Rabu, 10 Januari 2018

Yang Terpenting dari Yang Penting: IKHLAS

Print screen dari akun Instagram Aa Gym (bagian komentar sudah saya hapus). Caption-nya menohok saya :(


Tulisan ini berawal dari tulisan dan gambar yang di post oleh Aa Gym satu minggu yang lalu. Habis melihat tulisan ini saya terus menerus kepikiran. Caption yang ditulis Aa Gym bikin saya mikir,

"Jangan-jangan amalan yang saya lakukan selama ini niatnya bengkok semua. Lebih buruk lagi jangan-jangan niatnya karena pengen dilihat orang lain"

Istigfar...

Yang lebih bikin khawatir lagi, perkara kelurusan niat ini sifatnya halus bangeeet. Jadi takuuut amalan habis gara-gara di hati ada secuil niat riya. Ini bukan cuma perkara ibadah aja lho. Hal-hal dunia lainnya juga, termasuk aktivitas yang nampaknya udah biasa kayak post foto di Instagram atau menulis di blog, niatnya apa cobaaa? Apakah beneran semata-semata ingin berbagi informasi dan kebaikan? Atau ada secuil niat pengen kelihatan keren dan dipuji orang? Termasuk juga semua usaha saya untuk capek-capek sekolah, kerja, melakukan ini dan itu, niatnya apa? Masalahnya adalah saya bisa membuat pembenaran untuk diri saya dan orang lain, tapi Allah selalu tahu mana yang benar, Allah tidak bisa dibohongi.

Bahkan mau nulis tulisan ini aja saya beneran mikir dulu, perlu nggak ya hal ini ditulis di sini? Akhirnya setelah saya menyadari betul niat saya apa, baru saya berani nulis. 

Saya merasa akan sangat tidak lucu kalau amalan yang sudah dilakukan, ternyata habis tergerogoti niat yang tidak lurus. Nangis daraaaah.

Satu lagi yang masih sering menjadi pertanyaan bagi saya, kalau misalnya saya punya keinginan (sebuah keinginan yang konteksnya baik di mata saya), terus saya beramal dan berbuat baik dengan harapan semoga Allah mengabulkan keinginan saya, apakah bisa dikatakan niat saya belum lurus? Saya pernah dengar kajian di Youtube (semoga saya tidak salah tangkap informasi), katanya serendah-rendahnya niat adalah berharap dapat pahala dari Allah, dan itu boleh-boleh saja. Sekarang kalau niatnya dobel gitu boleh nggak ya? Berharap pahala dan supaya keinginan terkabul. Heff,  ini indikasi ilmu agama saya masih cetek banget.

Perkara ikhlas ini nampaknya menjadi sebuah exercise seumur hidup. God, please make it easy for me. Semoga Allah mudahkan untuk kita semua meluruskan niat dan merasakan kenikmatan ikhlas. Dan seperti doa Aa Gym, semoga bisa belajar bersama menjaga niat agar amal diterima Allah. Aamiin.


Stay positive yaaa.


Salam,
Venessa Allia





Kamis, 04 Januari 2018

Buying Experience: Visit Ruci Art Space "Place of Belonging"


Januari 2018!
Tahun baru, pengalaman baru, jiwa yang baru (yang lebih sehat dan waras tentunya).
Di minggu pertama Januari ini, 1 minggu 1 cerita (1m1c) punya tema yaitu 'baru'. Syukurlah nggak perlu bingung harus nulis apa karena pengalaman saya hari ini sangat cocok dengan tema tersebut.

Hari ini saya membeli pengalaman baru. Untuk konteks pengalaman saya hari ini, saya lebih suka menggunakan istilah 'membeli pengalaman' (buying experience), dibandingkan 'mendapat pengalaman'. Ada perbedaan antara membeli pengalaman dan mendapat pengalaman. Pergi ke tempat baru, mencoba makanan baru, atau melakukan aktivitas baru, saya kategorikan sebagai 'membeli pengalaman'. Sementara ditabrak mobil, jatuh dari tangga atau digigit anjing, saya kategorikan sebagai 'mendapat pengalaman'. Yang saya masih bingung, kalau falling in love (agak geli nulis 'jatuh cinta') itu mendapat pengalaman atau membeli pengalaman ya? Soalnya, in my polontong opinion, falling in love adalah kombinasi antara kecelakaan, ketidaksengajaan dan keputusan, hahaha.

Aaaannyywaaay, cukup sekian mukadimah nggak pentingnya.
Langsung saja pada intinya. Pengalaman apa sih yang baru saya beli? Ini dia:

Melihat pameran lukisan "Place of Belonging" di Ruci Art Space, Kebayoran Baru. Judul paling tepat untuk foto ini adalah "Mencoba dan Berusaha Memahaminya"

Ini adalah pertama kali saya lihat pameran lukisan. Sebelumnya di Bandung, saya pernah datang ke Pasar Seni ITB, tapi disana lebih fokus ngeliat orang daripada ngeliat lukisan, karena ampun pengunjungnya penuh banget. Beberapa hari yang lalu, Lina, teman baik saya dari SMP, ngajak lihat pameran lukisan di Ruci Art Space karena dia penggemar lukisan Abenk Alter. Saat diajak, saya tidak tahu sama sekali siapa itu Abenk Alter, saya juga nggak tahu Ruci Art itu dimana, tapi emang dasar anaknya mure (maksudnya murah alias gampang diajak kemana-mana), jadi saya mau aja. Yaa di sisi lain, saya ingin juga sih nyoba jadi anak yang lebih nyeni gitu, dan saya juga suka mencoba pengalaman baru (kecuali naik tornado di Dufan, no way!), jadi ajakan Lina saya sambut dengan gembira.

