Minggu, 11 November 2018

Tribute to a Cheerful and Brilliant Friend.




Ada satu dialog dalam film The Last Samurai yang saya ingat hingga sekarang, padahal nontonnya udah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dialog ketika Emperor Meiji bertanya kepada Nathan Algren tentang bagaimana Katsumoto wafat.

Emperor Meiji: Tell me how he died.
Nathan Algren: I will tell you how he lived.

---

Setiap hari ada manusia lahir, ada manusia mati.

Kalau yang lahir adalah anak dari kerabat atau sahabat sendiri, kebahagiaan yang hadir pasti terasa berlipat ganda. Demikian pula jika yang wafat adalah kerabat atau sahabat sendiri, duka yang ada pun tidak biasa.

Yeah, seperti yang kita semua tahu, 29 Oktober 2018 terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Kecelakaan itu tidak akan betul-betul membekas dalam memori saya jika tidak ada orang yang saya kenal menjadi salah satu penumpangnya.

Tapi begitulah memang bunyi takdirnya, satu orang yang saya kenal baik menjadi penumpang dalam pesawat tersebut. Dalam perjalanan dinas bersama dua orang rekan satu timnya. Dua orang tersebut tidak saya kenal secara personal, tapi yaa namanya satu kantor, saya pun tahu mereka berdua. Teman saya ini adalah korban pertama yang teridentifkasi dalam kecelakaan JT 610. Seorang yang baru saya kenal sekitar sembilan bulan karena qadarullah kami satu batch penerimaan calon pegawai negeri sipil di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Cewek yang usianya lebih muda dari saya, tapi otaknya jauh lebih brilian dari saya. Namanya Jannatun Cintya Dewi. Yaampun Jan, pernah nggak kamu berpikir kenapa orang tuamu memberimu nama Janna ?

Ini adalah kali pertama (dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi) saya mengalami pengalaman seperti ini. Seseorang yang biasa makan siang di kantor bareng saya dan teman-teman yang lain, tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat mengalami musibah, menjadi terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Saya coba ketik “Jann” di Google dan salah satu pilihan teratas yang muncul adalah “Jannatun Cintya Dewi”. Teman-teman saya yang nggak kenal Janna sama sekali pun ikut mengucapkan bela sungkawa. Bahkan pejabat selevel Wakil Menteri turut melepas jenazahnya. Yahh.. tapi itulah masalahnya. Janna mungkin tidak akan pernah tahu, karena dia sudah pulang ke rumah yang sebenarnya, dan rumah itu Insya Allah sesuai dengan doa yang tersirat dalam namanya..Jannah, surga. 

Untuk saya pribadi, berada dalam situasi seperti ini terasa bukan hanya sedih (ini sudah pasti), tapi juga aneh dan benar-benar membuat saya berkali-kali menghela napas panjang.
Begitu lemahnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa. Begitu mudahnya Dia merubah kondisi dari ada menjadi tidak ada. Kalau sudah begini, pantas saja Khalifah Umar Bin Khatab mengenakan cincin yang bertuliskan “Kafaa bil Mauti waa ‘Idhan yaa Umar” (cukuplah mati sebagai pengingat untukmu wahai Umar). 

Cukuplah mati sebagai pemberi nasihat, sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini bisa berakhir kapan saja, dan ketika sudah berakhir, maka semua kesempatan itu hilang: kesempatan beramal, kesempatan bertaubat, dan semua kesempatan baik lainnya. Tapi ya gimana dong, udah dari “sananya” kehidupan dibuat seperti ini. Dibuat sementara oleh Yang Maha Kekal. Kalau kata Heiji Hattori dalam komik Detective Conan "Life is limited, that's why it's so precious. Since there's a limit, we try our best to live"


Tapi bagi Muslim yang percaya adanya kehidupan akhirat, mungkin quote ini perlu disempurnakan menjadi..


"Life is limited, that's why it's so precious. Since there's a limit, we try our best to be able to live in the Jannah." Tentunya dengan ridho Allah.  

Kalau saya boleh mengutip perkataan Ustad Adi Hidayat, “Jadikan dunia itu untuk kepentingan akhirat, Insya Allah, Allah akan berkahi kehidupan kita.” Ushikum wa nafsi bitaqwallah. Aslinya ini gue nulis juga sambil deg-degan. Takut cuma bisa nulis doang tapi nggak bisa ngamalin. Huhuhu. Ya Allah, please make it easy for us, don’t make it difficult. Aamiin.


And finally Janna, this is a tribute to you, my cheerful and brilliant friend. Walau kamu tidak akan pernah tahu kalau saya pernah menulis ini di halaman blog ini.


Saya mungkin bukan orang yang paling sedih dengan kepergian kamu, ada banyak orang lain yang hatinya lebih terluka, yang kehilangannya lebih dalam.

Saya pastikan juga bukan orang yang paling mengenal kamu. Ada teman-temanmu yang lain, yang mengenalmu lebih lama. Mereka yang lebih memahamimu, mengetahui rahasiamu, dan segala alasan dibalik keputusan-keputusanmu yang tidak pernah kamu ceritakan.

Tapi perkenalan kita yang singkat, dan cara pergimu yang dahsyat, menjadi wasilah bagi saya dan banyak sekali orang untuk merenung sejenak tentang betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Sungguh apa yang kita kenang darimu adalah kebaikan. Keceriaan dan energimu yang tidak ada habisnya. Kecerdasan yang membuatmu selalu bisa diandalkan. Usiamu boleh muda, tapi pribadimu dewasa. Kamu ibarat perekat dan pelunak suasana.  

Ada dan tidak adanya kamu memberikan banyak sekali hikmah. Kami disini sudah ikhlas karena kamu ditakdirkan pulang lebih dulu. Semoga di surga nanti, kita bisa berkumpul lagi.


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un



Salam,
Mbak Venes

Minggu, 23 September 2018

Siapa Berani jadi (C)PNS? (2)



Hi guys! (tolong dibaca ala vlogger Youtube)

Kalau kamu sampai ke halaman ini, gue anggap kamu sudah membaca tulisan gue sebelumnya, artinya kamu sudah meluruskan niat dan siap jadi PNS terbaik. Kalau belum, gue mohon untuk kamu untuk membaca dulu tulisan gue sebelum ini, supaya kamu tidak buang-buang energi ikut rekrutmen padahal nggak siap atau nggak suka dengan pekerjaan PNS itu sendiri.

