Senin, 20 November 2017

Si Penggemar Talent Show: 5 Penampilan Favorit di The Voice Kids Indonesia

Banyak orang penggemar serial Game of Throne. Lebih banyak lagi yang suka nonton serial Korea.
Beberapa orang pecinta drama TV di Indosiar. Cukup banyak orang tidak suka nonton TV sama sekali. Saya tidak termasuk di antara keempat populasi tersebut, karena kalau saya sih penggemar ajang pencarian bakat alias Talent Show. Yeaay.

Sebagai penggemar acara ‘Talent Show’ di TV, saya sudah mengikuti beberapa acara dari SMP sampai sekarang. American Idol, Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar (ngaku deh, dulu juga pasti kamu doyan juga nonton ini :p), hingga yang terakhir-terakhir ini yaitu Master Chef USA, The Voice USA, America’s Got Talent, XFactor Indonesia, The Voice Indonesia, dan  The Voice Kids Indonesia. Yap, saya nggak cuma nonton Talent Show punya Amerika aja, bakat lokal Indonesia juga saya ikuti. Saking sukanya, bahkan saya rela buang kuota hanya untuk menonton acara tersebut di Youtube jika tidak sempat nonton di TV. Bahkan jika ada penampilan yang saya suka, saya akan dengan senang hati mengulang-ngulang penampilan mereka, sampai saya bosan.

Dari semua ajang pencarian bakat, menurut saya The Voice punya mekanisme pemilihan yang paling bagus. Blind Audition menurut saya cukup adil untuk menilai peserta pertama kali berdasarkan kualitas vokal, bukan faktor lainnya. Tahapan Battle Round yang dilengkapi dengan mekanisme ‘steal’ juga seru banget. Point plus plus plus buat The Voice America karena juri-jurinya seru-seru, komentarnya kreatif, nggak basi, dan nggak berlebihan. Juga tentu saja keberadaan Adam Levine disana membuat saya semakin suka acara ini, hihihi. Bumbu-bumbu berantemnya Blake Shelton Vs Adam Levine juga kocak banget. Juri-juri ceweknya juga menarik dan bisa kocak juga. Juri cewek favorit saya pastinya Christina Aguilera.
Team #Xtina
Source: http://www.billboard.com/articles/news/6890885/the-voice-recap-season-10-christina-aguilera-returns

 Perfectly engineered!


Khusus untuk tulisan hari ini, saya ingin merekomendasikan beberapa penampilan The Voice yang menurut standar saya, termasuk bagus. Parameter bagusnya yaitu (1) Saya bisa ngulang-ngulang nonton videonya di Yotube dan nggak pernah bosen, (2) Lagu yang dibawakan bukan lagu yang saya biasa dengar, tapi gara-gara penampilan mereka, saya jadi suka. Dan karena ini berdasarkan kesukaan pribadi, jadi tentu saja sifatnya relatif dan subjektif :). Nah tapi, saya bukan akan merekomendasikan penampilan The Voice dewasa, melainkan penampilan The Voice Kids Indonesia. Yeeeeay! #supportlocaltalent #supportyoungtalent

Anak-anak-kecil-tapi-nggak-kecil-kecil-amat ini menurut saya layak di apresiasi. Untuk ikut The Voice Kids Indonesia, umur si anak maksimal 14 tahun. Nah kalau lagi nonton mereka, saya kadang ngebatin, umur 14 tahun dulu saya ngapain aja ya? Hmm, dulu saya jadi anak OSIS sekaligus Pramuka sih, tapi itu kan nggak bisa disebut prestasi juga. Saya bukan hanya mengagumi kemampuan mereka dalam bernyanyi, tapi lebih daripada itu saya mengagumi keberanian mereka menaklukan panggung, tatapan mata banyak penonton, hujatan netijen (ini sengaja nulis pake ‘j’) di YouTube yang tidak bisa berkomentar dengan santun, serta feedback dari para juri. Walaupun juri-jurinya (Agnez Mo, Bebi Romeo, dan Tulus) juga sudah sangat baik merekayasa feedback mereka sedemikian rupa agar komentar yang diberikan tetap enak didengar, tapi ’nyawa’ komentar tidaklah selalu yang bagus-bagus, kritik membangun juga diberikan dan memang dibutuhkan sih. Melihat mereka yang dengan senang hati tampil di layar kaca dan harus menerima komentar dari banyak orang, membuat saya juga belajar soal keberanian.
  
Tapi ada beberapa hal juga sih yang membuat saya kadang malas nonton acara ini, atau kalau ada bagian yang saya nggak suka ini, biasanya saya ganti channel nonton yang lain dulu. Pertama, saya paling males kalau lihat anak-anak ini bertingkah atau berbicara kayak orang dewasa. Aduuh, anak umur 12 tahun itu sebaiknya bersikaplah seperti anak 12 tahun, jangan kayak mbak-mbak 22 tahun. Yang kedua adalah pemilihan lagu. Begini, saya masih bisa terima kalau mereka menyanyikan lagu orang dewasa, karena mungkin melalui lagu-lagu orang dewasa yang variatif, mereka lebih dapat mengeksplorasi bakat mereka. Tapi yaaa alangkah jauh lebih baik kalau lirik lagunya diedit dikit laaah. Geli banget ngeliat peserta The Voice Kids, cowok yang usianya paling sekitar 13-14 tahun, bernyanyi lagu Akad dengan lirik asli “Sudikah kau menjadi istriku?” Suaranya sih bagus, tapi lagunya jadi berasa 'salah'. Kemarin ada peserta yang nyanyi lagu You Oughta Know  milik Alanis Morissette, untungnya lirik-lirik yang bahaya dalam lagu tersebut sudah diedit. Terus sebaiknya ada –lagu-lagu yang dilarang sama sekali, kayak lagu Ed Sheeran yang Shape of You. Itu lagu udah nggak mungkin juga diedit liriknya, mending dilarang sama sekali.

Oke, jadi ini 5 penampilan favorit saya dari The Voice Kids Indonesia season 1 dan 2. Urutan di bawah ini tidak menunjukan rangking. Kelimanya saya suka, tidak ada yang lebih disukai dari yang lain. Untuk adik-adik ini, menjadi apapun mereka ketika dewasa, semoga selalu menjadi sumber inspirasi dan kebaikan bagi banyak orang.

Dalilah - Bawalah Cintaku. Alasan menyukai penampilan ini: Dalilah punya suaranya unik, karakter suaranya kuat. Saya jadi suka lagu ini gara-gara dia. Dan walaupun ini ajang The Voice, bukan The Face, tapi tak bisa dipungkiri kalau dia sangat cute


Nabila - Tiba-Tiba Cinta Datang. Alasan menyukai penampilan ini: Selain suaranya bagus, tapi Nabila bisa membawakan lagu ini dengan gestur dan dinamika yang pas. Setuju dengan komentar Coach Bebi, anak ini tau bagaimana cara menyanyikan lagunya. Saya malah lebih suka versi dia daripada versi aslinya.

Michelle, Nitya, Carissa - Domino. Alasan menyukai penampilan ini: Nah battle ini seru karena ketiganya menonjol dengan kelebihan masing-masing. Yang paling mencuri perhatian adalah Michelle, suara dan cara bernyanyinya udah kayak penyanyi pro. Hebat!

Chiko - Back At One. Alasan menyukai penampilan ini: Terlepas dari pelafalan lirik Bahasa Inggris yang masih belum sempurna, tapi anak ini punya suara emas. Beberapa tahun lagi, kalau dia tetap konsisten bernyanyi, nampaknya dia bisa menjadi bintang dan bikin para ABG jerit-jerit. 

Glory - Changing. Alasan menyukai penampilan ini: Anak ini cool banget, dan kelihatannya punya good personality (nggak kenal sih, cuma nebak saja, hehe)!! Ngeliat dia bikin jadi inget sama Grace Vanderwall, pemenang America's Got Talent 2016. Glory punya suara bening, gaya natural, dan pintar memilih lagu karena sudah membawakan lagunya Abang John Mayer. 