Saya dan Lina janjian ketemuan di Pejaten Village, kemudian kita naik mobil ke Ruci. Siang ini lalu lintas Jakarta Selatan lagi asik, yaa setidaknya dari Pejaten ke Jalan Suryo nggak kena macet sama sekali. Nyampe sana langsung dapat parkir lagi, sebagai sopir saya happy . Ruci Art Space ini menurut saya tempat yang sangat nyaman. Lantai satu dipakai untuk coffee shop, dan lantai dua dipakai untuk galeri. Kapan-kapan saya kepengen nyoba ngopi disini, kayaknya bakal betah berjam-jam laptopan sambil nyeruput kopi fancy disini. Sesampainya di Ruci, saya dan Lina langsung naik ke lantai dua. Lina langsung seneng lihat lukisan-lukisan Abenk Alter, sementara saya, emmm saya masih berusaha menyukainya :))

Pameran lukisan ini berjudul Place of Belonging. Ada 3 seniman yang memamerkan karyanya: Abenk Alter, Glenda Sutardy dan Mark Schdroski. Singkat cerita, lukisan-lukisan ini adalah respon para pelukis dalam memaknai Place of Belonging, tidak hanya sebagai physical environment, tapi juga state of beings. Luar biasa yah pelukis tuh, mereka bisa menuangkan gagasan dalam bentuk gambar. Gagasan yang mau coba disampaikan juga tidak sederhana. Tapi, bagi saya permasalahannya adalah saya butuh lebih dari sepasang mata untuk membaca gagasan dalam lukisan mereka.

Karya Mark Schdroksi. Judul lukisan urut dari kiri ke kanan mulai dari baris paling atas: Chromatic Intestinal, Mothers Milk, Emission Chroma, Blue & Pink Crush, Moon from the Jetty, Operation, Pink Yellow Green, Sitar, Gene Edit, At the Edge, Anticipation, Moving Shadow/Pink Push. Medianya menggunakan cat minyak pada kanvas.

Pertama kali lihat lukisan di atas, komen saya: (1) suka deh warna-warni lukisannya, (2) lukisan ini akan membuat sebuah ruangan jadi makin keren, (3) kayaknya saya bisa deh bikin lukisan kayak gini doang (padahal lukisan ini sama sekali tidak 'doang'), (4) kenapa judulnya kayak begitu sih?
Dipandangi sekian lama, saya masih gagal paham korelasi antara judul dan lukisan. Terus saya inget, katanya kalau mau memahami makna sebuah lukisan, lihatnya harus dari jauh, jadi saya mundur beberapa langkah, akhirnya dari 12 lukisan, saya bisa paham 2 (lumayanlah, daripada nggak sama sekali).

Lukisan yang bawah judulnya Anticipation. Kalau dilihat, lukisan tersebut seperti menggambar bentuk telapak tangan yang terbuka, jadi semacam mengatakan tidak atau menolak. Mungkin nih, maksudnya Anticipation tuh disitu. Begitulah teori saya dan Lina
Ini dua lukisan yang paling saya suka. Lukisan bawah saya suka karena warnanya cakep banget (kalau di foto kelihatan biasa aja sih, tapi aslinya bagus deh), walau saya masih belum paham dengan judulnya (Blue & Pink Crush). Kalau lukisan yang atas saya suka karena saya yakin banget lukisan itu ngegambarin bentuk usus manusia sehingga lukisannya diberi judul Chromatic Intestinal. Keren yaaaaa.

Waktu awal ngelihat lukisan, kesan pertamanya adalah "ini gambar apa sih nggak jelas", tapi kalau udah berhasil paham malah jadi kagum sama pelukisnya, mereka jenius! Buat saya yang lebih banyak belajar sains, seni lukis adalah sebuah kemewahan yang sudah saya ikhlaskan karena keterampilan melukis bukan menjadi rezeki saya :). 

Ini karya Abenk Alter, sayangnya saya nggak nulis judulnya apa. Media yang digunakan yaitu akrilik, spray print dan crayon pada kanvas.  Kata Lina sih lukisan ini menggambarkan anak dan istrinya Abenk Alter. 

Yang ini karya Gleda Sutardy, judulnya Parallels in time. Menurut keterangan, Gleda Sutardy ini suka bereksplorasi dengan pigmen alami. Pada lukisan ini dia menggunakan mercuric sulphide and synthetic polymer on wooden panels.


Secara keseluruhan, saya suka lukisan-lukisan disini, walaupun nggak semuanya saya pahami, tapi menurut saya masih bisa dinikmati karena warna-warnanya yang eye catching. Terlebih lagi saya excited karena ini merupakan pengalaman baru. Kapan-kapan mau ah lihat-lihat pameran lukisan lagi. Ohiya, jangan lupa kalau lihat pameran lukisan, dinikmati dengan mata saja ya, karena  lukisan-lukisan ini hanya untuk dilihat dan tidak boleh disentuh (jangan berdiri melewati garis batas yang sudah ditentukan di depan lukisan). Jangan lupa juga untuk mencoba melihat lukisan dari jauh supaya bisa paham maknanya. Mungkin sama juga kayak kalau mau memaknai hidup, harus dilihat dari jauh atau dari pandangan yang lebih luas, supaya lebih paham hikmahnya. Ahey!