Oke, sip! Let’s make it fast.

Berdasarkan pengalaman merasakan sendiri seleksi CPNS di Kementerian ESDM dan ngobrol dengan beberapa teman, gue ingin berbagi beberapa hal. Sekali lagi ini bukan informasi teknis, kalau yang teknis, silahkan baca di website atau media sosial kementerian/lembaga (K/L) yang kamu minati. Jangan males baca!

1. Seleksi CPNS dimulai dari seleksi administrasi. Sangat sederhana, kamu cuma harus unggah dokumen, submit dan tunggu pengumuman. Yang harus diunggah juga nggak ada yang aneh-aneh amat: Ijazah dan transkrip (nggak boleh surat keterangan lulus ya, harus ijazah asli), nilai TOEFL terbaru, surat pernyataan, dan lain sebagainya sesuai syarat K/L atau pemerintah daerah yang buka formasi. Kayaknya selagi dokumen yang kamu unggah sudah benar dan lengkap, dan sesuai dengan syarat administrasi, harusnya bisa lulus sih tahap ini. Gue nggak tau sih apakah ada faktor lain yang bisa bikin nggak lulus seleksi administrasi. Jadi yaa pastikan saja men-submit semua persyaratan setelah yakin benar dan lengkap. Seinget gue kalau udah submit nggak bisa di-cancel deh. Untuk menghindari faktor-faktor non teknis, sebaiknya juga jangan mepet-mepet amat submit-nya.

2. Kalau ada syarat administrasi yang kurang jelas, jangan sungkan untuk bertanya ke K/L tersebut. Mereka pasti punya call center. Dulu gue sempet ingin apply di Bappenas, tapi ada persyaratan yang kurang jelas, lalu gue coba WA nomor call center yang tertulis di pengumuman, dan mereka cukup fast response kok. Kalau ada yang nggak jelas, mendingan ditanya daripada berkesimpulan sendiri.

3. Kalau udah lulus tahap administrasi, maka kamu akan memasuki tahap seleksi Tes Kompetensi Dasar dengan sistem Computer Assisted Test (CAT). Nah menurut gue bagian paling susah dari tes CPNS adalah CAT ini, karena sistemnya efektif mengeliminasi banyak orang, hehehe. Kalau gue sih menyarankan kamu untuk belajar sebelum CAT, walaupuuun ada aja sih manusia-manusia beruntung yang lulus CAT tanpa belajar. Gue sendiri termasuk kelompok yang belajar sebelum CAT, karena dari dulu gue nggak pernah bisa cukup percaya diri untuk ikut ujian (apapun) tanpa belajar sama sekali. Buku-buku soal tes CPNS yang banyak dijual di toko buku itu membantu kok. Pilih buku yang ada rangkuman materinya, teruma untuk bagian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), jadi sambil ngerjain soal bisa sambil baca-baca materi. Rata-rata temen gue yang nggak lulus CAT itu gagal di bagian TWK, jadi mungkin butuh extra effort untuk belajar TWK. Senior gue di kantor pernah bilang, soal CAT itu tiap tahun sebenarnya berulang. Mungkin benar, tapi masalahnya kemungkinan soalnya itu ada banyaaaak bangeeet. Kalau gue nyaranin untuk belajar materi UUD 1945 termasuk amandemennya karena soal-soal kayak gitu sering banget keluar. Ohiya simulasi CAT di website BKN juga bisa dicoba tuh, cukup membantu.

4. Kalau tahun lalu (2017), yang lulus CAT itu sejumlah kebutuhan formasi dikali tiga. Jadi kalau formasi yang kamu inginkan itu butuh dua orang, maka yang lulus CAT paling banyak adalah 6 orang. Gue lihat di pengumuman CPNS ESDM, syarat tersebut masih sama (nggak tau kalau di K/L lain ya, tapi mungkin sama). Aturan ini membuat lulus saja tidak cukup tapi nilai kamu juga harus bisa setinggi-tingginya supaya masuk rangking. Saran gue adalah cari nilai sebanyak-banyaknya dari Tes Karakteristik Pribadi (TKP), karena menurut pengamatan gue merhatiin soal TKP di buku latihan soal, jawaban-jawaban TKP yang nilainya 5 itu ada cirinya. Coba kerjain soal-soal TKP di buku jadi bisa membayangkan tipe-tipe jawaban yang nilainya 5 supaya bisa dapat skor setinggi-tingginya. Sebisa mungkin raih nilai tinggi disini karena rada suram kalau ngarep nilai tinggi dari TWK, hehehe. TWK itu punya kemungkinan soal yang random dan banyak. Gue inget banget waktu itu dapat soal tentang UU Agraria, yang mana gue tidak tahu sama sekali jadi nebak deh jawabnya. Seleksi TKD itu memang tidak bisa menjaring kompetensi teknis kamu, jadi mau kamu punya kompetensi sebaik apapun, seleksi ini memang tidak akan bisa melihatnya karena (kayaknya) tujuan TKD memang bukan buat itu, tapi untuk mengeliminasi banyak orang melalui mekanisme yang fair menjadi beberapa orang terpilih yang untuk selanjutnya akan disaring berdasarkan kompetensi. 

5. Sabar. Ini nasihat umum tapi penting banget. Tes CPNS itu beda dengan saat kamu seleksi kerja di swasta. Tes ini diikuti lebih banyak orang. Namanya kegiatan yang melibatkan banyak orang, pasti ada banyak keinginan dan banyak hal yang harus diurus. Jadi ya sabar aja. Ikuti aja aturan mainnya. 

6. Jangan pernah berpikir untuk mainan duit supaya lolos seleksi. Kalau kamu masih kepikiran hal-hal kayak gitu, maka otak kamu perlu di upgrade karena udah ketinggalan zaman setidaknya 20 tahun. 

7. Kalau udah lulus SKD, maka selanjutnya adalah SKB. Di sini gue tidak punya tips khusus selain jaga kesehatan, jaga kewarasan dan banyak-banyak berdoa. Pokoknya ikutin aja aturannya dan lalukan yang terbaik. Inget, prinsip “let God do the rest” itu baru berlaku kalau kamu udah “do your best”.

Okee, semoga bermanfaat. Silahkan jika ada yang ingin ditanyakan, semoga gue punya jawaban, hihi.
Untuk kita semua yang lagi mengusahakan apapun itu dalam hidup kita, semoga Allah meridhoi usaha kita.  Stay positive guuuys!


