Minggu, 18 Februari 2018

Cerpen Kedua: Semesta Sedang Bercanda

Hai dunia! #naonsih.

Jadi malam ini ceritanya saya ingin tulis sesuatu di blog, karena minggu lalu udah bolos untuk komit #1minggu1cerita, tapi yaa kok bingung yaa mau nulis apa. Ada materi di kepala, kok bahasannya serius semua, hehehe. Masalahnya buat saya nulis serius itu butuh energi lebih euy, dan butuh sedikit 'emosi' biar asik gitu tulisannya #naoooon. Aaah intinya malam ini lagi mental bercanda. Terus bingung mau nulis apa, buka-buka Facebook berharap dapat inspirasi, eh yang ada malah lihat-lihat foto yang bikin saya nyinyir dalam hati. Duh istigfar.

Yaudah yaa, daripada batal bercerita, lebih baik saya share satu lagi stok cerpen saya, hihihi. Saya kepengen ikutan lomba cerpen deh, tapi kalau kalah suka bete, jadi kalau ikut pengennya menang (duuuh ini mental macam apaaa). Ini salah satu cerpen hasil saya ikut kelas cerpen (KECE) yang diadakan oleh Inspirator Academy. Info lebih lanjut tentang Inspirator Academy boleh lihat disini atau cari aja IGnya. Untuk yang menyempatkan baca cerpen ini, suka tidak suka, boleh dong komentarnya, hehehe. Terimakasiiiih :)