Place of Belonging @ Ruci Art Space, Jalan Suryo no 49 Kebayoran Baru. On going until 28 January 2017, eh 2018, Daily 11 am - 7 pm. FREE.


Cukup dulu untuk malam ini. Saatnya bobo.
Stay positive yaaaa!

Salam,
Venessa Allia

Jumat, 29 Desember 2017

Cerita Hanya Cerita

Akhirnya saya menulis lagi.
Setelah 2 minggu terakhir buka laptop aja rasanya malaas ampuuun (kecuali untuk aktifitas yang menghasilkan uang, HAHA). Hari ini saya niat keluar rumah, mencari tempat pewe untuk menulis, dan tahukah kawan apa yang terjadi? CHARGER LAPTOP GUE KETINGGALAN. Aseli kesyel! Untung baterai laptop masih penuh. Actually, setelah tadi dipakai untuk respon email penting (#sokpenting), yang mana bales emailnya musti disertai dengan attachment, yang mana lagi bikin attachment-nya teh (oke trilingual) musti mikir-baca-nulis, baterai laptop gue sekarang nyisa 50%.

Okeee, mari kita bercerita dengan sisa baterai yang ada. Karena kalau laptopnya keburu mati, saya berencana mau cabut nonton dan sampai rumah nanti, saya nggak yakin cukup rajin untuk buka laptop lagi.

Sekedar informasi, saat ini saya sedang berada di sebuah tempat cuci mobil di daerah BSD. Di daerah BSD ini saya sudah menemukan 2 tempat cuci mobil yang ada coffee shop-nya. Semuanya ajaaa di kopiin, tempat cuci mobil aja ada tempat ngopinya. Sebenarnya oke sih, jadi bisa nunggu mobil sambil produktif bekerja, ada wi-fi lagi. Tapi harga kopinya sudah 50% harga nyuci mobilnya (kopi kapitalis :p)

Oke jadi sekarang saya mau nulis apa? Plislah Venessa Allia kalau nulis di blog tuh kalau nggak bisa informatif, at least ada maknanyalah saeutik. Jangan rubish-rubish teuing (trilingual, again). Oke oke, sebenarnya ada 2 hal yang muter-muter di kepala saya minta ditulis,

1. Pandangan saya tentang film Ayat-Ayat Cinta 2
2. Baca ulang Harry Potter yang membuat saya semakin ingin menjadi pengajar.

Tentang Ayat-Ayat Cinta 2. Sudah pada nonton filmnya? Awalnya saya tidak ingin nulis review filmnya di blog pribadi karena merasa tidak perlu. Tapi, setelah membaca sebuah review film ini yang sangat viral (ada dua orang teman di dua grup berbeda yang share link-nya), saya jadi latah ingin bikin review juga, dengan sudut pandang yang jikalau tidak bisa disebut objektif (karena konon objektivitas adalah mitos), setidaknya lebih berimbanglah. Review film AAC2 yang viral tersebut dibuat penulis tersebut dengan sangaaat niat dan kocak (aseli kocak, tapi sekaligus jahat juga sih). Yah kritik penonton somehow memang kejam. Review yang ingin saya tulis tidak akan sepanjang dan seniat itu. Mungkin ini hanya short review (mengingat charger laptop ketinggalan juga), tapi semoga lebih halus ya. Ohiya, saya sengaja nggak mau ikut kasih link review film tersebut di sini, nanti artikelnya makin viral (terus gue iri, hahaha).

Saya tidak seantusias itu menantikan film Ayat-Ayat Cinta 2. Buat saya daya tarik film ini adalah Fedi Nuril semata (maapkan dangkalnya otak hamba). Waktu lihat trailernya, hmm biasa aja. Teman saya mengkritik adegan Fahri yang wefie sama Tatjana Saphira yang muncul di trailer, dan hal tersebut membuatnya malas nonton AAC2. Buat saya tidak masalah, selama yang jadi Fahrinya Fedi Nuril (woy!). Saya juga bukan penggemar film AAC1 yang pada saat itu banyak orang bilang filmnya bagus. Saya kurang tertarik dengan premisnya. Nonton filmnya waktu itu juga di TV (dan waktu itu saya belum sesuka itu sama Fedi Nuril-haha). Saya juga nggak baca bukunya, padahal katanya bukunya bagus. Genre cerita seperti AAC memang bukan favorit saya.

Pada akhirnya saya menonton film AAC2 juga karena merasa film ini film MAHAL, jadi nggak ada salahnya ditonton. Syuting di Scotland, pemainnya aktris premium semua (bukan, maksud saya bukan berarti mereka mantan bintang iklan Pertamina, maksud saya mereka aktris-aktris papan atas), dan soundtrack-nya aja dinyanyikan oleh 4 penyanyi mahal juga, sampai dibuatkan konsernya. Pokoknya marketing filmnya gila-gilaan (hormat MD Pictures). Jadi terpengaruh juga ingin nonton. Terus, mama saya juga ngajak nonton film ini. Jadi hayuklah kita nonton. Bareng kakak ipar saya yang sudah 3 tahun lebih nggak nonton bioskop karena sudah ada anak. Jadilah kita nonton bersama.

Saya masuk bioskop tanpa ada ekspektasi apa-apa. Keluar bioskop saya bingung.

Bingung hendak menyimpulkan apakah film ini film yang bagus atau tidak :).

Begini. Tidak ada karya yang sempurna, sepakat? Saya juga tidak bisa mengatakan film ini jelek, karena film ini terlihat digarap dengan niat kok. Pengambilan gambar dan tata musik yang dipakai bagus dan enjoyable. Banyak yang mengkritik penggunaan Bahasa Indonesia padahal ceritanya si Fahri ngajar di Scotland, buat saya itu faktor teknis dan bisa dimaafkan, karena filmnya akan tayang di Indonesia, jadi buat saya nggak masalah kalau beliau pakai Bahasa Indonesia.