Salam,
Venessa Allia

Siapa Berani jadi (C)PNS?



Jauh sebelum 19 September 2018 ketika banyak banget kementerian, lembaga dan pemerintah daerah membuka formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), beberapa teman kontak gue dan nanya-nanya soal proses seleksi CPNS serta apa aja yang harus dipelajari. Gue jadi kepikiran, mungkin ada manfaatnya kalau gue nulis sedikit tentang pengalaman rekrutmen dulu. Beberapa informasi informal yang sifatnya based on experiences. Kalau soal teknis mah baca aja di pengumuman resmi kementerian/lembaga (K/L) yang buka lowongan. Zaman sekarang pemerintah juga udah melek media sosial, dan secara umum menurut gue media sosialnya sudah difungsikan dengan baik, termasuk terkait pengumuman atau FAQ rekrutmen. Ohiya, sekali lagi tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saat gue berproses di rekrutmen CPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Setiap K/L bisa punya proses rekrutmen dan syarat yang berbeda, walaupun secara garis besar alurnya akan sama karena sudah diatur oleh Badan Kepegawaian Negara. Jadi yaa jangan lupa baca secara teliti syarat dan proses rekrutmen CPNS K/L yang kamu mau yaa.

Tapi sebelum ituuuu, sebelum kamu mulai mempersiapkan semua dokumen persyaratan. Ada baiknya kamu tanya dulu sama diri sendiri. Beneran mau jadi PNS? Udah siap jadi pemerintah yang selalu dituntut kebenaran? Udah siap masuk hutan birokrasi yang tidak semudah itu direformasi?

Berdasarkan 8 bulan pengalaman jadi CPNS, ada beberapa poin konsiderasi yang menurut gue layak untuk dipikirkan sebelum kamu mulai capek-capek mengikuti proses rekrutmen. Kenapa hal ini harus dipikirkan sejak awal, karena menurut gue, ikutan proses seleksi itu artinya lo harus siap kalah sekaligus siap menang. Kalau kalah, ya yakini saja bahwa usaha yang dilakukan dengan ikhlas adalah ibadah yang akan dihargai Tuhan. Kalau menang, hmmm siap-siap ada konsekuensi dalam kemenangan.

Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, beranikah kamu…
1. Menjadi pegawai negara yang kerjaannya menjadi sorotan dan bisa jadi bahan berita semata-mata karena gaji lo tuh dibayar dari uang pajak rakyat? Gue ambil contoh, perkara PNS dapat THR yang lebih besar aja jadi berita di media, kalau di swasta, lo mau dapet THR sepuluh kali gaji juga siapa yang peduli? Hehehe. Kalau nggak siap atau nggak suka, pikir-pikir lagi.

2. Menjadi pegawai negara dengan gaji pokok dan tunjangan yang nilainya bisa kamu lihat di Peraturan Menteri Keuangan. Sebelum kamu memutuskan mau melalui proses rekrutmen, ada baiknya kamu tau soal berapa sih gaji PNS itu. Emang sih PNS itu gajinya bukan single salary kayak di swasta, ada pendapatan yang sifatnya variabel kayak uang saku dari perjalanan dinas, honor tim, honor kalau suatu hari jadi narasumber, THR dan gaji-13. Tapi yaa itu sifatnya variabel, tergantung kebijakan yang berlaku saat itu, artinya bisa berubah, bisa ada, bisa nggak ada, bisa sedikit, bisa banyak. Memang sih, perkara rezeki itu bukan hanya gaji, dan datangnya bisa dari mana aja. Gue pun bisa hidup sampai sekarang salah satunya karena ayah gue seorang PNS, dan gue alhamdulillah hidup sejahtera. Tapi karena sekarang kita lagi ngomongin soal pekerjaan, maka saat ini gue berbicara rezeki dalam konteks yang sangat sempit yaitu gaji. Intinya, sejauh yang gue lihat, pekerjaan ini memang memberikan stabilitas pendapatan, tinggal pinter-pinter aja ngaturnya. Tapi kalau kamu masih punya mimpi punya pekerjaan yang bisa bikin kamu pakai baju branded from head to toe, sering-sering liburan ke luar negeri saat long weekend atau dinner di rooftop restaurant Jakarta setiap malam minggu, kayaknya ini bukan pekerjaan yang cocok deh. Coba pertimbangkan lagi opsi pekerjaan lainnya. Entah kenapa menurut gue penting untuk menyampaikan hal ini. Karena kalau dengan mimpi setinggi itu lo maksa jadi PNS, terus waktu udah jadi PNS (amit-amit) memanfaatkan segala cara untuk dapat uang sebanyak-banyaknya, wah bahayanya dunia akhirat.

3. Kerja dalam sistem birokrasi yang tidak sederhana dan formal. Jujur ya, awal-awal gue shock waktu tau kalau untuk komunikasi antar Sub Direktorat aja mekanismenya harus lewat surat. Walau lama-lama terbiasa juga sama urusan surat menyurat ini. Hal-hal kayak begini, dulu gue nggak tau sama sekali, makanya sekarang gue ingin sharing bahwa sekali lo jadi birokrat, bersiaplah dengan cara komunikasi yang birokratis. Bukan berarti pemerintah nggak boleh pakai email yaaa. Email sih ada dan difungsikan juga. Cuma yaaa tetep ada hal-hal yang harus disampaikan secara resmi lewat surat. Buat gue yang dulu pernah kerja di swasta, dan nggak pernah sama sekali bikin surat, agak kaget juga dan merasa ribet banget. Tapi setelah 8 bulan, udah biasa aja sih sekarang. Nah jadi, kalau kamu tipe orang yang nggak suka sama urusan administratif dan formal, yaaa pikir-pikir lagi kalau mau jadi PNS.

4. Melek regulasi. Apapun formasi yang kamu lamar, namanya pegawai pemerintah ya harus paham, atau setidaknya tahu regulasi dari pekerjaannya. Karena fungsi pemerintah adalah sebagai regulator. Gue dulu setiap disuruh baca Peraturan Menteri bawaannya ngantuk, sekarang masih ngantuk sih, hahaha, tapi mendingan lah, sudah lebih terbiasa baca regulasi. Di formasi yang spesifik pun, kayak peneliti atau dosen, penting untuk paham tentang dasar hukum dan regulasi yang terkait dengan lembaga atau pekerjaannya. Hal-hal seperti ini nggak pernah gue jumpai di pekerjaan gue yang lama. Kayaknya dulu kalau soal regulasi ya diserahkan saja ke bagian Regulatory. Jadi PNS juga harus punya sense untuk berpikir makro, kalau nggak suka akan hal itu, yaa pikir-pikir lagi.

