Sabtu, 09 Juni 2018

TANGGUH

Tulisan ini bukan tentang lapangan LNG  British Petroleum nun jauh di Papua sana. Tulisan ini ingin bicara soal kekuatan tekad bocah 8 tahun yang terlihat benar menikmati kondisi hidupnya. Padahal apa yang dia hadapi tidak mudah. Anak kelas 2 SD ini setiap hari berangkat sekolah dari rumahnya di Parung Panjang menuju sekolahnya di daerah Kebon Kacang, Tanah Abang. Setiap hari dia berjalan kaki menuju stasiun Parung Panjang, lalu naik commuter line hingga stasiun Tanah Abang, kemudian lanjut jalan kaki lagi menuju sekolah. Pulang ke rumah dia lakukan dengan cara yang sama. Sudah pernah dengar ceritanya? Belakangan ternyata anak ini viral sekali, cuma saya aja yang basi hingga baru tau kisah anak ini kira-kira dua jam yang lalu. Yeah, nama anak ini Alviansyah, atau akrab disapa Alpin.

Saya tahu Alpin bukan satu-satunya anak Indonesia yang harus begitu kerasnya berjuang untuk bisa sampai ke sekolah. Sayangnya masih banyak anak Indonesia yang nasibnya sebelas dua belas dengan Alpin. Tapi kisah Alpin rasanya kena banget di hati saya. Simply, karena saya hampir setiap hari juga naik kereta kayak Alpin. Jalur kereta yang sama, hanya naik di stasiun yang berbeda saja. Tapi bukan itu perbedaan paling signifikan diantara kami. 

Perbedaan terbesar diantara kami adalah, saya mengeluh, Alpin tidak.
Padahal, saya naik mobil dari rumah ke stasiun Rawabuntu, Alpin jalan kaki ke stasiun
Padahal, saya naik Trans Jakarta/taksi/ojek dari stasiun Tanah Abang ke kantor. Alpin jalan kaki ke sekolah.
Padahal, saya naik mobil dari stasiun Rawabuntu kembali ke rumah. Alpin masih jalan kaki.
Sekali lagi pernyataan ini ingin saya ulang: saya mengeluh, Alpin tidak. 
Saya ulang bukan karena saya bangga dengan kondisi yang ada, tapi saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa saya itu nggak ada pantes-pantesnya deh ngeluh. 

Anak ini usianya 21 tahun lebih muda dari saya, tapi mentalnya sepuluh juta kali lebih kuat. Orang lain boleh bilang hal itu terjadi karena kondisi ekonomi keluarga Alpin yang susah sehingga memaksanya tumbuh menjadi anak yang tangguh. Tapi menurut saya itu pendapat yang salah, karena Alpin pun punya pilihan untuk menyerah dan tidak sekolah, sebagaimana banyak manusia dewasa lainnya yang menyerah pada keadaan yang sulit. Namun, Alpin tidak mengambil pilihan itu. Dia tetap sekolah di Jakarta, betapa pun jauhnya, betapa pun sangarnya roker (rombongan kereta) berdesakan, betapa pun padatnya stasiun. Anak ini berani, seakan tidak peduli pada hambatan yang dijumpai, fokus sama tujuannya: MAU SEKOLAH.

Saya tersentuh sekali waktu tadi nonton Hitam Putih, melihat wawancara Deddy Corbuzier dengan Alpin dan Caroline Ferry, wanita yang sudah sangat berjasa memviralkan berita ini sehingga dunia bisa tahu ada anak tangguh seperti Alpin. Singkat cerita, dari wawancara itu saya tahu bahwa:

1. Alpin  sekolah di Jakarta karena di kota ini dia bisa sekolah gratis pakai Kartu Jakarta Pintar, sementara kalau sekolah di Parung Panjang dia harus bayar buku. Hal ini menunjukan betapa powerful kebijakan KJP, dan kalau pemerintah Kabupaten Bogor atau dinas pendidikan setempat mendengar berita ini, mestinya jadi tamparan keras untuk berbenah supaya bisa punya sistem semacam KJP atau yang lebih baik lagi, simply supaya jangan sampai ada lagi anak yang mau sekolah gratis aja mesti jauh-jauh ke Jakarta.