Kelebihan film ini ada dari pesan yang ingin dibagi, dan menurut saya itu penting. Saya tipe penikmat film yang menilai lebih faktor "nilai" yang dibagi di film. Satu pesan penting yang saya dapat dari film ini adalah soal niat yang melandasi semua perbuatan baik. Apakah semua kebaikan Fahri selama ini sudah karena Allah, atau semata-mata pelariannya terhadap hilangnya Aisha? Apakah kepergian Aisha ke Gaza adalah murni karena Allah atau karena melarikan diri dari kekecewaannya setelah keguguran? Pesan ini tercermin dari dialog antara Fahri dan Misbah (Arie Untung). Silahkan nonton sendiri ya, saya nggak mau merusak pengalaman orang lain dengan menjadi spoiler. Mengingat ilmu ikhlas dan pasrah adalah memang ilmu tingkat tinggi yang harus dipelajari seumur hidup, pesan ini menurut saya sangat penting dan membuat saya sangat menghargai film ini. Pesan lain dari film ini tentu saja tentang berbuat baik kepada semua orang tanpa terkecuali, tapi rasanya ada banyak film yang cerita soal ini, jadi saya tidak menganggapnya terlalu istimewa.   

Kekurangan terbesar film ini menurut saya cuma satu: mengusik logika penonton :).
Apalagi kalau penontonnya logis perfeksionis :). Saya pernah diajarkan bahwa sefiksi-fiksinya cerita, tentunya ada pola sebab akibat dalam cerita yang perlu diperhatikan. Nah, saya sendiri menangkap ada setidaknya 2 hal besar dalam cerita AAC2 yang saya pertanyakan. Satu, tentang kelogisan solusi di ending (bikin mikir, "hah emang bisa yah kayak gitu?"). Dua, soal plot twist yang sebenarnya bagus dan menguatkan cerita, tapi juga bikin tanda tanya "kok bisa yaaa?" Sorry, penjelasannya rada-rada absurd, soalnya kalau dijelaskan secara gamblang, jadinya malah ngebocorin kisahnya, dan saya nggak mau melakukan itu. Silahkan tonton dan ambil kesimpulan sendiri :). Tapi lalu saya kepikiran, apakah pertanyaan-pertanyaan saya atau penonton lainnya ini tidak terpikir oleh pembuat film atau penulis cerita? Saya rasa mereka sudah memikirkannya juga, jadi pasti mereka punya alasan yang baik dengan membiarkan ceritanya tetap begini.

Hal lain lagi, saya terusik dengan bagian 'debat' Fahri, menurut saya terlalu berlebihan, jadi saya tidak aneh kalau bagian ini dihajar babak belur sama reviewer film di luar sana. Katanya sih bagian debat ini diceritakan lebih seru di bukunya, sayangnya saya tidak baca buku AAC, jadi murni hanya menilai film. Juga karakter Fahri yang luar biasa baik sekali, membuat saya bertanya-tanya adakah manusia di dunia nyata yang punya sifat sebaik itu? Tentunya selain Rasullah SAW. Tapi saya positive thinking, siapa tau memang ada, hanya saya saja yang belum diberi kesempatan untuk kenal orang tersebut. Wallahu a'lam.

Jadi kalau ditanya lagi apakah filmnya bagus, saya nggak bisa end up dengan satu jawaban singkat, saya harus bilang:
- Pemainnya bagus (Dewi Sandra terutama, aktingnya bagus. Dan yaaah faktor pemain utamanya semuanya eye candy gitu, cakep-cakep amaaaat)
- Soundtracknya bagus
- Settingnya bagus (bikin pengen kuliah di luar negeri)
- Pesan filmnya bagus
- Jalan ceritanya masih kurang oke karena ada pola sebab akibat yang tidak terjelaskan.

Saya pribadi jauh lebih suka film Surya Yang Tidak Dirindukan 2 daripada film ini. Karena SYTD2 punya cerita yang menarik, sederhana dan logis, dengan pesan yang dalam dan menyentuh. Tapi saya juga tetap bisa menikmati film AAC2 ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya (terlebih lagi film ini bisa membuat saya bergerak menulis review-nya, saya bohong kalau bilang film ini tidak berkesan).

Satu hal yang pasti film AAC2 ini: LAKU! (Congrats Pak Manoj, tapi lain kali modalin film yang setipe film festival dong pak, kayak Night Bus, saya pengen banget nonton film ini pak tapi filmnya kayaknya kurang promo dan cuma bentar banget di bioskop - curhat kali aja dibaca sama si bapake :p)        

Review ini ingin saya tutup dengan kesadaran bahwa terlepas dari apapun komentar saya tentang film ini, saya masih tidak yakin bahwa saya dapat membuat sebuah cerita yang lebih baik dari cerita AAC ini. Paling enak memang nulis tentang karya orang lain, bisa bebas lepas (in the name of freedom of speech), tapi tetap saja, menurut saya penting untuk menahan diri dari komentar yang menyakiti orang-orang yang sudah susah payah membuat karya. Jadi inget, saya pernah bikin review tentang film (atau sinetron ya, rada lupa) 'Ketika Cinta Bertasbih', tapi tulisannya akhirnya saya hapus karena saya sadar tulisannya kurang baik (lalu beberapa tahun kemudian saya ditakdirkan kenal dengan salah satu pemain filmnya, dan orangnya baiiiik banget, bikin makin nggak enak kalau inget review itu lagi).

