopir taksi tuh,” Via menyalami tangan ibunya dengan agak terburu-buru.
            “Yaudah hati-hati, kamu bawa mukena kan? Botol minum bawa nggak?” kata Ibu sambil menegakan posisi duduk, “Itu ada roti di meja dibawa saja biar nanti kalau lapar waktu nonton konser Tulus kamu bisa isi perut, bawa yaa rotinya,” Ibu menunjuk meja di tengah ruangan yang diatasnya terdapat beberapa potong roti isi dan kue kering dalam toples.
            “Via kan lagi ‘dapet’, Bun, jadi nggak sholat. Minuman sama makanannya nanti beli aja deh di sana, berat bawanya. Dadaah Ibun. Assalamualaikum,” respon Via singkat lalu melangkah keluar rumah.
            “Kamu jangan lupa makan malam ya, Vi. Cari makannya juga yang bersih. Waalaikumsalam,” jawab Ibun sambil tetap mengingatkan Via soal isi perut. Via mendengarkan instruksi dari ibunya namun tidak menjawab, dalam hatinya dia bergumam,
            “Ckckck, Ibun..Ibun.. Via kan udah 20 tahun, masih aja ngingetin soal makan tiap Via mau pergi. Nasib anak bungsu, nggak pernah lepas dari wejangan nyokap.”     
            Via masuk ke dalam mobil sedan hitam yang menjadi kendaraannya sore ini menuju sebuah gedung pertunjukan di daerah Bandung Utara dimana Tulus, penyanyi muda favorit Via, mengadakan konser mini malam ini. Dia berjanji bertemu Dewi dan dua teman lainnya di sana. Sopir taksi ini ialah seorang bapak berusia sekitar 40 tahun. Penampilannya cukup rapi dengan kaos berkerah warna hijau dan celana jeans. Via duduk di kursi depan supaya tidak terlihat seperti penumpang karena saat ini keberadaan taksi online masih kontroversi sehingga sebaiknya tidak menimbulkan kesan bahwa mobil sedan yang dinaikinya adalah taksi online. Bapak sopir menyapa Via ramah.
            “Selamat sore Teh Navia, kita ke Jalan Tamansari ya, Teh? Kita jalan sekarang yaa,” sapa Pak Sopir sambil memindahkan persneling mobil. Mobil pun melaju menjauhi rumah Via. Jalanan komplek mulai ramai oleh anak-anak yang berangkat mengaji ke masjid.
            “Kalau bisa agak cepat ya pak nyetirnya. Saya ada janji jam 18.30,” kata Via sambil mengamati interior di dalam mobil yang masih terlihat baru. Mobil yang dinaikinya ini nampaknya belum lama keluar dari showroom.
            “Baik Teh, saya usahakan, semoga jalanan tidak terlalu macet, tapi jam segini biasanya macet sih Teh,” respon Pak Sopir sambil melirik ke ponsel di dekatnya, “Saya keluar komplek lewat jalan belakang saja ya, Teh. Kalau lewat depan lebih macet.”
Waktu menunjukan pukul 17.30. Ekspresi Pak Sopir agak serius. Dalam hatinya, sebenarnya ia tidak yakin bisa sampai tempat tujuan dalam waktu satu jam karena lalu lintas Bandung seharian ini padat di mana-mana. Apalagi sekarang malam minggu sehingga banyak orang menghabiskan waktu di luar rumah. Untungnya dia sudah beberapa kali menjemput penumpang di komplek ini sehingga dia tahu jalan terdekat menuju jalan utama. Lima belas menit waktu berlalu. Sejauh ini mobil masih melaju walau kecepatannya tidak bisa lebih dari tiga puluh kilometer per jam karena padatnya jalan raya. Setidaknya tidak berhenti total, begitu pikir Pak Sopir. Sementara itu, Via tenggelam dalam berbagai aplikasi di ponselnya, tidak berbicara atau memperhatikan jalanan yang dilaluinya.
            Mobil akhirnya sampai pada titik kemacetan. Lampu lalu lintas yang seharusnya mengatur arus kendaraan di sebuah perempatan saat ini sedang tidak berfungsi. Beberapa pengemudi mobil yang tidak sabar menyalip antrian mengakibatkan kemacetan menjadi semakin parah. Bunyi klakson mobil riuh membuat jalan raya semakin bising. Kalau sudah begini yang paling diuntungkan adalah pedagang asongan yang jadi ramai pembeli. Pedagang asongan hilir mudik melewati jendela Via, menawarkan air mineral, tisu atau sebungkus permen. Begitu juga pedagang majalah. Via tidak memperdulikan tawaran mereka, berulang kali dia melihat jam di ponselnya, sudah pukul 18.10 dan posisinya masih jauh dari tempat tujuan, nampaknya dia akan terlambat. Keresahan Via tertangkap oleh Pak Sopir.