5. Menjadi pelayan publik. Kalau masih mikir jadi PNS itu artinya kamu akan jadi raja yang dilayani, udah nggak usah ikut rekrutmen sekalian. Sebenarnya sih mental sok raja kayak gitu juga nggak akan berguna di mana pun kamu bekerja. Bukankah bekerja itu artinya kamu memberikan service? Customer-nya saja yang bisa beda-beda. Ohiya, kalau kamu masih punya niatan untuk gabung di partai politik, nggak usah capek-capek ikut seleksi ya, ngeribetin panitia aja, karena PNS nggak boleh gabung di parpol.          

Coba pikirkan dulu lima hal tersebut. Gue katakan itu semua karena gue percaya kalau umur kamu udah memenuhi syarat daftar PNS, artinya kamu sudah dewasa. Dewasa artinya berpikir sebelum memutuskan, dan bertanggung jawab dengan konsekuensi dalam setiap pilihan. Walaupun memang sih, tidak semua hal bisa kita prediksi dari awal, termasuk konsekuensi dan keadaan yang berubah. Semoga pilihan kita tidak membuat kita menjadi merugikan orang lain, apalagi menjadi egois.

Gue percaya bahwa sebenarnya setiap keputusan manusia itu dikendalikan oleh value yang dia pegang, termasuk dalam perkara memilih pekerjaan. Anyway, pengalaman bekerja gue hingga sejauh ini (beberapa tahun di perusahaan FMCG yang punya banyak leading brand, beberapa bulan di salah satu well known multinational consulting dan beberapa bulan sebagai CPNS di Kementerian yang ngurusin industri migas tanah air) sudah membawa gue pada keputusan bahwa kerja di mana aja itu sama, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangan, nggak ada yang sempurna. Jadi bagi gue sekarang pilihannya balik lagi ke value apa yang gue pegang, apa yang gue suka dan apa yang menurut gue penting, itu semua menjadi alasan gue memilih dan bertahan dengan pilihan.

Coba luangkan waktu untuk ngobrol sama diri sendiri. Apa sih yang menurut kamu penting dalam memilih pekerjaan? Mungkin gue punya sedikit panduan:

a. Kalau value tertinggi kamu adalah uang, kayaknya kamu harus berpikir ulang apakah kamu cocok menjadi PNS. Sebenarnya sih kamu juga harus berpikir ulang juga apakah value yang kamu pegang sudah benar, hehehe. Mengutip perkataan Ustad Nouman Ali Khan dalam kajian beliau di Youtube yang berjudul Choosing Career, “The world needs more than just people that make money.”

b. Kalau kontribusi pada bidang strategis yang berhubungan dengan hidup banyak orang adalah value penting bagi kamu, maka ya, menjadi PNS adalah salah satu cara yang baik.

c. Kalau kamu suka networking, definitely yes jadilah PNS! Sejauh yang gue amati, salah satu bagian terbaik dari menjadi PNS adalah punya jaringan yang luas.

d. Kalau kreativitas adalah value yang penting buat kamu, sejujurnya gue tidak merekomendasikan kamu menjadi PNS. Bukan berarti jadi pegawai pemerintah itu tidak bisa kreatif. Ruang berkreasi itu ada, tapi sejauh pengamatan gue, tidak sebanyak (atau seliar) saat gue bekerja di swasta. Mungkin kamu lebih cocok kerja di start-up company yang lebih agile dan flexible.  

e. Kalau kamu ingin kerja yang santai-santai aja, jangan jadi PNS, jangan kerja di swasta, BUMN, atau manapun juga. Inget nasihat Imam Syafii, “Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras.”

Be honest. Ask yourself. Ask God to guide your decision. Trust Him, Dia yang Maha Benar.

Tulisan gue ini juga pasti banyak salahnya. Apa yang gue tulis, murni dari pengalaman dan pengetahuan gue yang masih cetek banget. Maaf banget kalau kesannya sok tahu. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi atau menambahkan, feel free untuk sharing yaa J

Soal pengalaman rekrutmen, dan beberapa info non teknis lainnya, tunggu di tulisan selanjutnya.

Stay positive yaa!


Salam,
Venessa Allia



Kamis, 13 September 2018

Mungkin ya..

Mungkin ya.. 
Karena manusia diizinkan memilih dan membuat keputusan. 
Karena manusia diizinkan berusaha. 
Juga karena manusia diberikan apa yang mereka mau. 
Mereka jadi merasa bahwa "hidup gue adalah dalam kontrol gue". 
Masalahnya, keyakinan bahwa "manusia berkuasa dengan kehidupannya" membuat pikiran menjadi sempit karena segalanya diukur oleh standar kebenaran yang nggak jelas datangnya dari mana, atau standar yang hanya berdasarkan akal manusia yang penuh keterbatasan (dengan kata lain, standar yang salah).  
Sejatinya akal ini tidak pernah diciptakan untuk mendefinisikan kebenaran. 

Karena udah belagu banget merasa memegang kendali, manusia lupa bahwa mau gimana juga, nggak ada yang bisa mengalahkan fakta bahwa manusia adalah ciptaan. 
Ada yg nyiptain. Ada "Master"-nya. Maha Pencipta sekaligus Maha Pemberi. 
Begitulah apa yang manusia rasa miliki itu tak lebih dari sekedar pemberian. 
Jadi inget, dulu waktu gue baru lahir di dunia, tanpa sadar dan tanpa berusaha, ada rezeki air susu buat gue, ditambah baju, selimut, tempat tidur, dan lain sebagainya. Ya dikasih aja gitu, tanpa memilih dan meminta (Alhamdulillah). Sekarang udah gede, kenapa gue jadi belagu ya merasa apa yang gue miliki adalah karena semata2 usaha gue sendiri? 