Saya pernah coba bikin cerita fiksi dan susah booook (soklah cobain). Saya jadi semakin salut sama siapa pun orang yang sudah berani mempublikasikan karyanya, karena itu membuktikan keberanian mereka. Keberanian dalam menerima sambutan orang lain, positif dan negatif, sambutan netijen ibu peri atau netijen tukang julid, penonton perfeksionis atau yang less-detail-high-tolerance. Siap-siap telen aja komennya (#mentaljuara).

Wow sudah cukup panjang ternyata tulisannya. Baterai laptop masih ada 30% sih tapi saya harus cabut sekarang, hehehe.
Tulisan selanjutnya saya ingin berbagi cerita soal obrolan singkat dengan dosen pembimbing s2 saya dulu dan pengalaman baca ulang Harry Potter 3 yang membuat saya semakin menghargai profesi pengajar.

Terimakasih sudah membaca tulisan saya yang intinya sih cuma ingin cerita, hihi.
Stay positive yaaa.

Salam,
Venessa Allia

P.S. Febuari cepetan datang dooong, pengen mulai kerja lagi (awas aja nanti kalau udah mulai kerja malah begging pengen cuti -__-).

Rabu, 13 Desember 2017

Literally "Me Time": Nonton di CGV Gold Class

"Ini baru namanya me time. Bener-bener me time . Literally "me time", karena nyaris emang cuma gue doang."


Senin, 4 Desember kemarin, gue nganter mama ngambil paspor di kantor imigrasi Tangerang Selatan, dan setelah itu, kita berencana nonton bareng. Gue kangen bioskop aseli! Udah sampai di Teras Kota BSD, eh mama dadakan sakit perut, jadi males nonton dan pengen pulang aja. Mungkin karena tidak ingin memupuskan keinginan anaknya yang udah ngebet pengen nonton, mama nyuruh gue tetep nonton aja, tapi minta dipesenin GoJek buat nganter ke rumah kakak gue yang masih di daerah BSD. Yaudah deh habis memastikan nyokap naik GoJek dengan selamat, gue langsung ke CGV dan beli tiket. Gue memilih nonton Murder On The Orient Express karena penasaran pengen bandingin filmnya Sherlock Holmes sama Poirot bagusan mana, hehe.

Ternyata jam terdekat untuk film ini adanya cuma yang Gold Class, kalau mau nonton yang reguler gue harus nunggu sekitar 1,5 jam. Males kan? Gue tanya ke abang CGV berapa harga tiket Gold Class. Katanya Rp 60.000. Gue mikir, kalau gue nunggu 1,5 jam demi nonton di studio reguler yang lebih murah, resikonya adalah telat ashar dan besar kemungkinan gue ngeluarin duit buat menunggu, jadi batal hemat dong. Lagipula gue belum pernah juga nonton di Gold Class. Yaudah for the sake of buying experience dan demi efisiensi waktu, gue beli tiket nonton Murder On The Orient Express di Gold Class.

Kejutannya adalah saat gue udah beli, gue baru tahu kalau yang beli tiket baru gue doang, hahaha.
Jadi gue terancam nonton sendiri di studio yang gelap, dingin dan luas. Rada merinding sih, karena walaupun bukan film horor tapi ini kan film tentang pembunuhan. Masalahnya gue tidak punya opsi untuk batal jadi yaudahlah hajar aja. Kata si abang CGV sih filmnya bagus jadi biasanya nanti ada yang beli tiket lagi.

Faktanya, hingga film berakhir, studio sebesar itu hanya diisi oleh 3 orang tidak dikenal yang sama-sama nonton sendirian. 

Cerita sedikit, beberapa teman gue tidak bisa memahami apa enaknya nonton film sendirian. Kalau gue sih logis aja anaknya, kalau mau nonton suatu film tapi nggak ada yang bisa nemenin, masa harus jadi batal nonton. Lagian bukannya saat nonton kita akan fokus pada filmnya ya? Nggak enaknya nonton sendiri adalah setelah film itu habis, nggak ada partner untuk membahas isi film yang baru ditonton bersama. Tapi enaknya adalah bisa nonton film dengan sangat fokus, nggak ada yang ngajak ngobrol dan beli tiket untuk 1 orang itu jauh lebih mudah walaupun nyarinya udah injury time. Gue masih inget, film pertama yang gue tonton sendiri di bioskop adalah Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2, gue nonton di TSM Bandung, posisinya kalau nggak salah di kursi ujung kanan baris kedua paling bawah. Itu adalah sisa kursi yang tersedia saat gue sampai di depan mbak XXI. Saat itu tahun 2011, gue dan teman-teman gue sedang tugas akhir, kita susah banget ngatur waktu untuk nonton bareng, sementara film tersebut sudah sangat gue nantikan. Jadi yaudahlah daripada lama nungguin orang gue nekat aja ke TSM cari tiket dan dengan mudah mendapatkan satu tiket walaupun posisinya kurang ergonomis, tapi gue bahagia. Itulah kali pertama gue me time dengan nonton sendirian di bioskop.

Balik lagi soal me time nonton di CGV Gold Class. Satu kata: Nyaman! (yaiyalah 60 rebuuuuu). Sofanya empuk banget dan karena gue anaknya norak sama udara dingin, gue suka banget dapet selimut. Terus dikasih meja kecil gitu, jadi nggak rempong kalau mau menyimpan makanan.