            “Duh maaf ya Teh, kayaknya nggak keburu sampai sana jam 18.30. Ini saya sudah memilih jalur yang paling cepat, tapi tetap saja kena macet,” Pak Sopir merasa tidak enak, “Ada janji penting ya Teh?” tanya Pak Sopir sambil terus fokus mengamati jalan raya.
            “Emmm mau nonton konser aja sih, Pak. Sayang aja kalau sudah bayar tiket tapi nggak bisa nonton pertunjukannya dari awal,” jelas Via sambil masih tenggelam dalam ponselnya. Dia baru saja mengabari Dewi bahwa dia tidak bisa sampai tujuan tepat waktu.
            “Hoooo, memang mahal banget ya Teh harga tiketnya?” Pak sopir mulai KEPO: Knowing Every Particular Object. Kedua alisnya terangkat dan matanya membesar, wajahnya antusias ingin tahu.
“Nggak juga sih Pak, cuma tiga ratus ribu aja,” jawab Via, datar cendrung ketus. Sekilas ia menoleh ke Pak Sopir yang nampak terkejut mendengar jawaban Via.
“Walah! Tiga ratus ribu mah mahal Teh, uang segitu bisa untuk bayar uang sekolah anak saya di Solo,” seru Pak Sopir, suaranya meninggi tanda ia terkejut.
Via sedikit terusik mendengar respon dari Pak Sopir. Dia lantas berpikir bahwa uang tiga ratus ribu nampaknya sangat berharga bagi bapak ini, sementara dirinya baru saja menghabiskan uang dalam jumlah yang sama untuk berbelanja di sebuah layanan fashion e-commerce ternama. Itulah mengapa sedari tadi Via asik dengan ponselnya sendiri, dia sibuk memilih-milih sepatu dan aksesoris. Tidak terlalu suka membahas soal uang, Via pun mengalihkan pembicaraan. Sementara itu mobil masih terjebak di tengah kemacetan. Hari sudah mulai gelap dan dibuat semakin ramai oleh klakson-klakson yang bersahutan. Klakson mobil angkot maupun mobil pribadi sama berisiknya sedari tadi.
“Oh, anak bapak tinggal di Solo?” tanya Via tanpa bermaksud benar-benar ingin tahu. Ponselnya kini telah ia masukan kembali ke dalam tas. Ekspresinya sekarang lebih santai dengan senyum tipis di bibirnya yang juga tipis. Dewi baru saja mengabarinya bahwa dia juga akan datang terlambat karena masih terjebak macet akibat proyek perbaikan jalan.
“Iya, anak saya masih SMP di Solo, tinggal dengan ibu saya,” kata Pak Sopir sambil tetap sigap di tengah kemacetan. Dia tidak membiarkan ada mobil lain menyalip jalannya. Di luar sana, beberapa polisi lalu lintas terlihat berusaha mengurai kemacetan.
“Hooo.. jadi Bapak di Bandung dengan istri bapak?” Kali ini giliran Via yang KEPO. Badannya terarah menghadap Pak Sopir, menunjukan ia mulai antusias dengan pembicaraan ini.
“Oh nggak Teh, istri saya sudah meninggal sekitar enam bulan yang lalu. Saya ini baru tiga bulan tinggal di Bandung, baru tiga bulan juga bawa taksi online. Ini juga bukan mobil saya sendiri, Teh, ini mobil saudara saya yang berbaik hati menolong,” Pak Sopir menjawab pertayaan Via lebih dari yang Via tanyakan. Via jadi merasa tidak enak sudah menyinggung soal istrinya.
“Oh maaf Pak. Saya turut berduka cita,” kata Via berusaha terdengar tulus.
“Nggak apa-apa Teh, kalau sekarang saya sudah bisa menerima. Walaupun saat itu saya akui sangat berat, satu bulan setelah istri saya meninggal, bisnis saya bangkrut karena saya ditipu oleh teman sendiri. Panjang ceritanya,” Pak sopir diam sejenak lalu menarik napas, “Tapi saya bersyukur Tuhan masih baik sama saya, saya masih punya saudara yang cukup berada dan baik hati. Saudara saya itu membeli mobil baru untuk dijadikan taksi online, kemudian menawarkan saya untuk menjadi sopirnya. Yasudah karena butuh pekerjaan untuk menghidupi anak dan ibu saya, ya saya terima tawarannya. Jadilah saya pindah ke Bandung.” Pak sopir bercerita panjang lebar. Suaranya tetap tenang tanpa tersirat adanya kesan kesedihan atau penyesalan atas apa yang terjadi di hidupnya. Sayangnya, Via belum dapat mengerti, matanya mengerung heran.
“Istri Bapak meninggal, bisnis Bapak bangkrut, lalu Bapak harus tinggal jauh dari anak untuk mencari nafkah. Saya nggak ngerti kok tadi Bapak masih bisa bilang soal bersyukur ya Pak?” Kali ini Via betul-betul ingin tahu. Kepalanya menoleh memperhatikan Pak Sopir yang seketika tersenyum lebar.
