Kamis, 03 Agustus 2017

Dear Zindhagi. Dear Life.

Genius is not someone who has all the answer, but someone who has patience for all the answers.


Kalimat diatas adalah potongan kalimat dari film India yang baru saya tonton kemarin. Judulnya Dear Zindhagi. Aaand I love this movie!!! Soalnya banyak dialog baguuuus, banyak memberikan pemahaman baik. Zindhagi sendiri dalam Bahasa India artinya kehidupan, dan sesuai judulnya film ini banyak memberikan pemahaman tentang berbagai hal yang terjadi dalam hidup seseorang. Tentunya dalam format film yang tidak membosankan, pengambilan gambar yang bagus, aktor dan aktris yang sangat baik (Sakh Rukh Khan, no wonder), lagu-lagu yang enakeun dan kawin banget sama cerita filmnya. Serta yang tidak kalah penting adalah film ini termasuk film India yang nggak banyak jogednya. Hihi.

Film yang ditayangkan tahun 2016 ini memiliki cerita yang cukup sederhana, dan menurut saya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Maksud saya, siapapun termasuk diri saya sendiri dan orang-orang terdekat bisa saja mengalami hal yang serupa atau hampir sama.  Seorang wanita bernama Kaira (diperankan oleh Alia Bhatt), berprofesi sebagai sinematografer, suatu hari mengalami suatu kenyataan yang membuat dirinya sangat kecewa dan depresi hingga sulit tidur, lalu datanglah dia ke seorang terapis (psikolog), dan seiring berjalannya waktu mengalirlah banyak cerita-cerita yang memberikan pemahaman-pemahaman baru bagi Kaira (dan tentu saja bagi saya yang menonton filmnya). Banyak pesan yang disampaikan tanpa menggurui, tapi mengajak untuk merasakan dan memahami. Sederhana, tapi bernilai.

Kenapa saya nonton film ini?
Sejujurnya saya menonton film ini sebagai salah satu exercise dari sebuah program sekolah pra nikah online yang sedang saya ikuti. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu tentang film Dear Zindhagi ini, hingga minggu kemarin menonton film ini menjadi salah satu PR yang diberikan kepada kita sebagai peserta. Dan setelah menonton film ini, saya paham mengapa menonton film ini dijadikan PR dalam sebuah program sekolah pra nikah. Karena film ini juga mengajarkan banyak hal yang penting untuk seseorang pahami sebagai bekal membangun hubungan dengan pasangan dan bekal menjadi orang tua suatu hari nanti. Karena, bocoran sedikit, karakter dan sudut pandang yang dimiliki oleh Kaira saat dia dewasa banyak diakibatkan oleh pola asuh dan pengalaman yang dia dapat dari orang tuanya ketika dia kecil. 

Selesai nonton film ini, saya langsung menghubungkan banyak hal yang diceritakan di film ini ke kehidupan saya sendiri. Semakin dewasa (ciee yang udah dewasa), saya pun semakin sadar bahwa apa adanya saya sekarang, sedikit banyak dipengaruhi apa yang diajarkan orang tua saya sewaktu saya kecil. Saat ini saya merasa menjadi pribadi yang cukup mandiri, karena kalau diinget-inget lagi, kemandirian merupakan nilai penting yang orang tua saya ajarkan sedari saya kecil. Inget banget waktu kecil udah disuruh ke dokter gigi sendiri, padahal waktu itu umurnya baru sekitar 7 tahun. Papa juga sering bilang kalau papa sama mama nggak akan hidup selama-lamanya jadi harus bisa mandiri. Alhamdulillah, saya pun merasa menjadi orang yang suka belajar karena didikan orang tua yang membuat saya percaya bahwa segala sesuatu itu ada ilmunya dan bisa dipelajari. Kalau kata bokap mah, sesimple ngegulung kabel itu ada ilmunya, harus dipelajari, nggak bisa instan atau langsung bisa. Ikut sekolah pra nikah juga motifnya karena ingin belajar dan mempersiapkan diri. Anyway, sepengamatan saya, beberapa orang masih melihat sekolah pranikah (SPN) sebagai sesuatu yang tabu. Kayak, emm perlu ya ikut SPN?  Bahkan diri saya sendiri sejujurnya pernah punya prasangka negatif (astagfirullahaladzim) bahwa menjamurnya sekolah pra nikah yang ada saat ini adalah bagian dari bisnis pernikahan yang sekarang makin ramai. Astagfirullah, kadang-kadang pikiran manusia emang bisa jahat banget ya, jadi merasa bersalah sempet mikir kayak gitu L. Yang bisa saya bilang adalah menurut saya tidak ada kewajiban sih ikut SPN, ikut atau tidak ikut adalah pilihan yang mengandung konsekuensi. Saya percaya untuk bisa membangun rumah tangga yang orientasinya bahagia dunia akhirat dan menjadi berkah bagi umat (berat yaaa cuuuy) itu perlu ilmu dan pemahaman baik. Maka daripada itu saya memilih untuk belajar melalui SPN ini, meski saya sadar tidak ada jaminan atau data valid yang menunjukan bahwa yang udah ikut SPN, rumah tangganya bakal lebih sakinah dibandingkan yang belum ikutan. It's not that simple :)
Beberapa minggu lalu juga sempet ngobrol sama my circle of friends tentang investasi menjelang pernikahan. Waktu itu ceritanya temen saya cerita biaya pre-marital check up yang mahaaal. At the end, kita (atau saya sih lebih tepatnya) berkesimpulan bahwa ngeluarin duit buat pre-marital check up lebih berguna daripada ngeluarin duit untuk gimmick pernikahan lainnya, hahaha. Berinvestasi untuk mempelajari ilmu pernikahan yang berkah dunia akhirat juga salah satu hal yang menurut saya sangat layak J (sebelum teman-teman berasumsi macam-macam, saya kasih tau aja kalau saya sendiri belum tau bakal nikah sama siapa :p)

