Jumat, 01 Desember 2017

Tips Biar Nggak Malas dari Si Pemalas.


Malas adalah musuh besar bagi setiap individu yang diciptakan Tuhan. Penyakit ini mematikan karena dapat menjadi penghambat rezeki dan keberkahan hidup, juga mematikan potensi-potensi yang sudah ditanamkan Tuhan. Mengalahkan kemalasan pada dasarnya mengalahkan diri sendiri, dan menurut saya hal itu bisa lebih sulit daripada mengalahkan kompetitor atau ratusan individu lain yang sudah jelas di depan mata. Salah satu doa pada dzikir pagi-petang juga ada yang berbunyi “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” Hal ini menurut saya adalah indikator bahayanya kemalasan.

Kalau saya perhatikan, tiap individu pada dasarnya punya sifat malas, hanya kadarnya berbeda. Orang-orang yang terkenal produktif dan memiliki mode of achievement yang tinggi, menurut saya punya kekuatan untuk mengalahkan rasa malas sehingga kadar malasnya menjadi sangat kecil. Malas juga banyak bentuknya, yang pasti semua bentuk kemalasan akan menghalangi manusia dari kebaikan: malas belajar, malah ibadah, malas bangun pagi, atau malas olahraga (yang ini saya akui, menjadi kelemahan terbesar saya).

Sumber: https://id.pinterest.com/hayleysparling/funny-the-simpsons-quotes/?lp=true


Ada banyak faktor yang memperbesar kadar kemalasan, tiga diantaranya menurut saya adalah: 
1. Waktu luang
Saya biasanya jadi jauh lebih produktif di kala deadline, atau waktu terbatas, bukan kebiasaan yang layak ditiru, tapi harus diakui, waktu luang yang tidak bisa dimanfaatkan dengan baik sering kali membahayakan.

2. Udara dingin
Ini teori saya pribadi sih, nggak ada dasar ilmiahnya. Udara dingin itu kenapa sih bikin malas banget bangun pagi, males nyuci baju (karena kena air dingin), males olahraga (yah kalau ini, mau udara panas juga saya suka males sih, errh). Bawaannya pengen di kasur, selimutan sambil baca novel. Sekali-sekali mungkin nggak apa-apa yaa, tapi kalau keterusan bahayaaaa. Mungkin hal ini pula yang menjadi sebab sampai saat ini saya nggak ditakdirkan sekolah di Eropa, nanti kalau musim dingin bisa-bisa saya lemah nggak mau kuliah.

3. Kondisi yang terlalu nyaman.
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat bahwa comfort zone itu tidak baik, yang saya permasalahkan adalah jika kondisinya sudah terlalu nyaman. Dimana-mana yang namanya “terlalu” itu tidak baik, kan? Terlalu nyaman juga akan membuat manusia malas bergerak dan berbuat, karena sering kali energi untuk berubah dan berkarya hadir dari ketidaknyamanan.

Sumber: http://runt-of-the-web.com/homer-simpson-quotes


Naaaaaah…
Kenapa saya menyinggung topik “malas” pada tulisan saya kali ini karena saya menyadari ketiga kondisi tersebut ada di dalam hidup saya saat ini. Jadi penyakit malas sedang sangat mudah tumbuh subur dalam diri saya. Dua hari yang lalu, saya baru diberi tahu ternyata CPNS yang proses seleksinya saja kemarin sudah memakan waktu hampir lebih dari 2 bulan, ternyata hari pertama bekerjanya masih di bulan Febuari (pengalaman seleksi CPNS ini memang istimewa, ingatkan saya untuk cerita soal ini nanti). Jadi saya punya waktu luang selama 2 bulan yang harus saya kelola sebaik mungkin. Ditambah lagi udara dingin yang belakangan ini setiap hari menutupi Tangerang Selatan membuat pagi saya semakin menantang. Daan tinggal di rumah bersama orang tua dan asisten rumah tangga, harusnya juga jadi satu indikator kenyamanan. Waktu di Bandung saya tinggal berdua dengan adik sepupu saya, dan karena kami ngurus rumah sendiri, saya lebih punya kesadaran untuk beres-beres rumah. Tapi disini, dengan kehadiran asisten rumah tangga, duh nggak bisa boong, gelora kemalasannya makin jadi aja (cailah gelora).

Naaaah (apaan sih nah-nah-nah mulu, maafin lagi nggak bisa bikin bridging yang lebih asik).
Maksud tulisan ini adalah saya ingin berbagi tips sederhana bagaimana caranya melawan rasa malas supaya lebih produktif menggunakan waktu. Tips ini bukan dari sumber manapun, jadi murni dari pemahaman saya, ditulis oleh saya, dan saya tulis untuk diri saya sendiri, syukur-syukur kalau yang baca bisa menerima dan menerapkannya juga, semoga saya kebagian amal jariyahnya, hihihi. Tips ini banyak saya ambil dari pengalaman saya menyelesaikan tesis. Siapapun yang pernah mengerjakan tesis nampaknya akan setuju bahwa tesis pada hakikatnya adalah perang melawan diri sendiri, dalam hal ini kemalasan dan ketakutan.

Tips Biar Nggak Malas dari Si Pemalas


1. Mandi pagi.
Ini temuan (agak) penting: kalau manusia bisa menaklukan rasa malas mandi pagi, maka (Insya Allah) mereka bisa menaklukan kemalasan untuk aktivitas-aktivitas selanjutnya. Ngebasahin badan sebelum mulai aktivitas menurut saya sangat penting karena bikin badan dan otak lebih segar, secara otomatis ngantuk pun hilang.Saya sendiri lebih memilih mandi pagi dibanding mandi sore (huahaha, ini nggak layak ditiru sih, tapi saya lebih bisa mentoleransi kebiasaan orang yang nggak mandi sore, dibanding nggak mandi pagi). Rasanya saya bisa rungsing banget kalau beraktivitas sebelum mandi, badan rasanya panas. Salah satu teman saya yang sama-sama cewek, memilih untuk nggak mandi pagi dibanding nggak mandi sore, atau dia memilih mandi malam sekalian terus langsung tidur, bangun pagi nggak perlu mandi lagi karena badan masih bersih. Tentunya yang terbaik adalah mandi 2x sehari, cuma kalau seharian di rumah aja, dan tidak berkeringat, apalagi udara dingin, saya rasa mandi sehari itu cukup (save water!!!). Hihihi.