Yap! Itu adalah kelima penampilan favorit saya di The Voice Kids Indonesia yang hingga sekarang masih suka saya tonton kalau lagi bosan. Tapi, dari seluruh bakat yang pernah saya tonton di berbagai acara Talent Show, ada satu penyayi yang menurut saya sangat-sangat-sangat luar biasa. Namanya Mandy Harvey dari ajang America’s Got Talent. Yang membuat Mandy sangat menarik, bahkan mendapat Golden Buzzer dari Simon Cowell  (sebuah mekanisme di ajang America’s Got Talent dimana peserta dengan Golden Buzzer dapat lolos langsung ke babak berikutnya), bukan hanya suaranya yang lembut dan kemampuannya dalam menciptakan lagu, tapi juga pengalaman hidupnya yang dapat memberikan siapapun juga pelajaran berharga. Saya yakin Simon juga kagum banget  sama bakat musik Mandy yang tetap saja bersinar walaupun dia telah kehilangan kemampuan pendengarannya. Yeah, she is a deaf singer. I really recommend you to watch this: 

Menonton penampilan Mandy, membuat saya menyaksikan (lagi, dan lagi) kebesaran Tuhan. Allah Maha Besar.


OKE! Cukup dulu ya cerita hari ini. Ohiya, tulisan hari ini adalah tulisan pertama saya setelah bergabung dalam komunitas #1minggu1cerita. Semoga walaupun capek, sibuk, lagi PMS, lagi sakit atau dalam kondisi bagaimanapun juga saya tetap konsisten untuk berbagi setidaknya 1 cerita setiap minggu. Lebih penting lagi semoga dalam setiap cerita, ada setidaknya 1 saja kebaikan yang bisa diambil.

Semoga bermanfaat. Stay positive yaaa.


Salam,
Venessa Allia

P.S: Ini media sosialnya #1minggu1cerita. Kamu bisa dapat banyaak sekali inspirasi dan semangat menulis disini:
Twitter: @1mg1cerita
Grup Facebook: https://www.facebook.com/groups/1minggu1ceritaKita/
Instagram @1minggu1cerita
Web: 1minggu1cerita.com

Jumat, 10 November 2017

Waktu Yang Tepat

Lo percaya nggak sama yang disebut ‘waktu yang tepat’? Gue percaya. 

Tulisan ini akan menjadi tulisan yang cukup panjang. Tapi semoga tidak membuang-buang waktu bagi siapa saja yang sudah sudi mampir (lagi) ke blog ini. Jadi ceritanya gini…

Dari kecil gue suka nulis diary. Tidak konsisten setiap hari atau setiap minggu sih (tuh kan dari kecil gue tuh udah punya masalah sama namanya konsistensi, persistensi, dan istiqomah), tapi kalau ada peristiwa penting dalam hidup gue, misal dibeliin sepatu baru, dikasih coklat sama cowok (anak kecil banyak gayaaa), atau sehabis terima rapot, biasanya peristiwa-peristiwa tersebut akan gue tulis dalam diary. Hobi ini berlanjut sampai gue SMP, tapi entah apa sebabnya berhenti saat SMA. Lalu kemudian saat kuliah, teman gue, Hawa, mengenalkan gue dengan blognya Raditya Dika, hingga akhirnya blog ini menjadi bacaan yang kala itu tidak pernah gue lewatkan. Karena sering baca blog orang, dan terinspirasi dari Hawa yang udah punya blog sendiri, gue pun akhirnya latah bikin blog juga. Blog pertama gue lahir sekitar tahun 2009, judulnya alwayshappyvenesssa.wordpress.com (silahkan dicari, siapa tahu ada yang curious labilnya gue jaman kuliah macam apa, hihihi). Mau tau nggak inspirasi judul blognya gue dapat dari mana? Gue inget dulu pernah ada isu panas soal terbitnya majalah Playboy Indonesia. Edisi pertama majalah tersebut menampilkan Andhara Early dengan headline Always Happy Early. Hahaha entah kenapa menurut gue judul headline-nya keren jadi gue contek sebagai judul blog (judul headline-nya loh yaaa, bukan majalahnya). Adanya blog ini membuat gue resmi melabeli diri sendiri sebagai seorang blogger.

Walaupun waktu kecil gue bukan penulis diary yang konsisten, ternyata di masa-masa awal menulis blog, gue cukup rajin loh. Setelah gue tengok lagi blog lama gue, ternyata selama 14 bulan, gue berhasil mempublikasikan 52 tulisan. Jadi sekitar 3-4 tulisan per bulan, alias hampir seminggu sekali gue nulis. Lumayanlah yaaa (apalagi kalau lihat frekuensi blogging sekarang yang makin… ah sudahlah). Jadi, intinya adalah gue sangat menikmati aktivitas menulis di blog, hingga gue sadar kalau ternyata hobi gue yang sebenarnya adalah menulis, bukan membaca. Dan sebagaimana banyak sekali orang di muka bumi ini yang hobi menulis dan ingin menerbitkan buku, gue pun sama. Menulis buku menjadi salah satu mimpi yang pernah gue tulis di dream board gue pada tahun 2011.

Lalu setelah mimpi itu tertulis, apa yang lantas gue lakukan untuk mewujudkan mimpi itu? Jawabannya adalah.. tidak ada, kecuali nulis di blog kalau lagi ada mood dan ide, tanpa paksaan, tanpa dorongan, semua murni gue lakukan ketika gue ingin. Alhasil yang terjadi adalah konsistensi menulis semakin menurun. Semakin banyak hal yang terjadi dalam hidup gue sehingga gue lupa, malas atau terlalu lelah untuk menulis lagi. Kalau kata penulis favorit gue, Kang Adhitya Mulya, life happens. Selama 6 tahun mimpi menulis buku menjadi mimpi kosong yang tidak pernah serius diikhtiarkan.

Hingga ‘waktu yang tepat’ itu tiba, akhir Agustus lalu. Supaya singkat, gue akan menceritakan kronologi kejadiannya menggunakan diagram alir (ala-ala) sebagai berikut:

Juli 2017 alhamdulillah gue wisuda S2 à Oktober 2017 gue fokus banget nyari kerja, satu bulan itu gue menjalani proses rekrutmen di 3 perusahaan berbeda: 1 BUMN, 1 start-up sociopreneur, 1 perusahaan retail fashion Eropa (yang mana udah gue kecengin dari lama karena perusahaan ini punya sustainability commitment yang serius banget) à Akhir Agustus gue harus menghadapi kenyataan bahwa gue ditolak di ketiga perusahaan tersebut à Gue sedih (of course), tapi gue tahu kalau kejadian seperti ini bukanlah resiko yang tidak terprediksi ketika gue dahulu memutuskan resign, jadi ya sabar aja, sambil berusaha lagià Gue mikir, kalau kegiatan gue cuma fokus apply kerja doang, yang ada gue bakal sinting karena bosan, mau bagaimanapun juga proses rekrutmen itu butuh waktu dan kesabaran à Gue harus mencari kegiatan lainnya à Gue ikutan Mentoring Menulis Online dengan tekad dalam 30 hari naskah buku gue akan jadi.

Yeah, waktunya tiba. Gue punya waktu, energi dan terpenting lagi tekad, untuk mewujudkan sebuah niat baik yang dulu pernah gue tulis.