Dan satu hal lagi sih yang gue sendiri, sebagai salah satu manusia tersebut pun sering lupa, Maha Pencipta yang menciptakan gue dan seluruh alam semesta, jugalah sebagai "Master" yang punya aturan main. 
Kadang2 gue kepikiran, gue roll-depan-belakang-jungkir-balik hidup selama ini, sebenarnya tuh udah sesuai belum sih sama aturan main yang nyiptain gue? 
Gue cuma nggak mau hidup gue berjalan 'otomatis'. Otomatis dalam artian hidup yang berjalan tanpa kesadaran dan keterusan lupa. Lupa diri, dan lupa siapa Tuhannya. 


Al-Fatihah.

Ushikum wa nafsiy bitaqwallah

Sabtu, 01 September 2018

Ikut Euforia Asian Games 2018



Gue tidak menemukan judul yang lebih tepat selain apa yang tertulis di atas. Yaps, gue mengikuti dan sangat menikmati euforia pesta olah raga terbesar di Asia ini. Walaupun nggak berkesempatan nonton satu pertandingan pun secara langsung, atau nonton ke-epic-an opening ceremony-nya itu, atau closing ceremony yang Insya Allah akan diselenggarakan besok malam, tapi tetap saja gue mengikuti arus berita dan menonton pertandingannya di TV. Gue download aplikasi Asian Games di handphone supaya bisa update berita dan perolehan medali, gue nonton berita-berita soal atlet Indonesia di Youtube, and most of all gue ikhlas traffic di Jakarta jadi harus Ganjil-Genap 15 jam sehari, 7 hari seminggu.

Gue perhatikan selama 15 hari ini, atlet beneran jadi bintang di negeri ini, dan menariknya nggak cuma atlet badminton yang relatif sudah sering merasakan spot light, tapi atlet panjat tebing, pencak silat, sepak takraw, dan olah raga yang nggak populer-populer amat di Indonesia pun bernasib sama. Mereka jadi bahan berita, menjadi sorotan, lebih dikenal, dan banyak diidolakan, which is good. Karena menurut gue mengidolakan atlet tuh lebih konstruktif dibanding mengidolakan bintang sinetron, hehehe. Menariknya lagi, event besar ini membuat gue pribadi (dan cukup yakin berlaku juga untuk masyarakat pada umumnya) jadi lebih sering menonton pertandingan olah raga, padahal sebelumnya nggak peduli-peduli amat, kecuali badminton dan piala dunia (yang nggak ada Indonesia juga). Knowledge tentang olah raganya jadi nambah juga. Jadi tahu ‘hooo sepak takraw tuh mainnya begini’, ‘hooo lari estafet tuh aturannya begini’, dan ‘hooo’ yang lainnya. Termasuk juga memunculkan beberapa kekaguman kayak “itu gimana caranya panjat tebing bisa secepet itu” atau “gile ya China bisa jago di semua cabang olah raga”, atau kekaguman yang lebih sampah seperti “itu atlet renang badangnya bisa kotak-kotak semua yaaa”. Ah ya, dan ada juga satu pertanyaan tak terjawab sampai saat ini “kenapa sih pemain voli tuh dikit-dikit tos mulu, mau bola masuk atau nggak masuk, pastiii tos”.
Walaupun knowledge bertambah, sayangnya sih event ini belum berhasil menginspirasi gue untuk rajin berolah raga, hahaha. Sempet tuh udah pengen banget nyemplung kolam renang gara-gara lihat pertandingan nomor renang, tapi apa daya setiap weekend pagi itu aku lemah ingin bobo lebih lama, hihihi.  

Masih dalam rangka euforia Asian Games, gue kepiran bahwa dalam konteks nasionalisme dan bela negara, selain tentara, atlet tuh profesi yang konkret banget sih kontribusinya ke negara. Musuhnya jelas (lawan tanding), perangnya jelas (adu skill dalam olah raga), yang dibela juga jelas banget (negerinya sendiri). Jadi kalau berhasil dapetin medali tuh kayaknya bisa (walaupun tidak boleh) sombong untuk bilang “Gue udah kasih sesuatu untuk Indonesia.” Karena tujuannya juga jelas banget, yaitu untuk menang dan mengibarkan bendera Indonesia di tiang tertinggi, maka usaha dan pengorbanan yang mereka lakukan juga rasanya worth every second deh. Terlepas dari soal penghargaan dan urusan kesejahteraan, profesi ini menjadi sangat menarik. Semoga makin banyak yang terinspirasi jadi atlet, ya kalau gue sih udah nggak mungkin, lari 6 keliling SARAGA aja dulu gue mau tewas. Mungkin anak gue nanti jadi atlet. Ibu dukung nak, apalagi kalau kamu bisa dapet bonus 1,5 M kayak sekarang, dadakan milyuner deh keluarga kita.  #materialmom #halu.

Pertandingan Asian Games juga sempat membuat gue berkontemplasi (coz overthinking is my middle name, hihihi). Di suatu pertandingan yang gue tonton di TV, gue sempet kepikiran, kayaknya kalau ada negeri ini mau bersatu, kita tuh butuh common enemy deh untuk menyatukan. Kelihatan banget kan kalau ada pertandingan olah raga Indonesia melawan asing, semua orang Indonesia akan kompak membela, berteriak dan berdoa untuk kemenangan Indonesia. Nggak ada yang peduli tuh dengan perbedaan-perbedaan, yang dipedulikan hanya mengalahkan musuh. Jadi kayaknya tuh kita butuh musuh untuk bisa kita lawan bareng-bareng, baru deh kita bisa bersatu. Tapi terus gue merasa pikiran gue agak terlalu radikal. Lalu entah inspirasi darimana (bisa jadi hidayah dari Tuhan), setelah gue pikirin lagi kayaknya solusi persatuan itu bukan keberadaan common enemy nya. Ya kali masa negeri ini harus dijajah asing dulu baru beneran bisa bersatu untuk melawan penjajah. Yang penting itu punya satu tujuan yang  sama, common goal. Adanya common goal sebagai landasan persatuan menurut gue solusi yang lebih bertanggung jawab dibandingkan berharap ada common enemy yang mempersatukan, karena common goal lahirnya yang dari kesadaran diri kita sendiri. Nah, supaya kuat ikatannya dan berkelanjutan, common goal itu nggak bisa sesuatu yang biasa-biasa aja, harus sesuatu yang paling tinggi, paling penting dan berdampak paling positif. Sesuatu yang butuh seumur hidup untuk mengusahakannya, supaya bersatunya juga nggak sehari dua hari doang tapi selama-lamanya. Pertanyaannya sekarang, apa sih common goal yang sebesar itu? emang ada? hehehe dalam hati kayaknya gue tahu apa jawabannya (tapi terus nggak mau ditulis disini :p)

Hmmm apalagi ya yang menarik dari Asian Games? Kalau soal dua tokoh politik yang berpelukan dipersatukan oleh gold medalist pencak silat, gue males ngebalesnya karena udah dibahas dimana-mana. Oh fakta menarik lagi yang gue tangkap dari event ini adalah yaampuun atletnya muda-muda banget yaaa sekarang. Gue bangga sekali dengan adek-adek gemes berprestasi iniiii. Dan yang tidak kalah menariknya, kalau dulu gue kok jarang ngeliat atlet good looking kecuali pemain sepak bola, sekarang kok atlet Indonesia yang good looking bertaburan di mana-mana. Hahaha, monmaap paragraf yang ini agak sampah sedikit :D.