2. Mulailah dengan sesuatu yang mudah dan disukai
Cara ini sering saya lakukan saat beberapa bulan yang lalu menyelesaikan tesis. Ngerjain tesis saat belum deadline, membutuhkan energi aktivasi yang tinggi. Masalahnya saya sadar tidak baik jika selalu menunggu deadline untuk menyelesaikan sesuatu, yang ada jadinya sering stress dan hasil yang dikerjakan tidak optimal karena terburu-buru. Karena mengerjakan tesis adalah pekerjaan yang bagi saya tergolong berat, saya biasanya mulai dengan mengerjakan sesuatu yang ringan dan saya sukai dulu, TAPI jangan keterusan. Misalnya gini, kalau mau ngerjain tesis, saya harus buka laptop. Tapi karena malas ngerjain, saya jadi malas buka laptop, biar saya tergerak buka laptop, saya akan buka laptop dan duduk di meja belajar untuk 30 menit nonton channel yang saya sukai di Youtube dulu. Saya batasi hanya 30 menit. Disini memang butuh kontrol diri supaya nggak keterusan. Karena laptop sudah terbuka, dan saya sudah dalam posisi duduk di meja belajar, maka secara fisik saya sudah siap untuk mulai ngerjain tesis, jadi saya akan lebih tergerak untuk buka dokumen tesis. Cara ini efektif bagi saya. Atau bisa juga dimulai dari mengerjakan bagian tesis yang gampang-gampang dulu, misal merapikan tata bahasa untuk bab tinjauan pustaka, merapikan tabel atau pekerjaan lainnya yang printilan tapi penting. At least I make a progress.


3. Follow Instagram orang-orang yang produktif dan berprestasi
Instagram (IG) menjadi satu-satunya media sosial yang aktif saya gunakan saat ini. Instagram juga media sosial yang ASLI efektif banget membunuh waktu dan bikin males. Saya juga susah jelasin kenapa explore dan scrolling timeline IG bisa semenarik itu. Biar lebih berfaedah, saya dengan sengaja follow IG teman atau kenalan atau temennya temen yang saya tahu punya prestasi dan produktivitas tinggi. Melihat aktivitas mereka melalui post mereka di IG biasanya akan membuat saya termotivasi untuk KEEP MOVING FORWARD. Apalagi orang-orang ini juga berusia tidak jauh dari usia saya, jadi kalau saya malas saya suka keingetan mereka “heloo saat kamu males-malesan, itu temen kamu lagi belajar keras di Amrik dan bangun bisnis.”


Sumber: https://id.pinterest.com/explore/stop-being-lazy/?lp=true



4. Buat jadwal!
Membuat jadwal juga menjadi cara saya melawan gelora kemalasan mengerjakan tesis dulu (apa siiih geloraaa). Cara ini juga akan saya terapkan untuk 2 bulan ke depan biar waktu luang saya nggak terbuang percuma. Jadwal bisa dibuat dimana saja: handphone, buku catatan, tapi kalau saya lebih suka tulis jadwal di board dan tempel di dinding kamar. Pakai paper board yang bisa dengan mudah dihapus untuk membuat jadwal tetap rapi dan fleksibel.  Senangnya menulis jadwal adalah saat selesai menyelesaikan target aktivitas pada hari tersebut, kemudian saya bisa mencoret daftar aktivitas tersebut di jadwal. Jadikan hal itu sebagai kesuksesan kecil yang akan membawa setiap usaha ke kesuksesan yang lebih besar. Kebiasaan ini highly recommended untuk siapa pun yang sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Punya jadwal kerja bisa jadi strategi melawan rasa malas. Misalnya ya, pagi ini saya punya jadwal untuk menulis Bab 3. Kira-kira saya butuh waktu 4 jam. Saya bisa bilang ke diri saya saat godaan malas itu muncul “Oke, habis 4 jam ngerjain tesis, gue boleh males-malesan nonton tv di sofa.” Nah, biasanya, setelah 4 jam, badan dan otak keburu “panas” karena sudah dipakai berpikir, saya jadi nggak mood males-malesan, jadi bisa lanjut ngerjain tesis lebih lama atau berlanjut ke produktivitas selanjutnya. Punya jadwal kerja juga baik untuk menguraikan keruwetan saat banyak hal harus dikerjakan. Jadi saat hari Senin, fokus untuk mengerjakan target pekerjaan di hari itu dan biarkan pekerjaan lain dipikirkan pada hari lain yang sudah dijadwalkan. High productivity, less stress.


5. Ingat segala ajaran yang meyakinkan bahwa waktu adalah harta yang berharga. Untuk muslim, bisa dibaca lagi tuh tafsir surat Al-Ashr.
Rasa malas sering kali hadir dari keyakinan bahwa manusia punya banyak waktu. Dari pikiran tersebut, tumbuh pilihan untuk menunda pekerjaan atau memilih lebih dulu melakukan sesuatu yang tidak penting. Padahal banyak sekali ajaran yang seharusnya cukup memberikan pemahaman tentang betapa berharganya waktu karena sifatnya terbatas, dan kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan, bahkan satu detik dari detik ini pun, manusia tidak tahu apa yang bisa terjadi. Untuk muslim, ayatnya tertulis jelas di Surat Al-Ashr ayat 1: Waal'ashri (Demi Masa).
Bahkan Allah menjadikan waktu sebagai sumpah. Karenanya waktu adalah perkara yang sangat serius, dan seharusnya setiap muslim nggak boleh main-main sama waktu.

6. Beri penghargaan untuk diri sendiri
Karena saya merasa juga pemalas, dan saya tahu melawan rasa malas itu sulit, maka bagi saya penting untuk menghargai diri sendiri setiap berhasil menaklukan rasa malas tersebut. Bentuk penghargaannya bisa apa saja. Dulu waktu ngerjain tesis (sorry, contohnya ini mulu, soalnya paling gampang dan berhubungan banget sama konteksnya), setiap selesai bimbingan saya akan membeli makan malam yang lebih mewah dari biasanya, atau saya akan jajan sesuatu yang lebih istimewa , segelas es kopi yang lebih premium dibanding Nescafe kemasan kaleng misalnya. Walaupun sehabis bimbingan selalu berakhir dengan PR dan kepusingan baru, tapi setidaknya saya ingin menghadiahi diri saya karena berhasil menyelesaikan target di minggu sebelumnya.

Naahh (please, stop this “nah” things).
Demikian tips melawan rasa malas yang saya susun ala-ala artikel HipWee. Hahaha. Tulisan ini juga dibuat dalam rangka janji menunaikan #1minggu1cerita. Semua yang saya tulis diatas adalah pandangan dan pengalaman saya. Berhasil untuk saya, siapa tahu berhasil juga untuk kamu.

Tulisan hari ini akan saya tutup dengan lirik lagu Tulus. Duh saya lagi suka-sukanya sama Abang Bukittinggi satu ini.

"Lekas, hentikan tangismu. Lekas, hargai nafasmu. Lekas, waktumu sangat terbatas." (Lekas - Tulus)

Keep moving forward, and stay positive yaaaaaa.

Salam,

Venessa Allia. 

Kamis, 23 November 2017

Sekedar Mengeluh Saja


Aku suka waktu berjalan lambat.
Tapi tidak saat ini.
Jika ini masih terasa begitu berat,
Mana bisa kubilang iman sudah kuat.
Aku ingin meloncati waktu, namun aku tak berdaya.
Aku ingin tiba di puncak tanpa harus menyusur bukit, hampa

Ketika kutahu bahwa langit dan bumi diciptakan dalam 6 hari,
seketika kupaham bahwa
Tuhan sedang mengajarkan aku untuk bersabar.
.
.
.
Dalam kesabaran, bolehkah aku sekedar mengeluh saja?