Sekilas tentang Mentoring Menulis Online (MMO)

Jadi, MMO adalah sebuah program yang dikelola oleh Inspirator Academy, milik Mas Brili Agung (satu lagi orang yang gue ketahui sangat ambisius, in positive way, dengan mimpi luar biasa besar). Program ini menggaransi bahwa setiap mentee akan dapat menyelesaikan naskah bukunya dalam 30 hari, tentu saja jika mentee tersebut mengikuti sistem yang sudah didesain sedemikian rupa. Gue pertama kali denger MMO dari Teh Dian, temen di Siaware, dia berhasil menerbitkan bukunya setelah ikut program ini. Gue beli dan baca bukunya juga. Dari Teh Dian gue tahu kalau ternyata di Indonesia ini ada loh program semacam MMO ini untuk orang-orang yang punya mimpi pengen jadi penulis. Nah, masalahnya informasi soal MMO pertama kali gue dengar ketika gue lagi ribet banget nyelesaiin tesis, jadi saat itu gue cuma simpan infonya dengan label “very nice information”, tanpa ada rencana untuk mengikutinya dalam waktu dekat. Hingga suatu hari gue tahu kalau satu lagi temen gue ikutan MMO: Yosay. Yosay temen gue dari S1 dan masih sering ngobrol sama gue hingga saat ini. Yah emang udah takdir Allah, saat bulan Agustus gue mengalami kepusingan hidup, gue tiba-tiba terpikir untuk ikutan MMO ini. Gue hobi menulis, punya waktu, dan memang ingin bikin buku. Kurang cocok apalagi? Gue langsung chat Yosay dan nanya-nanya soal programnya. Singkat cerita, tanggal 1 September gue mulai kelas pertama gue. Lebih dari itu, gue mulai lembar pertama buku gue. 

Tiga puluh hari kemudian, draft novel ini jadi, walau belum di edit dan revisi. Bukan satu bulan yang mudah. Di satu minggu pertama saja gue sudah kepikiran untuk berhenti karena gue berhadapan pada kondisi yang super tidak nyaman yaitu 'dipaksa menulis'. Apalagi waktu itu kondisinya gue baru bayar DP 50%, jadi ada bisikan setan yang mengatakan "Nggak rugi-rugi amatlaaah, udah keluar ajaa." Ohiya satu lagi, di minggu pertama setiap mentee diminta mendeklarasikan komitmennya dan mengajak sebanyak-banyak orang untuk foto bersama dengan tulisan deklarasi komitmen tersebut, serta mempublikasikannya di media sosial. Duh beneran deh, gue paliiing males melakukan hal seperti itu. Tapi gue tahu tugas tersebut memiliki tujuan baik, jadi akhirnya gue lakukan juga, bahkan abang gojek pun gue ajak foto bersama (haha euweuh talent deui). Nggak tanggung-tanggung gue declare kalau bukunya akan menjadi best seller, padahal saat itu mau bikin cerita yang seperti apa juga gue masih bingung. Yaaa, tapi kalau mimpi kan katanya nggak boleh tanggung-tanggung, jadi silahkan bermimpi besar :). Siapa tau doa ini dikabulkan Allah. 


Gue dan Mama. Mama yang mungkin sering bingung dengan keputusan-keputusan yang gue ambil, tapi selalu merestui <3 .="" td="">

Pada akhirnya gue membulatkan niat mengikuti MMO. Gue sempet solat istikharah dulu loh sebelum membulatkan keputusan, soalnya sempet galau mau lanjut atau nggak (tau sendirilah, labil is my middle name, hihi). Lalu gue merasa diberikan petunjuk ketika setelah satu minggu, gue dipilih menjadi mentee terbaik minggu pertama untuk kategori fiksi. Alhamdulillah, gue jadi lebih percaya diri dan berpikir "Hmm mungkin memang sekarang waktu yang paling tepat untuk mengikuti program ini, yaudah deh terusin aja apapun resikonya."  

Setelah 30 hari masa penyelesaian naskah, gue masuk ke tahap revisi dan editing. Targetnya adalah naskah akhir selesai sebelum tanggal kunjungan ke penerbit. Kurang lebih 3 minggu waktu yang gue butuhkan untuk ngebut merevisi naskah, termasuk waktu jeda sejenak, nggak buka naskah sama sekali, semata-mata untuk mengendapkan pikiran dan biar tetap waras, hahaha.  

Naskah novel pertama, ciyeeee!

Kayaknya bener deh kalau manusia itu harus hati-hati dengan apapun yang ditulis, karena beneran (seizin Allah) bisa jadi kenyataan, walau mungkin dengan sedikit penyesuaian yang lebih baik menurut Allah. Ini kedua kalinya gue mengalami hal yang seperti itu. Pertama waktu SMA, gue kepengen banget masuk TL ITB. Buku tulis waktu gue kelas 3 SMA, biasanya gue kasih tanda tangan terus gue tulis di bawahnya TL ITB 2007 atau FTSL ITB 2007. Singkat cerita, tahun 2007 gue beneran kuliah di ITB, masuk SITH, sebuah takdir yang amat sangat gue syukuri. Lalu hidup mengalir panjaaaaaang, gue melangkah ke mana-mana dulu hingga akhirnya tahun 2015 gue beneran loh kuliah di TL sebagai mahasiswa S2. Perkara nulis buku ini juga sama. Tahun 2011 gue tulis di dream board bahwa gue ingin menulis buku. Lalu sekali lagi hidup terus berjalan hingga mungkin gue sempat lupa pernah memimpikan hal ini. Butuh waktu lebih dari 6 tahun, hingga akhirnya Oktober 2017, naskah buku gue jadi juga. Mungkin buat siapapun yang mendengar pengalaman ini, rasanya akan biasa aja, tapi bagi gue yang menjalani sendiri, ini adalah hal luar biasa. Rasanya kayak bener-bener merasakan ‘campur tangan’ Tuhan dalam hidup. Yah, Tuhan memang Maha Besar, tidak ada keraguan. Tidak semua orang juga dapat merasakan kemewahan seperti ini, gue sangat beruntung dan harus lebih banyak bersyukur.

Buku ini memang belum pasti diterbitkan oleh penerbit mayor. Program MMO membantu peserta untuk menyelesaikan naskah, tapi perkara naskah tersebut dapat diterbitkan di penerbit mayor atau tidak, itu tergantung penerbit, kekuatan naskah dan niat penulis itu sendiri. Salah satu kelebihan program MMO ini adalah adanya kunjungan ke penerbit sehingga dapat memfasilitasi setiap pesertanya untuk bertemu langsung dengan editor di penerbitan yang besar dan menyerahkan naskahnya secara langsung. Akhir Oktober kemarin, gue kunjungan ke Penerbit Republika yang selama ini sudah menerbitkan buku-buku Tere Liye favorit gue. Kunjungan ini tentunya memperkaya wawasan gue terkait dunia penulisan dan penerbitan. Menurut Mbak Ana sebagai editor naskah fiksi, naskah yang sampai ke mejanya akan mendapat feedback paling lama setelah 3 bulan karena ada banyak sekali naskah yang harus dibaca. Lama banget kan. Tapi untungnya Penerbit Republika tidak keberatan kalau penulis mengirimkan karyanya secara paralel ke penerbit lain, jadi minggu kemarin gue coba kirim juga naskah gue ke penerbit lain. Tapi yaaa tetep aja sih feedbacknya nggak bisa instan. Sabaaaar. Setidaknya gue sudah melakukan porsi gue: berusaha.

Kita lihat 2 bulan lagi ya, kalau pun nggak lolos di penerbit mayor, naskah ini bisa jadi akan gue terbitkan lewat jalur self-publishing. Atau, mungkin gue bagi-bagi saja ceritanya secara sukarela di Wattpad atau Gramedia Writing Project. Yang pasti gue sudah cukup bangga karena berhasil menyelesaikan novel fiksi pertama gue ini, dan berjanji akan menulis lagi. Jika karya ini bisa dibaca banyak orang, apapun bentuknya, gue akan tambah bersyukur.

