Minggu, 13 Januari 2019

Awal yang Baru


Dari kemarin gue kepengen blogging lagi, tapi ragu. Overthinking mungkin, tapi bisa jadi karena saat ini gue lebih berhati-hati dalam menulis di platform yang seluruh dunia bisa baca. Gue jadi sering takut kalau yang gue tulis itu tidak baik, apalagi kalau (naudzubillah) ada unsur dosa jariyahnya juga. Huhuu nggak mauuu.

Gue kan suka sotoy gitu ya anaknya (yesss jelekin diri sendiri di blog sendiri), dan baru beberapa minggu yang lalu gue tahu kalau menasihati orang itu harus dengan kalimat Allah, karena kebenaran itu milik Allah (QS Al Baqarah: 2). Jiper kan gue, makin takut salah ngomong.

Tapi terus di kepala ini kayak muter-muter banyak hal yang ingin rasanya ditumpahin. Jadi bismillah, mulai menulis lagi, semoga yang gue tulis ini mengandung kebaikan, membagikan kebenaran yang Allah Azza wa Jalla  tetapkan, dan jika ada hal yang salah atau buruk dalam tulisan-tulisan gue setelah ini, maafin yaaaa, tolong jangan diambil buruk dan salahnya, dan mohon agar gue diingatkan.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Awal yang baru untuk blog ini. 


Salam,
Venessa Allia  

Kamis, 13 Desember 2018

EKOLOGI DESK & COFFEE



Waktu gue menulis ini, gue sedang ada di sebuah tempat bernama EKOLOGI DESK & COFFEE yang berlokasi di.. Yogyakarta. Seminggu yang lalu gue tidak membayangkan akan ada di Jogja hari ini, tapi ya begitulah, sejak tadi malam gue sudah landing di Jogja. Somehow, pekerjaan gue sekarang cukup membuat gue berpikir “Bagaimana gue menjalani pekerjaan ini saat punya anak nanti?”. Haha, maklum cewek kan mikirnya suka 10-20 langkah di depan (cewek itu maksudnya gue dan Hawa Firdausi, nggak tau sih cewek-cewek lain gimana). Banyak sih working mom di tempat gue, cuma saat ini gue belum yakin bisa jadi seperti mereka. Ah sudahlah, nggak ada gunanya dipikirin sekarang.

Pertanyaan lain, dari 32 km2 luas Kota Yogyakarta (gue serius googling untuk dapat angka ini), kenapa bisa pilih kafe ini? Jadi ceritanya dari tadi siang gue udah niat malam hari mau ke Kopi Klinik, tempat syuting AADC2. Gue rada obsessed sama tempat ini soalnya scene Cinta sama Rangga di tempat ini semacam scene favorit gue di AADC2 (penting kaan). Dari hotel gue order Grab Car ke sana, dan sampai sana ternyata tempatnya.. tutup. Gue emang nggak ngecek sih tempatnya tutup jam berapa, udah yakin aja kalau coffee shop pasti buka sampai tengah malam. Taunya pas googling, Kopi Klinik tutupnya jam 8, gue sampai sana kayak jam 08.5 gitu. Wooow on time sekali yaa mereka.

Nah, di perjalanan menuju Kopi Klinik, supir Grab Car gue nyebut kalau di Jogja ada Filosofi Kopi juga. Gue udah tahu juga sih, cuma nggak inget aja, lagian Filkop ada juga di Bintaro. Cuma ketika tau Kopi Kliniknya tutup, yang jadi top of mind gue yaaa si FilKop ini (efek baru disebut sama bapak supir). Yaudah deh gue minta anter ke sana.

Nah ketika mobil sudah berjalan beberapa ratus meter, bapak supir menyebutkan nama-nama kafe di Jogja, salah satunya yang mencuri perhatian adalah EKOLOGI. Judul kafenya kan kayak cocok aja gitu sama keilmuan gue (apa siiih). Terus buru-buru deh gue googling tempatnya, ternyata menarik juga. Perpaduan Dapur Eyang sama Sejiwa kalau di Bandung. Yaudah tanpa pikir panjang dan rasa malu gue bilang sama Pak Sopir, “Pak kalau kita ke Ekologi aja bisa nggak pak?”