Senin, 20 November 2017

Si Penggemar Talent Show: 5 Penampilan Favorit di The Voice Kids Indonesia

Banyak orang penggemar serial Game of Throne. Lebih banyak lagi yang suka nonton serial Korea.
Beberapa orang pecinta drama TV di Indosiar. Cukup banyak orang tidak suka nonton TV sama sekali. Saya tidak termasuk di antara keempat populasi tersebut, karena kalau saya sih penggemar ajang pencarian bakat alias Talent Show. Yeaay.

Sebagai penggemar acara ‘Talent Show’ di TV, saya sudah mengikuti beberapa acara dari SMP sampai sekarang. American Idol, Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar (ngaku deh, dulu juga pasti kamu doyan juga nonton ini :p), hingga yang terakhir-terakhir ini yaitu Master Chef USA, The Voice USA, America’s Got Talent, XFactor Indonesia, The Voice Indonesia, dan  The Voice Kids Indonesia. Yap, saya nggak cuma nonton Talent Show punya Amerika aja, bakat lokal Indonesia juga saya ikuti. Saking sukanya, bahkan saya rela buang kuota hanya untuk menonton acara tersebut di Youtube jika tidak sempat nonton di TV. Bahkan jika ada penampilan yang saya suka, saya akan dengan senang hati mengulang-ngulang penampilan mereka, sampai saya bosan.

Dari semua ajang pencarian bakat, menurut saya The Voice punya mekanisme pemilihan yang paling bagus. Blind Audition menurut saya cukup adil untuk menilai peserta pertama kali berdasarkan kualitas vokal, bukan faktor lainnya. Tahapan Battle Round yang dilengkapi dengan mekanisme ‘steal’ juga seru banget. Point plus plus plus buat The Voice America karena juri-jurinya seru-seru, komentarnya kreatif, nggak basi, dan nggak berlebihan. Juga tentu saja keberadaan Adam Levine disana membuat saya semakin suka acara ini, hihihi. Bumbu-bumbu berantemnya Blake Shelton Vs Adam Levine juga kocak banget. Juri-juri ceweknya juga menarik dan bisa kocak juga. Juri cewek favorit saya pastinya Christina Aguilera.
Team #Xtina
Source: http://www.billboard.com/articles/news/6890885/the-voice-recap-season-10-christina-aguilera-returns

 Perfectly engineered!


Khusus untuk tulisan hari ini, saya ingin merekomendasikan beberapa penampilan The Voice yang menurut standar saya, termasuk bagus. Parameter bagusnya yaitu (1) Saya bisa ngulang-ngulang nonton videonya di Yotube dan nggak pernah bosen, (2) Lagu yang dibawakan bukan lagu yang saya biasa dengar, tapi gara-gara penampilan mereka, saya jadi suka. Dan karena ini berdasarkan kesukaan pribadi, jadi tentu saja sifatnya relatif dan subjektif :). Nah tapi, saya bukan akan merekomendasikan penampilan The Voice dewasa, melainkan penampilan The Voice Kids Indonesia. Yeeeeay! #supportlocaltalent #supportyoungtalent

Anak-anak-kecil-tapi-nggak-kecil-kecil-amat ini menurut saya layak di apresiasi. Untuk ikut The Voice Kids Indonesia, umur si anak maksimal 14 tahun. Nah kalau lagi nonton mereka, saya kadang ngebatin, umur 14 tahun dulu saya ngapain aja ya? Hmm, dulu saya jadi anak OSIS sekaligus Pramuka sih, tapi itu kan nggak bisa disebut prestasi juga. Saya bukan hanya mengagumi kemampuan mereka dalam bernyanyi, tapi lebih daripada itu saya mengagumi keberanian mereka menaklukan panggung, tatapan mata banyak penonton, hujatan netijen (ini sengaja nulis pake ‘j’) di YouTube yang tidak bisa berkomentar dengan santun, serta feedback dari para juri. Walaupun juri-jurinya (Agnez Mo, Bebi Romeo, dan Tulus) juga sudah sangat baik merekayasa feedback mereka sedemikian rupa agar komentar yang diberikan tetap enak didengar, tapi ’nyawa’ komentar tidaklah selalu yang bagus-bagus, kritik membangun juga diberikan dan memang dibutuhkan sih. Melihat mereka yang dengan senang hati tampil di layar kaca dan harus menerima komentar dari banyak orang, membuat saya juga belajar soal keberanian.
  
Tapi ada beberapa hal juga sih yang membuat saya kadang malas nonton acara ini, atau kalau ada bagian yang saya nggak suka ini, biasanya saya ganti channel nonton yang lain dulu. Pertama, saya paling males kalau lihat anak-anak ini bertingkah atau berbicara kayak orang dewasa. Aduuh, anak umur 12 tahun itu sebaiknya bersikaplah seperti anak 12 tahun, jangan kayak mbak-mbak 22 tahun. Yang kedua adalah pemilihan lagu. Begini, saya masih bisa terima kalau mereka menyanyikan lagu orang dewasa, karena mungkin melalui lagu-lagu orang dewasa yang variatif, mereka lebih dapat mengeksplorasi bakat mereka. Tapi yaaa alangkah jauh lebih baik kalau lirik lagunya diedit dikit laaah. Geli banget ngeliat peserta The Voice Kids, cowok yang usianya paling sekitar 13-14 tahun, bernyanyi lagu Akad dengan lirik asli “Sudikah kau menjadi istriku?” Suaranya sih bagus, tapi lagunya jadi berasa 'salah'. Kemarin ada peserta yang nyanyi lagu You Oughta Know  milik Alanis Morissette, untungnya lirik-lirik yang bahaya dalam lagu tersebut sudah diedit. Terus sebaiknya ada –lagu-lagu yang dilarang sama sekali, kayak lagu Ed Sheeran yang Shape of You. Itu lagu udah nggak mungkin juga diedit liriknya, mending dilarang sama sekali.

Oke, jadi ini 5 penampilan favorit saya dari The Voice Kids Indonesia season 1 dan 2. Urutan di bawah ini tidak menunjukan rangking. Kelimanya saya suka, tidak ada yang lebih disukai dari yang lain. Untuk adik-adik ini, menjadi apapun mereka ketika dewasa, semoga selalu menjadi sumber inspirasi dan kebaikan bagi banyak orang.

Dalilah - Bawalah Cintaku. Alasan menyukai penampilan ini: Dalilah punya suaranya unik, karakter suaranya kuat. Saya jadi suka lagu ini gara-gara dia. Dan walaupun ini ajang The Voice, bukan The Face, tapi tak bisa dipungkiri kalau dia sangat cute


Nabila - Tiba-Tiba Cinta Datang. Alasan menyukai penampilan ini: Selain suaranya bagus, tapi Nabila bisa membawakan lagu ini dengan gestur dan dinamika yang pas. Setuju dengan komentar Coach Bebi, anak ini tau bagaimana cara menyanyikan lagunya. Saya malah lebih suka versi dia daripada versi aslinya.

Michelle, Nitya, Carissa - Domino. Alasan menyukai penampilan ini: Nah battle ini seru karena ketiganya menonjol dengan kelebihan masing-masing. Yang paling mencuri perhatian adalah Michelle, suara dan cara bernyanyinya udah kayak penyanyi pro. Hebat!