2. Alpin ke sekolah cuma dikasih ongkos sama ibunya, kalau pun dikasih jajan biasanya Alpin tolak karena katanya mending buat ibu aja beli beras. Ayah Alpin bekerja sebagai sopir proyekan, tidak selalu pulang ke rumah. Alpin juga masih punya dua orang adik. Alpin bilang ke ibunya kalau dia bisa makan di sekolah karena teman-temanya baik. Seketika saya terharu dengernya. Lagi-lagi cerita ini mengingatkan saya pada nilai relatifitas uang, selembar uang dua puluh ribu bagi ibunya Alpin adalah uang makan sehari untuk sekeluarga. Untuk saya selembar dua puluh ribu bisa hanya berarti segelas kopi yang habis dalam hitungan menit. Nilai ekonomi uangnya sama-sama dua puluh ribu rupiah, tapi nilai urgensi kebermanfaatannya bisa sangat berbeda. Kisah ini juga mengingatkan saya bahwa dalam setiap keberlimpahan yang Tuhan berikan pada seseorang, ingatlah bahwa ada hak orang lain di dalamnya, jadi jangan "dimakan" sendirian.

3. Alpin, walaupun udah capek jalan kaki, tapi kalau di kereta dia masih mau kasih duduk untuk orang lain. Rombongan commuter line sejagat raya dimana pun berada harus belajar dari anak ini. Ini anak punya lebih dari cukup alasan untuk merasa lelah dan nggak mau berbagi tempat duduk, tapi dia masih mau loooh ngasih duduk buat orang lain. Orang dewasa harus ekstra belajar soal empati dengan anak ini. Naik kereta itu nggak perlu norak dorong-dorongan hanya untuk dapat tempat duduk, kalem ajeeeeee (pernyataan terakhir adalah curahan hati saya terdalam).

Saya dapat banyak refleksi dari ketangguhan dan ketulusan Alpin. Semoga kamu jadi orang besar ya, dek. Kamu punya modal ketangguhan yang akan jadi kekuatan sangat berharga, baik di saat ini maupun di masa depanmu nanti. Kamu bilang ingin jadi masinis, kan? Kita memang belum pernah bertemu, oh atau bisa jadi kita pernah satu gerbong, atau berpapasan di stasiun, tapi salah saya yang terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak peduli dengan anak belia seperti kamu yang mungkin sedang berjalan atau duduk sendiri. Saya doakan kamu menjadi masinis terbaik yang pernah ada di negeri ini, atau karena kamu setiap hari naik kereta, kamu cocok deh jadi Dirut PT KAI di masa depan. Jangan takut, dek, ketangguhanmu dalam berusaha akan mengundang bantuan terbaik dari Tuhan kita. Sudah terbukti, kan? Kegigihan kamu menggerakan hati manusia lain untuk membantu kamu dan keluarga.

Kabar terakhir, dibantu oleh sebuah yayasan, Alpin dan keluarga saat ini sudah pindah rumah ke Rusun Benhil, dekat sekolah Alpin. Yayasan tersebut juga akan membantu biaya sekolah kakak Alpin yang sempat putus sekolah, juga memberikan sepeda motor untuk ayah Alpin supaya bisa jadi pengemudi ojek online.

Yeah, ketangguhan Alpin dan kepedulian seorang Caroline Ferry, jadi jalan kebaikan untuk satu keluarga Alpin, juga jadi cahaya inspirasi untuk banyak sekali orang, termasuk saya.
Semoga kamu juga terinspirasi dari kisah ini. Stay positive ya.


Salam,
Venessa Allia

Sabtu, 12 Mei 2018

He Was In Town


He was in town. 
Here, in Jakarta.
Who?
USTAD NOUMAN ALI KHAAAAAN!!!

Ini screenshot dari akun Instagram Mario Irwinsyah, saya lihat beliau dari lantai 2, nggak sedekat ini, hehehe


Jujur se-jujur-jujurnya, rasanya ini kali pertama saya beneran excited datang kajian (Ya Allah maafin). Biasanya mah excited kalau mau nonton film atau konser, ini saya excited ke Masjid Istiqlal buat denger kuliah beliau (lumayanlah yaa, alhamdulillah ada kemajuan dikit). Dan rasanya ini kali pertama saya mengidolakan seorang ustad, sampai-sampai kemarin saya lihat beliau dari lantai 2 masjid yang segede gaban itu aja rasanya kena starstruck (hahaaa lebay). Tapi beneran deh, doa terbaik untuk beliau, semoga amal jariyah terus mengalir untuk beliau. Karena dengan izin Allah, saya yakin sekali ada banyak orang yang tergugah hatinya mengetahui keindahan Al-Quran. Bagi saya pribadi, setelah mendengar kuliah beliau, sekali lagi atas izin Allah, saya jadi sadar tentang hubungan saya dengan Al-Quran yang ternyata terlalu “seadanya”. Heff..istigfar banyak-banyak.