Yeah, labil is still my middle name. I am not proud of it but I know I can’t deny, hahaha

Jadi yaaa begitulah ceritanya kenapa gue ada disini. Sebenernya tuh tujuan gue nongkrong juga bukan mau nulis receh kayak gini. Gue niat bawa laptop menuju kafe, niat hati mau nulis yang lebih serius gitu. Kayak review bukunya Ustad Nouman atau hasil kontemplasi gue habis lihat akun IG sebuah partai yang gue rasa ada orang semacam Grindelwald di sana. Kalau lo udah nonton Fantastic Beast yang kedua mungkin mengerti maksud gue apa. Grindelwald adalah manusia yang sangat pandai bicara, memutihkan yang hitam, membuat delusi kebenaran, dan provokatif. Manusia kayak gini yang harus banyak-banyak dilawan bukan hanya pakai akal manusia, tapi juga pakai doa (dan Surat Al-Kahfi, to be précised) supaya selalu diberikan cahaya petunjuk oleh Tuhan untuk dapat membedakan mana yang benar dan salah.

Tapi sampai EKOLOGI gue buka laptop dan malah nulis tentang bagaimana gue sampai di tempat ini, hihihi.

Biar gue ulang statement-nya:  Yeah, labil is still my middle name. I am not proud of it but I know I can’t deny :p

EKOLOGI DESK & COFFEE ini punya suasana yang emang nyaman banget sih. Bikin udah duduk lupa berdiri. Tempatnya ramai dengan dedek-dedek mahasiswa yang kelihatannya sedang mengerjakan tugas. Kelihatannya loh ya, gue nggak tau juga apa yang mereka lihat di screen laptop mereka. Gue pesen Mocha Coffee (medium size, harga Rp 33.000) dan Rice Bowl Ekologi Signature (harga Rp 38.000). Mocha Coffee-nya pas di lidah gue, rice bowl-nya enak tapi kurang berkesan. Ohiya, tempat ini juga menyediakan co-working space di lantai dua.

Kesimpulannya, kalau gue jadi orang Jogja, gue rasa gue akan sering ke tempat ini.

Kalau ada yang nanya, kenapa gue di Jogja tapi malah nongkrong di kafe, makan rice bowl dan tidak makan gudeg?  Jawabannya adalah simply karena gue nggak suka gudeg. Lagian di penghujung periode twenty something ini, gue sadar bahwa..

gue akan memilih berdasarkan apa yang membuat hati gue tenang dan apa yang benar menurut standar kebenaran yang gue yakini dan terbukti benar,
daripada,
memilih berdasarkan apa yang orang bilang.

Oke, cukup dulu ya.
Stay positive.





Salam,
Venessa Allia

Selasa, 27 November 2018

Namanya Juga Hidup.




Belakangan ini, kalau lagi capek fisik, capek hati.
Yang gue lakukan adalah tutup pintu kamar, lalu tiduran dengan mata memandang langit-langit.
Terus bilang
.
.
.
.
.
Ya Allah, aku ingin masuk surga.


Karena di surga nggak ada pusing
Karena di surga nggak ada sedih
Karena di surga nggak ada capek
Karena di surga nggak ada kecewa
Karena di surga nggak ada bingung
Di surga semua sempurna.


Karena sekarang belum masuk surga, jadi makan aja dulu itu pusing-sedih-capek-kecewa-bingung di dunia.
Makan dengan syukur
Makan dengan sabar.


Namanya juga hidup.


Salam,
Venessa 

Minggu, 11 November 2018

Tribute to a Cheerful and Brilliant Friend.