Untuk selanjutnya, gue akan tetap lebih memilih nonton di studio reguler sih, karena bagi gue nonton film itu tentang menikmati filmnya, bukan soal kenyamanan tempatnya. Tapiiii sekali-sekali nonton di tempat yang lebih premium, sangat layak dicoba loooh. Asal jangan sampai saking nyamannya malah jadi ketiduran yah, rugiiiiiii.

Me time itu banyak caranya. Nggak harus keluar rumah atau menghabiskan banyak uang. Menurut gue, me time adalah suatu aktivitas untuk menjaga diri tetap waras, gembira dan mengisi kembali tangki emosi dengan perasaan positif. Karena tujuannya sudah berkaitan dengan perasaan, jadi me time tuh urusan hati juga sih. Mau apapun aktivitas me time-nya, kalau ujungnya malah jadi bete, ya gagal me time namanya.  Contoh sederhanya gini, bagi gue leyeh-leyeh di sofa sambil ganti-ganti channel TV  adalah me time, tapi kalau saat nonton TV tersebut gue ngelihat berita kriminal atau gosip nggak penting yang malah mereduksi energi positif gue, yang ada gue malah kesel, artinya gue gagal me time. Satu lagi yang menurut gue penting, apapun caranya, me time tidak akan efektif jika selama aktivitas pikiran kita melalang buana ke tempat lain (mikirin kerjaan, mikirin keluarga, mikirin pasangan, mikirin tesis, mikirin utang, you name it). Me time adalah tentang hadir sepenuhnya di waktu saat ini, menikmati kehadiran diri sendiri, dan bersyukur dengan apapun yang dimiliki. Jadi biar me time-nya sukses, semua problematika kehidupannya, semua ambisinya, semua kerisauannya (again..you name it) ditinggalin dulu aja yaaa. 

Tulisan di dinding CGV Teras Kota. So deeep.

Gue percaya bahwa setiap manusia butuh waktu sejenak untuk dirinya sendiri. Sekali lagi bentuknya bisa apapun juga. Yang penting pada saat itu hadirlah 100% untuk diri sendiri. Jika kamu beruntung, saat itu pula kamu akan merasa tidak pernah benar-benar sendiri. Selalu ada Tuhan yang menemani.

Tiba-tiba kepikiran, seharusnya sholat tuh jadi aktivitas me time yang "paling me time" yaaaa. Ternyata muslim tuh udah dikasih kesempatan me time tiap hari minimal 5x lagi. Asal waktu sholat pikirannya nggak melalang buana ke tempat lain (mikirin kerjaan, mikirin keluarga, mikirin pasangan, mikirin tesis, mikirin utang, you name it). Hiks, PR besar gue ini :((. 

Okee, cukup untuk cerita hari ini. Stay positive yaaa!


Salam,
Venessa Allia.

Notes: Tulisan ini sebenarnya untuk disetor ke 1minggu1cerita yang untuk awal bulan Desember ini mengambil tema Me Time, tapiiii harusnya gue setornya minggu kemarin. Hadoooh.
 

Jumat, 01 Desember 2017

Tips Biar Nggak Malas dari Si Pemalas.


Malas adalah musuh besar bagi setiap individu yang diciptakan Tuhan. Penyakit ini mematikan karena dapat menjadi penghambat rezeki dan keberkahan hidup, juga mematikan potensi-potensi yang sudah ditanamkan Tuhan. Mengalahkan kemalasan pada dasarnya mengalahkan diri sendiri, dan menurut saya hal itu bisa lebih sulit daripada mengalahkan kompetitor atau ratusan individu lain yang sudah jelas di depan mata. Salah satu doa pada dzikir pagi-petang juga ada yang berbunyi “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” Hal ini menurut saya adalah indikator bahayanya kemalasan.

Kalau saya perhatikan, tiap individu pada dasarnya punya sifat malas, hanya kadarnya berbeda. Orang-orang yang terkenal produktif dan memiliki mode of achievement yang tinggi, menurut saya punya kekuatan untuk mengalahkan rasa malas sehingga kadar malasnya menjadi sangat kecil. Malas juga banyak bentuknya, yang pasti semua bentuk kemalasan akan menghalangi manusia dari kebaikan: malas belajar, malah ibadah, malas bangun pagi, atau malas olahraga (yang ini saya akui, menjadi kelemahan terbesar saya).

Sumber: https://id.pinterest.com/hayleysparling/funny-the-simpsons-quotes/?lp=true


Ada banyak faktor yang memperbesar kadar kemalasan, tiga diantaranya menurut saya adalah: 
1. Waktu luang
Saya biasanya jadi jauh lebih produktif di kala deadline, atau waktu terbatas, bukan kebiasaan yang layak ditiru, tapi harus diakui, waktu luang yang tidak bisa dimanfaatkan dengan baik sering kali membahayakan.

2. Udara dingin
Ini teori saya pribadi sih, nggak ada dasar ilmiahnya. Udara dingin itu kenapa sih bikin malas banget bangun pagi, males nyuci baju (karena kena air dingin), males olahraga (yah kalau ini, mau udara panas juga saya suka males sih, errh). Bawaannya pengen di kasur, selimutan sambil baca novel. Sekali-sekali mungkin nggak apa-apa yaa, tapi kalau keterusan bahayaaaa. Mungkin hal ini pula yang menjadi sebab sampai saat ini saya nggak ditakdirkan sekolah di Eropa, nanti kalau musim dingin bisa-bisa saya lemah nggak mau kuliah.