Semesta Sedang Bercanda

GIANNISA KURNIADI
“Gia, Natalie, thanks for today guys. Sorry kalian jadi harus lembur lagi malam ini. Kalau kita dapet tender ini, kalian silahkan ambil cuti deh, saya nggak akan larang,” kata Mas Setyo kepada Gia dan Natalie yang masih membereskan dokumen di atas meja. Kantor mereka berada di lantai delapan belas salah satu gedung perkantoran di kawasan sentral bisnis Jakarta. Lampu-lampu di lantai delapan belas masih menyala, menerangi sedikit orang yang masih bertahan di meja kerja mereka, termasuk Gia, Natalie dan Mas Setyo. Sesaat Gia melihat keluar jendela, langit Jakarta gelap tanpa bintang, bulan bersembunyi entah dimana. Lampu gedung hadir sebagai pengganti bintang, sementara di bawah sana, jalanan masih ramai oleh mobil-mobil menuju berbagai arah. Gia melihat jam tangannya, sudah jam sepuluh malam, saatnya pulang.
  “Kalau kita dapat tender ini, Mas, itu artinya aku dan Gia akan bertemu dengan hari-hari lembur lainnya. Iya kan, Gi?” Natalie menyenggol tangan Gia yang masih asik memandang keluar jendela. Gia pun menoleh.
“Oh. Iya, Nat. Mas Setyo sendiri kan yang waktu itu bilang, akhir dari perjuangan memenangkan tender adalah awal dari perjuangan lainnya. Tapi nggak apa-apa, Nat. Bagaimanapun juga lebih bagus kalau kita menang tender, at least itu artinya tahun ini kita dapat bonus, hihihi, iya kan Mas Set?” Gia dan Natalie saling lirik dan tersenyum. Mas Setyo pun tidak bisa menahan tawa. Dia bersyukur mendapatkan staf yang bukan hanya bisa diandalkan tapi juga punya selera humor yang baik.
“Hahaha, iya janji bonus tahun ini pasti turun dua kali lipat. Kalau nggak turun, bukan hanya kalian yang bakal marah, istri saya nanti juga bisa murka, hahaha. Yasudah sana kalian pulang. Anak gadis jam segini masih pada nongkrong di kantor, ckckck,” Mas Setyo pun mematikan laptopnya, dia juga ingin segera pulang.   
In the name of dedication, Mas. Kita rela jam segini masih jadi penghuni gedung,” sahut Natalie masih bersemangat padahal dia sudah menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam di kantor.
“Hmmm, gimana ya Nat?” respon Gia sambil pura-pura berpikir, “Masalahnya antara dedikasi, butuh duit sama nasib jomblo tuh bedanya tipis banget sih, hahaha,” komentar Gia memancing tawa diantara mereka bertiga. Sejatinya, waktu lembur masih bisa terasa menyenangkan asalkan punya rekan kerja yang satu frekuensi, dan Gia sangat bersyukur memilikinya.
Gia dan Natalie berpamitan kepada Mas Setyo, mereka bersama-sama menuju pintu belakang gedung. Lobi utama hanya buka hingga jam delapan malam, sementara saat ini sudah lebih dari pukul sepuluh. Sambil menunggu pengemudi ojek online menjemput, Natalie memastikan rencana nonton besok malam, “Gi, besok kita jadi nonton, kan?”
“Jadi doong, Jumat malam kan selalu jadi NataGia’s movie time,” kata Gia sambil mengamati posisi pengemudi ojek di aplikasi ojek pada ponselnya. NataGia adalah akronim nama mereka berdua: Natalie dan Gia.    
“Emmm, kita nonton berdua aja nih?” Natalie menatap wajah Gia dengan ekspresi agak serius. Mereka berdua sama tinggi. Gia balas melihat Natalie, dia tahu apa maksud pertanyaan ini.
“Mau nonton sama siapa lagi? Mas Setyo? Bisa dirajam lo sama istrinya,” Gia spontan menoyor kepala Natalie. Mereka berdua tidak tampak seperti dua pekerja kantoran yang pulang lembur dan kelelahan.
Natalie mulai menerawang, melihat jalanan yang sudah mulai lengang, “Kapan yaa Gi kita ketemu prince charming kayak di film-film? Masa tiap hari pulang kantor harus dijemput sama tukang ojek terus sih.” Gia sangat kenal watak temannya yang terlalu banyak nonton film drama.
“Duh, mulai deh ini ratu drama, feeling insecure about her life. Coba lo cek foto tukang ojek lo, siapa tahu charming mirip Ryan Gosling,” kata Gia. Ekspresinya sok serius padahal sebenarnya dia sedang menahan tawa mendengar kata-katanya sendiri. Mendengar saran Gia, spontan saja Natalie membuka aplikasi ojek di ponselnya.
Gia dan Natalie sama-sama memperhatikan foto pengemudi ojek di ponsel Natalie, seorang bapak-bapak dengan alis dan kumis yang sangat tebal.
“Aaaah Giaaaa. Ryan Gosling apaaaan, ini mah Pak Raden namanyaaa,” Natalie memasang muka masam. Alisnya mengerung dan bibirnya manyun.
“HAHAHAHA,” Gia tertawa terpingkal-pingkal melihat foto pengemudi ojek yang tidak bersalah.   
Tidak lama kemudian, dua pengemudi ojek menjemput Gia dan Natalie. Gia masih tersenyum-senyum geli melihat sosok pengemudi ojek yang menjemput Natalie. Natalie hanya merengut, namun sebelum mereka berpisah, Natalie sempat bilang, “Di kereta nanti lo jangan tidur, perhatiin penumpang sekitar, siapa tau prince charming lo muncul hari ini. Cowok pecinta alam yang juga cinta kebebasan. See you tomorrow, Gi!”
Gia tidak menanggapi ocehan Natalie. Temannya ini selalu percaya bahwa pertemuan seorang wanita dengan pria idamannya sebenarnya sudah diatur oleh alam semesta melalui kejadian yang tidak pernah bisa diprediksi. Tapi Gia tidak pernah serius memikirkan teori Natalie tersebut. Dia memang selalu mengidolakan cowok pecinta alam yang hidupnya bebas tak terikat aturan. Tapi dalam bayangannya, lelaki seperti itu akan dijumpainya di satu perjalanan liburan ke Sumba atau Wakatobi, bukan di kereta dalam kota.
Gia dan Natalie berpisah, menaiki motor pengemudi ojek yang akan mengantar mereka ke tujuan masing-masing. Natalie beruntung, rumahnya masih berada di kawasan Jakarta Selatan, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit seharusnya dia sudah bisa tiba di rumah. Sementara Gia tinggal kota satelit Tangerang Selatan. Sopir ojek akan membawanya ke Stasiun Palmerah untuk selanjutnya Gia akan naik kereta menuju Stasiun Sudimara, stasiun terdekat dari rumahnya. Mobil Gia diparkir di stasiun, jadi nanti sampai stasiun, Gia masih harus mengendarai mobilnya menuju rumah. Perjalanan panjang sebelum bisa sampai ke kasur empuknya di kamar.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai stasiun Palmerah. Turun dari ojek, Gia berjalan santai menuju peron kereta. Beberapa orang dilihatnya setengah berlari menuju peron, padahal kereta belum juga datang. Terkadang Gia bingung melihat kelakukan para penumpang kereta yang selalu tergesa-gesa. Masuk kereta terburu-buru sepertinya amat khawatir tidak dapat tempat duduk, padahal kalau sudah jam sibuk, mau secepat apapun mereka bergerak tetap saja tidak akan dapat tempat. Keluar kereta pun tergesa-gesa seakan-akan dunia akan hancur jika mereka terlambat. Ah lelah sekali hidup seperti itu, tidak ada ketenangan dan dikendalikan kesibukan.
Peron kereta menyisakan beberapa orang pria dan wanita. Sepengamatan Gia, ada sekitar sepuluh orang yang sama-sama menunggu dengannya. Lima menit menunggu di peron, kereta pun datang dari arah Tanah Abang. Gia naik gerbong terdekat dari tempatnya berdiri menunggu, gerbong nomor delapan. Gerbong yang dipilihnya cukup lengang dan bersih, hanya ada tiga orang perempuan dan empat laki-laki yang duduk menyebar dan tidak saling mengenal. Gia memilih tempat duduk terdekat dari pintu gerbong yang paling tengah, lalu dia membuka tasnya, mengambil sebuah cermin kecil, dia penasaran bagaimana rupanya malam ini. Ikatan rambutnya sudah tidak rapi, wajahnya berminyak, tidak terlihat lagi sisa sapuan bedak di kulitnya yang kuning langsat. Warna merah masih sedikit bersemi di bibirnya, sisa pulasan lipstik tadi sore. Hanya alisnya yang masih tergambar sempurna.
Gia masih asik bercermin, saat seorang pria berbaju biru masuk ke dalam gerbong nomor delapan hanya beberapa detik sebelum pintu kereta tertutup rapat. Hampir saja kaki pria itu terjepit pintu kereta. Pria itu meletakan tas ranselnya tepat di samping Gia, lalu dia duduk. Tas itu kini berada tepat diantara Gia dan pria berbaju biru. Gia bisa melihat baju pria itu basah oleh keringat, nampaknya dia habis berlari.
Hmmm, satu lagi jenis manusia malang yang hidupnya selalu terburu-buru,” bisik hati Gia sambil tersenyum getir.