“Sederhana saja Teh, saya tahu kalau Tuhan mau memberikan saya cobaan yang lebih berat dari ini, Dia bisa melakukannya, tapi Tuhan masih baik sama saya, cobaan untuk saya sudah ditakar sesuai kemampuan saya, dan saya masih diberikan pertolongan. Masa iya saya masih nggak bisa bersyukur?” Pak Sopir menjelaskan dengan santai, sambil sedikit melirik ke arah Via yang kini resah dalam duduknya. Penjelasan Pak Sopir membuat Via tiba-tiba saja merasa…salah.
Pak Sopir berhasil membawa mobilnya ke barisan paling depan antrian lampu merah yang tidak berfungsi. Petugas kepolisian terlihat memberikan instruksi jalur mana yang boleh jalan terlebih dahulu dan mana yang harus berhenti. Pak Sopir memperhatikan aplikasi peta di ponselnya, jalan raya setelah perempatan ini kelihatannya cukup lancar.
Via masih sibuk memikirkan kalimat Pak Sopir barusan tentang mensyukuri kehidupan. Wajahnya menegang tanda dia serius berpikir. Hatinya tiba-tiba merasa tak nyaman mengingat apa yang selama ini dia lakukan. Hidupnya sangat nyaman karena setiap bulan orang tua Via memberikan uang jajan dan sering memanjakan dirinya. Dia tidak pernah merasakan kepahitan seperti yang Pak Sopir alami. Tapi mengapa dia tidak pernah merasa cukup? Selalu ada saja yang kurang hingga harus dilengkapi, seperti beberapa saat yang lalu dia membeli sepatu baru karena merasa sepatu yang dipakainya sudah tidak nyaman, padahal dia masih punya belasan pasang sepatu lain di rumah. Juga selalu ada saja yang salah sehingga harus dikeluhkan, sebagaimana beberapa menit yang lalu Via mengeluhkan kemacetan Kota Bandung kepada Dewi di WhatsApp, padahal saat itu dia masih dapat duduk manis menikmati kemacetan tanpa harus berdesakan di dalam angkot atau harus menghirup asap kendaraan seperti nasib para pengemudi sepeda motor. Via juga jadi teringat Ibun di rumah, betapa Via selalu sibuk sendiri dan sering merasa sudah dewasa sehingga dia tidak menghargai perhatian yang ibundanya berikan. Tiba-tiba saja mata Via terasa perih seperti ingin menangis, namun ia berusaha menguasai diri.
Via menengok bapak sopir yang duduk di sampingnya, belum ada satu jam dia berjumpa dengan bapak ini, tapi dia merasa sudah mendapatkan suatu pelajaran berharga. Ada ratusan taksi online di Bandung, mengapa harus Pak Sopir ini yang menjemput Via? Pemilik semesta pasti ingin Via belajar dari kisah Pak Sopir. Via membuka aplikasi taksi online di ponselnya, dicarinya nama sopir yang sedang mengantarnya, ternyata nama Pak Sopir ini adalah Hendra. Tiba-tiba saja Via terpikir sebuah ide brilian.
“Pak, anak bapak di Solo, laki-laki atau perempuan?” tanya Via sambil tersenyum melihat ke arah Pak Hendra. Kali ini dia tersenyum lebar.
 “Perempuan Mbak, usianya 14 tahun,” jawab Pak Hendra sambil menekan pedal gas mobil. Akhirnya mobil mereka berhasil lepas dari kemacetan. Pak Hendra melirik jam di mobilnya. Kalau proyeksi kepadatan jalan di peta ini benar, seharusnya pukul 18.45 penumpangnya dapat tiba di tujuan.
Sementara itu Via menyimpan nomor telepon yang tadi digunakan Pak Hendra untuk meneleponnya. Anak Pak Hendra perempuan, sangat sempurna untuk rencananya. Via punya ide, nampaknya aksesoris yang baru saja dia beli secara online akan lebih baik jika dimiliki oleh putri Pak Hendra. Aksesoris milik Via sudah banyak sekali tersimpan di laci meja, dia tidak butuh lebih dari itu. Nanti jika barang yang dia pesan sudah datang, dia akan segera menghubungi Pak Hendra dan mengatakan maksudnya. Rasanya senang sekali memiliki rencana baik.
Via menghirup napas panjang. Tiba-tiba saja dia menyukai harum stroberi yang berasal dari pewangi mobil. Hampir satu jam dia berada di dalam mobil tapi baru sekarang dia dapat menikmati wangi ini.
“Ketika hati sudah memilih untuk bersyukur, maka rasakanlah ada banyak nikmat yang sebelumnya tidak kau rasakan.” Kalimat itu terlintas begitu saja dalam benak Via.