Chiko - Back At One. Alasan menyukai penampilan ini: Terlepas dari pelafalan lirik Bahasa Inggris yang masih belum sempurna, tapi anak ini punya suara emas. Beberapa tahun lagi, kalau dia tetap konsisten bernyanyi, nampaknya dia bisa menjadi bintang dan bikin para ABG jerit-jerit. 

Glory - Changing. Alasan menyukai penampilan ini: Anak ini cool banget, dan kelihatannya punya good personality (nggak kenal sih, cuma nebak saja, hehe)!! Ngeliat dia bikin jadi inget sama Grace Vanderwall, pemenang America's Got Talent 2016. Glory punya suara bening, gaya natural, dan pintar memilih lagu karena sudah membawakan lagunya Abang John Mayer. 

Yap! Itu adalah kelima penampilan favorit saya di The Voice Kids Indonesia yang hingga sekarang masih suka saya tonton kalau lagi bosan. Tapi, dari seluruh bakat yang pernah saya tonton di berbagai acara Talent Show, ada satu penyayi yang menurut saya sangat-sangat-sangat luar biasa. Namanya Mandy Harvey dari ajang America’s Got Talent. Yang membuat Mandy sangat menarik, bahkan mendapat Golden Buzzer dari Simon Cowell  (sebuah mekanisme di ajang America’s Got Talent dimana peserta dengan Golden Buzzer dapat lolos langsung ke babak berikutnya), bukan hanya suaranya yang lembut dan kemampuannya dalam menciptakan lagu, tapi juga pengalaman hidupnya yang dapat memberikan siapapun juga pelajaran berharga. Saya yakin Simon juga kagum banget  sama bakat musik Mandy yang tetap saja bersinar walaupun dia telah kehilangan kemampuan pendengarannya. Yeah, she is a deaf singer. I really recommend you to watch this: 

Menonton penampilan Mandy, membuat saya menyaksikan (lagi, dan lagi) kebesaran Tuhan. Allah Maha Besar.


OKE! Cukup dulu ya cerita hari ini. Ohiya, tulisan hari ini adalah tulisan pertama saya setelah bergabung dalam komunitas #1minggu1cerita. Semoga walaupun capek, sibuk, lagi PMS, lagi sakit atau dalam kondisi bagaimanapun juga saya tetap konsisten untuk berbagi setidaknya 1 cerita setiap minggu. Lebih penting lagi semoga dalam setiap cerita, ada setidaknya 1 saja kebaikan yang bisa diambil.

Semoga bermanfaat. Stay positive yaaa.


Salam,
Venessa Allia

P.S: Ini media sosialnya #1minggu1cerita. Kamu bisa dapat banyaak sekali inspirasi dan semangat menulis disini:
Twitter: @1mg1cerita
Grup Facebook: https://www.facebook.com/groups/1minggu1ceritaKita/
Instagram @1minggu1cerita
Web: 1minggu1cerita.com

Jumat, 10 November 2017

Waktu Yang Tepat

Lo percaya nggak sama yang disebut ‘waktu yang tepat’? Gue percaya. 

Tulisan ini akan menjadi tulisan yang cukup panjang. Tapi semoga tidak membuang-buang waktu bagi siapa saja yang sudah sudi mampir (lagi) ke blog ini. Jadi ceritanya gini…

Dari kecil gue suka nulis diary. Tidak konsisten setiap hari atau setiap minggu sih (tuh kan dari kecil gue tuh udah punya masalah sama namanya konsistensi, persistensi, dan istiqomah), tapi kalau ada peristiwa penting dalam hidup gue, misal dibeliin sepatu baru, dikasih coklat sama cowok (anak kecil banyak gayaaa), atau sehabis terima rapot, biasanya peristiwa-peristiwa tersebut akan gue tulis dalam diary. Hobi ini berlanjut sampai gue SMP, tapi entah apa sebabnya berhenti saat SMA. Lalu kemudian saat kuliah, teman gue, Hawa, mengenalkan gue dengan blognya Raditya Dika, hingga akhirnya blog ini menjadi bacaan yang kala itu tidak pernah gue lewatkan. Karena sering baca blog orang, dan terinspirasi dari Hawa yang udah punya blog sendiri, gue pun akhirnya latah bikin blog juga. Blog pertama gue lahir sekitar tahun 2009, judulnya alwayshappyvenesssa.wordpress.com (silahkan dicari, siapa tahu ada yang curious labilnya gue jaman kuliah macam apa, hihihi). Mau tau nggak inspirasi judul blognya gue dapat dari mana? Gue inget dulu pernah ada isu panas soal terbitnya majalah Playboy Indonesia. Edisi pertama majalah tersebut menampilkan Andhara Early dengan headline Always Happy Early. Hahaha entah kenapa menurut gue judul headline-nya keren jadi gue contek sebagai judul blog (judul headline-nya loh yaaa, bukan majalahnya). Adanya blog ini membuat gue resmi melabeli diri sendiri sebagai seorang blogger.

Walaupun waktu kecil gue bukan penulis diary yang konsisten, ternyata di masa-masa awal menulis blog, gue cukup rajin loh. Setelah gue tengok lagi blog lama gue, ternyata selama 14 bulan, gue berhasil mempublikasikan 52 tulisan. Jadi sekitar 3-4 tulisan per bulan, alias hampir seminggu sekali gue nulis. Lumayanlah yaaa (apalagi kalau lihat frekuensi blogging sekarang yang makin… ah sudahlah). Jadi, intinya adalah gue sangat menikmati aktivitas menulis di blog, hingga gue sadar kalau ternyata hobi gue yang sebenarnya adalah menulis, bukan membaca. Dan sebagaimana banyak sekali orang di muka bumi ini yang hobi menulis dan ingin menerbitkan buku, gue pun sama. Menulis buku menjadi salah satu mimpi yang pernah gue tulis di dream board gue pada tahun 2011.

Lalu setelah mimpi itu tertulis, apa yang lantas gue lakukan untuk mewujudkan mimpi itu? Jawabannya adalah.. tidak ada, kecuali nulis di blog kalau lagi ada mood dan ide, tanpa paksaan, tanpa dorongan, semua murni gue lakukan ketika gue ingin. Alhasil yang terjadi adalah konsistensi menulis semakin menurun. Semakin banyak hal yang terjadi dalam hidup gue sehingga gue lupa, malas atau terlalu lelah untuk menulis lagi. Kalau kata penulis favorit gue, Kang Adhitya Mulya, life happens. Selama 6 tahun mimpi menulis buku menjadi mimpi kosong yang tidak pernah serius diikhtiarkan.