FIRMAN RAMADHAN      
“Dod, gue turun di sini aja deh. Macet tuh di depan,” kata Firman sambil menepuk bahu Dodi, teman SMA-nya yang berbaik hati mengantarkannya ke Stasiun Palmerah.
“Nanggung Fir, udah deket. Itu paling macet dikit doang gara-gara ojek sama bus berhenti sembarangan,” jelas Dodi, hampir setiap hari dia melewati jalan ini.
“Nggak apa-apa Dod, gue lari aja, sekalian olahraga,” Dodi pun akhirnya menurut. Dia berhenti di pinggir jalan untuk menurunkan Firman, temannya yang selama dua minggu terakhir ini menemaninya backpacking menjelajahi Nusa Tenggara.
Thank you so much, Bro! Kapan-kapan kita backpacking bareng lagi. Maluku perlu banget nih kita jajal,” Firman menjabat erat tangan Dodi. Nusa Tenggara memberikan mereka banyak pengalaman luar biasa yang membuat mereka ketagihan liburan ala backpacker lagi.
“Siaaaap Bro! Nantilah kita susun rencana lagi. Oke deh, gue cabut yaaa, Fir,” Dodi melambaikan tangannya lalu kembali mengarahkan motornya ke tengah jalan raya. Firman menarik napas panjang sejenak memandang ke arah tangga stasiun yang sudah terlihat. Dia pun berlari menuju stasiun, bukan karena tergesa atau terdesak ingin buang air, dia hanya senang berlari di malam hari, selalu begitu dari kecil. Hobi yang tidak semua orang bisa mengerti. Walau saat berlari ia harus menghidup udara kota Jakarta yang jenuh oleh asap kendaraan, tapi saat itulah Firman merasa bebas, tidak dikendalikan oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.
            Firman berhasil masuk ke dalam gerbong kereta nomor delapan hanya selang beberapa detik sebelum pintu gerbong tertutup, “Ah nyaris saja gue ketinggalan kereta, untung masih sempat masuk,” pikir Firman. Malam ini Firman akan menginap di rumah kakaknya yang berada tidak jauh dari Stasiun Serpong, sebelum besok dia akan kembali ke Kota Serang, tempat tinggalnya. Tidak banyak penumpang di dalam gerbong. Sambil sedikit ngos-ngosan dan menyapu keringat di keningnya, Firman meletakan tasnya secara asal, lalu duduk disampingnya. Tidak ia perhatikan seorang gadis manis yang duduk di dekatnya dan sedang memperhatikannya.

GIANNISA KURNIADI
            Kereta dalam kota terus melaju menuju stasiun akhir, Serpong. Kereta berhenti di setiap stasiun yang dilalui, sedikit penumpang masuk ke dalam gerbong, lebih banyak yang keluar menuju peron. Tidak banyak suara yang terdengar, hanya berasal dari operator kereta yang memberikan informasi atau bunyi roda yang beradu dengan rel. Di dalam gerbong kereta yang berlari kencang, Gia memperhatikan pria yang duduk di dekatnya. Ada sesuatu dalam diri pria tersebut yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Apakah rambutnya yang gondrong? Apakah badannya yang atletis? Apakah tulang mukanya yang keras? Bukan, dorongan di hati Gia bukan karena daya tarik fisik semata. Gia memperhatikan tas ransel yang disimpan pria ini tepat disampingnya. Sebuah tas ransel berwarna abu-abu yang besar, penuh dan kotor. Gia mengenali merek tas ransel ini, merek andalan yang sering digunakan para pecinta alam atau turis backpacker.
“Yaampun, jangan-jangan pria ini baru saja menyelesaikan ekspedisi Rinjani, atau Semeru atau mungkin baru selesai diving di Wakatobi, kulitnya seperti terbakar, ah dia pasti anak alam,” kata Gia dalam hatinya tidak berhenti menerka. Gia tidak mengerti, ia ingin sekali mengajak pria ini bicara. Dia seperti melihat ‘kebebasan’ dalam wujud manusia.
 Gia teringat kata-kata Natalie tadi sebelum mereka berpisah. Hatinya terjebak dilema antara mempercayai perkataan Natalie atau keyakinannya bahwa prince charming idolanya tidak akan ditemui di kereta dalam kota. Sementara itu, sang pria sedang duduk santai sambil memakai headset, kakinya bergerak-gerak pelan seperti sedang mengikuti irama musik.   
            Entah malaikat atau iblis yang berbisik ke dalam hati Gia, tiba-tiba saja dia berpikir, you only live once, Gia. Do whatever it takes.
    
FIRMAN RAMADHAN
            Firman baru saja selesai menggulung kabel headset miliknya. Baterai ponselnya habis dan dia tidak seperti anak muda zaman sekarang yang kemana-mana selalu membawa power bank. Saat dia hendak memasukan headset dan ponselnya ke dalam tas di sisi kirinya, dia baru sadar, ada wanita bermata sayu yang sedang melihatnya.

GIANNISA KURNIADI
            “Ya Tuhan, cowok ini nengok ke arah sini,” Gia panik. Lalu tiba-tiba saja hal itu terjadi, sebuah nyali yang datang entah darimana.
Gia menjulurkan tangannya, “Halo saya Gia, boleh kenalan?” Gia tersenyum tipis tapi manis.
Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri, “Mati gue, mampus gue, wafat gue, kalau cowok ini nyuekin gue, kelar hidup gue. Finish. Fin.”

FIRMAN RAMADHAN
“Ada cewek kantoran ngajak cowok berantakan kayak gue kenalan? Semesta sedang bercanda,” pikir Firman saat melihat wanita yang memakai kemeja formal, rok selutut dan lipstik merah sedang menjulurkan tangannya.
            “Emm, ada yang bisa saya bantu?” tanya Firman kaku, dia memandang wanita itu dengan waspada. Zaman sekarang bahkan copet dan tukang hipnotis bisa berwujud wanita manis dengan gaya necis.
            Wanita di hadapan Firman tidak menjawab pertanyaannya, mulutnya terbuka sedikit namun tetap tidak ada suara, tangan wanita ini tetap terjulur dan matanya tidak berkedip memandang Firman. Firman semakin yakin bahwa wanita ini adalah tukang hipnotis berkedok wanita kantoran yang akan mencuri isi tasnya. Yang Firman tidak tahu, wanita di sampingnya sedang mengalami starstruck, yaitu kondisi seseorang tidak bisa bicara, merasa kewalahan dan tiba-tiba paralisis akibat bertemu dengan sosok yang diidolakan. 
Firman adalah putera Banten yang paham betul bahwa tukang hipnotis akan selalu berusaha menjaga kontak mata. Demi menyelamatkan diri dan harta benda yang dibawanya (tidak banyak sih, tapi kalau dicuri tetap saja bikin sakit hati), Firman memilih membawa tasnya pergi menjauh dari wanita disampingnya yang masih membatu.
“Kasian, cakep-cakep tukang hipnotis,” pikir Firman saat pindah ke gerbong lain.