Ada satu dialog dalam film The Last Samurai yang saya ingat hingga sekarang, padahal nontonnya udah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dialog ketika Emperor Meiji bertanya kepada Nathan Algren tentang bagaimana Katsumoto wafat.

Emperor Meiji: Tell me how he died.
Nathan Algren: I will tell you how he lived.

---

Setiap hari ada manusia lahir, ada manusia mati.

Kalau yang lahir adalah anak dari kerabat atau sahabat sendiri, kebahagiaan yang hadir pasti terasa berlipat ganda. Demikian pula jika yang wafat adalah kerabat atau sahabat sendiri, duka yang ada pun tidak biasa.

Yeah, seperti yang kita semua tahu, 29 Oktober 2018 terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Kecelakaan itu tidak akan betul-betul membekas dalam memori saya jika tidak ada orang yang saya kenal menjadi salah satu penumpangnya.

Tapi begitulah memang bunyi takdirnya, satu orang yang saya kenal baik menjadi penumpang dalam pesawat tersebut. Dalam perjalanan dinas bersama dua orang rekan satu timnya. Dua orang tersebut tidak saya kenal secara personal, tapi yaa namanya satu kantor, saya pun tahu mereka berdua. Teman saya ini adalah korban pertama yang teridentifkasi dalam kecelakaan JT 610. Seorang yang baru saya kenal sekitar sembilan bulan karena qadarullah kami satu batch penerimaan calon pegawai negeri sipil di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Cewek yang usianya lebih muda dari saya, tapi otaknya jauh lebih brilian dari saya. Namanya Jannatun Cintya Dewi. Yaampun Jan, pernah nggak kamu berpikir kenapa orang tuamu memberimu nama Janna ?

Ini adalah kali pertama (dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi) saya mengalami pengalaman seperti ini. Seseorang yang biasa makan siang di kantor bareng saya dan teman-teman yang lain, tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat mengalami musibah, menjadi terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Saya coba ketik “Jann” di Google dan salah satu pilihan teratas yang muncul adalah “Jannatun Cintya Dewi”. Teman-teman saya yang nggak kenal Janna sama sekali pun ikut mengucapkan bela sungkawa. Bahkan pejabat selevel Wakil Menteri turut melepas jenazahnya. Yahh.. tapi itulah masalahnya. Janna mungkin tidak akan pernah tahu, karena dia sudah pulang ke rumah yang sebenarnya, dan rumah itu Insya Allah sesuai dengan doa yang tersirat dalam namanya..Jannah, surga. 

Untuk saya pribadi, berada dalam situasi seperti ini terasa bukan hanya sedih (ini sudah pasti), tapi juga aneh dan benar-benar membuat saya berkali-kali menghela napas panjang.
Begitu lemahnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa. Begitu mudahnya Dia merubah kondisi dari ada menjadi tidak ada. Kalau sudah begini, pantas saja Khalifah Umar Bin Khatab mengenakan cincin yang bertuliskan “Kafaa bil Mauti waa ‘Idhan yaa Umar” (cukuplah mati sebagai pengingat untukmu wahai Umar). 

Cukuplah mati sebagai pemberi nasihat, sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini bisa berakhir kapan saja, dan ketika sudah berakhir, maka semua kesempatan itu hilang: kesempatan beramal, kesempatan bertaubat, dan semua kesempatan baik lainnya. Tapi ya gimana dong, udah dari “sananya” kehidupan dibuat seperti ini. Dibuat sementara oleh Yang Maha Kekal. Kalau kata Heiji Hattori dalam komik Detective Conan "Life is limited, that's why it's so precious. Since there's a limit, we try our best to live"


Tapi bagi Muslim yang percaya adanya kehidupan akhirat, mungkin quote ini perlu disempurnakan menjadi..


"Life is limited, that's why it's so precious. Since there's a limit, we try our best to be able to live in the Jannah." Tentunya dengan ridho Allah.  