3. Kondisi yang terlalu nyaman.
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat bahwa comfort zone itu tidak baik, yang saya permasalahkan adalah jika kondisinya sudah terlalu nyaman. Dimana-mana yang namanya “terlalu” itu tidak baik, kan? Terlalu nyaman juga akan membuat manusia malas bergerak dan berbuat, karena sering kali energi untuk berubah dan berkarya hadir dari ketidaknyamanan.

Sumber: http://runt-of-the-web.com/homer-simpson-quotes


Naaaaaah…
Kenapa saya menyinggung topik “malas” pada tulisan saya kali ini karena saya menyadari ketiga kondisi tersebut ada di dalam hidup saya saat ini. Jadi penyakit malas sedang sangat mudah tumbuh subur dalam diri saya. Dua hari yang lalu, saya baru diberi tahu ternyata CPNS yang proses seleksinya saja kemarin sudah memakan waktu hampir lebih dari 2 bulan, ternyata hari pertama bekerjanya masih di bulan Febuari (pengalaman seleksi CPNS ini memang istimewa, ingatkan saya untuk cerita soal ini nanti). Jadi saya punya waktu luang selama 2 bulan yang harus saya kelola sebaik mungkin. Ditambah lagi udara dingin yang belakangan ini setiap hari menutupi Tangerang Selatan membuat pagi saya semakin menantang. Daan tinggal di rumah bersama orang tua dan asisten rumah tangga, harusnya juga jadi satu indikator kenyamanan. Waktu di Bandung saya tinggal berdua dengan adik sepupu saya, dan karena kami ngurus rumah sendiri, saya lebih punya kesadaran untuk beres-beres rumah. Tapi disini, dengan kehadiran asisten rumah tangga, duh nggak bisa boong, gelora kemalasannya makin jadi aja (cailah gelora).

Naaaah (apaan sih nah-nah-nah mulu, maafin lagi nggak bisa bikin bridging yang lebih asik).
Maksud tulisan ini adalah saya ingin berbagi tips sederhana bagaimana caranya melawan rasa malas supaya lebih produktif menggunakan waktu. Tips ini bukan dari sumber manapun, jadi murni dari pemahaman saya, ditulis oleh saya, dan saya tulis untuk diri saya sendiri, syukur-syukur kalau yang baca bisa menerima dan menerapkannya juga, semoga saya kebagian amal jariyahnya, hihihi. Tips ini banyak saya ambil dari pengalaman saya menyelesaikan tesis. Siapapun yang pernah mengerjakan tesis nampaknya akan setuju bahwa tesis pada hakikatnya adalah perang melawan diri sendiri, dalam hal ini kemalasan dan ketakutan.

Tips Biar Nggak Malas dari Si Pemalas


1. Mandi pagi.
Ini temuan (agak) penting: kalau manusia bisa menaklukan rasa malas mandi pagi, maka (Insya Allah) mereka bisa menaklukan kemalasan untuk aktivitas-aktivitas selanjutnya. Ngebasahin badan sebelum mulai aktivitas menurut saya sangat penting karena bikin badan dan otak lebih segar, secara otomatis ngantuk pun hilang.Saya sendiri lebih memilih mandi pagi dibanding mandi sore (huahaha, ini nggak layak ditiru sih, tapi saya lebih bisa mentoleransi kebiasaan orang yang nggak mandi sore, dibanding nggak mandi pagi). Rasanya saya bisa rungsing banget kalau beraktivitas sebelum mandi, badan rasanya panas. Salah satu teman saya yang sama-sama cewek, memilih untuk nggak mandi pagi dibanding nggak mandi sore, atau dia memilih mandi malam sekalian terus langsung tidur, bangun pagi nggak perlu mandi lagi karena badan masih bersih. Tentunya yang terbaik adalah mandi 2x sehari, cuma kalau seharian di rumah aja, dan tidak berkeringat, apalagi udara dingin, saya rasa mandi sehari itu cukup (save water!!!). Hihihi.

2. Mulailah dengan sesuatu yang mudah dan disukai
Cara ini sering saya lakukan saat beberapa bulan yang lalu menyelesaikan tesis. Ngerjain tesis saat belum deadline, membutuhkan energi aktivasi yang tinggi. Masalahnya saya sadar tidak baik jika selalu menunggu deadline untuk menyelesaikan sesuatu, yang ada jadinya sering stress dan hasil yang dikerjakan tidak optimal karena terburu-buru. Karena mengerjakan tesis adalah pekerjaan yang bagi saya tergolong berat, saya biasanya mulai dengan mengerjakan sesuatu yang ringan dan saya sukai dulu, TAPI jangan keterusan. Misalnya gini, kalau mau ngerjain tesis, saya harus buka laptop. Tapi karena malas ngerjain, saya jadi malas buka laptop, biar saya tergerak buka laptop, saya akan buka laptop dan duduk di meja belajar untuk 30 menit nonton channel yang saya sukai di Youtube dulu. Saya batasi hanya 30 menit. Disini memang butuh kontrol diri supaya nggak keterusan. Karena laptop sudah terbuka, dan saya sudah dalam posisi duduk di meja belajar, maka secara fisik saya sudah siap untuk mulai ngerjain tesis, jadi saya akan lebih tergerak untuk buka dokumen tesis. Cara ini efektif bagi saya. Atau bisa juga dimulai dari mengerjakan bagian tesis yang gampang-gampang dulu, misal merapikan tata bahasa untuk bab tinjauan pustaka, merapikan tabel atau pekerjaan lainnya yang printilan tapi penting. At least I make a progress.