Hingga ‘waktu yang tepat’ itu tiba, akhir Agustus lalu. Supaya singkat, gue akan menceritakan kronologi kejadiannya menggunakan diagram alir (ala-ala) sebagai berikut:

Juli 2017 alhamdulillah gue wisuda S2 à Oktober 2017 gue fokus banget nyari kerja, satu bulan itu gue menjalani proses rekrutmen di 3 perusahaan berbeda: 1 BUMN, 1 start-up sociopreneur, 1 perusahaan retail fashion Eropa (yang mana udah gue kecengin dari lama karena perusahaan ini punya sustainability commitment yang serius banget) à Akhir Agustus gue harus menghadapi kenyataan bahwa gue ditolak di ketiga perusahaan tersebut à Gue sedih (of course), tapi gue tahu kalau kejadian seperti ini bukanlah resiko yang tidak terprediksi ketika gue dahulu memutuskan resign, jadi ya sabar aja, sambil berusaha lagià Gue mikir, kalau kegiatan gue cuma fokus apply kerja doang, yang ada gue bakal sinting karena bosan, mau bagaimanapun juga proses rekrutmen itu butuh waktu dan kesabaran à Gue harus mencari kegiatan lainnya à Gue ikutan Mentoring Menulis Online dengan tekad dalam 30 hari naskah buku gue akan jadi.

Yeah, waktunya tiba. Gue punya waktu, energi dan terpenting lagi tekad, untuk mewujudkan sebuah niat baik yang dulu pernah gue tulis.

Sekilas tentang Mentoring Menulis Online (MMO)

Jadi, MMO adalah sebuah program yang dikelola oleh Inspirator Academy, milik Mas Brili Agung (satu lagi orang yang gue ketahui sangat ambisius, in positive way, dengan mimpi luar biasa besar). Program ini menggaransi bahwa setiap mentee akan dapat menyelesaikan naskah bukunya dalam 30 hari, tentu saja jika mentee tersebut mengikuti sistem yang sudah didesain sedemikian rupa. Gue pertama kali denger MMO dari Teh Dian, temen di Siaware, dia berhasil menerbitkan bukunya setelah ikut program ini. Gue beli dan baca bukunya juga. Dari Teh Dian gue tahu kalau ternyata di Indonesia ini ada loh program semacam MMO ini untuk orang-orang yang punya mimpi pengen jadi penulis. Nah, masalahnya informasi soal MMO pertama kali gue dengar ketika gue lagi ribet banget nyelesaiin tesis, jadi saat itu gue cuma simpan infonya dengan label “very nice information”, tanpa ada rencana untuk mengikutinya dalam waktu dekat. Hingga suatu hari gue tahu kalau satu lagi temen gue ikutan MMO: Yosay. Yosay temen gue dari S1 dan masih sering ngobrol sama gue hingga saat ini. Yah emang udah takdir Allah, saat bulan Agustus gue mengalami kepusingan hidup, gue tiba-tiba terpikir untuk ikutan MMO ini. Gue hobi menulis, punya waktu, dan memang ingin bikin buku. Kurang cocok apalagi? Gue langsung chat Yosay dan nanya-nanya soal programnya. Singkat cerita, tanggal 1 September gue mulai kelas pertama gue. Lebih dari itu, gue mulai lembar pertama buku gue. 

Tiga puluh hari kemudian, draft novel ini jadi, walau belum di edit dan revisi. Bukan satu bulan yang mudah. Di satu minggu pertama saja gue sudah kepikiran untuk berhenti karena gue berhadapan pada kondisi yang super tidak nyaman yaitu 'dipaksa menulis'. Apalagi waktu itu kondisinya gue baru bayar DP 50%, jadi ada bisikan setan yang mengatakan "Nggak rugi-rugi amatlaaah, udah keluar ajaa." Ohiya satu lagi, di minggu pertama setiap mentee diminta mendeklarasikan komitmennya dan mengajak sebanyak-banyak orang untuk foto bersama dengan tulisan deklarasi komitmen tersebut, serta mempublikasikannya di media sosial. Duh beneran deh, gue paliiing males melakukan hal seperti itu. Tapi gue tahu tugas tersebut memiliki tujuan baik, jadi akhirnya gue lakukan juga, bahkan abang gojek pun gue ajak foto bersama (haha euweuh talent deui). Nggak tanggung-tanggung gue declare kalau bukunya akan menjadi best seller, padahal saat itu mau bikin cerita yang seperti apa juga gue masih bingung. Yaaa, tapi kalau mimpi kan katanya nggak boleh tanggung-tanggung, jadi silahkan bermimpi besar :). Siapa tau doa ini dikabulkan Allah. 


Gue dan Mama. Mama yang mungkin sering bingung dengan keputusan-keputusan yang gue ambil, tapi selalu merestui <3 .="" td="">

Pada akhirnya gue membulatkan niat mengikuti MMO. Gue sempet solat istikharah dulu loh sebelum membulatkan keputusan, soalnya sempet galau mau lanjut atau nggak (tau sendirilah, labil is my middle name, hihi). Lalu gue merasa diberikan petunjuk ketika setelah satu minggu, gue dipilih menjadi mentee terbaik minggu pertama untuk kategori fiksi. Alhamdulillah, gue jadi lebih percaya diri dan berpikir "Hmm mungkin memang sekarang waktu yang paling tepat untuk mengikuti program ini, yaudah deh terusin aja apapun resikonya."  

Setelah 30 hari masa penyelesaian naskah, gue masuk ke tahap revisi dan editing. Targetnya adalah naskah akhir selesai sebelum tanggal kunjungan ke penerbit. Kurang lebih 3 minggu waktu yang gue butuhkan untuk ngebut merevisi naskah, termasuk waktu jeda sejenak, nggak buka naskah sama sekali, semata-mata untuk mengendapkan pikiran dan biar tetap waras, hahaha.  

Naskah novel pertama, ciyeeee!

Kayaknya bener deh kalau manusia itu harus hati-hati dengan apapun yang ditulis, karena beneran (seizin Allah) bisa jadi kenyataan, walau mungkin dengan sedikit penyesuaian yang lebih baik menurut Allah. Ini kedua kalinya gue mengalami hal yang seperti itu. Pertama waktu SMA, gue kepengen banget masuk TL ITB. Buku tulis waktu gue kelas 3 SMA, biasanya gue kasih tanda tangan terus gue tulis di bawahnya TL ITB 2007 atau FTSL ITB 2007. Singkat cerita, tahun 2007 gue beneran kuliah di ITB, masuk SITH, sebuah takdir yang amat sangat gue syukuri. Lalu hidup mengalir panjaaaaaang, gue melangkah ke mana-mana dulu hingga akhirnya tahun 2015 gue beneran loh kuliah di TL sebagai mahasiswa S2. Perkara nulis buku ini juga sama. Tahun 2011 gue tulis di dream board bahwa gue ingin menulis buku. Lalu sekali lagi hidup terus berjalan hingga mungkin gue sempat lupa pernah memimpikan hal ini. Butuh waktu lebih dari 6 tahun, hingga akhirnya Oktober 2017, naskah buku gue jadi juga. Mungkin buat siapapun yang mendengar pengalaman ini, rasanya akan biasa aja, tapi bagi gue yang menjalani sendiri, ini adalah hal luar biasa. Rasanya kayak bener-bener merasakan ‘campur tangan’ Tuhan dalam hidup. Yah, Tuhan memang Maha Besar, tidak ada keraguan. Tidak semua orang juga dapat merasakan kemewahan seperti ini, gue sangat beruntung dan harus lebih banyak bersyukur.