Kalau saya boleh mengutip perkataan Ustad Adi Hidayat, “Jadikan dunia itu untuk kepentingan akhirat, Insya Allah, Allah akan berkahi kehidupan kita.” Ushikum wa nafsi bitaqwallah. Aslinya ini gue nulis juga sambil deg-degan. Takut cuma bisa nulis doang tapi nggak bisa ngamalin. Huhuhu. Ya Allah, please make it easy for us, don’t make it difficult. Aamiin.


And finally Janna, this is a tribute to you, my cheerful and brilliant friend. Walau kamu tidak akan pernah tahu kalau saya pernah menulis ini di halaman blog ini.


Saya mungkin bukan orang yang paling sedih dengan kepergian kamu, ada banyak orang lain yang hatinya lebih terluka, yang kehilangannya lebih dalam.

Saya pastikan juga bukan orang yang paling mengenal kamu. Ada teman-temanmu yang lain, yang mengenalmu lebih lama. Mereka yang lebih memahamimu, mengetahui rahasiamu, dan segala alasan dibalik keputusan-keputusanmu yang tidak pernah kamu ceritakan.

Tapi perkenalan kita yang singkat, dan cara pergimu yang dahsyat, menjadi wasilah bagi saya dan banyak sekali orang untuk merenung sejenak tentang betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Sungguh apa yang kita kenang darimu adalah kebaikan. Keceriaan dan energimu yang tidak ada habisnya. Kecerdasan yang membuatmu selalu bisa diandalkan. Usiamu boleh muda, tapi pribadimu dewasa. Kamu ibarat perekat dan pelunak suasana.  

Ada dan tidak adanya kamu memberikan banyak sekali hikmah. Kami disini sudah ikhlas karena kamu ditakdirkan pulang lebih dulu. Semoga di surga nanti, kita bisa berkumpul lagi.


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un



Salam,
Mbak Venes

Minggu, 23 September 2018

Siapa Berani jadi (C)PNS? (2)



Hi guys! (tolong dibaca ala vlogger Youtube)

Kalau kamu sampai ke halaman ini, gue anggap kamu sudah membaca tulisan gue sebelumnya, artinya kamu sudah meluruskan niat dan siap jadi PNS terbaik. Kalau belum, gue mohon untuk kamu untuk membaca dulu tulisan gue sebelum ini, supaya kamu tidak buang-buang energi ikut rekrutmen padahal nggak siap atau nggak suka dengan pekerjaan PNS itu sendiri.

Oke, sip! Let’s make it fast.

Berdasarkan pengalaman merasakan sendiri seleksi CPNS di Kementerian ESDM dan ngobrol dengan beberapa teman, gue ingin berbagi beberapa hal. Sekali lagi ini bukan informasi teknis, kalau yang teknis, silahkan baca di website atau media sosial kementerian/lembaga (K/L) yang kamu minati. Jangan males baca!

1. Seleksi CPNS dimulai dari seleksi administrasi. Sangat sederhana, kamu cuma harus unggah dokumen, submit dan tunggu pengumuman. Yang harus diunggah juga nggak ada yang aneh-aneh amat: Ijazah dan transkrip (nggak boleh surat keterangan lulus ya, harus ijazah asli), nilai TOEFL terbaru, surat pernyataan, dan lain sebagainya sesuai syarat K/L atau pemerintah daerah yang buka formasi. Kayaknya selagi dokumen yang kamu unggah sudah benar dan lengkap, dan sesuai dengan syarat administrasi, harusnya bisa lulus sih tahap ini. Gue nggak tau sih apakah ada faktor lain yang bisa bikin nggak lulus seleksi administrasi. Jadi yaa pastikan saja men-submit semua persyaratan setelah yakin benar dan lengkap. Seinget gue kalau udah submit nggak bisa di-cancel deh. Untuk menghindari faktor-faktor non teknis, sebaiknya juga jangan mepet-mepet amat submit-nya.