GIANNISA KURNIADI
            Wajah Gia pucat, mulutnya masih terbuka sedikit namun tidak ada suara yang keluar. Keringat dingin mulai mengucur di lehernya. Matanya kosong. Tangannya sudah tidak terjulur seperti saat tadi mengenalkan diri, namun dia masih membatu. Harga dirinya baru saja dibom habis oleh teroris pria berkedok prince charming yang memilih meninggalkannya pindah ke gerbong lain saat Gia sudah bersusah payah mengumpulkan keberanian untuk berkenalan. 
“Semesta sedang bercanda.. Semesta sedang bercanda..,” hanya itu yang berulang kali Gia ucapkan dalam hatinya.
Esok hari, saat Gia sudah lebih tenang dan dapat memaknai kejadian ini, dia akan tahu bahwa sejatinya Natalie benar, pertemuan seorang wanita dengan pria idamannya sebenarnya sudah diatur oleh alam semesta melalui kejadian yang tidak pernah bisa diprediksi. Namun, mungkin perlu satu kalimat tambahan untuk melengkapi teori Natalie,

…dan karena tidak bisa diprediksi, maka sudahlah, berhenti mengarang skenario-skenario sendiri.


Salam,
Venessa Allia

P.S: Habis ikutan kelas cerpen, saya menyadari satu hal, ternyata saya bukan cuma suka nulis, tapi saya suka bikin cerita, hihihi. Semoga jadi jalan kebaikan yaa, aamiin. Stay positive!

Minggu, 04 Februari 2018

Untuk Hati Yang Lain


Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lembut.
Hati yang mudah menangisi dosa,
serta mudah tersentuh kebaikan,
juga mudah merasakan yang manusia lain rasakan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang kuat.
Hati yang tahan digempur omongan,
serta teguh pada niat baik,
juga keras menolak apa yang Pemilik hati tidak inginkan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lapang.
Hati yang sanggup bersabar,
serta dipenuhi prasangka baik,
juga selalu ingat keberlimpahan.

Terakhir, aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lain.
Hati yang melengkapi hati ini.
serta yang jatuh pada hati ini.
juga yang menangkap jatuhnya hati ini.

Aku berdoa kepada Tuhan, saat ini, ketika jutaan butir hujan turun ke bumi dan ditangkap oleh malaikat-malaikat yang turut mendengar doa-doaku.
Semoga Allah, Tuhan pemilik hati setiap insan mengabulkan.

Aamiin.


Salam,
Venessa Allia








Selasa, 23 Januari 2018

Cerpen Pertama : Jangan Benci Mama, Chikita

Hai! Dua minggu terakhir ini saya ikut Kelas Menulis Cerpen yang diadakan oleh Inspirator Academy, dan hari ini saya memberanikan diri untuk mempublikasikan cerpen yang saya tulis (sekalian untuk jadi setoran 1 minggu 1 cerita). Soalnya dipikir-pikir, cerpen ini nggak ada artinya juga kalau yang tahu cuma saya, Mbak Rizka (mentor menulis saya) dan pastinya Tuhan. Selama 2 minggu terakhir, para mentee diminta menulis total 11 cerpen, ada yang tema bebas, ada juga yang ditentukan. Cerpen dibawah ini adalah salah satu cerpen tema bebas. Waktu itu saya ingin menulis cerita yang tokohnya anak-anak, inspirasi konfliknya sebenarnya dari film  Con Air, lalu diramu sedemikian rupa hingga jadilah cerita ini. Selamat menikmati cerpen pertama saya di blog ini. Feel free untuk memberikan komentar dalam bentuk apapun juga, soalnya sebagai pemula saya amat sangat butuh feedback dari para netizen juara seperti teman- teman semuanyaaa, hehehe :). 
---