Buku ini memang belum pasti diterbitkan oleh penerbit mayor. Program MMO membantu peserta untuk menyelesaikan naskah, tapi perkara naskah tersebut dapat diterbitkan di penerbit mayor atau tidak, itu tergantung penerbit, kekuatan naskah dan niat penulis itu sendiri. Salah satu kelebihan program MMO ini adalah adanya kunjungan ke penerbit sehingga dapat memfasilitasi setiap pesertanya untuk bertemu langsung dengan editor di penerbitan yang besar dan menyerahkan naskahnya secara langsung. Akhir Oktober kemarin, gue kunjungan ke Penerbit Republika yang selama ini sudah menerbitkan buku-buku Tere Liye favorit gue. Kunjungan ini tentunya memperkaya wawasan gue terkait dunia penulisan dan penerbitan. Menurut Mbak Ana sebagai editor naskah fiksi, naskah yang sampai ke mejanya akan mendapat feedback paling lama setelah 3 bulan karena ada banyak sekali naskah yang harus dibaca. Lama banget kan. Tapi untungnya Penerbit Republika tidak keberatan kalau penulis mengirimkan karyanya secara paralel ke penerbit lain, jadi minggu kemarin gue coba kirim juga naskah gue ke penerbit lain. Tapi yaaa tetep aja sih feedbacknya nggak bisa instan. Sabaaaar. Setidaknya gue sudah melakukan porsi gue: berusaha.

Kita lihat 2 bulan lagi ya, kalau pun nggak lolos di penerbit mayor, naskah ini bisa jadi akan gue terbitkan lewat jalur self-publishing. Atau, mungkin gue bagi-bagi saja ceritanya secara sukarela di Wattpad atau Gramedia Writing Project. Yang pasti gue sudah cukup bangga karena berhasil menyelesaikan novel fiksi pertama gue ini, dan berjanji akan menulis lagi. Jika karya ini bisa dibaca banyak orang, apapun bentuknya, gue akan tambah bersyukur.

Ya ampun, waktu tahun 2015 aja ketika review buku Pak Josef Bataona yang gue tulis di blog ini, direspon langsung bahkan direpost oleh Pak Josef di blognya, gue udah seneeng banget. Mungkin setara dengan kebahagiaan pemenang nobel sastra. Apalagi kalau beneran bisa lihat ada buku di rak Gramedia dengan nama penulis Venessa Allia, kayaknya gue bisa pingsan, haha.
Ya sudahlah, saat ini tidak perlu berandai-andai yang berlebihan dulu. Usaha saja terus, sambil dibawa doa, dan biarkan Tuhan membukakan jalan kebaikan. Sebenarnya sih sudah ada 1 orang yang membaca buku ini secara lengkap: Yohanna, seorang teman yang gue kenal di Nutrifood. Dan entah apakah karena anak ini  emang baik hati banget atau emang dia bener-bener suka sama novel gue, tapi responnya terhadap buku ini sangat-sangat membuat gue bahagia, Aaah Thank you Yoooo!

Banyak orang di luar sana yang jago menulis. Banyak banget. Bahkan di sekitar gue sendiri, gue melihat banyak sekali orang yang bisa membuat tulisan yang informatif, menyentuh dan enak dibaca. Tapi menjadi penulis sebesar Andrea Hirata, butuh lebih dari itu. Gue nggak tahu apa yang ada di otak Andrea Hirata hingga dapat menuliskan cerita semenarik novel 'Ayah', tapi gue yakin prosesnya butuh kesabaran dan semangat untuk terus menulis, membaca dan belajar. 

Gue banyak belajar selama 2 bulan terakhir ini. Menyelesaikan sebuah buku, bukan hanya sekedar menyelesaikan sebuah plot cerita. Tapi ada banyak perdebatan dengan diri sendiri, dari mulai memutuskan nilai-nilai apa yang ingin dibagi hingga segala perlawanan mengalahkan rasa lelah dan malas. Tentu saja gue pun tidak ingin membuat sebuah cerita yang sama sekali tidak ada nilai baiknya. Gue nggak mau membuang-buang waktu orang yang sudah bersedia membaca. Apalagi kalau udah membayangkan suatu hari mungkin semua yang gue tulis ini akan diminta pertanggung jawabannya. Heft. Proses selama MMO juga mengajarkan gue untuk menurunkan ego karena harus mau menerima feedback dan kritik. Buat gue ini bukan hal mudah, karena gue bukan orang yang suka dapet feedback, untungnya gue tahu kalau feedback itu baik. Hehehe. Ohiya satu lagi, dan menurut gue ini yang paling penting, beres proyek ini, gue nggak lagi-lagi mau ngatain “buku A jelek, buku B nggak seru atau buku C ceritanya gitu doang.” Gila, dikata gampang apa bikin novel. Susaaah ciiing.

Ah, tuhkan gue mulai sok tahu lagi. Yah anggap saja itu hikmah yang ingin gue bagi J

Novel gue ini judulnya “Cerita Shabira”. Potongan cerita di bawah ini adalah salah satu bagian favorit gue.

Saat gue mematikan laptop, seseorang membuka pintu kamar gue tanpa mengetuk terlebih dahulu. Anak songong berjaket biru itu nongol dari balik pintu.
“Lo bisa nggak sih ngetuk pintu dulu sebelum masuk?” Gue menegur Alta atas kebiasaan buruknya tersebut.
“Hehehe, yaa kalau pintunya nggak dikunci berarti kan lo lagi santai di kamar, ngapain juga gue ngetuk pintu segala.” Alta nyelonong masuk kamar gue lalu duduk di kasur, “Lo habis ngapain ngobrol sama siapa sih? Seru amat kayaknya. Bang Satryo ya?” Gue nggak pernah cerita soal Satryo ke Alta, pasti dia tahu dari Kak Gladys.
“Habis Skype sama Meira. Anak kecil nggak usah sotoy.” Gue memasukan laptop ke tas, lalu menoleh ke arah Alta, “Lo mau ngapain ke kamar gue? Tidur sanaaa!” Malam ini gue sedang tidak ingin berlama-lama ngobrol dengan Alta.
“Gue tidur di kamar lo ya.” Alta seketika mengambil bantal dan tiduran di kasur gue. Gue pun langsung menarik tangannya.
“Iiiih apa-apan lo! Kalau nggak ada yang penting keluar sanaa. Gue capeek!” Alta hanya tersenyum jahil, bangkit berdiri lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya.
“Nih buat anak old school yang masih dengerin CD di era digital. Mulai besok pagi, bangun tidur jangan lupa ketawa ya!” Alta melempar sebuah kotak CD berwarna ungu ke atas kasur, lalu meroket keluar kamar secepat ia melesat masuk. Gue mengambil kotak CD tersebut. Alta baru saja memberikan gue sebuah CD dari Maliq & D’Essentials yang berjudul The Beginning of a Beatiful Life. Ada sebuah kertas menempel di baliknya, dihiasi tulisan tangan yang gue kenal.