Ya ampun, waktu tahun 2015 aja ketika review buku Pak Josef Bataona yang gue tulis di blog ini, direspon langsung bahkan direpost oleh Pak Josef di blognya, gue udah seneeng banget. Mungkin setara dengan kebahagiaan pemenang nobel sastra. Apalagi kalau beneran bisa lihat ada buku di rak Gramedia dengan nama penulis Venessa Allia, kayaknya gue bisa pingsan, haha.
Ya sudahlah, saat ini tidak perlu berandai-andai yang berlebihan dulu. Usaha saja terus, sambil dibawa doa, dan biarkan Tuhan membukakan jalan kebaikan. Sebenarnya sih sudah ada 1 orang yang membaca buku ini secara lengkap: Yohanna, seorang teman yang gue kenal di Nutrifood. Dan entah apakah karena anak ini  emang baik hati banget atau emang dia bener-bener suka sama novel gue, tapi responnya terhadap buku ini sangat-sangat membuat gue bahagia, Aaah Thank you Yoooo!

Banyak orang di luar sana yang jago menulis. Banyak banget. Bahkan di sekitar gue sendiri, gue melihat banyak sekali orang yang bisa membuat tulisan yang informatif, menyentuh dan enak dibaca. Tapi menjadi penulis sebesar Andrea Hirata, butuh lebih dari itu. Gue nggak tahu apa yang ada di otak Andrea Hirata hingga dapat menuliskan cerita semenarik novel 'Ayah', tapi gue yakin prosesnya butuh kesabaran dan semangat untuk terus menulis, membaca dan belajar. 

Gue banyak belajar selama 2 bulan terakhir ini. Menyelesaikan sebuah buku, bukan hanya sekedar menyelesaikan sebuah plot cerita. Tapi ada banyak perdebatan dengan diri sendiri, dari mulai memutuskan nilai-nilai apa yang ingin dibagi hingga segala perlawanan mengalahkan rasa lelah dan malas. Tentu saja gue pun tidak ingin membuat sebuah cerita yang sama sekali tidak ada nilai baiknya. Gue nggak mau membuang-buang waktu orang yang sudah bersedia membaca. Apalagi kalau udah membayangkan suatu hari mungkin semua yang gue tulis ini akan diminta pertanggung jawabannya. Heft. Proses selama MMO juga mengajarkan gue untuk menurunkan ego karena harus mau menerima feedback dan kritik. Buat gue ini bukan hal mudah, karena gue bukan orang yang suka dapet feedback, untungnya gue tahu kalau feedback itu baik. Hehehe. Ohiya satu lagi, dan menurut gue ini yang paling penting, beres proyek ini, gue nggak lagi-lagi mau ngatain “buku A jelek, buku B nggak seru atau buku C ceritanya gitu doang.” Gila, dikata gampang apa bikin novel. Susaaah ciiing.

Ah, tuhkan gue mulai sok tahu lagi. Yah anggap saja itu hikmah yang ingin gue bagi J

Novel gue ini judulnya “Cerita Shabira”. Potongan cerita di bawah ini adalah salah satu bagian favorit gue.

Saat gue mematikan laptop, seseorang membuka pintu kamar gue tanpa mengetuk terlebih dahulu. Anak songong berjaket biru itu nongol dari balik pintu.
“Lo bisa nggak sih ngetuk pintu dulu sebelum masuk?” Gue menegur Alta atas kebiasaan buruknya tersebut.
“Hehehe, yaa kalau pintunya nggak dikunci berarti kan lo lagi santai di kamar, ngapain juga gue ngetuk pintu segala.” Alta nyelonong masuk kamar gue lalu duduk di kasur, “Lo habis ngapain ngobrol sama siapa sih? Seru amat kayaknya. Bang Satryo ya?” Gue nggak pernah cerita soal Satryo ke Alta, pasti dia tahu dari Kak Gladys.
“Habis Skype sama Meira. Anak kecil nggak usah sotoy.” Gue memasukan laptop ke tas, lalu menoleh ke arah Alta, “Lo mau ngapain ke kamar gue? Tidur sanaaa!” Malam ini gue sedang tidak ingin berlama-lama ngobrol dengan Alta.
“Gue tidur di kamar lo ya.” Alta seketika mengambil bantal dan tiduran di kasur gue. Gue pun langsung menarik tangannya.
“Iiiih apa-apan lo! Kalau nggak ada yang penting keluar sanaa. Gue capeek!” Alta hanya tersenyum jahil, bangkit berdiri lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya.
“Nih buat anak old school yang masih dengerin CD di era digital. Mulai besok pagi, bangun tidur jangan lupa ketawa ya!” Alta melempar sebuah kotak CD berwarna ungu ke atas kasur, lalu meroket keluar kamar secepat ia melesat masuk. Gue mengambil kotak CD tersebut. Alta baru saja memberikan gue sebuah CD dari Maliq & D’Essentials yang berjudul The Beginning of a Beatiful Life. Ada sebuah kertas menempel di baliknya, dihiasi tulisan tangan yang gue kenal.

“If we believe in something, and we just keep on trying, we will survive, we will survive.” (Maliq & D’Essentials)    

P.S.
Udah lama nggak ngobrol sama lo, Kak. Apapun yang terjadi dalam hidup lo, jangan lupa ketawa yah. Alta.

---

Terimakasih yaa sudah membaca. Untuk siapa saja yang berminat ikut MMO, boleh japri gue, atau tinggalkan komen disini. Insya Allah gue bisa bantu J.

Salam,
Venessa Allia

Kamis, 24 Agustus 2017

Dont Be Too Naive: Penipuan Bermodus Ecash Mandiri

Hai, jumpa lagi!
Pengen cerita pengalaman baru gw nih. Pengalaman baru hampir menjadi korban penipuan dengan modus membayar via ecash bank Mandiri. Seinget gw , ini adalah pertama kali gw merasakan hampir jadi korban kejahatan manusia. Alhamdulillah, sampai detik ini masih dilindungi Allah, jadi korban copet di angkot juga belum pernah, Alhamdulillah.
  
Beberapa waktu belakangan ini gw mengikuti berita kasus First Travel di TV. Nggak habis pikir dan nggak ngerti kok bisa ada orang yang punya niat menipu dan melakukannya dengan sangat niat. Mungkin si penipu punya prinsip “Kalau mau jadi penipu itu harus total, ngapain nipu 1-2 orang doang, mending 35000 orang sekalian, kepalang dosa. Totalitas men!”. Si onyon!

Gw tuh masih sering berpikir kalau semua manusia pada dasarnya baik (yeaah call me naive), jadi masih sering gagal paham sama orang yang emang punya niat jahat sama orang lain. Hingga kemarin gw hampir menjadi korban…

Alkisah, hari Senin kemarin gw kepikiran mau jual baju-baju yang pernah gw beli tapi belum pernah gw pakai atau cuma dipakai 1-2x doang (sekarang Allia udah tobat nggak mau jajan baju mubazir lagi). Daripada bajunya menuh-menuhin lemari doang, lebih baik dicairkan menjadi uang. Apalagi gw sedang berniat mengikuti suatu kuliah online bersertifikat sehingga butuh tambahan biaya. Hari Senin malam gw akhirnya coba foto beberapa baju dan jual di OLX. Selesai unggah foto-foto sekitar jam 12 malam, lalu gw tidur.

Pagi-pagi sekitar jam 7, ada yang kontak gw via Whatsapp, mbak-mbak cantik (untuk selanjutnya akan gw sebut si penipu), dia nanya rok panjang yang gw jual masih ada nggak. Seneng dong gw. Ini pertama kali gw jual barang secara online dan ada yang mau beli. Udah ngebayangin dapet duit aja. Si mbak cantik ini cuma nanya harga sekali doang, habis itu langsung oke mau beli barangnya. Saat itu gw bahkan tidak curiga sama sekali, padahal rasanya sebutuh apapun seseorang sama suatu barang, nggak mungkin orang beli barang online tanpa ada rasa ingin tahu lebih banyak terhadap barang tersebut. Walaupun harganya cuma Rp 100.000,00 juga. Tapi lagi-lagi mungkin efek senang pertama kali jualan online dan ada yang mau beli, logika gw ngumpet entah kemana, saat itu gw nggak curiga sama sekali.