Jangan Benci Mama, Chikita

            Teng…. Teng…Teng…
            Lonceng sekolah berdentang tiga kali. Satu per satu siswa dan siswi SD Merah Putih keluar kelas, ada yang menuju kantin, area taman atau halaman belakang. Jam dinding raksasa yang terpasang di dekat gerbang sekolah pukul 10.00 pagi, ini waktu pulang bagi siswa kelas satu dan waktu istirahat bagi siswa kelas dua hingga enam. Chikita, salah satu murid SD Merah Putih, usianya baru 8 tahun sehingga dia masih duduk di kelas 2. Bersama teman baiknya Ellen, Chiki keluar kelas menuju taman sambil membawa kotak bekal dan botol minum berwarna ungu. Chiki nampak kurang bersemangat. Sebagai sahabat yang baik, Ellen pun menyadari raut muka sahabatnya yang dari tadi merengut.
            “Chik, kok dari tadi manyun terus sih?” tanya Ellen, tanggannya menggandeng tangan Chiki. Chiki dan Ellen memiliki perawakan yang mirip, mereka seperti kakak adik. Tubuh Ellen hanya sedikit lebih tinggi, dia nampak seperti kakak Chiki.
             “Nggak apa-apa, Len. Aku cuma masih sebel sama Dio, dia tadi ngumpetin penghapus aku, terus sekarang penghapusnya hilang,” jawab Chiki. Di kelas Chiki dan Ellen duduk berjauhan. Pak Tono, wali kelas mereka, memang sengaja memisahkan mereka karena jika dibiarkan duduk semeja mereka sering ngobrol saat guru menerangkan.
            “Iiih, Dio bandel banget sih. Nanti aku bilangin ke Pak Tono ya, Chik. Kamu pakai penghapus aku aja dulu.” Ellen pun ikut kesal kepada Dio.
            “Nggak usah, Len. Nanti habis istirahat biar aku suruh Dio cari penghapusnya sampai ketemu,” kata Chiki sambil masih terlihat sedih. Mukanya dia lipat ke bawah membuat dagunya terlihat seperti ada dua. Untuk anak seumurannya, tubuh Chiki memang cukup gemuk. Ellen pun menurut.   
Di taman, Chiki dan Ellen duduk di bangku di bawah kanopi yang menghadap kolam. Rumput-rumput di taman masih sedikit basah karena gerimis yang turun sedari pagi. Hujan sekarang sudah berhenti, berganti matahari yang sekarang bersinar hangat. Murid-murid SD Merah Putih ramai bermain di taman. Chiki dan Ellen membuka kotak bekal mereka. Chiki membawa nasi goreng sosis buatan Mama, sementara Ellen membawa roti coklat dan susu.
“Wah bekal kamu nampaknya lezat sekali Chik. Mamamu yang masak ya? Bekalku hari ini disiapkan oleh Papa. Tapi karena Papa tidak bisa memasak, jadi aku dibekali roti dan susu saja.” Ellen bercerita panjang, mencoba mengalihkan perhatian Chiki supaya temannya tidak sedih lagi.
            “Kamu mau coba, Len?” Chiki menawarkan bekalnya, dia mulai tersenyum.
            “Mau dong,” Ellen menyendokan satu sendok nasi goreng ke mulutnya, dia mengunyah dengan lahap, nampak sangat menikmati nasi goreng buatan Mama Chiki, “Emmm, enak banget Chik. Mama kamu hebat banget. Terimakasih ya. Aku sekarang mau makan bekal aku deh.” Chiki pun membuka bungkus roti miliknya.  
Chiki kembali menikmati nasi goreng bekalnya. Dia sudah tahu kalau masakan Mamanya memang paling enak se-Jakarta. Itulah sebabnya katering Mama Chiki tidak pernah sepi pesanan. Chiki senang menghabiskan waktu istirahat bersama Ellen. Ellen gemar memuji dan selalu ceria. Lesung pipit Ellen tidak pernah hilang dari pipinya karena Ellen selalu tersenyum. Tapi sebenarnya hari ini Chiki sudah murung sedari pagi, bahkan sebelum Dio menghilangkan penghapusnya.
Tiba-tiba Ellen berseru, “Yaaah, Papa kok bawain aku roti isi stroberi sih. Papa pasti lupa deh kalau aku nggak suka stroberi. Stroberi kan nggak enak, rasanya kayak obat batuk.” Sekali ini Ellen merengut, dia tidak mau memakan rotinya dan menutup kotak bekalnya.
            “Yaudah, Len. Sini makan nasi goreng sama aku aja. Mamaku bawainnya kebanyakan nih.” Mereka pun makan nasi goreng bersama. Sementara itu seekor kucing mendekati mereka nampaknya ingin diajak makan bersama juga.
            Matahari saat ini sudah bersinar tanpa malu-malu lagi. Murid-murid SD tak sungkan lagi berlarian di taman. Chiki dan Ellen masih asik makan bekal menggunakan satu sendok berdua. Saat sedang lahap makan, Chiki bertanya, “Papa kamu rajin sekali ya Len. Pagi-pagi sudah menyiapkan bekal. Setiap pagi juga kamu diantar Papa ke sekolah, kan?”
            “Hihihi, ini karena Mamaku sedang menengok nenek di Palembang. Jadi Papa yang menyiapkan bekal. Papaku itu lucu sekali Chik. Setiap pagi di mobil, Papa selalu bercerita hal yang lucu kepadaku, aku jadi semangat pergi ke sekolah. Papamu masih di luar negeri ya Chik?” Ellen bercerita walau di mulutnya masih ada sisa makanan. Mata Ellen berbinar saat bercerita tentang papanya, terlihat sekali kalau Ellen sangat sayang Papa.
              “Iya nih. Papaku masih di Australia,” jawab Chiki singkat. Matanya memandang ikan-ikan di kolam taman. Tiba-tiba saja selera makannya hilang.
            “Papamu sering sekali ke Australia Chik. Kamu pasti senang sekali punya banyak oleh-oleh dari negeri kangguru. Kapan-kapan aku mau jalan-jalan ke Australia juga ah sama Papa. Eh, tapi minggu depan, kita kan ada acara Father Goes To School. Papamu bakal datang, kan?” Ellen menoleh ke arah Chiki yang sudah tidak melanjutkan makannya, ia pun menghabiskan satu sendok terakhir bekal Chiki.
            “Iya, Len. Papaku bakal datang kok. Nanti kalau Papaku bawa oleh-oleh, kamu akan aku kasih juga deh.” Chiki tersenyum, namun wajahnya menghindari tatapan Ellen. Perasaannya tidak enak. Tapi Ellen tidak tahu itu, ia kembali memamerkan lesung pipitnya, membalas senyum Chiki dengan gembira.
            Teng…. Teng…Teng…
            Lonceng sekolah kembali berdentang tiga kali. Waktu istirahat telah usai. Matahari kini sudah lebih berani menunjukan sinarnya yang terik. Titik-titik air di rumput taman sudah mengering. Chiki dan Ellen membereskan tempat bekal mereka, lalu bersama kembali ke kelas.  