------
Salam,
Venessa
P.S: kalau hari ini nggak post tulisan di blog, besok bisa di kick dari grup #1minggu1cerita. Ahahaha. Syukurlah masih ada stok cerpen di laptop yang belum pernah di publikasikan. Saya share disini saja yaaa. Stay positive, people!

Sabtu, 09 Juni 2018

TANGGUH

Tulisan ini bukan tentang lapangan LNG  British Petroleum nun jauh di Papua sana. Tulisan ini ingin bicara soal kekuatan tekad bocah 8 tahun yang terlihat benar menikmati kondisi hidupnya. Padahal apa yang dia hadapi tidak mudah. Anak kelas 2 SD ini setiap hari berangkat sekolah dari rumahnya di Parung Panjang menuju sekolahnya di daerah Kebon Kacang, Tanah Abang. Setiap hari dia berjalan kaki menuju stasiun Parung Panjang, lalu naik commuter line hingga stasiun Tanah Abang, kemudian lanjut jalan kaki lagi menuju sekolah. Pulang ke rumah dia lakukan dengan cara yang sama. Sudah pernah dengar ceritanya? Belakangan ternyata anak ini viral sekali, cuma saya aja yang basi hingga baru tau kisah anak ini kira-kira dua jam yang lalu. Yeah, nama anak ini Alviansyah, atau akrab disapa Alpin.

Saya tahu Alpin bukan satu-satunya anak Indonesia yang harus begitu kerasnya berjuang untuk bisa sampai ke sekolah. Sayangnya masih banyak anak Indonesia yang nasibnya sebelas dua belas dengan Alpin. Tapi kisah Alpin rasanya kena banget di hati saya. Simply, karena saya hampir setiap hari juga naik kereta kayak Alpin. Jalur kereta yang sama, hanya naik di stasiun yang berbeda saja. Tapi bukan itu perbedaan paling signifikan diantara kami. 

Perbedaan terbesar diantara kami adalah, saya mengeluh, Alpin tidak.
Padahal, saya naik mobil dari rumah ke stasiun Rawabuntu, Alpin jalan kaki ke stasiun
Padahal, saya naik Trans Jakarta/taksi/ojek dari stasiun Tanah Abang ke kantor. Alpin jalan kaki ke sekolah.
Padahal, saya naik mobil dari stasiun Rawabuntu kembali ke rumah. Alpin masih jalan kaki.
Sekali lagi pernyataan ini ingin saya ulang: saya mengeluh, Alpin tidak. 
Saya ulang bukan karena saya bangga dengan kondisi yang ada, tapi saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa saya itu nggak ada pantes-pantesnya deh ngeluh. 