Satu hal lagi yang membuat gue begitu menikmati euforia Asian Games ini, yaitu waktu yang dihabiskan bersama Papa dan Mama untuk nonton pertandingan bersama. Soalnya jarang-jarang nih ada acara TV yang bisa kita nikmati bertiga karena yaa masing-masing punya preferensi sendiri, termasuk preferensi untuk nggak nonton TV, hihihi. Belum lagi obrolan-obrolan saat menikmati pertandingannya. Ah priceless. Thank you so much Asian Games!

Terakhir, kali ini mau sok-sokan jadi pengamat. Indonesia butuh banget-nget-nget fokus dan total pada pembinaan olah raga olimpiade yang banyak nomornya, kayak atletik, gimnastik dan renang. Supaya kita bisa dapet lebih banyak medali lagiiii. Coba deh bandingin sepak bola sama nomor lari 100 m. Sepak bola butuh sangat banyak resources untuk dapat 1 medali emas, sementara lari, less resources for same result. Efficient. Ya gue yakin sih fakta ini sudah disadari banyak orang sedari lama, tulisan ini hanya ingin menggaris bawahi lagi bahwa penting banget untuk Indonesia jago di nomor renang dan atletik.

Alhamdulillah Asian Games 2018 di Indonesia bisa dibilang sukses. Sejauh ini belum denger ada major problem yang bikin malu negara. Dibalik kesuksesan ini pastiiii ada orang-orang yang pusing dan khawatir, ada mereka yang setia berdoa, ada juga mereka yang sempat ribut dan bertengkar, ada pun yang ingin segera menyudahi event ini karena lelah. Untuk mereka semua, semoga lelahmu menjadi berkah dari Allah. Ammiinn.

Oke deh, udah dulu ya. Tulisan yang cukup panjang dari gue yang sudah lama nggak blogging, hehe.
Stay positive yaaa!