***
            Di rumah, Chiki dan Mama selalu makan di meja makan. Ruang makan mereka tidak besar, hanya ruangan 3x3 meter dengan meja makan bundar di tengah berlapis taplak kuning muda. Chiki dan Mama duduk bersebelahan. Kata Mama, makan di meja makan adalah kebiasaan yang ditularkan oleh Papa. Waktu Chiki masih bayi, Papa selalu membawa keranjang bayi Chiki ke ruang makan saat makan malam supaya Chiki bisa ikut makan bersama Mama dan Papa.
            Nasi, ayam bakar dan tumis kanggung telah habis disantap. Mama baru saja menghidangkan puding karamel favorit Chiki, namun kali ini Chiki tidak menanggapinya.
            “Loh kok pudingnya nggak di makan? Kenapa sayang?” Mama bertanya lembut, dia menyadari ada yang aneh dari putri semata wayangnya.
            “Ma, Papa kapan pulang sih?” Chiki balas bertanya, matanya sendu menatap Mama.
           “Papa, masih di Australia sayang. Belum bisa pulang,” jawab Mama sambil membereskan piring makanan.        
            “Tapi Papa sudah lama sekali tidak pulang Ma. Menelepon hanya sesekali saja. Papa kemana sih, Ma?” Chiki sungguh-sungguh minta jawaban. Ekspresinya serius. Tangannya menarik-narik daster coklat yang sedang dipakai Mama. Di luar, gerimis turun kembali, nampaknya langit belum puas membasahi bumi tadi pagi.
            “Loh, Chiki kan tahu Papa sedang bekerja ke Australia. Pekerjaan Papa sangat banyak jadi tidak bisa sering-sering menghubungi kita. Bulan kemarin Papa kan sudah mengirimkan Chiki oleh-oleh boneka koala, masa Chiki masih tidak senang?” Mama menyibukan diri dengan merapikan taplak meja walau taplak tersebut masih bersih dan rapi. Mata Mama enggan menatap Chiki. Chiki tidak menyadari bahwa ekspresi Mama mendadak serius karena tegang. Petir mulai bergemuruh di angkasa, suaranya memperburuk suasana ruang makan keluarga Chiki yang mendadak tidak nyaman. Kalau saja tidak ada gemuruh petir itu, mungkin Chiki bisa mendengarkan betapa keras jantung Mamanya berdebar.
            “Tapi minggu depan ada acara Fathers Goes To School di sekolah Chiki. Chiki mau Papa datang. Chiki tidak butuh oleh-oleh, Chiki..cuma..mau..Papa..datang.” Suara Chiki meninggi. Air matanya jatuh karena ia bersikeras ingin Papanya datang. Di luar hujan pun sudah turun deras.
            “Oooh, nanti Om Pram saja yang datang bagaimana? Kan Chiki pernah bilang, kalau Om Pram itu paman favorit Chiki.” Mama akhirnya memberanikan diri menengok dan tersenyum kepada Chiki, berusaha melunakan ekspresinya, tapi Chiki malah marah.
“Ma! Minggu depan itu Fathers Goes To School, bukan Uncle Goes To School. POKOKNYA CHIKI MAU PAPA PULANG!” Chiki tidak bermaksud membentak Mama, tapi dia begitu emosi menginginkan Papanya pulang. Air mata membasahi meja makan malam itu. Bukan hanya air mata Chiki, tapi juga air mata mama. Bersamaan dengan itu semua, petir keras menggetarkan kaca jendela dan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya.
“Chiki masuk kamar sekarang! Tidur di kamar Chiki sendiri! Kamu dihukum, tidak boleh tidur dengan Mama malam ini!” Setiap kalimat Mama ucapkan dengan tegas. Muka Mama memerah karena menahan diri. Mama menatap Chiki dengan galak. Hati Mama pedih sekali saat menghukum gadis kesayangannya, tapi demi mengakhiri topik ini, dia tahu dia harus melakukannya.
Chiki berlari menuju kamarnya. Hukuman tidur sendiri adalah hukuman terberat dari Mama bagi Chiki karena Chiki masih takut tidur sendiri. Malam ini pun dia tetap takut tidur sendiri, tapi rasa takutnya kalah oleh rasa sedihnya yang tidak terbilang. Di dalam kamar, di balik selimut, Chiki menangis tersedu. Suara tangisnya tersamarkan oleh suara hujan yang turun semakin lebat. Nampaknya langit turut merasakan kesedihan Chiki.  
“Chiki kangen Papa, Chiki kangen Papa, Chiki mau Papa,” kata hati Chiki berulang-ulang. Hingga akhirnya mata Chiki sudah terlalu berat menumpahkan air mata, Chiki pun tertidur dalam harap dapat bertemu Papa dalam mimpi.
Lalu, apakah hujan di luar sudah berhenti? Tidak, hujan masih sama derasnya karena langit tidak hanya bersedih bersama Chiki, tapi juga bersama Mama. Masih di ruang makan, air mata Mama memang sudah tidak mengalir lagi. Bukan karena Mama tidak sedih, tapi karena dia sudah lelah menangis. Kesedihan Mama sudah lebih dalam dari deraian air mata, biarlah langit yang menggantikannya menangis. Mama Chiki sejatinya adalah ibu yang luar biasa. Selama berbulan-bulan ini dia menyembunyikan fakta yang tidak ingin sampai diketahui putri gembilnya yang cantik. Dan rahasia ini harus tetap bertahan hingga dua tahun ke depan.
Dalam langkah gontai, Mama menuju kamar Chiki dan dilihatnya Chiki sudah terlelap. Dibukanya selimut Chiki yang masih basah oleh air mata. Mama tidak kuasa menahan haru, air matanya tumpah juga. Seandainya Chiki tahu bahwa Mama pun merindukan Papa. Mama mencabut hukuman Chiki. Dibaringkannya tubuhnya di samping Chiki yang tidur menghadap tembok yang dingin, sedingin udara malam yang berhembus di luar. Hujan mulai mereda namun belum juga berhenti. Mama memeluk Chiki dari belakang. Sebagaimana seorang Mama di seluruh dunia yang selalu jago multi tasking, Mama Chiki juga sekarang sedang melakukan tiga hal bersamaan: menghantarkan kehangatan seorang ibu untuk Chiki, merasakan ketulusan cinta kasih seorang putri yang rindu ayahnya, dan menyampaikan titipan peluk penyesalan dari seorang ayah yang saat ini sedang berada di penjara.
Chiki, suatu hari nanti, kamu akan mengerti. Begitu cintanya Mama kepadamu. Mama tidak ingin merusak kebanggaanmu kepada Papa. Papa tidak di Australia, Papa di penjara. Bukan karena Papa bersalah, tapi karena Papa difitnah. Boneka koala itu adalah oleh-oleh dari Om Pram yang rela membantu Mama bersandiwara. Chikita, saat ini kamu masih terlalu kecil. Kejamnya dunia ini bukanlah hal yang pantas untuk kamu ketahui. Jangan benci Mama ya, Nak.” Mama menjelaskan kepada Chika, meski dalam hati.
 