Kuliah Ustad Nouman yang selama ini saya dengar, selalu membahas soal Al Quran, begitupun kuliahnya kemarin, topiknya tentang “Reconnect With Al Quran”. Begini, sebelumnya saya mau menjelaskan dulu, apa yang akan saya tulis dibawah ini semata-mata karena 2 hal:
1. Saya merasa mendapat manfaat dari kuliah Ustad NAK kemarin
2. Kata Ustad “If you got benefit, you have to share it”.

Apa yang akan saya tulis adalah gabungan dari apa yang saya pahami dari kuliah beliau kemarin dan ditambah dengan refleksi yang saya dapat. Jadi mohon maaf sebelumnya, tidak sedikitpun bermaksud menggurui apalagi sok suci karena ampun deh ilmu agama saya juga masih cetek bangeeeet. Tapi saya pun yakin, setiap orang yang diberikan kemewahan ilmu maka dia punya kewajiban juga untuk berbagi, maka bismillah, tulisan ini adalah sarana saya membayar hutang tersebut. Selain itu, setiap orang yang menyaksikan kuliah beliau bisa mendapatkan insight yang berbeda-beda. Sederhana saja, itu semua terserah Allah yang punya ilmu, ilmu atau pemahaman mana yang mau Allah kasih ke hambanya J. Jadi bagi siapa saja yang juga datang ke kuliah beliau kemarin lalu membaca tulisan ini, sangat dipersilahkan untuk melengkapi atau memperbaiki informasi pada tulisan ini. Semoga jadi kebaikan untuk kita semua yaaa, Aammiin.   

Ketika kuliah sudah selesai, dosen sudah pergi tapi mahasiswa masih pengen nongkrong.
Anyway, saya pertama kali ke Istiqlal. Gede yaaa mesjidnyaa #anaknorak


Reconnect With Al-Quran. Yuk terhubung KEMBALI dengan Al-Quran

Saya ingin sekali menuliskan isi kajian Ustad Nouman Ali Khan (NAK) kemarin dengan runut sehingga semua yang ditakdirkan membaca tulisan ini juga dapat memahami kajian beliau dengan logika yang tepat. Tapi ternyata saya kesulitan menuliskannya :D. Jadi, saya merangkum dalam beberapa poin saja yaa. Ini adalah isi kajian Ustad Nouman yang paling bikin saya amazed:

1. Manusia membaca, mendengar, bahkan menghafal Al Quran, namun apakah hatinya sudah terhubungan dengan Quran? THIS IS A HUGEEE QUESTION. Makna reconnect with Al-Quran adalah mengembalikan koneksi hati dengan Quran, karena Al-Quran itu ya untuk hati manusia. Bingung gak? Pertama kali saya mendengarnya juga rasanya abstrak dan terbayang akan sulit. Dan benar saja, Ustad NAK bilang, menjaga koneksi hati dengan Quran itu bukan perkara mudah, melainkan menjadi masalah bagi semua manusia, dari mulai yang nggak bisa baca Quran sama sekali sampai seorang penghafal Quran sekalipun. Itulah mengapa manusia harus selalu berusaha untuk terhubung dengan Al-Quran. Usahanya harus terus menerus diulang supaya selalu ingat dengan Al-Quran dan terus terhubung. Sejujurnya, selama ini kayaknya saya nggak pernah memikirkan soal seberapa kuat koneksi saya dengan Al-Quran. Ya, saya ngaji, berusaha tilawah setiap hari walau masih suka bolong-bolong, berusaha baca terjemahannya juga walau masih suka sambil ngantuk, tapi selama ini nampaknya saya lupa bahwa seluruh aktifitas tersebut seharusnya dilakukan dengan kesadaran dan excitement, bukan sekedar menunaikan kewajiban karena yang saya baca itu adalah kalam Allah. 