Anak ini usianya 21 tahun lebih muda dari saya, tapi mentalnya sepuluh juta kali lebih kuat. Orang lain boleh bilang hal itu terjadi karena kondisi ekonomi keluarga Alpin yang susah sehingga memaksanya tumbuh menjadi anak yang tangguh. Tapi menurut saya itu pendapat yang salah, karena Alpin pun punya pilihan untuk menyerah dan tidak sekolah, sebagaimana banyak manusia dewasa lainnya yang menyerah pada keadaan yang sulit. Namun, Alpin tidak mengambil pilihan itu. Dia tetap sekolah di Jakarta, betapa pun jauhnya, betapa pun sangarnya roker (rombongan kereta) berdesakan, betapa pun padatnya stasiun. Anak ini berani, seakan tidak peduli pada hambatan yang dijumpai, fokus sama tujuannya: MAU SEKOLAH.

Saya tersentuh sekali waktu tadi nonton Hitam Putih, melihat wawancara Deddy Corbuzier dengan Alpin dan Caroline Ferry, wanita yang sudah sangat berjasa memviralkan berita ini sehingga dunia bisa tahu ada anak tangguh seperti Alpin. Singkat cerita, dari wawancara itu saya tahu bahwa:

1. Alpin  sekolah di Jakarta karena di kota ini dia bisa sekolah gratis pakai Kartu Jakarta Pintar, sementara kalau sekolah di Parung Panjang dia harus bayar buku. Hal ini menunjukan betapa powerful kebijakan KJP, dan kalau pemerintah Kabupaten Bogor atau dinas pendidikan setempat mendengar berita ini, mestinya jadi tamparan keras untuk berbenah supaya bisa punya sistem semacam KJP atau yang lebih baik lagi, simply supaya jangan sampai ada lagi anak yang mau sekolah gratis aja mesti jauh-jauh ke Jakarta.

2. Alpin ke sekolah cuma dikasih ongkos sama ibunya, kalau pun dikasih jajan biasanya Alpin tolak karena katanya mending buat ibu aja beli beras. Ayah Alpin bekerja sebagai sopir proyekan, tidak selalu pulang ke rumah. Alpin juga masih punya dua orang adik. Alpin bilang ke ibunya kalau dia bisa makan di sekolah karena teman-temanya baik. Seketika saya terharu dengernya. Lagi-lagi cerita ini mengingatkan saya pada nilai relatifitas uang, selembar uang dua puluh ribu bagi ibunya Alpin adalah uang makan sehari untuk sekeluarga. Untuk saya selembar dua puluh ribu bisa hanya berarti segelas kopi yang habis dalam hitungan menit. Nilai ekonomi uangnya sama-sama dua puluh ribu rupiah, tapi nilai urgensi kebermanfaatannya bisa sangat berbeda. Kisah ini juga mengingatkan saya bahwa dalam setiap keberlimpahan yang Tuhan berikan pada seseorang, ingatlah bahwa ada hak orang lain di dalamnya, jadi jangan "dimakan" sendirian.

3. Alpin, walaupun udah capek jalan kaki, tapi kalau di kereta dia masih mau kasih duduk untuk orang lain. Rombongan commuter line sejagat raya dimana pun berada harus belajar dari anak ini. Ini anak punya lebih dari cukup alasan untuk merasa lelah dan nggak mau berbagi tempat duduk, tapi dia masih mau loooh ngasih duduk buat orang lain. Orang dewasa harus ekstra belajar soal empati dengan anak ini. Naik kereta itu nggak perlu norak dorong-dorongan hanya untuk dapat tempat duduk, kalem ajeeeeee (pernyataan terakhir adalah curahan hati saya terdalam).

Saya dapat banyak refleksi dari ketangguhan dan ketulusan Alpin. Semoga kamu jadi orang besar ya, dek. Kamu punya modal ketangguhan yang akan jadi kekuatan sangat berharga, baik di saat ini maupun di masa depanmu nanti. Kamu bilang ingin jadi masinis, kan? Kita memang belum pernah bertemu, oh atau bisa jadi kita pernah satu gerbong, atau berpapasan di stasiun, tapi salah saya yang terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak peduli dengan anak belia seperti kamu yang mungkin sedang berjalan atau duduk sendiri. Saya doakan kamu menjadi masinis terbaik yang pernah ada di negeri ini, atau karena kamu setiap hari naik kereta, kamu cocok deh jadi Dirut PT KAI di masa depan. Jangan takut, dek, ketangguhanmu dalam berusaha akan mengundang bantuan terbaik dari Tuhan kita. Sudah terbukti, kan? Kegigihan kamu menggerakan hati manusia lain untuk membantu kamu dan keluarga.