Lalu si penipu kasih tau nama dan alamatnya. Namanya Dyah Purwita (bukan nama asli, belakangan gw tau kalau penipu ini adalah cowok -_-). Rumahnya di Jalan Cikampek, Antapani, Bandung (nggak yakin juga alamat yang dia kasih beneran ada). Terus dia tulis juga nomor handphone dia, selain yang dipakai di Whatsapp (nomor yang dia tulis 081930600168 dan 081238213503)
Selanjutnya si anak polos yang lagi seneng jualannya laku (baca: gw), langsung ngecek berapa ongkos kirim barang dari Tangerang Selatan ke Bandung via pos (soalnya deket rumah gw adanya kantor pos). Ternyata sekitar Rp 10.000,00. Sebenarnya nggak persis 10000, cuma karena dia adalah pembeli pertama jadi gw pikir nggak apa-apa deh ongkos kirimnya gw diskon dikit (niat gw udah baik bangeeet kan sama ini si penipu laknat -___-). Gw kabarin deh ke si penipu kalau biayanya jadi Rp 110.000,00. Lalu gw kasih nomor rekening BCA gw. Lalu terjadilah percakapan di WA berikut ini (kalimat asli, gw copy paste dari WA, pahami aja kalau penipu ini nulisnya alay):

Gw: Boleh ditransfer dulu uangnya ke BCA no rekening xxxxxxx, atas nama xxxxxxx
Si Penipu: Saya gak ada bca mbk
Gw: saya cuma ada BCA dan BNI nih. BNI nomor rekening xxxxxxxx atas nama xxxxxxxx
Si Penipu: .ok mbk

Lalu sekitar 20 menit kemudian, si Penipu mengirimkan gw bukti transfer editan yang pada saat itu GW NGGAK SADAR DONG KALAU ITU EDITAN. Ini bukti transfernya:

Bagian yang disensor adalah nama lengkap dan nomor rekening gw.


Naaah, lalu mulailah modus penipuan, si Penipu mengirimkan gambar ini:

Mungkin ya kalau kekuatan niat, kreatifitas dan waktu yang diberikan si penipu ini ditransformasi tujuannya untuk hal baik dan produktif, penipu ini mungkin udah kaya raya.

Si penipu lalu menjelaskan, "Ini cara aktivasi kde otp  untuk bisa melakukan tarik tunai uangnya kodenya sesuai yang disetruk aktivasi di mesin ATM Mandiri."

Gw saat itu bingung itu maksudnya apa. Tapi emang dasar polos (atau dodol yaa beda tipis) gw masih berpikir “oh mungkin emang ada metode pembayaran dengan cara seperti ini, gw aja yang nggak tahu”. Gw baru denger ada yang namanya nomor ecash dana dan kode OTP dana (sampai saat ini gw belum nyari tau juga, sebenernya nomor kayak gini beneran ada atau cuma bisa-bisaan tukang tipu doang). Lantas gw bilang ke si penipu:  

Gw: Transferannya sy cek dulu ya mbak. Kalau sudah oke, siang ini saya kirim :)
Si Penipu: Ok. Kbrin y mbk
Gw: iyaa nanti saya kabari. Terimakasih sebelumnya.

Yaampun kenapa gw sopan bangeeeet sama orang jahat kayak gituuuu.

Sekitar 20 menit berikutnya, gw masih belum cek (gw pikir mau cek di ATM BNI aja sekalian ada keperluan keluar). Si penipu pun Whatsapp gw lagi.

Si Penipu: Pink à maksudnya mau ngeping kayak di BBM (dalam hati gw pikir, ih si mbak alay)
Gw: Saya blm sempet cek. Nanti saya kabari kalau sdh cek yaa. Sekitar 1 jam lg
Si Penipu: Ok

Saat itu gw yakin semua akan baik-baik saja. Rok yang  sudah akad untuk dijual pun gw bungkus. Rencana gw, habis memastikan uangnya masuk, gw akan langsung ke kantor pos untuk kirim barangnya. Selanjutnya gw ke ATM BNI, dan ternyata uangnya memang belum masuk. Lalu gw tanya ke si Penipu.

Gw: Mbak sorry sy belum pernah transaksi dengan cara seperti ini. Ini jd transaksi nya di atm mandiri menggunakan kartu bni saya?
Si Penipu: Y mbk. Mbk di atm y mbk

Nggak lama Si Penipu nelvon gw, gw agak-agak bingung karena suara yang terdengar kok kayak suara cowok. Tapi karena saat itu sedang ramai, dan gw masih merasa yakin selama ini Whatsapp dengan wanita (profile picture Whatsappnya menggunakan foto wanita), jadi gw tetep panggil ‘Mbak’ ke si Penipu. Intinya saat itu dia bilang, kalau gw sudah di ATM Mandiri dan bingung gimana cara nyairin ecash-nya, gw bisa kontak dia.

Singkat cerita, setelah itu gw ada perlu ngurusin sesuatu ke Bank BCA. Selesai dari Bank BCA, gw ke ATM Mandiri deh (masiiih belum curiga apa-apa, masih yakin semua akan baik-baik aja). Gw coba deh  ngikutin cara yang di terangkan di gambar sebelumnya, tapi lantas gw bingung, kok pilihan menunya nggak sesuai. Dan saat itulah pertolongan Allah datang, gw mulai curiga.

Saat gw lagi kebingungan di depan mesin ATM, di samping gw ada seorang cewek dan cowok. Si cewek saat itu sedang bicara dengan seseorang melalui handphone. Cewek tersebut kedengarannya seperti sedang dipandu melakukan sesuatu di depan mesin atm (tapi gw nggak yakin juga karena tidak mendengar dengan jelas). Cuma dari sini kekhawatiran gw mulai muncul, gw mulai curiga, jangan-jangan kalau gw ngabarin dia dan bilang gw bingung bagaimana cara mengecek dana yang katanya sudah dia transfer, dia akan nelvon gw dan memandu gw di mesin ATM dan ternyata malah bakal menipu gw (gw mulai ingat kalau udah banyak modus penipuan seperti ini). Gw mulai berpikir kritis, jangan-jangan metode ecash ini adalah salah satu modus penipuan. Saat itu logika gw yang tadi tertimbun angan-angan dan harapan barang jualan laku mulai muncul lagi. Gw pun liat lagi bukti transfer yang dia kirim, dan saat itu gw sadar “ini kok bukti transfernya kayak editan yaaaaa”

Gw langsung nyari tempat duduk, terus gw Whatsapp Meli (temen gw yang logikanya 100x lebih jalan daripada gw). Intinya saat itu dia confirm kalau itu bukti transfer editan. Gw pun penasaran, gw samperin satpam Bank Mandiri yang ada di deket situ, gw penasaran aja sebenarnya beneran ada nggak sih metode pembayaran dengan cara ecash kayak gini. Intinya Pak Satpam saat itu bilang kalau modus yang gw ceritakan biasanya adalah penipuan.

Saat itulah gw merasa campur aduk antara bersyukur nggak jadi ketipu, lucu karena ini pengalaman baru, dan merasa bodoh karena kok bisa sih gw segampang itu percaya.
Gw pun Whatsapp si penipu bilang begini:

Gw: Nggak bs mbak. Udah saya cek ke bank mandiri. Kalau masih mau roknya, transfer aja ke rekening yg saya kasih tadi dengan cara biasa
Si Penipu: Bkan ke bank mbk. Ke mesin atm mndiri. Mbk  Sda mbk aktivasi kan kde nya di mesin atm mndiri

Lalu si penipu nelvon gw, tapi nggak gw angkat. Chat-nya pun nggak gw bales. Dan saat ini nomernya sudah gw block (0813 6722 9022). Untungnya gw belum masukin nomor apa-apa di ATM Mandiri. Dan sejujurnya, rekening BNI gw tersebut saldonya cuma ada Rp 80.000,00, jadi maaf-maaf aja ya mas penipu, Anda harusnya pilih korban yang lebih kaya dari saya kalau mau coba-coba nyuri uang di rekening :p .