Dalam pemahaman saya, kalau manusia sudah terkoneksi dengan Al-Quran maka manusia akan dapat menjalani kehidupannya dengan taat tanpa memilih dan memilah, atau lebih tepatnya lagi dengan ketakwaaan. Kenapa takwa harus saya jadikan target? Karena saya ingin masuk surga, untuk itu koneksi hati saya dengan Al-Quran harus terus menerus saya perjuangkan.

Kata Ustad NAK, semakin kita terkoneksi dengan Quran, maka kita akan semakin mudah mengambil keputusan yang baik (di mata Allah). Ini masuk akal banget sih, kalau udah terkoneksi dengan Al Quran, ya udah nggak ada lagi aturan lain yang berlaku di kehidupan selain Al Quran itu sendiri serta hadis. Bahkan Nabi Ibrahim aja pernah berdoa “Give me the strength to make good decision”. Masya Allah. Al-Quran juga cahaya bagi kehidupan manusia, dan manusia membutuhkan cahaya itu sepanjang hidupnya, bukan sekali dua kali doang. Hidup manusia akan gelap tanpa Quran.

2. Pernah nggak bener-bener mikirin Quran itu datangnya dari mana atau dari siapa? Saya sendiri juga suka nggak sadar kalau Al-Quran itu kalam Tuhan. Dan kalau lagi inget, rasanya merinding T_T. Al-Quran itu datang dari Allah Ar Rahman, dari Allah yang paling cinta sama kita.

Kalimat Ustad NAK ini beneran bikin saya merinding “Someone who loves you, who wrote to you.” 

Itulah sebabnya semakin kita terkoneksi dengan Quran, semakin juga Allah akan sayang sama kita. Terlebih lagi, Quran juga merupakan nasihat dan petunjuk yang datangnya dari Tuhan. Manusia biasanya nyari nasihat dari manusia lain yang dia percaya kan? Nah ini nasihat datangnya dari Allah yang paling tahu kita dan paling cinta sama kita, kurang apa lagi? Subhanallah. Petunjuk dari Quran juga datang dari Allah yang MAHA TAHU dan lagi-lagi PALING SAYANG SAMA MANUSIA, makanya udah seharusnya manusia itu nurut kalau dibilangin “do this, and don’t do that”. Satu lagi tentang Quran yang paling bikin adem untuk saya yang suka galau, Al-Quran juga selayaknya obat yang menyembuhkan (healing), melegakan semua perasaan negatif yang suka bikin sesak dada (perasaan sedih, marah, kekhawatiran, ketakutan, sebuuuut negative feeling lainnya). Koneksi hati dengan Al-Quran akan menyembuhkan.

3. Ketika kita punya koneksi dengan Al-Quran, kita akan sadar bahwa sesungguhnya Al-Quran itu bicara tentang kita.
“Quran is talking about YOU. It is not talking about Adam a.s, Isa a.s, or anyone else, BUT YOU. The Quran has story about YOU”. 

Subhanallah. Semakin kita terkoneksi dengan Quran, kita akan semakin sadar bahwa Quran itu tentang kitaaaa. Quran itu punya cerita buat kitaaaa. Bahkan ayat Alif-Lam-Mim yang selama ini kita nggak tau apa artinya aja punya makna untuk manusia, bahwa Allah-lah yang punya hak prerogatif untuk memutuskan apa yang bisa kita pahami dan apa yang tidak bisa. Ustad NAK mengucap sebuah doa yang bagi saya pribadi sangat penting biar nggak pusing sama dunia “God, teach me what I need to know, don’t make me obsessed with all that I dont need to know.” Yakinlah selalu bahwa Allah itu terhubung dengan kita

4. Quran dan doa adalah bentuk komunikasi dua arah. 
Quran = Allah speaks to you. 
Doa = You speak (connect) to Allah
Masya Allah. Menurut saya ini indah banget. Al-Quran pun isinya penuh dengan doa. Surat Al-Fatihah saja contohnya, surat yang minimal seorang Muslim baca 5x sehari juga isinya adalah doa. 