2. Kalau ada syarat administrasi yang kurang jelas, jangan sungkan untuk bertanya ke K/L tersebut. Mereka pasti punya call center. Dulu gue sempet ingin apply di Bappenas, tapi ada persyaratan yang kurang jelas, lalu gue coba WA nomor call center yang tertulis di pengumuman, dan mereka cukup fast response kok. Kalau ada yang nggak jelas, mendingan ditanya daripada berkesimpulan sendiri.

3. Kalau udah lulus tahap administrasi, maka kamu akan memasuki tahap seleksi Tes Kompetensi Dasar dengan sistem Computer Assisted Test (CAT). Nah menurut gue bagian paling susah dari tes CPNS adalah CAT ini, karena sistemnya efektif mengeliminasi banyak orang, hehehe. Kalau gue sih menyarankan kamu untuk belajar sebelum CAT, walaupuuun ada aja sih manusia-manusia beruntung yang lulus CAT tanpa belajar. Gue sendiri termasuk kelompok yang belajar sebelum CAT, karena dari dulu gue nggak pernah bisa cukup percaya diri untuk ikut ujian (apapun) tanpa belajar sama sekali. Buku-buku soal tes CPNS yang banyak dijual di toko buku itu membantu kok. Pilih buku yang ada rangkuman materinya, teruma untuk bagian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), jadi sambil ngerjain soal bisa sambil baca-baca materi. Rata-rata temen gue yang nggak lulus CAT itu gagal di bagian TWK, jadi mungkin butuh extra effort untuk belajar TWK. Senior gue di kantor pernah bilang, soal CAT itu tiap tahun sebenarnya berulang. Mungkin benar, tapi masalahnya kemungkinan soalnya itu ada banyaaaak bangeeet. Kalau gue nyaranin untuk belajar materi UUD 1945 termasuk amandemennya karena soal-soal kayak gitu sering banget keluar. Ohiya simulasi CAT di website BKN juga bisa dicoba tuh, cukup membantu.

4. Kalau tahun lalu (2017), yang lulus CAT itu sejumlah kebutuhan formasi dikali tiga. Jadi kalau formasi yang kamu inginkan itu butuh dua orang, maka yang lulus CAT paling banyak adalah 6 orang. Gue lihat di pengumuman CPNS ESDM, syarat tersebut masih sama (nggak tau kalau di K/L lain ya, tapi mungkin sama). Aturan ini membuat lulus saja tidak cukup tapi nilai kamu juga harus bisa setinggi-tingginya supaya masuk rangking. Saran gue adalah cari nilai sebanyak-banyaknya dari Tes Karakteristik Pribadi (TKP), karena menurut pengamatan gue merhatiin soal TKP di buku latihan soal, jawaban-jawaban TKP yang nilainya 5 itu ada cirinya. Coba kerjain soal-soal TKP di buku jadi bisa membayangkan tipe-tipe jawaban yang nilainya 5 supaya bisa dapat skor setinggi-tingginya. Sebisa mungkin raih nilai tinggi disini karena rada suram kalau ngarep nilai tinggi dari TWK, hehehe. TWK itu punya kemungkinan soal yang random dan banyak. Gue inget banget waktu itu dapat soal tentang UU Agraria, yang mana gue tidak tahu sama sekali jadi nebak deh jawabnya. Seleksi TKD itu memang tidak bisa menjaring kompetensi teknis kamu, jadi mau kamu punya kompetensi sebaik apapun, seleksi ini memang tidak akan bisa melihatnya karena (kayaknya) tujuan TKD memang bukan buat itu, tapi untuk mengeliminasi banyak orang melalui mekanisme yang fair menjadi beberapa orang terpilih yang untuk selanjutnya akan disaring berdasarkan kompetensi. 

5. Sabar. Ini nasihat umum tapi penting banget. Tes CPNS itu beda dengan saat kamu seleksi kerja di swasta. Tes ini diikuti lebih banyak orang. Namanya kegiatan yang melibatkan banyak orang, pasti ada banyak keinginan dan banyak hal yang harus diurus. Jadi ya sabar aja. Ikuti aja aturan mainnya. 