----

Stay positive yaaa.

Salam,
Venessa Allia




Rabu, 10 Januari 2018

Yang Terpenting dari Yang Penting: IKHLAS

Print screen dari akun Instagram Aa Gym (bagian komentar sudah saya hapus). Caption-nya menohok saya :(


Tulisan ini berawal dari tulisan dan gambar yang di post oleh Aa Gym satu minggu yang lalu. Habis melihat tulisan ini saya terus menerus kepikiran. Caption yang ditulis Aa Gym bikin saya mikir,

"Jangan-jangan amalan yang saya lakukan selama ini niatnya bengkok semua. Lebih buruk lagi jangan-jangan niatnya karena pengen dilihat orang lain"

Istigfar...

Yang lebih bikin khawatir lagi, perkara kelurusan niat ini sifatnya halus bangeeet. Jadi takuuut amalan habis gara-gara di hati ada secuil niat riya. Ini bukan cuma perkara ibadah aja lho. Hal-hal dunia lainnya juga, termasuk aktivitas yang nampaknya udah biasa kayak post foto di Instagram atau menulis di blog, niatnya apa cobaaa? Apakah beneran semata-semata ingin berbagi informasi dan kebaikan? Atau ada secuil niat pengen kelihatan keren dan dipuji orang? Termasuk juga semua usaha saya untuk capek-capek sekolah, kerja, melakukan ini dan itu, niatnya apa? Masalahnya adalah saya bisa membuat pembenaran untuk diri saya dan orang lain, tapi Allah selalu tahu mana yang benar, Allah tidak bisa dibohongi.

Bahkan mau nulis tulisan ini aja saya beneran mikir dulu, perlu nggak ya hal ini ditulis di sini? Akhirnya setelah saya menyadari betul niat saya apa, baru saya berani nulis. 

Saya merasa akan sangat tidak lucu kalau amalan yang sudah dilakukan, ternyata habis tergerogoti niat yang tidak lurus. Nangis daraaaah.

Satu lagi yang masih sering menjadi pertanyaan bagi saya, kalau misalnya saya punya keinginan (sebuah keinginan yang konteksnya baik di mata saya), terus saya beramal dan berbuat baik dengan harapan semoga Allah mengabulkan keinginan saya, apakah bisa dikatakan niat saya belum lurus? Saya pernah dengar kajian di Youtube (semoga saya tidak salah tangkap informasi), katanya serendah-rendahnya niat adalah berharap dapat pahala dari Allah, dan itu boleh-boleh saja. Sekarang kalau niatnya dobel gitu boleh nggak ya? Berharap pahala dan supaya keinginan terkabul. Heff,  ini indikasi ilmu agama saya masih cetek banget.

Perkara ikhlas ini nampaknya menjadi sebuah exercise seumur hidup. God, please make it easy for me. Semoga Allah mudahkan untuk kita semua meluruskan niat dan merasakan kenikmatan ikhlas. Dan seperti doa Aa Gym, semoga bisa belajar bersama menjaga niat agar amal diterima Allah. Aamiin.


Stay positive yaaa.


Salam,
Venessa Allia





Kamis, 04 Januari 2018

Buying Experience: Visit Ruci Art Space "Place of Belonging"


Januari 2018!
Tahun baru, pengalaman baru, jiwa yang baru (yang lebih sehat dan waras tentunya).
Di minggu pertama Januari ini, 1 minggu 1 cerita (1m1c) punya tema yaitu 'baru'. Syukurlah nggak perlu bingung harus nulis apa karena pengalaman saya hari ini sangat cocok dengan tema tersebut.

Hari ini saya membeli pengalaman baru. Untuk konteks pengalaman saya hari ini, saya lebih suka menggunakan istilah 'membeli pengalaman' (buying experience), dibandingkan 'mendapat pengalaman'. Ada perbedaan antara membeli pengalaman dan mendapat pengalaman. Pergi ke tempat baru, mencoba makanan baru, atau melakukan aktivitas baru, saya kategorikan sebagai 'membeli pengalaman'. Sementara ditabrak mobil, jatuh dari tangga atau digigit anjing, saya kategorikan sebagai 'mendapat pengalaman'. Yang saya masih bingung, kalau falling in love (agak geli nulis 'jatuh cinta') itu mendapat pengalaman atau membeli pengalaman ya? Soalnya, in my polontong opinion, falling in love adalah kombinasi antara kecelakaan, ketidaksengajaan dan keputusan, hahaha.

Aaaannyywaaay, cukup sekian mukadimah nggak pentingnya.
Langsung saja pada intinya. Pengalaman apa sih yang baru saya beli? Ini dia:

Melihat pameran lukisan "Place of Belonging" di Ruci Art Space, Kebayoran Baru. Judul paling tepat untuk foto ini adalah "Mencoba dan Berusaha Memahaminya"

Ini adalah pertama kali saya lihat pameran lukisan. Sebelumnya di Bandung, saya pernah datang ke Pasar Seni ITB, tapi disana lebih fokus ngeliat orang daripada ngeliat lukisan, karena ampun pengunjungnya penuh banget. Beberapa hari yang lalu, Lina, teman baik saya dari SMP, ngajak lihat pameran lukisan di Ruci Art Space karena dia penggemar lukisan Abenk Alter. Saat diajak, saya tidak tahu sama sekali siapa itu Abenk Alter, saya juga nggak tahu Ruci Art itu dimana, tapi emang dasar anaknya mure (maksudnya murah alias gampang diajak kemana-mana), jadi saya mau aja. Yaa di sisi lain, saya ingin juga sih nyoba jadi anak yang lebih nyeni gitu, dan saya juga suka mencoba pengalaman baru (kecuali naik tornado di Dufan, no way!), jadi ajakan Lina saya sambut dengan gembira.