5. Nah poin yang ini, adalah pesan dari Ustad NAK bahwa jangan punya koneksi dengan Quran sendirian, tapi bagi-bagi karena bisa jadi koneksi orang lain dengan Quran itu terjadi karena kamu :). Beliau juga memberikan penekanan soal pelajarilah Al-Quran untuk diri sendiri karena pada intinya Al-Quran bicara tentang diri kita, dan ketika kita mendapatkan pengalaman baik karena koneksi yang kita rasakan, berbagilah dengan yang lain. Share something beautiful with people around you. Jadi bukannya malah menjadikan Quran sebagai sarana menyakiti orang lain (Ustad dengan sangat tegas bilang “Don’t hurt other people with Allah’s word”). Karena Allah aja Ar-Rahman. Mengutip kata-kata Ustad Nouman,

“Quran should bring mercy to people. Because of Quran you should be full of happiness, optimistic, overjoy, and positive. This Quran, is better than anything you collect in your life. Collect Quran in your heart.”

Bagian terakhir dari tulisan ini, saya ingin menyampaikan cara dari Ustad Nouman untuk meningkatkan level koneksi dengan Quran: dengar atau baca bagian tertentu dari Quran, dengarkan penjelasannya, ulang-ulang ayat tersebut setiap hari sehingga kita merasa terkoneksi dengan ayat tersebut (saya membayangkan analoginya seperti kalau kita lagi ngulang-ngulang nyanyiin bagian chorus dari sebuah lagu yang sering kita dengar, lama-lama lirik lagu itu jadi kepikiran terus). Yang penting setiap hari kita terkoneksi dengan ayat-ayat Quran, nggak perlu semuanya (saya nggak sanggup juga kayaknya, hehehe). Nah, setiap hari, coba tambah sedikit demi sedikit ayat yang kita baca dan tadaburi, Insya Allah koneksi kita dengan Quran akan semakin kuat.


Okeee itu saja yang bisa saya ceritakan. Kita doakan semoga in the near future Ustad Nouman Ali Khan bisa datang lagi ke Indonesia, atau kita dikasih jalan sama Allah untuk datang ke kajian Ustad NAK di belahan lain dunia ini. Sekali lagi apa yang saya tulis adalah apa yang saya pahami, tanpa bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi dan semoga ada manfaatnya J

“Ushikum wa nafsiy bitaqwallah, aku menasehati kamu semua dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah.”

Stay positive yaaaa.


Salam,
Venessa Allia

P.S tulisan ini juga sebagai setoran #1minggu1cerita yang minggu ini punya topik soal “kembali”. Yuk kita kembalikan hati ke Quran :)
(bisa kan aku sambung-sambungin biar nyambung sama tema, mihihi)

Senin, 30 April 2018

Penolong

Dear my self,

sadarilah bahwa,

kamu tidak bisa mengendalikan semuanya sehingga melepaskan itu jauh lebih baik,

lebih sehat untuk jiwa dan raga,

dan pahamilah bahwa terlalu banyak berpikir hanya akan membuat hidup jadi sulit.

Sudahlah, sudah jelas kok.

"Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu"







Salam,
Venessa Allia

Minggu, 15 April 2018

29 Tahun untuk 29 Hal


Dua puluh sembilan tahun. Waktu yang tidak sebentar.

Tapi perlu hingga 29 tahun untuk saya paham 29 hal tentang berbagai hal berikut ini...

... tentang kehidupan dunia:

1. Hidup dunia nggak bisa sempurna, sempurna itu adanya hanya di surga, makanya saya harus usaha dan minta surga sama Allah. Menariknya hidup di dunia adalah walaupun nggak sempurna, tapi ada banyaaak sekali hal baik.

2. Hidup adalah sesuatu yang sungguh sangat wajib disyukuri, tapi sering lupa saya lakukan. Terbiasa hidup ternyata membuat saya jadi tidak menghargai hidup saya, padahal hidup ini adalah rangkaian kesempatan dan harapan. Selagi masih hidup maka kesempatan dan harapan itu akan selalu ada. Kalau mati, yaudah kelar urusan (di dunia), siap-siap hadapi pengadilan akhir.

3. Agama itu bukan hal yang terpisah dari hidup. Agama saya adalah tuntunan hidup yang paling sempurna. Kalau hidup saya nggak bener, itu bukan karena tuntunannya yang salah, tapi sayanya yang payah.