6. Jangan pernah berpikir untuk mainan duit supaya lolos seleksi. Kalau kamu masih kepikiran hal-hal kayak gitu, maka otak kamu perlu di upgrade karena udah ketinggalan zaman setidaknya 20 tahun. 

7. Kalau udah lulus SKD, maka selanjutnya adalah SKB. Di sini gue tidak punya tips khusus selain jaga kesehatan, jaga kewarasan dan banyak-banyak berdoa. Pokoknya ikutin aja aturannya dan lalukan yang terbaik. Inget, prinsip “let God do the rest” itu baru berlaku kalau kamu udah “do your best”.

Okee, semoga bermanfaat. Silahkan jika ada yang ingin ditanyakan, semoga gue punya jawaban, hihi.
Untuk kita semua yang lagi mengusahakan apapun itu dalam hidup kita, semoga Allah meridhoi usaha kita.  Stay positive guuuys!


Salam,
Venessa Allia

Siapa Berani jadi (C)PNS?



Jauh sebelum 19 September 2018 ketika banyak banget kementerian, lembaga dan pemerintah daerah membuka formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), beberapa teman kontak gue dan nanya-nanya soal proses seleksi CPNS serta apa aja yang harus dipelajari. Gue jadi kepikiran, mungkin ada manfaatnya kalau gue nulis sedikit tentang pengalaman rekrutmen dulu. Beberapa informasi informal yang sifatnya based on experiences. Kalau soal teknis mah baca aja di pengumuman resmi kementerian/lembaga (K/L) yang buka lowongan. Zaman sekarang pemerintah juga udah melek media sosial, dan secara umum menurut gue media sosialnya sudah difungsikan dengan baik, termasuk terkait pengumuman atau FAQ rekrutmen. Ohiya, sekali lagi tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saat gue berproses di rekrutmen CPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Setiap K/L bisa punya proses rekrutmen dan syarat yang berbeda, walaupun secara garis besar alurnya akan sama karena sudah diatur oleh Badan Kepegawaian Negara. Jadi yaa jangan lupa baca secara teliti syarat dan proses rekrutmen CPNS K/L yang kamu mau yaa.

Tapi sebelum ituuuu, sebelum kamu mulai mempersiapkan semua dokumen persyaratan. Ada baiknya kamu tanya dulu sama diri sendiri. Beneran mau jadi PNS? Udah siap jadi pemerintah yang selalu dituntut kebenaran? Udah siap masuk hutan birokrasi yang tidak semudah itu direformasi?

Berdasarkan 8 bulan pengalaman jadi CPNS, ada beberapa poin konsiderasi yang menurut gue layak untuk dipikirkan sebelum kamu mulai capek-capek mengikuti proses rekrutmen. Kenapa hal ini harus dipikirkan sejak awal, karena menurut gue, ikutan proses seleksi itu artinya lo harus siap kalah sekaligus siap menang. Kalau kalah, ya yakini saja bahwa usaha yang dilakukan dengan ikhlas adalah ibadah yang akan dihargai Tuhan. Kalau menang, hmmm siap-siap ada konsekuensi dalam kemenangan.

Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, beranikah kamu…
1. Menjadi pegawai negara yang kerjaannya menjadi sorotan dan bisa jadi bahan berita semata-mata karena gaji lo tuh dibayar dari uang pajak rakyat? Gue ambil contoh, perkara PNS dapat THR yang lebih besar aja jadi berita di media, kalau di swasta, lo mau dapet THR sepuluh kali gaji juga siapa yang peduli? Hehehe. Kalau nggak siap atau nggak suka, pikir-pikir lagi.