Kabar terakhir, dibantu oleh sebuah yayasan, Alpin dan keluarga saat ini sudah pindah rumah ke Rusun Benhil, dekat sekolah Alpin. Yayasan tersebut juga akan membantu biaya sekolah kakak Alpin yang sempat putus sekolah, juga memberikan sepeda motor untuk ayah Alpin supaya bisa jadi pengemudi ojek online.

Yeah, ketangguhan Alpin dan kepedulian seorang Caroline Ferry, jadi jalan kebaikan untuk satu keluarga Alpin, juga jadi cahaya inspirasi untuk banyak sekali orang, termasuk saya.
Semoga kamu juga terinspirasi dari kisah ini. Stay positive ya.


Salam,
Venessa Allia

Sabtu, 12 Mei 2018

He Was In Town


He was in town. 
Here, in Jakarta.
Who?
USTAD NOUMAN ALI KHAAAAAN!!!

Ini screenshot dari akun Instagram Mario Irwinsyah, saya lihat beliau dari lantai 2, nggak sedekat ini, hehehe


Jujur se-jujur-jujurnya, rasanya ini kali pertama saya beneran excited datang kajian (Ya Allah maafin). Biasanya mah excited kalau mau nonton film atau konser, ini saya excited ke Masjid Istiqlal buat denger kuliah beliau (lumayanlah yaa, alhamdulillah ada kemajuan dikit). Dan rasanya ini kali pertama saya mengidolakan seorang ustad, sampai-sampai kemarin saya lihat beliau dari lantai 2 masjid yang segede gaban itu aja rasanya kena starstruck (hahaaa lebay). Tapi beneran deh, doa terbaik untuk beliau, semoga amal jariyah terus mengalir untuk beliau. Karena dengan izin Allah, saya yakin sekali ada banyak orang yang tergugah hatinya mengetahui keindahan Al-Quran. Bagi saya pribadi, setelah mendengar kuliah beliau, sekali lagi atas izin Allah, saya jadi sadar tentang hubungan saya dengan Al-Quran yang ternyata terlalu “seadanya”. Heff..istigfar banyak-banyak.

Kuliah Ustad Nouman yang selama ini saya dengar, selalu membahas soal Al Quran, begitupun kuliahnya kemarin, topiknya tentang “Reconnect With Al Quran”. Begini, sebelumnya saya mau menjelaskan dulu, apa yang akan saya tulis dibawah ini semata-mata karena 2 hal:
1. Saya merasa mendapat manfaat dari kuliah Ustad NAK kemarin
2. Kata Ustad “If you got benefit, you have to share it”.

Apa yang akan saya tulis adalah gabungan dari apa yang saya pahami dari kuliah beliau kemarin dan ditambah dengan refleksi yang saya dapat. Jadi mohon maaf sebelumnya, tidak sedikitpun bermaksud menggurui apalagi sok suci karena ampun deh ilmu agama saya juga masih cetek bangeeeet. Tapi saya pun yakin, setiap orang yang diberikan kemewahan ilmu maka dia punya kewajiban juga untuk berbagi, maka bismillah, tulisan ini adalah sarana saya membayar hutang tersebut. Selain itu, setiap orang yang menyaksikan kuliah beliau bisa mendapatkan insight yang berbeda-beda. Sederhana saja, itu semua terserah Allah yang punya ilmu, ilmu atau pemahaman mana yang mau Allah kasih ke hambanya J. Jadi bagi siapa saja yang juga datang ke kuliah beliau kemarin lalu membaca tulisan ini, sangat dipersilahkan untuk melengkapi atau memperbaiki informasi pada tulisan ini. Semoga jadi kebaikan untuk kita semua yaaa, Aammiin.   