Salam,
Venessa Allia

Sabtu, 21 Juli 2018

Cerpen Ketiga: Kisah Pak Sopir


Kisah Pak Sopir

             “Halo Teh Navia, rumahnya yang warna kuning, kan? Saya sudah di depan rumah ya,” suara sopir taksi online terdengar di telepon. Via pun memintanya menunggu. Dia segera mengambil sepatu coklat tanpa hak di gudang lalu memakainya, membuka kembali shoulder bag miliknya untuk memastikan bahwa barang-barang penting sudah dibawa semuanya: dompet, ponsel, power bank, kotak bedak, pembalut, tisu, kunci rumah dan minyak wangi. Via yakin tidak ada barang yang tertinggal, dia siap berangkat.
            “Bun, Via berangkat sekarang ya, Via bawa kunci kok jadi nanti Ibun bobo aja nggak usah nunggu Via pulang,” kata Via menghampiri ibundanya yang sedang membaca majalah di ruang tengah untuk berpamitan.
            “Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, Nak,” ucap Ibun sambil menutup majalah di tangan. Dilihatnya anak gadis semata wayangnya yang sudah tumbuh dewasa, parasnya persis seperti saat ia muda. Kulitnya putih, rambutnya ikal sebahu dan matanya yang terkesan galak, bedanya Via jauh lebih modis dibandingkan dia dulu.
            “Konsernya sih baru selesai jam 9, Bun. Habis itu Via langsung pulang kok dianterin Dewi. Tenang aja. Via jalan sekarang ya, udah ditungguin sopir taksi tuh,” Via menyalami tangan ibunya dengan agak terburu-buru.
            “Yaudah hati-hati, kamu bawa mukena kan? Botol minum bawa nggak?” kata Ibu sambil menegakan posisi duduk, “Itu ada roti di meja dibawa saja biar nanti kalau lapar waktu nonton konser Tulus kamu bisa isi perut, bawa yaa rotinya,” Ibu menunjuk meja di tengah ruangan yang diatasnya terdapat beberapa potong roti isi dan kue kering dalam toples.
            “Via kan lagi ‘dapet’, Bun, jadi nggak sholat. Minuman sama makanannya nanti beli aja deh di sana, berat bawanya. Dadaah Ibun. Assalamualaikum,” respon Via singkat lalu melangkah keluar rumah.
            “Kamu jangan lupa makan malam ya, Vi. Cari makannya juga yang bersih. Waalaikumsalam,” jawab Ibun sambil tetap mengingatkan Via soal isi perut. Via mendengarkan instruksi dari ibunya namun tidak menjawab, dalam hatinya dia bergumam,
            “Ckckck, Ibun..Ibun.. Via kan udah 20 tahun, masih aja ngingetin soal makan tiap Via mau pergi. Nasib anak bungsu, nggak pernah lepas dari wejangan nyokap.”     
            Via masuk ke dalam mobil sedan hitam yang menjadi kendaraannya sore ini menuju sebuah gedung pertunjukan di daerah Bandung Utara dimana Tulus, penyanyi muda favorit Via, mengadakan konser mini malam ini. Dia berjanji bertemu Dewi dan dua teman lainnya di sana. Sopir taksi ini ialah seorang bapak berusia sekitar 40 tahun. Penampilannya cukup rapi dengan kaos berkerah warna hijau dan celana jeans. Via duduk di kursi depan supaya tidak terlihat seperti penumpang karena saat ini keberadaan taksi online masih kontroversi sehingga sebaiknya tidak menimbulkan kesan bahwa mobil sedan yang dinaikinya adalah taksi online. Bapak sopir menyapa Via ramah.
            “Selamat sore Teh Navia, kita ke Jalan Tamansari ya, Teh? Kita jalan sekarang yaa,” sapa Pak Sopir sambil memindahkan persneling mobil. Mobil pun melaju menjauhi rumah Via. Jalanan komplek mulai ramai oleh anak-anak yang berangkat mengaji ke masjid.
            “Kalau bisa agak cepat ya pak nyetirnya. Saya ada janji jam 18.30,” kata Via sambil mengamati interior di dalam mobil yang masih terlihat baru. Mobil yang dinaikinya ini nampaknya belum lama keluar dari showroom.
            “Baik Teh, saya usahakan, semoga jalanan tidak terlalu macet, tapi jam segini biasanya macet sih Teh,” respon Pak Sopir sambil melirik ke ponsel di dekatnya, “Saya keluar komplek lewat jalan belakang saja ya, Teh. Kalau lewat depan lebih macet.”
Waktu menunjukan pukul 17.30. Ekspresi Pak Sopir agak serius. Dalam hatinya, sebenarnya ia tidak yakin bisa sampai tempat tujuan dalam waktu satu jam karena lalu lintas Bandung seharian ini padat di mana-mana. Apalagi sekarang malam minggu sehingga banyak orang menghabiskan waktu di luar rumah. Untungnya dia sudah beberapa kali menjemput penumpang di komplek ini sehingga dia tahu jalan terdekat menuju jalan utama. Lima belas menit waktu berlalu. Sejauh ini mobil masih melaju walau kecepatannya tidak bisa lebih dari tiga puluh kilometer per jam karena padatnya jalan raya. Setidaknya tidak berhenti total, begitu pikir Pak Sopir. Sementara itu, Via tenggelam dalam berbagai aplikasi di ponselnya, tidak berbicara atau memperhatikan jalanan yang dilaluinya.
            Mobil akhirnya sampai pada titik kemacetan. Lampu lalu lintas yang seharusnya mengatur arus kendaraan di sebuah perempatan saat ini sedang tidak berfungsi. Beberapa pengemudi mobil yang tidak sabar menyalip antrian mengakibatkan kemacetan menjadi semakin parah. Bunyi klakson mobil riuh membuat jalan raya semakin bising. Kalau sudah begini yang paling diuntungkan adalah pedagang asongan yang jadi ramai pembeli. Pedagang asongan hilir mudik melewati jendela Via, menawarkan air mineral, tisu atau sebungkus permen. Begitu juga pedagang majalah. Via tidak memperdulikan tawaran mereka, berulang kali dia melihat jam di ponselnya, sudah pukul 18.10 dan posisinya masih jauh dari tempat tujuan, nampaknya dia akan terlambat. Keresahan Via tertangkap oleh Pak Sopir.
            “Duh maaf ya Teh, kayaknya nggak keburu sampai sana jam 18.30. Ini saya sudah memilih jalur yang paling cepat, tapi tetap saja kena macet,” Pak Sopir merasa tidak enak, “Ada janji penting ya Teh?” tanya Pak Sopir sambil terus fokus mengamati jalan raya.
            “Emmm mau nonton konser aja sih, Pak. Sayang aja kalau sudah bayar tiket tapi nggak bisa nonton pertunjukannya dari awal,” jelas Via sambil masih tenggelam dalam ponselnya. Dia baru saja mengabari Dewi bahwa dia tidak bisa sampai tujuan tepat waktu.
            “Hoooo, memang mahal banget ya Teh harga tiketnya?” Pak sopir mulai KEPO: Knowing Every Particular Object. Kedua alisnya terangkat dan matanya membesar, wajahnya antusias ingin tahu.
“Nggak juga sih Pak, cuma tiga ratus ribu aja,” jawab Via, datar cendrung ketus. Sekilas ia menoleh ke Pak Sopir yang nampak terkejut mendengar jawaban Via.
“Walah! Tiga ratus ribu mah mahal Teh, uang segitu bisa untuk bayar uang sekolah anak saya di Solo,” seru Pak Sopir, suaranya meninggi tanda ia terkejut.
Via sedikit terusik mendengar respon dari Pak Sopir. Dia lantas berpikir bahwa uang tiga ratus ribu nampaknya sangat berharga bagi bapak ini, sementara dirinya baru saja menghabiskan uang dalam jumlah yang sama untuk berbelanja di sebuah layanan fashion e-commerce ternama. Itulah mengapa sedari tadi Via asik dengan ponselnya sendiri, dia sibuk memilih-milih sepatu dan aksesoris. Tidak terlalu suka membahas soal uang, Via pun mengalihkan pembicaraan. Sementara itu mobil masih terjebak di tengah kemacetan. Hari sudah mulai gelap dan dibuat semakin ramai oleh klakson-klakson yang bersahutan. Klakson mobil angkot maupun mobil pribadi sama berisiknya sedari tadi.