2. Menjadi pegawai negara dengan gaji pokok dan tunjangan yang nilainya bisa kamu lihat di Peraturan Menteri Keuangan. Sebelum kamu memutuskan mau melalui proses rekrutmen, ada baiknya kamu tau soal berapa sih gaji PNS itu. Emang sih PNS itu gajinya bukan single salary kayak di swasta, ada pendapatan yang sifatnya variabel kayak uang saku dari perjalanan dinas, honor tim, honor kalau suatu hari jadi narasumber, THR dan gaji-13. Tapi yaa itu sifatnya variabel, tergantung kebijakan yang berlaku saat itu, artinya bisa berubah, bisa ada, bisa nggak ada, bisa sedikit, bisa banyak. Memang sih, perkara rezeki itu bukan hanya gaji, dan datangnya bisa dari mana aja. Gue pun bisa hidup sampai sekarang salah satunya karena ayah gue seorang PNS, dan gue alhamdulillah hidup sejahtera. Tapi karena sekarang kita lagi ngomongin soal pekerjaan, maka saat ini gue berbicara rezeki dalam konteks yang sangat sempit yaitu gaji. Intinya, sejauh yang gue lihat, pekerjaan ini memang memberikan stabilitas pendapatan, tinggal pinter-pinter aja ngaturnya. Tapi kalau kamu masih punya mimpi punya pekerjaan yang bisa bikin kamu pakai baju branded from head to toe, sering-sering liburan ke luar negeri saat long weekend atau dinner di rooftop restaurant Jakarta setiap malam minggu, kayaknya ini bukan pekerjaan yang cocok deh. Coba pertimbangkan lagi opsi pekerjaan lainnya. Entah kenapa menurut gue penting untuk menyampaikan hal ini. Karena kalau dengan mimpi setinggi itu lo maksa jadi PNS, terus waktu udah jadi PNS (amit-amit) memanfaatkan segala cara untuk dapat uang sebanyak-banyaknya, wah bahayanya dunia akhirat.

3. Kerja dalam sistem birokrasi yang tidak sederhana dan formal. Jujur ya, awal-awal gue shock waktu tau kalau untuk komunikasi antar Sub Direktorat aja mekanismenya harus lewat surat. Walau lama-lama terbiasa juga sama urusan surat menyurat ini. Hal-hal kayak begini, dulu gue nggak tau sama sekali, makanya sekarang gue ingin sharing bahwa sekali lo jadi birokrat, bersiaplah dengan cara komunikasi yang birokratis. Bukan berarti pemerintah nggak boleh pakai email yaaa. Email sih ada dan difungsikan juga. Cuma yaaa tetep ada hal-hal yang harus disampaikan secara resmi lewat surat. Buat gue yang dulu pernah kerja di swasta, dan nggak pernah sama sekali bikin surat, agak kaget juga dan merasa ribet banget. Tapi setelah 8 bulan, udah biasa aja sih sekarang. Nah jadi, kalau kamu tipe orang yang nggak suka sama urusan administratif dan formal, yaaa pikir-pikir lagi kalau mau jadi PNS.

4. Melek regulasi. Apapun formasi yang kamu lamar, namanya pegawai pemerintah ya harus paham, atau setidaknya tahu regulasi dari pekerjaannya. Karena fungsi pemerintah adalah sebagai regulator. Gue dulu setiap disuruh baca Peraturan Menteri bawaannya ngantuk, sekarang masih ngantuk sih, hahaha, tapi mendingan lah, sudah lebih terbiasa baca regulasi. Di formasi yang spesifik pun, kayak peneliti atau dosen, penting untuk paham tentang dasar hukum dan regulasi yang terkait dengan lembaga atau pekerjaannya. Hal-hal seperti ini nggak pernah gue jumpai di pekerjaan gue yang lama. Kayaknya dulu kalau soal regulasi ya diserahkan saja ke bagian Regulatory. Jadi PNS juga harus punya sense untuk berpikir makro, kalau nggak suka akan hal itu, yaa pikir-pikir lagi.