Awalnya gw nggak pengen berbagi cerita ini selain ke Meli dan Kak Tita (kakak ipar gw). Karena nyeritain ini rasanya seperti membuka kebodohan diri sendiri. Tapi kayaknya lebih baik gw cerita, karena bisa saja diluar sana masih banyak anak-anak polos (atau naïf) kayak gw, yang belum tahu ada modus penipuan bermodus pembayaran cara ecash. Terinspirasi juga dari blog ini (entah kenapa hyperlink di blog gw nggak bisa, ini gw langsung copy URL blog salah satu calon korban penipuan modus ecash yang sudah sangat jelas menceritakan kasusnya dengan tujuan tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban): http://www.kompasiana.com/monicagunawanjap/kronologis-lengkap-penipuan-mandiri-e-cash_5879def6c122bd1a0d144857

Setiap kejadian dalam hidup manusia pasti ada hikmahnya kan? Buat gw pun kejadian ini banyak hikmahnya. Gw jadi belajar betapa pentingnya tetap kritis, tetap berpikir menggunakan logika yang jernih dan jangan terlalu larut terbawa perasaan gembira dalam kondisi apapun (karena salah satu yang membuat gw hampir tertipu adalah karena gw keburu senang duluan barang yang gw jual secara online pertama kali ada yang mau beli). Sekarang kalau gw inget-inget lagi kejadian kemarin, gw jadi semakin merasa bodoh karena dari awal udah banyak banget keanehan yang ditunjukan si penipu tersebut yang tidak gw sadari dari awal. Apalagi kalau udah berhubungan dengan transaksi keuangan, penting banget untung selalu berhati-hati (meeen cari duit itu capek, pasti nyesek kalau duit hasil kerja dibawa lari sama penipu-penipu laknat). Yang kedua adalah selalu minta pertolongan sama Tuhan. Karena gw pun pernah menemukan kejadian ada orang yang gw ketahui sangat logis dan pintar, tapi jadi korban penipuan di ATM juga. Mungkin orang tersebut pun khilaf seperti gw, tidak menyadari adanya keanehan dan memilih percaya bahwa semua baik-baik saja. Ujung-ujungnya balik lagi, cuma perlindungan Allah yang paling bisa diandalkan, karena rezeki manusia juga Allah yang punya. Rajin-rajin baca surat Al-Falaq, supaya terhindar dari kejahatan dan kedengkian manusia. Pada kasus ini pun gw bersyukur karena tidak sempat menjadi korban dan sekarang menjadi punya pengalaman yang bisa gw bagi. Mudah-mudahan pengalaman ini bisa jadi pelajaran juga bagi yang baca J.

Jadi ingat yaa guys, manusia diberikan Tuhan 2 alat untuk bertahan hidup, logika dan perasaan. Jadi dua-duanya harus dipakai doong. Tetap kritis, don’t be too naive, keep praying! 

And of course, stay positive yaa!

Salam,

Venessa Allia 

Kamis, 03 Agustus 2017

Dear Zindhagi. Dear Life.

Genius is not someone who has all the answer, but someone who has patience for all the answers.


Kalimat diatas adalah potongan kalimat dari film India yang baru saya tonton kemarin. Judulnya Dear Zindhagi. Aaand I love this movie!!! Soalnya banyak dialog baguuuus, banyak memberikan pemahaman baik. Zindhagi sendiri dalam Bahasa India artinya kehidupan, dan sesuai judulnya film ini banyak memberikan pemahaman tentang berbagai hal yang terjadi dalam hidup seseorang. Tentunya dalam format film yang tidak membosankan, pengambilan gambar yang bagus, aktor dan aktris yang sangat baik (Sakh Rukh Khan, no wonder), lagu-lagu yang enakeun dan kawin banget sama cerita filmnya. Serta yang tidak kalah penting adalah film ini termasuk film India yang nggak banyak jogednya. Hihi.

Film yang ditayangkan tahun 2016 ini memiliki cerita yang cukup sederhana, dan menurut saya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Maksud saya, siapapun termasuk diri saya sendiri dan orang-orang terdekat bisa saja mengalami hal yang serupa atau hampir sama.  Seorang wanita bernama Kaira (diperankan oleh Alia Bhatt), berprofesi sebagai sinematografer, suatu hari mengalami suatu kenyataan yang membuat dirinya sangat kecewa dan depresi hingga sulit tidur, lalu datanglah dia ke seorang terapis (psikolog), dan seiring berjalannya waktu mengalirlah banyak cerita-cerita yang memberikan pemahaman-pemahaman baru bagi Kaira (dan tentu saja bagi saya yang menonton filmnya). Banyak pesan yang disampaikan tanpa menggurui, tapi mengajak untuk merasakan dan memahami. Sederhana, tapi bernilai.

Kenapa saya nonton film ini?
Sejujurnya saya menonton film ini sebagai salah satu exercise dari sebuah program sekolah pra nikah online yang sedang saya ikuti. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu tentang film Dear Zindhagi ini, hingga minggu kemarin menonton film ini menjadi salah satu PR yang diberikan kepada kita sebagai peserta. Dan setelah menonton film ini, saya paham mengapa menonton film ini dijadikan PR dalam sebuah program sekolah pra nikah. Karena film ini juga mengajarkan banyak hal yang penting untuk seseorang pahami sebagai bekal membangun hubungan dengan pasangan dan bekal menjadi orang tua suatu hari nanti. Karena, bocoran sedikit, karakter dan sudut pandang yang dimiliki oleh Kaira saat dia dewasa banyak diakibatkan oleh pola asuh dan pengalaman yang dia dapat dari orang tuanya ketika dia kecil. 

Selesai nonton film ini, saya langsung menghubungkan banyak hal yang diceritakan di film ini ke kehidupan saya sendiri. Semakin dewasa (ciee yang udah dewasa), saya pun semakin sadar bahwa apa adanya saya sekarang, sedikit banyak dipengaruhi apa yang diajarkan orang tua saya sewaktu saya kecil. Saat ini saya merasa menjadi pribadi yang cukup mandiri, karena kalau diinget-inget lagi, kemandirian merupakan nilai penting yang orang tua saya ajarkan sedari saya kecil. Inget banget waktu kecil udah disuruh ke dokter gigi sendiri, padahal waktu itu umurnya baru sekitar 7 tahun. Papa juga sering bilang kalau papa sama mama nggak akan hidup selama-lamanya jadi harus bisa mandiri. Alhamdulillah, saya pun merasa menjadi orang yang suka belajar karena didikan orang tua yang membuat saya percaya bahwa segala sesuatu itu ada ilmunya dan bisa dipelajari. Kalau kata bokap mah, sesimple ngegulung kabel itu ada ilmunya, harus dipelajari, nggak bisa instan atau langsung bisa. Ikut sekolah pra nikah juga motifnya karena ingin belajar dan mempersiapkan diri. Anyway, sepengamatan saya, beberapa orang masih melihat sekolah pranikah (SPN) sebagai sesuatu yang tabu. Kayak, emm perlu ya ikut SPN?  Bahkan diri saya sendiri sejujurnya pernah punya prasangka negatif (astagfirullahaladzim) bahwa menjamurnya sekolah pra nikah yang ada saat ini adalah bagian dari bisnis pernikahan yang sekarang makin ramai. Astagfirullah, kadang-kadang pikiran manusia emang bisa jahat banget ya, jadi merasa bersalah sempet mikir kayak gitu L. Yang bisa saya bilang adalah menurut saya tidak ada kewajiban sih ikut SPN, ikut atau tidak ikut adalah pilihan yang mengandung konsekuensi. Saya percaya untuk bisa membangun rumah tangga yang orientasinya bahagia dunia akhirat dan menjadi berkah bagi umat (berat yaaa cuuuy) itu perlu ilmu dan pemahaman baik. Maka daripada itu saya memilih untuk belajar melalui SPN ini, meski saya sadar tidak ada jaminan atau data valid yang menunjukan bahwa yang udah ikut SPN, rumah tangganya bakal lebih sakinah dibandingkan yang belum ikutan. It's not that simple :)
Beberapa minggu lalu juga sempet ngobrol sama my circle of friends tentang investasi menjelang pernikahan. Waktu itu ceritanya temen saya cerita biaya pre-marital check up yang mahaaal. At the end, kita (atau saya sih lebih tepatnya) berkesimpulan bahwa ngeluarin duit buat pre-marital check up lebih berguna daripada ngeluarin duit untuk gimmick pernikahan lainnya, hahaha. Berinvestasi untuk mempelajari ilmu pernikahan yang berkah dunia akhirat juga salah satu hal yang menurut saya sangat layak J (sebelum teman-teman berasumsi macam-macam, saya kasih tau aja kalau saya sendiri belum tau bakal nikah sama siapa :p)