“Oh, anak bapak tinggal di Solo?” tanya Via tanpa bermaksud benar-benar ingin tahu. Ponselnya kini telah ia masukan kembali ke dalam tas. Ekspresinya sekarang lebih santai dengan senyum tipis di bibirnya yang juga tipis. Dewi baru saja mengabarinya bahwa dia juga akan datang terlambat karena masih terjebak macet akibat proyek perbaikan jalan.
“Iya, anak saya masih SMP di Solo, tinggal dengan ibu saya,” kata Pak Sopir sambil tetap sigap di tengah kemacetan. Dia tidak membiarkan ada mobil lain menyalip jalannya. Di luar sana, beberapa polisi lalu lintas terlihat berusaha mengurai kemacetan.
“Hooo.. jadi Bapak di Bandung dengan istri bapak?” Kali ini giliran Via yang KEPO. Badannya terarah menghadap Pak Sopir, menunjukan ia mulai antusias dengan pembicaraan ini.
“Oh nggak Teh, istri saya sudah meninggal sekitar enam bulan yang lalu. Saya ini baru tiga bulan tinggal di Bandung, baru tiga bulan juga bawa taksi online. Ini juga bukan mobil saya sendiri, Teh, ini mobil saudara saya yang berbaik hati menolong,” Pak Sopir menjawab pertayaan Via lebih dari yang Via tanyakan. Via jadi merasa tidak enak sudah menyinggung soal istrinya.
“Oh maaf Pak. Saya turut berduka cita,” kata Via berusaha terdengar tulus.
“Nggak apa-apa Teh, kalau sekarang saya sudah bisa menerima. Walaupun saat itu saya akui sangat berat, satu bulan setelah istri saya meninggal, bisnis saya bangkrut karena saya ditipu oleh teman sendiri. Panjang ceritanya,” Pak sopir diam sejenak lalu menarik napas, “Tapi saya bersyukur Tuhan masih baik sama saya, saya masih punya saudara yang cukup berada dan baik hati. Saudara saya itu membeli mobil baru untuk dijadikan taksi online, kemudian menawarkan saya untuk menjadi sopirnya. Yasudah karena butuh pekerjaan untuk menghidupi anak dan ibu saya, ya saya terima tawarannya. Jadilah saya pindah ke Bandung.” Pak sopir bercerita panjang lebar. Suaranya tetap tenang tanpa tersirat adanya kesan kesedihan atau penyesalan atas apa yang terjadi di hidupnya. Sayangnya, Via belum dapat mengerti, matanya mengerung heran.
“Istri Bapak meninggal, bisnis Bapak bangkrut, lalu Bapak harus tinggal jauh dari anak untuk mencari nafkah. Saya nggak ngerti kok tadi Bapak masih bisa bilang soal bersyukur ya Pak?” Kali ini Via betul-betul ingin tahu. Kepalanya menoleh memperhatikan Pak Sopir yang seketika tersenyum lebar.
“Sederhana saja Teh, saya tahu kalau Tuhan mau memberikan saya cobaan yang lebih berat dari ini, Dia bisa melakukannya, tapi Tuhan masih baik sama saya, cobaan untuk saya sudah ditakar sesuai kemampuan saya, dan saya masih diberikan pertolongan. Masa iya saya masih nggak bisa bersyukur?” Pak Sopir menjelaskan dengan santai, sambil sedikit melirik ke arah Via yang kini resah dalam duduknya. Penjelasan Pak Sopir membuat Via tiba-tiba saja merasa…salah.
Pak Sopir berhasil membawa mobilnya ke barisan paling depan antrian lampu merah yang tidak berfungsi. Petugas kepolisian terlihat memberikan instruksi jalur mana yang boleh jalan terlebih dahulu dan mana yang harus berhenti. Pak Sopir memperhatikan aplikasi peta di ponselnya, jalan raya setelah perempatan ini kelihatannya cukup lancar.
Via masih sibuk memikirkan kalimat Pak Sopir barusan tentang mensyukuri kehidupan. Wajahnya menegang tanda dia serius berpikir. Hatinya tiba-tiba merasa tak nyaman mengingat apa yang selama ini dia lakukan. Hidupnya sangat nyaman karena setiap bulan orang tua Via memberikan uang jajan dan sering memanjakan dirinya. Dia tidak pernah merasakan kepahitan seperti yang Pak Sopir alami. Tapi mengapa dia tidak pernah merasa cukup? Selalu ada saja yang kurang hingga harus dilengkapi, seperti beberapa saat yang lalu dia membeli sepatu baru karena merasa sepatu yang dipakainya sudah tidak nyaman, padahal dia masih punya belasan pasang sepatu lain di rumah. Juga selalu ada saja yang salah sehingga harus dikeluhkan, sebagaimana beberapa menit yang lalu Via mengeluhkan kemacetan Kota Bandung kepada Dewi di WhatsApp, padahal saat itu dia masih dapat duduk manis menikmati kemacetan tanpa harus berdesakan di dalam angkot atau harus menghirup asap kendaraan seperti nasib para pengemudi sepeda motor. Via juga jadi teringat Ibun di rumah, betapa Via selalu sibuk sendiri dan sering merasa sudah dewasa sehingga dia tidak menghargai perhatian yang ibundanya berikan. Tiba-tiba saja mata Via terasa perih seperti ingin menangis, namun ia berusaha menguasai diri.
Via menengok bapak sopir yang duduk di sampingnya, belum ada satu jam dia berjumpa dengan bapak ini, tapi dia merasa sudah mendapatkan suatu pelajaran berharga. Ada ratusan taksi online di Bandung, mengapa harus Pak Sopir ini yang menjemput Via? Pemilik semesta pasti ingin Via belajar dari kisah Pak Sopir. Via membuka aplikasi taksi online di ponselnya, dicarinya nama sopir yang sedang mengantarnya, ternyata nama Pak Sopir ini adalah Hendra. Tiba-tiba saja Via terpikir sebuah ide brilian.
“Pak, anak bapak di Solo, laki-laki atau perempuan?” tanya Via sambil tersenyum melihat ke arah Pak Hendra. Kali ini dia tersenyum lebar.
 “Perempuan Mbak, usianya 14 tahun,” jawab Pak Hendra sambil menekan pedal gas mobil. Akhirnya mobil mereka berhasil lepas dari kemacetan. Pak Hendra melirik jam di mobilnya. Kalau proyeksi kepadatan jalan di peta ini benar, seharusnya pukul 18.45 penumpangnya dapat tiba di tujuan.
Sementara itu Via menyimpan nomor telepon yang tadi digunakan Pak Hendra untuk meneleponnya. Anak Pak Hendra perempuan, sangat sempurna untuk rencananya. Via punya ide, nampaknya aksesoris yang baru saja dia beli secara online akan lebih baik jika dimiliki oleh putri Pak Hendra. Aksesoris milik Via sudah banyak sekali tersimpan di laci meja, dia tidak butuh lebih dari itu. Nanti jika barang yang dia pesan sudah datang, dia akan segera menghubungi Pak Hendra dan mengatakan maksudnya. Rasanya senang sekali memiliki rencana baik.
Via menghirup napas panjang. Tiba-tiba saja dia menyukai harum stroberi yang berasal dari pewangi mobil. Hampir satu jam dia berada di dalam mobil tapi baru sekarang dia dapat menikmati wangi ini.
“Ketika hati sudah memilih untuk bersyukur, maka rasakanlah ada banyak nikmat yang sebelumnya tidak kau rasakan.” Kalimat itu terlintas begitu saja dalam benak Via.

------
Salam,
Venessa
P.S: kalau hari ini nggak post tulisan di blog, besok bisa di kick dari grup #1minggu1cerita. Ahahaha. Syukurlah masih ada stok cerpen di laptop yang belum pernah di publikasikan. Saya share disini saja yaaa. Stay positive, people!