“If we believe in something, and we just keep on trying, we will survive, we will survive.” (Maliq & D’Essentials)    

P.S.
Udah lama nggak ngobrol sama lo, Kak. Apapun yang terjadi dalam hidup lo, jangan lupa ketawa yah. Alta.

---

Terimakasih yaa sudah membaca. Untuk siapa saja yang berminat ikut MMO, boleh japri gue, atau tinggalkan komen disini. Insya Allah gue bisa bantu J.

Salam,
Venessa Allia

Kamis, 24 Agustus 2017

Dont Be Too Naive: Penipuan Bermodus Ecash Mandiri

Hai, jumpa lagi!
Pengen cerita pengalaman baru gw nih. Pengalaman baru hampir menjadi korban penipuan dengan modus membayar via ecash bank Mandiri. Seinget gw , ini adalah pertama kali gw merasakan hampir jadi korban kejahatan manusia. Alhamdulillah, sampai detik ini masih dilindungi Allah, jadi korban copet di angkot juga belum pernah, Alhamdulillah.
  
Beberapa waktu belakangan ini gw mengikuti berita kasus First Travel di TV. Nggak habis pikir dan nggak ngerti kok bisa ada orang yang punya niat menipu dan melakukannya dengan sangat niat. Mungkin si penipu punya prinsip “Kalau mau jadi penipu itu harus total, ngapain nipu 1-2 orang doang, mending 35000 orang sekalian, kepalang dosa. Totalitas men!”. Si onyon!

Gw tuh masih sering berpikir kalau semua manusia pada dasarnya baik (yeaah call me naive), jadi masih sering gagal paham sama orang yang emang punya niat jahat sama orang lain. Hingga kemarin gw hampir menjadi korban…

Alkisah, hari Senin kemarin gw kepikiran mau jual baju-baju yang pernah gw beli tapi belum pernah gw pakai atau cuma dipakai 1-2x doang (sekarang Allia udah tobat nggak mau jajan baju mubazir lagi). Daripada bajunya menuh-menuhin lemari doang, lebih baik dicairkan menjadi uang. Apalagi gw sedang berniat mengikuti suatu kuliah online bersertifikat sehingga butuh tambahan biaya. Hari Senin malam gw akhirnya coba foto beberapa baju dan jual di OLX. Selesai unggah foto-foto sekitar jam 12 malam, lalu gw tidur.

Pagi-pagi sekitar jam 7, ada yang kontak gw via Whatsapp, mbak-mbak cantik (untuk selanjutnya akan gw sebut si penipu), dia nanya rok panjang yang gw jual masih ada nggak. Seneng dong gw. Ini pertama kali gw jual barang secara online dan ada yang mau beli. Udah ngebayangin dapet duit aja. Si mbak cantik ini cuma nanya harga sekali doang, habis itu langsung oke mau beli barangnya. Saat itu gw bahkan tidak curiga sama sekali, padahal rasanya sebutuh apapun seseorang sama suatu barang, nggak mungkin orang beli barang online tanpa ada rasa ingin tahu lebih banyak terhadap barang tersebut. Walaupun harganya cuma Rp 100.000,00 juga. Tapi lagi-lagi mungkin efek senang pertama kali jualan online dan ada yang mau beli, logika gw ngumpet entah kemana, saat itu gw nggak curiga sama sekali.

Lalu si penipu kasih tau nama dan alamatnya. Namanya Dyah Purwita (bukan nama asli, belakangan gw tau kalau penipu ini adalah cowok -_-). Rumahnya di Jalan Cikampek, Antapani, Bandung (nggak yakin juga alamat yang dia kasih beneran ada). Terus dia tulis juga nomor handphone dia, selain yang dipakai di Whatsapp (nomor yang dia tulis 081930600168 dan 081238213503)
Selanjutnya si anak polos yang lagi seneng jualannya laku (baca: gw), langsung ngecek berapa ongkos kirim barang dari Tangerang Selatan ke Bandung via pos (soalnya deket rumah gw adanya kantor pos). Ternyata sekitar Rp 10.000,00. Sebenarnya nggak persis 10000, cuma karena dia adalah pembeli pertama jadi gw pikir nggak apa-apa deh ongkos kirimnya gw diskon dikit (niat gw udah baik bangeeet kan sama ini si penipu laknat -___-). Gw kabarin deh ke si penipu kalau biayanya jadi Rp 110.000,00. Lalu gw kasih nomor rekening BCA gw. Lalu terjadilah percakapan di WA berikut ini (kalimat asli, gw copy paste dari WA, pahami aja kalau penipu ini nulisnya alay):

Gw: Boleh ditransfer dulu uangnya ke BCA no rekening xxxxxxx, atas nama xxxxxxx
Si Penipu: Saya gak ada bca mbk
Gw: saya cuma ada BCA dan BNI nih. BNI nomor rekening xxxxxxxx atas nama xxxxxxxx
Si Penipu: .ok mbk

Lalu sekitar 20 menit kemudian, si Penipu mengirimkan gw bukti transfer editan yang pada saat itu GW NGGAK SADAR DONG KALAU ITU EDITAN. Ini bukti transfernya:

Bagian yang disensor adalah nama lengkap dan nomor rekening gw.


Naaah, lalu mulailah modus penipuan, si Penipu mengirimkan gambar ini:

Mungkin ya kalau kekuatan niat, kreatifitas dan waktu yang diberikan si penipu ini ditransformasi tujuannya untuk hal baik dan produktif, penipu ini mungkin udah kaya raya.

Si penipu lalu menjelaskan, "Ini cara aktivasi kde otp  untuk bisa melakukan tarik tunai uangnya kodenya sesuai yang disetruk aktivasi di mesin ATM Mandiri."

Gw saat itu bingung itu maksudnya apa. Tapi emang dasar polos (atau dodol yaa beda tipis) gw masih berpikir “oh mungkin emang ada metode pembayaran dengan cara seperti ini, gw aja yang nggak tahu”. Gw baru denger ada yang namanya nomor ecash dana dan kode OTP dana (sampai saat ini gw belum nyari tau juga, sebenernya nomor kayak gini beneran ada atau cuma bisa-bisaan tukang tipu doang). Lantas gw bilang ke si penipu:  

Gw: Transferannya sy cek dulu ya mbak. Kalau sudah oke, siang ini saya kirim :)
Si Penipu: Ok. Kbrin y mbk
Gw: iyaa nanti saya kabari. Terimakasih sebelumnya.

Yaampun kenapa gw sopan bangeeeet sama orang jahat kayak gituuuu.

Sekitar 20 menit berikutnya, gw masih belum cek (gw pikir mau cek di ATM BNI aja sekalian ada keperluan keluar). Si penipu pun Whatsapp gw lagi.

Si Penipu: Pink à maksudnya mau ngeping kayak di BBM (dalam hati gw pikir, ih si mbak alay)
Gw: Saya blm sempet cek. Nanti saya kabari kalau sdh cek yaa. Sekitar 1 jam lg
Si Penipu: Ok

Saat itu gw yakin semua akan baik-baik saja. Rok yang  sudah akad untuk dijual pun gw bungkus. Rencana gw, habis memastikan uangnya masuk, gw akan langsung ke kantor pos untuk kirim barangnya. Selanjutnya gw ke ATM BNI, dan ternyata uangnya memang belum masuk. Lalu gw tanya ke si Penipu.