Aaaanywaaay. Ini topiknya jadi melebar banget yaa, hahaha. Jadi tadi lagi bahas apa? Ohiya Dear Zindhagi. Ada satu hal lagi pelajaran penting yang saya dapat dari film ini. Mudah-mudahan nggak jadi spoiler. Film ini menambah lagi keyakinan saya bahwa “well, sebagaimana diri sendiri yang jauh dari kesempurnaan, maka saya pun tidak bisa menuntut orang lain untuk selalu bersikap benar tanpa salah.”. Tanpa bermaksud merusak semangat self improvement, tapi saya sadar bahwa diri saya tidak sempurna, sehingga tidak adil kalau saya menuntut kesempurnaan dari orang lain.  Belakangan saya jadi sering mikir, kalau lagi misal (astagfirullah) kesel sama nyokap, saya langsung bilang sama diri sendiri “come on Allia, kamu juga belum bisa menjadi anak berbakti yang sempurna membahagiakan orang tua, jadi kenapa harus kesel. Kamu bisa salah. Mama bisa salah. Semua manusia bisa salah”. Menerima ketidaksempurnaan (dengan tetap berusaha menjadi the best version of yourself) kayaknya cara hidup yang efektif bikin bahagia deh. Kalau kata ustad Nouman Ali Khan “So, what if this life is not perfect? It’s not Jannah”. Pertama kali baca statement beliau ini rasanya pengen teriak “myeeee mauuu ke surgaaa”

So, Dear Zindhagi masuk deh ke top 3 film India favorit saya. Peringkat pertama masih 3 Idiots (judulnya boleh ‘idiots’, filmnya sih menurut saya jenius), terus peringkat kedua Kuch Kuch Hota Hai (bahkan film ini kadang masih saya tonton kalau ada di tv), peringkat ketiga boleh deh Dear Zindhagi, menggeser Kabhi Khusie Kabhie Gham :D.

Ada benang merah antara hobi saya baca buku Tere Liye, ikutan SIAware dan suka film Dear Zindhagi. Yaps, pada intinya saya selalu suka segala media yang bisa memberikan pamahaman baik. Dear Zindhagi, terimakasih sudah membuat saya sedikit lebih mengerti J.



Terimakasih juga untuk kalian yang sudah membaca. Correct me if I’m wrong yaa J. Soalnya saya sering sok tahu juga, dan ilmu agama saya yang masih cetek, jadi open discussion untuk semua opini ini J

Salam,
Venessa Allia 

Kamis, 22 Juni 2017

It's A Wrap!

Haaiiii!! 
Udah 3 hari laptop ini mati setelah sebelumnya hampir setiap hari dinyalain. Hari ini buka laptop bukan untuk ngerjain tesis, tapi untuk ngasih tau ke dunia kalau:

TESIS GW SUDAH SELESAI! SEBENTAR LAGI WISUDA!!

Sekolah lagi adalah bab tersendiri dalam hidup gw, dan ngerjain tesis adalah subbab terpanjang dalam bab ini. Beneran deh, kalau cuma kuliah-ujian-kuliah-ujian doang, gw rela kuliah sampe post doc sekalian, tapi ngerjain tugas akhirnya itu yang pusing dan nggak santai. Tapi alhamdulillah bisa selesai juga. Teman-teman, percayalah berkah Ramadhan itu nyata adanya. Gw bener-bener ngerasain, hehehe. Awalnya, ragu-ragu untuk maju sidang periode ini, soalnya deadline-nya ketat banget dan gw merasa tidak ada energi untuk ngejar deadline tersebut. Terus singkat cerita, saat ketemu dosen pembimbing untuk izin nggak jadi maju sidang, eeeh dia malah nggak ngizinin :D. Malah dikasih motivasi untuk maju sidang aja, kata beliau "saya jarang-jarang nih kayak begini, biasanya anaknya mau maju sidang, tapi saya nggak kasih. Kalau kamu sayang nggak maju sekarang karena selama ini progresnya cepet. Udah maju aja, biar nanti pas lebaran kalau ditanya "kapan sidang?", bisa jawab "udah sidang". Ahahaha bapak nggak tau aja, pertanyaan "kapan" paling malesin saat lebaran bagi saya adalah bukan "kapan sidang", tapi "kapan" yang lainnya :p. Yah, singkat cerita obrolan dengan beliau waktu itu efektif meningkatkan semangat gw untuk "lari sedikit lagi karena garis finish udah kelihatan :)" Ah thanks a lot pak!.

Keajaiban Ramadhan lainnya terjadi di H-1 sebelum sidang, dimana dosen penguji yang gw khawatirkan dari setelah Seminar 1 (fyi, gw merasa mental breakdown setelah Seminar 1 karena merasa dibantai habis, hahaha), beliau tidak bisa jadi penguji gw karena harus keluar kota. Syalalalala. Beneran ajaib banget rasanya, karena H-2 gw masih ketemu beliau, gw bilang ke beliau kalau berkas sidang gw udah gw taro di ruangannya. Dia sudah mengiyakan. Gw sudah pasrah. Tiba-tiba besok paginya, temen gw whatsapp ngasih tau kalau beliau ke luar kota. Dengan polosnya dia bilang "Kak, doa kak venes diijabah nih, si ibu keluar kota". Terus gw bengong aja baca whatsappnya, sambil habis itu rasanya pengen sujud syukur, hehehe. Entah mengapa gw menganggap ini berkah Ramadhan, pertolongan Allah :). Apalagi kalau inget jadwal sidang gw yang lebih cepet dari waktu yang diajukan. Gw ngajuin sidang tanggal 13 Juni, terus jadinya malah tanggal 8 Juni. Gw udah minta mundurin, eh pembimbing gw gak bisa. Yaudah aja gw pasrah. Hingga akhirnya H-1 sidang, begitu tau ada perubahan di line up dosen penguji gw, rasanya gw malah bersyukur sidangnya dicepetin jadi tgl 8, hihihi. Masih ada kemudahan-kemudahan lain juga, termasuk sidang 2 jam yang ternyata tidak semenakutkan yang gw bayangkan. Nggak semua pertanyaan bisa gw jawab, bahkan ada yang salah jawab. Tapi secara keseluruhan menurut gw, gw bisa menguasai sidang tersebut dengan baik. Revisi tetap ada, tapi bisa diselesaikan, hingga Selasa, 20 Juni yang lalu, gw berhasil menyerahkan ini:
Nggak tau kenapa selesai ngerjain tesis rasanya lebih puas dari ngerjain TA. My masterpiece. Semoga bermanfaat. Semoga jadi amal jariyah. Amiiin