Saya dan Lina janjian ketemuan di Pejaten Village, kemudian kita naik mobil ke Ruci. Siang ini lalu lintas Jakarta Selatan lagi asik, yaa setidaknya dari Pejaten ke Jalan Suryo nggak kena macet sama sekali. Nyampe sana langsung dapat parkir lagi, sebagai sopir saya happy . Ruci Art Space ini menurut saya tempat yang sangat nyaman. Lantai satu dipakai untuk coffee shop, dan lantai dua dipakai untuk galeri. Kapan-kapan saya kepengen nyoba ngopi disini, kayaknya bakal betah berjam-jam laptopan sambil nyeruput kopi fancy disini. Sesampainya di Ruci, saya dan Lina langsung naik ke lantai dua. Lina langsung seneng lihat lukisan-lukisan Abenk Alter, sementara saya, emmm saya masih berusaha menyukainya :))

Pameran lukisan ini berjudul Place of Belonging. Ada 3 seniman yang memamerkan karyanya: Abenk Alter, Glenda Sutardy dan Mark Schdroski. Singkat cerita, lukisan-lukisan ini adalah respon para pelukis dalam memaknai Place of Belonging, tidak hanya sebagai physical environment, tapi juga state of beings. Luar biasa yah pelukis tuh, mereka bisa menuangkan gagasan dalam bentuk gambar. Gagasan yang mau coba disampaikan juga tidak sederhana. Tapi, bagi saya permasalahannya adalah saya butuh lebih dari sepasang mata untuk membaca gagasan dalam lukisan mereka.

Karya Mark Schdroksi. Judul lukisan urut dari kiri ke kanan mulai dari baris paling atas: Chromatic Intestinal, Mothers Milk, Emission Chroma, Blue & Pink Crush, Moon from the Jetty, Operation, Pink Yellow Green, Sitar, Gene Edit, At the Edge, Anticipation, Moving Shadow/Pink Push. Medianya menggunakan cat minyak pada kanvas.

Pertama kali lihat lukisan di atas, komen saya: (1) suka deh warna-warni lukisannya, (2) lukisan ini akan membuat sebuah ruangan jadi makin keren, (3) kayaknya saya bisa deh bikin lukisan kayak gini doang (padahal lukisan ini sama sekali tidak 'doang'), (4) kenapa judulnya kayak begitu sih?
Dipandangi sekian lama, saya masih gagal paham korelasi antara judul dan lukisan. Terus saya inget, katanya kalau mau memahami makna sebuah lukisan, lihatnya harus dari jauh, jadi saya mundur beberapa langkah, akhirnya dari 12 lukisan, saya bisa paham 2 (lumayanlah, daripada nggak sama sekali).

Lukisan yang bawah judulnya Anticipation. Kalau dilihat, lukisan tersebut seperti menggambar bentuk telapak tangan yang terbuka, jadi semacam mengatakan tidak atau menolak. Mungkin nih, maksudnya Anticipation tuh disitu. Begitulah teori saya dan Lina
Ini dua lukisan yang paling saya suka. Lukisan bawah saya suka karena warnanya cakep banget (kalau di foto kelihatan biasa aja sih, tapi aslinya bagus deh), walau saya masih belum paham dengan judulnya (Blue & Pink Crush). Kalau lukisan yang atas saya suka karena saya yakin banget lukisan itu ngegambarin bentuk usus manusia sehingga lukisannya diberi judul Chromatic Intestinal. Keren yaaaaa.

Waktu awal ngelihat lukisan, kesan pertamanya adalah "ini gambar apa sih nggak jelas", tapi kalau udah berhasil paham malah jadi kagum sama pelukisnya, mereka jenius! Buat saya yang lebih banyak belajar sains, seni lukis adalah sebuah kemewahan yang sudah saya ikhlaskan karena keterampilan melukis bukan menjadi rezeki saya :). 

Ini karya Abenk Alter, sayangnya saya nggak nulis judulnya apa. Media yang digunakan yaitu akrilik, spray print dan crayon pada kanvas.  Kata Lina sih lukisan ini menggambarkan anak dan istrinya Abenk Alter. 

Yang ini karya Gleda Sutardy, judulnya Parallels in time. Menurut keterangan, Gleda Sutardy ini suka bereksplorasi dengan pigmen alami. Pada lukisan ini dia menggunakan mercuric sulphide and synthetic polymer on wooden panels.


Secara keseluruhan, saya suka lukisan-lukisan disini, walaupun nggak semuanya saya pahami, tapi menurut saya masih bisa dinikmati karena warna-warnanya yang eye catching. Terlebih lagi saya excited karena ini merupakan pengalaman baru. Kapan-kapan mau ah lihat-lihat pameran lukisan lagi. Ohiya, jangan lupa kalau lihat pameran lukisan, dinikmati dengan mata saja ya, karena  lukisan-lukisan ini hanya untuk dilihat dan tidak boleh disentuh (jangan berdiri melewati garis batas yang sudah ditentukan di depan lukisan). Jangan lupa juga untuk mencoba melihat lukisan dari jauh supaya bisa paham maknanya. Mungkin sama juga kayak kalau mau memaknai hidup, harus dilihat dari jauh atau dari pandangan yang lebih luas, supaya lebih paham hikmahnya. Ahey!

Place of Belonging @ Ruci Art Space, Jalan Suryo no 49 Kebayoran Baru. On going until 28 January 2017, eh 2018, Daily 11 am - 7 pm. FREE.


Cukup dulu untuk malam ini. Saatnya bobo.
Stay positive yaaaa!

Salam,
Venessa Allia