Gw: Mbak sorry sy belum pernah transaksi dengan cara seperti ini. Ini jd transaksi nya di atm mandiri menggunakan kartu bni saya?
Si Penipu: Y mbk. Mbk di atm y mbk

Nggak lama Si Penipu nelvon gw, gw agak-agak bingung karena suara yang terdengar kok kayak suara cowok. Tapi karena saat itu sedang ramai, dan gw masih merasa yakin selama ini Whatsapp dengan wanita (profile picture Whatsappnya menggunakan foto wanita), jadi gw tetep panggil ‘Mbak’ ke si Penipu. Intinya saat itu dia bilang, kalau gw sudah di ATM Mandiri dan bingung gimana cara nyairin ecash-nya, gw bisa kontak dia.

Singkat cerita, setelah itu gw ada perlu ngurusin sesuatu ke Bank BCA. Selesai dari Bank BCA, gw ke ATM Mandiri deh (masiiih belum curiga apa-apa, masih yakin semua akan baik-baik aja). Gw coba deh  ngikutin cara yang di terangkan di gambar sebelumnya, tapi lantas gw bingung, kok pilihan menunya nggak sesuai. Dan saat itulah pertolongan Allah datang, gw mulai curiga.

Saat gw lagi kebingungan di depan mesin ATM, di samping gw ada seorang cewek dan cowok. Si cewek saat itu sedang bicara dengan seseorang melalui handphone. Cewek tersebut kedengarannya seperti sedang dipandu melakukan sesuatu di depan mesin atm (tapi gw nggak yakin juga karena tidak mendengar dengan jelas). Cuma dari sini kekhawatiran gw mulai muncul, gw mulai curiga, jangan-jangan kalau gw ngabarin dia dan bilang gw bingung bagaimana cara mengecek dana yang katanya sudah dia transfer, dia akan nelvon gw dan memandu gw di mesin ATM dan ternyata malah bakal menipu gw (gw mulai ingat kalau udah banyak modus penipuan seperti ini). Gw mulai berpikir kritis, jangan-jangan metode ecash ini adalah salah satu modus penipuan. Saat itu logika gw yang tadi tertimbun angan-angan dan harapan barang jualan laku mulai muncul lagi. Gw pun liat lagi bukti transfer yang dia kirim, dan saat itu gw sadar “ini kok bukti transfernya kayak editan yaaaaa”

Gw langsung nyari tempat duduk, terus gw Whatsapp Meli (temen gw yang logikanya 100x lebih jalan daripada gw). Intinya saat itu dia confirm kalau itu bukti transfer editan. Gw pun penasaran, gw samperin satpam Bank Mandiri yang ada di deket situ, gw penasaran aja sebenarnya beneran ada nggak sih metode pembayaran dengan cara ecash kayak gini. Intinya Pak Satpam saat itu bilang kalau modus yang gw ceritakan biasanya adalah penipuan.

Saat itulah gw merasa campur aduk antara bersyukur nggak jadi ketipu, lucu karena ini pengalaman baru, dan merasa bodoh karena kok bisa sih gw segampang itu percaya.
Gw pun Whatsapp si penipu bilang begini:

Gw: Nggak bs mbak. Udah saya cek ke bank mandiri. Kalau masih mau roknya, transfer aja ke rekening yg saya kasih tadi dengan cara biasa
Si Penipu: Bkan ke bank mbk. Ke mesin atm mndiri. Mbk  Sda mbk aktivasi kan kde nya di mesin atm mndiri

Lalu si penipu nelvon gw, tapi nggak gw angkat. Chat-nya pun nggak gw bales. Dan saat ini nomernya sudah gw block (0813 6722 9022). Untungnya gw belum masukin nomor apa-apa di ATM Mandiri. Dan sejujurnya, rekening BNI gw tersebut saldonya cuma ada Rp 80.000,00, jadi maaf-maaf aja ya mas penipu, Anda harusnya pilih korban yang lebih kaya dari saya kalau mau coba-coba nyuri uang di rekening :p .

Awalnya gw nggak pengen berbagi cerita ini selain ke Meli dan Kak Tita (kakak ipar gw). Karena nyeritain ini rasanya seperti membuka kebodohan diri sendiri. Tapi kayaknya lebih baik gw cerita, karena bisa saja diluar sana masih banyak anak-anak polos (atau naïf) kayak gw, yang belum tahu ada modus penipuan bermodus pembayaran cara ecash. Terinspirasi juga dari blog ini (entah kenapa hyperlink di blog gw nggak bisa, ini gw langsung copy URL blog salah satu calon korban penipuan modus ecash yang sudah sangat jelas menceritakan kasusnya dengan tujuan tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban): http://www.kompasiana.com/monicagunawanjap/kronologis-lengkap-penipuan-mandiri-e-cash_5879def6c122bd1a0d144857

Setiap kejadian dalam hidup manusia pasti ada hikmahnya kan? Buat gw pun kejadian ini banyak hikmahnya. Gw jadi belajar betapa pentingnya tetap kritis, tetap berpikir menggunakan logika yang jernih dan jangan terlalu larut terbawa perasaan gembira dalam kondisi apapun (karena salah satu yang membuat gw hampir tertipu adalah karena gw keburu senang duluan barang yang gw jual secara online pertama kali ada yang mau beli). Sekarang kalau gw inget-inget lagi kejadian kemarin, gw jadi semakin merasa bodoh karena dari awal udah banyak banget keanehan yang ditunjukan si penipu tersebut yang tidak gw sadari dari awal. Apalagi kalau udah berhubungan dengan transaksi keuangan, penting banget untung selalu berhati-hati (meeen cari duit itu capek, pasti nyesek kalau duit hasil kerja dibawa lari sama penipu-penipu laknat). Yang kedua adalah selalu minta pertolongan sama Tuhan. Karena gw pun pernah menemukan kejadian ada orang yang gw ketahui sangat logis dan pintar, tapi jadi korban penipuan di ATM juga. Mungkin orang tersebut pun khilaf seperti gw, tidak menyadari adanya keanehan dan memilih percaya bahwa semua baik-baik saja. Ujung-ujungnya balik lagi, cuma perlindungan Allah yang paling bisa diandalkan, karena rezeki manusia juga Allah yang punya. Rajin-rajin baca surat Al-Falaq, supaya terhindar dari kejahatan dan kedengkian manusia. Pada kasus ini pun gw bersyukur karena tidak sempat menjadi korban dan sekarang menjadi punya pengalaman yang bisa gw bagi. Mudah-mudahan pengalaman ini bisa jadi pelajaran juga bagi yang baca J.

Jadi ingat yaa guys, manusia diberikan Tuhan 2 alat untuk bertahan hidup, logika dan perasaan. Jadi dua-duanya harus dipakai doong. Tetap kritis, don’t be too naive, keep praying! 

And of course, stay positive yaa!

Salam,

Venessa Allia