Ngomong-ngomong soal revisi, ada satu pelajaran penting yang gw dapet banget dari proses mengerjakan tesis ini. Gw nggak inget pernah mengerjakan sesuatu yang digempur sama kritik dan revisi sebanyak ketika mengerjakan tesis. Ada saat-saat dimana gw merasa "duh kok gw stupid banget yaa". Ada juga suatu titik dimana gw merasa kayaknya yang gw tulis udah bener semua, tapi teteep ajaa ada kurangnya. Hahaha. Gw bukan orang yang pay more attention to detail, apalagi perfeksionis, Tapi proses mengerjakan tesis ini nampaknya berhasil meningkatkan standar ketelitian dan kesempurnaan pekerjaan gw. Sebenernya waktu dijalanin rasanya lebih banyak kesel dan capeknya, tapi sekarang gw bisa paham kalau itu semua adalah konsekuensi dari pilihan gw untuk sekolah lagi. Atas nama cita-cita dan hasrat mengembangkan diri, dua tahun lalu gw memutuskan untuk kembali ke sekolah, dan semua rasa lelah, pusing, kesal yang dirasakan selama prosesnya, sebenarnya cuma tanda kalau gw sedang berkembang. Jadi mustinya gw bersyukuuuur :)

Beberapa orang pernah bilang kalau S1 di ITB itu lebih susah dari S2nya. Buat gw nggak seperti itu. Kalau buat gw, S2 di ITB lebih banyak kasih pelajaran. Entah efek gwnya yang lebih dewasa dalam menjalani kuliah ini atau emang prosesnya yang sulit. Resign kerja dan masuk sekolah lagi dengan semua ketidakpastian masa depan, mungkin bukan keputusan yang bisa dipahami semua orang. Di tengah perjalanan gw menyelesaikan sekolah ini pun gw sempat kepikiran “gw ngapain sih sekolah lagi?”, tapi terus gw inget lirik lagu Kunto Aji “Ingatlah mimpimu, yang kau kejar dulu, jangan layu, jangan kau ragu-ragu sekarang” (Pengingat - Kunto Aji). Insya Allah, I am on the right track :). 

Gw termasuk orang yang percaya bahwa setiap kejadian dalam skenario hidup manusia itu bersifat unik, spesifik, disesuaikan dengan “desain” orang tersebut. Makanya gw nggak percaya ada orang yang hidupnya 100% sempurna, yang ada orang yang pintar menyembunyikan kesedihan atau orang yang jago bersyukur. Dan dengan segala desain yang Allah tetapkan pada diri gw, gw merasa mengerjakan tesis adalah ujian yang menantang. Jutaan orang udah ambil kuliah master. Ribuan orang ambil master di ITB. Sebanyak itu pula orang-orang sudah mengerjakan dan menyelesaikan tesis. Harusnya menyelesaikan ini semua tidak jadi terlalu istimewa ya? Tapi bagi gw, bisa menyelesaikan ini semua sesuai target adalah sebuah prestasi tersendiri. Rasanya pengen nepuk-nepuk bahu sendiri lalu bilang “goodjob Allia!”. Gw banyak belajar dari seluruh proses S2 dan mengerjakan tesis ini. Bukan cuma soal keilmuan yang berkaitan Life Cycle Assessment (topik tesis gw), tapi jauh lebih dari itu. Untuk siapapun di luar sana yang sedang mengerjakan tugas akhir, gw ingin sharing tentang refleksi yang gw dapat dari keseluruhan proses ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil. Ada tiga hal yang gw pelajari:

  1. Apapun obstacle yang gw temui, boleh bikin gw lelah dan istirahat, tapi gw nggak boleh berhenti. Karena berhenti adalah saat tugas sudah selesai, bukan saat tugas ini buntu atau kepala pusing. Silahkan istirahat, tapi jangan kelamaan karena pekerjaan ini juga tidak akan “selesai dengan sendirinya”. Keep moving forward, Insya Allah ada jalan J
  2. Tugas akhir itu selalu tentang perjuangan mengalahkan diri sendiri. Nggak usah peduli dengan pekerjaan orang lain. Nggak usah terganggu dengan pencapaian yang lain. Karena menurut gw dalam menyelesaikan tugas akhir, yang harus dikalahkan adalah ego diri sendiri. Malas, takut, khawatir, ragu-ragu, nah itu adalah musuh utama yang memperlambat speed kerja kita. Takut ketemu dosen pembimbing? Gw juga ngalamin bangeeet. Deg-degan nggak jelas tiap mau bimbingan. Takut yang udah dikerjain nggak disetujuin. Takut ganti judul. Pokoknya takut segala rupa. Tapi masalahnya ya gw musti bimbingan. Keadaan bisa makin parah kalau gw nggak bimbingan dan gw tidak akan menghasilkan progres apapun kalau nggak bimbingan. Jadi sekarang tinggal soal keberanian menghadapi apapun yang harus terjadi. Kalau harus dimarahin yaudah telen aja :D. Percayalah dosen-dosen itu sedikitpun tidak punya niat jahat, mungkin mereka cuma mau mengajarkan mahasiswanya apa yang disebut dengan tough love, hehehe. Dan ternyata setelah sekian kali bimbingan, gw jadi makin yakin kalau ketakutan itu hanya ada di pikiran sendiri aja, hahaha. Kalau kata ceramahnya Aa Gym "jangan suka mendramatisir masalah, jadi nelangsa karena pikiran yang dibuat sendiri". Hahaa waktu pertama kali denger ceramah itu rasanya nampol banget :D. 
  3. Nggak semua hal bisa kita kontrol. Jadi untuk hal-hal yang diluar kekuasaan kita, sudahlah daripada pusing, percaya ajaaa. Percaya pada diri sendiri, percaya pada pihak-pihak yang membantu, percaya pada dosen pembimbing, percaya pada proses yang dilalui dan lebih dari itu semua, percaya sama pertolongan Tuhan :)

Hmm..tapi gw sadar sih, bisa nulis tiga point diatas juga karena sudah menyelesaikan ini semua. Waktu ditengah proses juga rasanya up and down. Bersyukur banget punya banyak teman baik yang mau dicurhatin kalau lagi lelah J.

Agustus 2015, gw memulai semua konsekuensi yang harus gw tanggung dari keputusan untuk sekolah lagi. Insya Allah Juli 2017, bab “Allia ambil S2” akan tamat, dan berganti dengan cerita baru lainnya. Bukankah setelah selesai satu urusan kita harus bersungguh-sungguh untuk urusan yang lain? Minta doanya yaaa. Semoga ilmu ini berkah, semoga jadi jalan dakwah, jadi jalan rezeki (jalan jodoh juga termasuk didalamnya :p), semoga jadi jalan untuk bisa menjadi khalifah yang lebih baik di muka bumi. Ammmiinn.

Ohiyaaa, ibarat pemenang Grammy Award, gw ingin bilang terimakasih untuk semua pihak yang udah membantu gw selama 2 tahun ini. Nggak mungkin banget bisa menyelesaikan ini semua sendirian. Mustahil. Gw akan selalu ingat semua proses dan kebaikan orang-orang, supaya gw sadar untuk tidak boleh tinggi hati. Please, untuk siapapun di sekitar gw, kalau suatu hari merasa gw malah jadi sombong karena udah beres S2, Anda dipersilahkan jedotin kepala saya ke tembok, biar saya sadar lagi.

Terimakasih sudah berkenan membaca. Maafin kalau redaksionalnya nggak bagus, antar paragraf nggak koheren. Ini bener-bener tulisan spontan, ngeluarin isi hati dan isi kepala J

It’s a wrap baby, it's a wrap!!


Salam,

Venessa Allia