5. Menjadi pelayan publik. Kalau masih mikir jadi PNS itu artinya kamu akan jadi raja yang dilayani, udah nggak usah ikut rekrutmen sekalian. Sebenarnya sih mental sok raja kayak gitu juga nggak akan berguna di mana pun kamu bekerja. Bukankah bekerja itu artinya kamu memberikan service? Customer-nya saja yang bisa beda-beda. Ohiya, kalau kamu masih punya niatan untuk gabung di partai politik, nggak usah capek-capek ikut seleksi ya, ngeribetin panitia aja, karena PNS nggak boleh gabung di parpol.          

Coba pikirkan dulu lima hal tersebut. Gue katakan itu semua karena gue percaya kalau umur kamu udah memenuhi syarat daftar PNS, artinya kamu sudah dewasa. Dewasa artinya berpikir sebelum memutuskan, dan bertanggung jawab dengan konsekuensi dalam setiap pilihan. Walaupun memang sih, tidak semua hal bisa kita prediksi dari awal, termasuk konsekuensi dan keadaan yang berubah. Semoga pilihan kita tidak membuat kita menjadi merugikan orang lain, apalagi menjadi egois.

Gue percaya bahwa sebenarnya setiap keputusan manusia itu dikendalikan oleh value yang dia pegang, termasuk dalam perkara memilih pekerjaan. Anyway, pengalaman bekerja gue hingga sejauh ini (beberapa tahun di perusahaan FMCG yang punya banyak leading brand, beberapa bulan di salah satu well known multinational consulting dan beberapa bulan sebagai CPNS di Kementerian yang ngurusin industri migas tanah air) sudah membawa gue pada keputusan bahwa kerja di mana aja itu sama, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangan, nggak ada yang sempurna. Jadi bagi gue sekarang pilihannya balik lagi ke value apa yang gue pegang, apa yang gue suka dan apa yang menurut gue penting, itu semua menjadi alasan gue memilih dan bertahan dengan pilihan.

Coba luangkan waktu untuk ngobrol sama diri sendiri. Apa sih yang menurut kamu penting dalam memilih pekerjaan? Mungkin gue punya sedikit panduan:

a. Kalau value tertinggi kamu adalah uang, kayaknya kamu harus berpikir ulang apakah kamu cocok menjadi PNS. Sebenarnya sih kamu juga harus berpikir ulang juga apakah value yang kamu pegang sudah benar, hehehe. Mengutip perkataan Ustad Nouman Ali Khan dalam kajian beliau di Youtube yang berjudul Choosing Career, “The world needs more than just people that make money.”

b. Kalau kontribusi pada bidang strategis yang berhubungan dengan hidup banyak orang adalah value penting bagi kamu, maka ya, menjadi PNS adalah salah satu cara yang baik.

c. Kalau kamu suka networking, definitely yes jadilah PNS! Sejauh yang gue amati, salah satu bagian terbaik dari menjadi PNS adalah punya jaringan yang luas.

d. Kalau kreativitas adalah value yang penting buat kamu, sejujurnya gue tidak merekomendasikan kamu menjadi PNS. Bukan berarti jadi pegawai pemerintah itu tidak bisa kreatif. Ruang berkreasi itu ada, tapi sejauh pengamatan gue, tidak sebanyak (atau seliar) saat gue bekerja di swasta. Mungkin kamu lebih cocok kerja di start-up company yang lebih agile dan flexible.  

e. Kalau kamu ingin kerja yang santai-santai aja, jangan jadi PNS, jangan kerja di swasta, BUMN, atau manapun juga. Inget nasihat Imam Syafii, “Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras.”

Be honest. Ask yourself. Ask God to guide your decision. Trust Him, Dia yang Maha Benar.

Tulisan gue ini juga pasti banyak salahnya. Apa yang gue tulis, murni dari pengalaman dan pengetahuan gue yang masih cetek banget. Maaf banget kalau kesannya sok tahu. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi atau menambahkan, feel free untuk sharing yaa J

Soal pengalaman rekrutmen, dan beberapa info non teknis lainnya, tunggu di tulisan selanjutnya.

Stay positive yaa!


Salam,
Venessa Allia