4. Hidup itu rangkaian dari sabar dan syukur. Begitu terus hingga jatah umur ini habis.

5. Pasrah adalah cara paling logis untuk membuat hidup di dunia tetap waras.

... tentang rezeki:

6. Rezeki adalah segala sesuatu yang diberikan Allah.

7. Rezeki bukan gaji dan tidak berarti hak milik.

8. Rezeki sudah ditentukan kadarnya bahkan jauh lebih awal dari sejak manusia diciptakan. Rezeki harus diusahakan, bukan untuk mengejar nilai materinya, tapi demi mengejar pahala dan keberkahannya.

9. Rezeki itu banyak bentuknya. Jangan jadi sombong dan sempit dengan menyimpulkan bahwa rezeki itu hanya materi.

10. Rezeki itu bisa datang dan pergi dengan sangaat mudah. Belajar ikhlas dan menyadari bahwa sejatinya manusia itu tidak punya apa-apa.

... tentang diri saya:

11. Akhirnya saya sadar kalau selama ini saya terlalu banyak terlena oleh skenario-skenario hidup yang saya susun sendiri. Kenyataannya, banyak adjustment yang Tuhan berikan dalam setiap skenario saya dan sering membuat saya merinding sendiri kalau mengingatnya. Satu hal, semua adjustment-Nya itu baik.

12. Akhirnya saya sadar kalau ketakutan-ketakutan saya selama ini hanya terjadi di kepala saya sendiri. 

13. Akhirnya saya sadar kalau nyari ilmu agama itu penting banget, dan ketika berhasil memahami sedikiiit saja ilmunya, rasanya nikmat banget

14. Akhirnya saya sadar kalau umur itu beneran cuma soal angka deh hahaha. Tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan kedewasaan.

15. Akhirnya saya sadar kalau selain kesehatan, keluarga adalah karunia Tuhan yang paling berarti bagi saya. Keluarga adalah rumah saya, mimpi saya, dan ladang pahala bagi saya.

...tentang relationship:

16. Ternyata, salah satu kunci keberhasilan dalam hubungan antar manusia adalah memberi.

17. Ternyata, punya hubungan silaturahmi yang baik dengan mantan adalah hal yang biasa saja dan sudah semestinya (no further explanation needed). 

18. Ternyata, sebaik-baiknya sahabat itu yang bisa mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, yang bisa kasih warning sekaligus jadi rem saat berjalan sudah terlalu kencang, juga jadi dongkrak semangat saat stok energi positif lagi habis. Nah, kalau mereka bisa diajak ketawa bego bersama dan berbagi humor receh, itu adalah sebuah kelebihan yang juga sangat layak disyukuri (dan saya sangat beruntung punya sahabat-sahabat dengan paket lengkap seperti itu :*)

19. Ternyata, quality times bagi saya adalah bicara berjam-jam dengan orang (atau sekelompok orang) yang membuat saya nyaman, dengan topik obrolan yang tidak ada habisnya. I love the beauty of warm conversations. Bisa ngobrol nyaman dan nyambung sama orang lain adalah kualitas yang sangat saya hargai.

20. Dulu saya pikir perkara hati adalah perkara rumit, ternyata, perkara hati itu sederhana saja kok, ini cuma soal keputusan, dan sebagaimana sifat alami dari keputusan adalah selalu punya konsekuensi yang harus dinikmati :)

...tentang pekerjaan: 

21. Saya lebih suka kerja di ruangan dan di depan laptop dibandingkan harus ke lapangan (yaa tapi kalau tugas negara nyuruh saya ke lapangan sih saya nggak nolak juga, asal jangan lama-lama aja, hahaa). 

22. Saya lebih suka jadi generalist, dibanding specialist. Lebih suka tahu banyak hal dibanding going deep and detail in certain topic. Lebih suka melihat sesuatu secara makro dan bagaimana banyak elemen terkait satu sama lain daripada menguliti satu elemen saja. Itulah mengapa saya nggak pernah merasa cocok jadi microbiologist walaupun saya sarjana program studi mikrobiologi :D. 

23. Saya lebih suka menjadi ikan kecil dalam kolam yang besar, dibanding jadi ikan besar dalam kolam kecil (ini bukan soal mana yang lebih baik, ini hanya soal kesukaan).