Ketika kuliah sudah selesai, dosen sudah pergi tapi mahasiswa masih pengen nongkrong.
Anyway, saya pertama kali ke Istiqlal. Gede yaaa mesjidnyaa #anaknorak


Reconnect With Al-Quran. Yuk terhubung KEMBALI dengan Al-Quran

Saya ingin sekali menuliskan isi kajian Ustad Nouman Ali Khan (NAK) kemarin dengan runut sehingga semua yang ditakdirkan membaca tulisan ini juga dapat memahami kajian beliau dengan logika yang tepat. Tapi ternyata saya kesulitan menuliskannya :D. Jadi, saya merangkum dalam beberapa poin saja yaa. Ini adalah isi kajian Ustad Nouman yang paling bikin saya amazed:

1. Manusia membaca, mendengar, bahkan menghafal Al Quran, namun apakah hatinya sudah terhubungan dengan Quran? THIS IS A HUGEEE QUESTION. Makna reconnect with Al-Quran adalah mengembalikan koneksi hati dengan Quran, karena Al-Quran itu ya untuk hati manusia. Bingung gak? Pertama kali saya mendengarnya juga rasanya abstrak dan terbayang akan sulit. Dan benar saja, Ustad NAK bilang, menjaga koneksi hati dengan Quran itu bukan perkara mudah, melainkan menjadi masalah bagi semua manusia, dari mulai yang nggak bisa baca Quran sama sekali sampai seorang penghafal Quran sekalipun. Itulah mengapa manusia harus selalu berusaha untuk terhubung dengan Al-Quran. Usahanya harus terus menerus diulang supaya selalu ingat dengan Al-Quran dan terus terhubung. Sejujurnya, selama ini kayaknya saya nggak pernah memikirkan soal seberapa kuat koneksi saya dengan Al-Quran. Ya, saya ngaji, berusaha tilawah setiap hari walau masih suka bolong-bolong, berusaha baca terjemahannya juga walau masih suka sambil ngantuk, tapi selama ini nampaknya saya lupa bahwa seluruh aktifitas tersebut seharusnya dilakukan dengan kesadaran dan excitement, bukan sekedar menunaikan kewajiban karena yang saya baca itu adalah kalam Allah. 

Dalam pemahaman saya, kalau manusia sudah terkoneksi dengan Al-Quran maka manusia akan dapat menjalani kehidupannya dengan taat tanpa memilih dan memilah, atau lebih tepatnya lagi dengan ketakwaaan. Kenapa takwa harus saya jadikan target? Karena saya ingin masuk surga, untuk itu koneksi hati saya dengan Al-Quran harus terus menerus saya perjuangkan.

Kata Ustad NAK, semakin kita terkoneksi dengan Quran, maka kita akan semakin mudah mengambil keputusan yang baik (di mata Allah). Ini masuk akal banget sih, kalau udah terkoneksi dengan Al Quran, ya udah nggak ada lagi aturan lain yang berlaku di kehidupan selain Al Quran itu sendiri serta hadis. Bahkan Nabi Ibrahim aja pernah berdoa “Give me the strength to make good decision”. Masya Allah. Al-Quran juga cahaya bagi kehidupan manusia, dan manusia membutuhkan cahaya itu sepanjang hidupnya, bukan sekali dua kali doang. Hidup manusia akan gelap tanpa Quran.

2. Pernah nggak bener-bener mikirin Quran itu datangnya dari mana atau dari siapa? Saya sendiri juga suka nggak sadar kalau Al-Quran itu kalam Tuhan. Dan kalau lagi inget, rasanya merinding T_T. Al-Quran itu datang dari Allah Ar Rahman, dari Allah yang paling cinta sama kita.

Kalimat Ustad NAK ini beneran bikin saya merinding “Someone who loves you, who wrote to you.” 

Itulah sebabnya semakin kita terkoneksi dengan Quran, semakin juga Allah akan sayang sama kita. Terlebih lagi, Quran juga merupakan nasihat dan petunjuk yang datangnya dari Tuhan. Manusia biasanya nyari nasihat dari manusia lain yang dia percaya kan? Nah ini nasihat datangnya dari Allah yang paling tahu kita dan paling cinta sama kita, kurang apa lagi? Subhanallah. Petunjuk dari Quran juga datang dari Allah yang MAHA TAHU dan lagi-lagi PALING SAYANG SAMA MANUSIA, makanya udah seharusnya manusia itu nurut kalau dibilangin “do this, and don’t do that”. Satu lagi tentang Quran yang paling bikin adem untuk saya yang suka galau, Al-Quran juga selayaknya obat yang menyembuhkan (healing), melegakan semua perasaan negatif yang suka bikin sesak dada (perasaan sedih, marah, kekhawatiran, ketakutan, sebuuuut negative feeling lainnya). Koneksi hati dengan Al-Quran akan menyembuhkan.