3. Follow Instagram orang-orang yang produktif dan berprestasi
Instagram (IG) menjadi satu-satunya media sosial yang aktif saya gunakan saat ini. Instagram juga media sosial yang ASLI efektif banget membunuh waktu dan bikin males. Saya juga susah jelasin kenapa explore dan scrolling timeline IG bisa semenarik itu. Biar lebih berfaedah, saya dengan sengaja follow IG teman atau kenalan atau temennya temen yang saya tahu punya prestasi dan produktivitas tinggi. Melihat aktivitas mereka melalui post mereka di IG biasanya akan membuat saya termotivasi untuk KEEP MOVING FORWARD. Apalagi orang-orang ini juga berusia tidak jauh dari usia saya, jadi kalau saya malas saya suka keingetan mereka “heloo saat kamu males-malesan, itu temen kamu lagi belajar keras di Amrik dan bangun bisnis.”


Sumber: https://id.pinterest.com/explore/stop-being-lazy/?lp=true



4. Buat jadwal!
Membuat jadwal juga menjadi cara saya melawan gelora kemalasan mengerjakan tesis dulu (apa siiih geloraaa). Cara ini juga akan saya terapkan untuk 2 bulan ke depan biar waktu luang saya nggak terbuang percuma. Jadwal bisa dibuat dimana saja: handphone, buku catatan, tapi kalau saya lebih suka tulis jadwal di board dan tempel di dinding kamar. Pakai paper board yang bisa dengan mudah dihapus untuk membuat jadwal tetap rapi dan fleksibel.  Senangnya menulis jadwal adalah saat selesai menyelesaikan target aktivitas pada hari tersebut, kemudian saya bisa mencoret daftar aktivitas tersebut di jadwal. Jadikan hal itu sebagai kesuksesan kecil yang akan membawa setiap usaha ke kesuksesan yang lebih besar. Kebiasaan ini highly recommended untuk siapa pun yang sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Punya jadwal kerja bisa jadi strategi melawan rasa malas. Misalnya ya, pagi ini saya punya jadwal untuk menulis Bab 3. Kira-kira saya butuh waktu 4 jam. Saya bisa bilang ke diri saya saat godaan malas itu muncul “Oke, habis 4 jam ngerjain tesis, gue boleh males-malesan nonton tv di sofa.” Nah, biasanya, setelah 4 jam, badan dan otak keburu “panas” karena sudah dipakai berpikir, saya jadi nggak mood males-malesan, jadi bisa lanjut ngerjain tesis lebih lama atau berlanjut ke produktivitas selanjutnya. Punya jadwal kerja juga baik untuk menguraikan keruwetan saat banyak hal harus dikerjakan. Jadi saat hari Senin, fokus untuk mengerjakan target pekerjaan di hari itu dan biarkan pekerjaan lain dipikirkan pada hari lain yang sudah dijadwalkan. High productivity, less stress.


5. Ingat segala ajaran yang meyakinkan bahwa waktu adalah harta yang berharga. Untuk muslim, bisa dibaca lagi tuh tafsir surat Al-Ashr.
Rasa malas sering kali hadir dari keyakinan bahwa manusia punya banyak waktu. Dari pikiran tersebut, tumbuh pilihan untuk menunda pekerjaan atau memilih lebih dulu melakukan sesuatu yang tidak penting. Padahal banyak sekali ajaran yang seharusnya cukup memberikan pemahaman tentang betapa berharganya waktu karena sifatnya terbatas, dan kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan, bahkan satu detik dari detik ini pun, manusia tidak tahu apa yang bisa terjadi. Untuk muslim, ayatnya tertulis jelas di Surat Al-Ashr ayat 1: Waal'ashri (Demi Masa).
Bahkan Allah menjadikan waktu sebagai sumpah. Karenanya waktu adalah perkara yang sangat serius, dan seharusnya setiap muslim nggak boleh main-main sama waktu.

6. Beri penghargaan untuk diri sendiri
Karena saya merasa juga pemalas, dan saya tahu melawan rasa malas itu sulit, maka bagi saya penting untuk menghargai diri sendiri setiap berhasil menaklukan rasa malas tersebut. Bentuk penghargaannya bisa apa saja. Dulu waktu ngerjain tesis (sorry, contohnya ini mulu, soalnya paling gampang dan berhubungan banget sama konteksnya), setiap selesai bimbingan saya akan membeli makan malam yang lebih mewah dari biasanya, atau saya akan jajan sesuatu yang lebih istimewa , segelas es kopi yang lebih premium dibanding Nescafe kemasan kaleng misalnya. Walaupun sehabis bimbingan selalu berakhir dengan PR dan kepusingan baru, tapi setidaknya saya ingin menghadiahi diri saya karena berhasil menyelesaikan target di minggu sebelumnya.

Naahh (please, stop this “nah” things).
Demikian tips melawan rasa malas yang saya susun ala-ala artikel HipWee. Hahaha. Tulisan ini juga dibuat dalam rangka janji menunaikan #1minggu1cerita. Semua yang saya tulis diatas adalah pandangan dan pengalaman saya. Berhasil untuk saya, siapa tahu berhasil juga untuk kamu.

Tulisan hari ini akan saya tutup dengan lirik lagu Tulus. Duh saya lagi suka-sukanya sama Abang Bukittinggi satu ini.

"Lekas, hentikan tangismu. Lekas, hargai nafasmu. Lekas, waktumu sangat terbatas." (Lekas - Tulus)

Keep moving forward, and stay positive yaaaaaa.

Salam,

Venessa Allia.