19. Saya ingin menjadi penulis dan membayangkan suatu hari berkarir juga sebagai penulis. Walau saat ini naskah saya masih belum berhasil tembus penerbit, dan mau konsisten nulis #1minggu1cerita aja sampai keringet darah (hiperbol mode: on), tapi suatu hari dengan izin Allah, saya berharaaap sekali bisa melahirkan setidaknya sebuah buku yang dapat menjadi salah satu legacy saya di dunia ini (semua yang baca please bilang amin doooong)

20. Ternyata mencintai pekerjaan itu ada dalilnya di Quran. Bahkan pembahasan soal bekerja  itu harus dengan sebaik-baiknya, nggak boleh cuma asal-asalan aja, ada pembahasannya di Quran (QS Saba 10-11). Total masa kerja saya udah hampir 4 tahun, tapi baru tahu pelajaran penting ini minggu kemarin -__- (kemane aje looo). Saya tahu dari kajian Nouman Ali Khan ini, mindblowing
  
... tentang kebijakan energi di Indonesia (ditulis semata-mata karena saya sudah kehabisan ide harus nulis apa lagi :p)

26. Saya baru tahu kalau industri migas itu dibagi dua, ada hulu dan hilir. Hulu terdiri dari ekploitasi dan produksi, sementara hilir terdiri dari pengolahan, penyimpanan, tranportasi dan niaga.

27. Saya baru tahu kalau industri hulu migas itu ternyata sangaaat menarik. Hahaha beberapa bulan yang lalu saya kayaknya bodo amat sama isu yang satu ini (cuma sebatas tahu kalau kerja di oil and gas itu gajinya gede, haha sesempit itu pengetahuannya). Tapi setelah Allah menakdirkan saya masuk ESDM, saya jadi banyak belajar dan pelan-pelan tahu bahwa industri ini menyumbang pendapatan terbesar dari sektor non pajak untuk APBN. Ini industri yang sifatnya high technology, high capital dan pastinya high risk, tapi kalau berhasil juga jadi high profit, makanya untuk mengelolanya, negara butuh bekerja sama dengan pihak lain, termasuk investor asing. Kerja sama di sektor hulu migas diatur kontrak kerja sama, baik skema cost recovery atau gross split dan melibatkan banyak pemain. Dan akhirnya saya tahu apa fungsi dari SKK Migas, ahaha. Anyway semua info ini mungkin akan saya ketahui kalau saya rajin baca koran, tapi yaa emang dasar anaknya males baca koran jadi yang begini-begini baru ngerti sekarang.

28. Ternyata minyak mentah itu ada banyak macamnya, kirain crude oil itu sama-sama aja. Oh ternyata tidaaak. Lagi-lagi kebesaran Tuhan ya :).


... dan ini sebuah kesimpulan terakhir:

29. Semakin banyak yang saya sadari dan ketahui, juga membuat saya semakin yakin bahwa ilmu dan pemahaman saya itu nggak ada apa-apanya. Benar kalau ada yang bilang bahwa semakin manusia belajar, maka manusia akan semakin sadar kalau masih banyak hal yang belum diketahui. Itulah kenapa, manusia nggak boleh berhenti belajar, meminta ilmu dan petunjuk sama yang Maha Mengetahui, dan berdoa supaya ilmu yang dikaruniakan menjadi berkah untuk sebanyak-banyaknya orang. Ammiin.


Itulah 29 hal menarik versi on the spot, bukan, maksudnya versi Venessa Allia Aiman yang alhamdulillah baru-baru ini disampaikan ke usia 29 tahun. Semoga bertambahnya usia diiringi dengan bertambahnya manfaat, peranan, ilmu dan pemahaman baik yaa. Ammiinn.

Stay positive :) 


Salam,
Venessa Allia

P.S tulisan ini juga menyelamatkan saya dari tendangan admin #1minggu1cerita, hehehe. Maafin ya udah 5 minggu nggak setor tulisan *sungkem


Rabu, 07 Maret 2018

Nonton TV, eh Nonton Youtube


Selamat malam!

Apa kabar dunia di luar wisma PPSDM Aparatur, Cisitu Lama, Bandung, tempat saya menulis tulisan hari ini? #lebaywoy

Malam ini suasana hati saya lagi enak banget. Hari ini saya banyak menghabiskan waktu dengan orang-orang yang punya selera humor yang sama (sama recehnya :D), keresahan yang sama, pemikiran yang mirip dan tugas diklat yang sama juga, hihihi. Ya intinya, saya bersyukur berada di lingkungan yang membuat saya nyaman. Buat saya itu penting :).