3. Ketika kita punya koneksi dengan Al-Quran, kita akan sadar bahwa sesungguhnya Al-Quran itu bicara tentang kita.
“Quran is talking about YOU. It is not talking about Adam a.s, Isa a.s, or anyone else, BUT YOU. The Quran has story about YOU”. 

Subhanallah. Semakin kita terkoneksi dengan Quran, kita akan semakin sadar bahwa Quran itu tentang kitaaaa. Quran itu punya cerita buat kitaaaa. Bahkan ayat Alif-Lam-Mim yang selama ini kita nggak tau apa artinya aja punya makna untuk manusia, bahwa Allah-lah yang punya hak prerogatif untuk memutuskan apa yang bisa kita pahami dan apa yang tidak bisa. Ustad NAK mengucap sebuah doa yang bagi saya pribadi sangat penting biar nggak pusing sama dunia “God, teach me what I need to know, don’t make me obsessed with all that I dont need to know.” Yakinlah selalu bahwa Allah itu terhubung dengan kita

4. Quran dan doa adalah bentuk komunikasi dua arah. 
Quran = Allah speaks to you. 
Doa = You speak (connect) to Allah
Masya Allah. Menurut saya ini indah banget. Al-Quran pun isinya penuh dengan doa. Surat Al-Fatihah saja contohnya, surat yang minimal seorang Muslim baca 5x sehari juga isinya adalah doa. 

5. Nah poin yang ini, adalah pesan dari Ustad NAK bahwa jangan punya koneksi dengan Quran sendirian, tapi bagi-bagi karena bisa jadi koneksi orang lain dengan Quran itu terjadi karena kamu :). Beliau juga memberikan penekanan soal pelajarilah Al-Quran untuk diri sendiri karena pada intinya Al-Quran bicara tentang diri kita, dan ketika kita mendapatkan pengalaman baik karena koneksi yang kita rasakan, berbagilah dengan yang lain. Share something beautiful with people around you. Jadi bukannya malah menjadikan Quran sebagai sarana menyakiti orang lain (Ustad dengan sangat tegas bilang “Don’t hurt other people with Allah’s word”). Karena Allah aja Ar-Rahman. Mengutip kata-kata Ustad Nouman,

“Quran should bring mercy to people. Because of Quran you should be full of happiness, optimistic, overjoy, and positive. This Quran, is better than anything you collect in your life. Collect Quran in your heart.”

Bagian terakhir dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan cara dari Ustad Nouman untuk meningkatkan level koneksi dengan Quran: dengar atau baca bagian tertentu dari Quran, dengarkan penjelasannya, ulang-ulang ayat tersebut setiap hari sehingga kita merasa terkoneksi dengan ayat tersebut (saya membayangkan analoginya seperti kalau kita lagi ngulang-ngulang nyanyiin bagian chorus dari sebuah lagu yang sering kita dengar, lama-lama lirik lagu itu jadi kepikiran terus). Yang penting setiap hari kita terkoneksi dengan ayat-ayat Quran, nggak perlu semuanya (saya nggak sanggup juga kayaknya, hehehe). Nah, setiap hari, coba tambah sedikit demi sedikit ayat yang kita baca dan tadaburi, Insya Allah koneksi kita dengan Quran akan semakin kuat.


Okeee itu saja yang bisa saya ceritakan. Kita doakan semoga in the near future Ustad Nouman Ali Khan bisa datang lagi ke Indonesia, atau kita dikasih jalan sama Allah untuk datang ke kajian Ustad NAK di belahan lain dunia ini. Sekali lagi apa yang saya tulis adalah apa yang saya pahami, tanpa bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi dan semoga ada manfaatnya J

“Ushikum wa nafsiy bitaqwallah, aku menasehati kamu semua dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah.”

Stay positive yaaaa.


Salam,
Venessa Allia

P.S tulisan ini juga sebagai setoran #1minggu1cerita yang minggu ini punya topik soal “kembali”. Yuk kita kembalikan hati ke Quran :)
(bisa kan aku sambung-sambungin biar nyambung sama tema, mihihi)