Sekarang udah jam 10 malam dan seharusnya saya tidur karena besok harus bangun jam 4 pagi, tapi tadi pagi udah niat pengen nulis demi ikrar #1minggu1cerita (ini grup memang efektif deh bikin saya konsisten menulis). Minggu ini #1m1c punya topik yaitu perubahan. Kemarin sempat kepikiran ingin nulis soal jilbab, karena keputusan berjilbab adalah sebuah keputusan yang menuntut saya berubah total. Yaa dari yang sebelumnya kemana-mana ngeliatin rambut, sekarang rambutnya harus ditutup, perubahan besar kan? Tapi niat itu saya urungkan, karena saya ingin menulis sesuatu yang lebih ringan. Nanti deh kalau waktu dan suasana hatinya lagi tepat, saya cerita apa yang dulu saya pikirkan hingga saya mau berjilbab.

Nah, tadi pagi saya nemu topik lain berkaitan dengan perubahan. Topik yang lebih ringan (atau receh ya?!). Berawal dari ritual leyeh-leyeh in the morning, sambil nungguin Yovita (temen sekamar) mandi, saya nonton NebengBoy, channel-nya Boy William, di Youtube, and you know what? I really enjoyed it!!! 

Terus apa hubungannya sama perubahan?

Saya cuma mau bilang: Dunia berubah cuuuuy, TV udah nggak laku kagi, banyak orang cari hiburan di Youtube !!!

Oke revisi dikit,
TV masih laku tapi untuk kelompok manusia tertentu, dan asumsi saya jumlahnya tidak sebanyak dulu (karena nggak punya data, jadi bilangnya asumsi). Kayaknya kelompok orang yang udah bersahabat banget dengan handphone, internet dan YouTube sudah jauh dengan dunia televisi. Malah jadi stasiun TV yang ikut menyesuaikan diri, mereka tidak hanya membuat tayangan di TV, tapi juga punya channel di YouTube.

Untuk saya pribadi, saat ini acara TV yang saya tonton secara rutin cuma satu: Indonesian Idol, hahaha. Tadi pagi juga bisa nonton NebengBoy di YouTube gara-gara judul acaranya bawa-bawa Indonesian Idol. Beberapa acara di Net TV juga masih saya tonton, tapi tidak rutin, atau tidak secara sengaja menyediakan waktu untuk nonton acara tersebut, karena semua acara TV yang saya sukai, ada di YouTube.

Hal ini berdampak, kuota internet saya cepet banget abisnya :))

Kalau kata Maliq & The Essentials dalam lagu Ananda, "Di kehidupan yang berjalan, yang tak berubah hanya perubahan." Bagaimana kebiasaan-kebiasaan itu berkembang dan berubah, menurut saya menjadi fenomena tersendiri yang sangat menarik. Ini juga tanda kebesaran Tuhan. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan apa berubah menjadi apa, tapi bagaimana manusia merespon perubahan tersebut dengan dewasa berdasarkan keyakinannya.

Kembali mengutip lirik lagu Ananda milik Maliq & The Essentials featuring Indra Lesmana,

"Ananda, dewasalah dengan cara yang kau percaya. Sempurna hanya di Surga" 


Sempurna hanya di Surga.
Sempurna hanya di Surga.
Sempurna hanya di Surga.
Sengaja ditulis 3x, biar meresap, hehehe.

Terakhir, saya ingin berbagi beberapa channel Youtube yang jadi favorit saya:
- Indonesian Idol 2018
- The Voice Indonesia (anak dan dewasa)
- The Voice USA (maklum penggemar talent show)
- Tonight Show Net TV
- Muvilla, Woman Talk, pokoknya channel yang ngomongin soal film.
- Kadang-kadang nonton Vlog, biasanya Vlognya Fitrop, sama tadi pagi Boy William (dan ternyata seru juga lihat dia muter-muter Jakarta sambil ngobrol sama VJ Daniel)
- Bayyinah Institute (kajian Nouman Ali Khan, super highly recommended).


Kedua terakhir, perubahan kebiasaan dari nonton TV jadi nonton Youtube, sebenarnya hanya perubahan media saja. Sekarang, apapun media hiburannya, semoga membuat kita semakin baik dan semakin ingat sama Yang Maha Baik yaa :)

Stay positive!

Salam,
Venessa Allia