Aaaanywaaay. Ini topiknya jadi melebar banget yaa, hahaha. Jadi tadi lagi bahas apa? Ohiya Dear Zindhagi. Ada satu hal lagi pelajaran penting yang saya dapat dari film ini. Mudah-mudahan nggak jadi spoiler. Film ini menambah lagi keyakinan saya bahwa “well, sebagaimana diri sendiri yang jauh dari kesempurnaan, maka saya pun tidak bisa menuntut orang lain untuk selalu bersikap benar tanpa salah.”. Tanpa bermaksud merusak semangat self improvement, tapi saya sadar bahwa diri saya tidak sempurna, sehingga tidak adil kalau saya menuntut kesempurnaan dari orang lain.  Belakangan saya jadi sering mikir, kalau lagi misal (astagfirullah) kesel sama nyokap, saya langsung bilang sama diri sendiri “come on Allia, kamu juga belum bisa menjadi anak berbakti yang sempurna membahagiakan orang tua, jadi kenapa harus kesel. Kamu bisa salah. Mama bisa salah. Semua manusia bisa salah”. Menerima ketidaksempurnaan (dengan tetap berusaha menjadi the best version of yourself) kayaknya cara hidup yang efektif bikin bahagia deh. Kalau kata ustad Nouman Ali Khan “So, what if this life is not perfect? It’s not Jannah”. Pertama kali baca statement beliau ini rasanya pengen teriak “myeeee mauuu ke surgaaa”

So, Dear Zindhagi masuk deh ke top 3 film India favorit saya. Peringkat pertama masih 3 Idiots (judulnya boleh ‘idiots’, filmnya sih menurut saya jenius), terus peringkat kedua Kuch Kuch Hota Hai (bahkan film ini kadang masih saya tonton kalau ada di tv), peringkat ketiga boleh deh Dear Zindhagi, menggeser Kabhi Khusie Kabhie Gham :D.

Ada benang merah antara hobi saya baca buku Tere Liye, ikutan SIAware dan suka film Dear Zindhagi. Yaps, pada intinya saya selalu suka segala media yang bisa memberikan pamahaman baik. Dear Zindhagi, terimakasih sudah membuat saya sedikit lebih mengerti J.



Terimakasih juga untuk kalian yang sudah membaca. Correct me if I’m wrong yaa J. Soalnya saya sering sok tahu juga, dan ilmu agama saya yang masih cetek, jadi open discussion untuk semua opini ini J

Salam,
Venessa Allia 

Kamis, 22 Juni 2017

It's A Wrap!

Haaiiii!! 
Udah 3 hari laptop ini mati setelah sebelumnya hampir setiap hari dinyalain. Hari ini buka laptop bukan untuk ngerjain tesis, tapi untuk ngasih tau ke dunia kalau:

TESIS GW SUDAH SELESAI! SEBENTAR LAGI WISUDA!!

Sekolah lagi adalah bab tersendiri dalam hidup gw, dan ngerjain tesis adalah subbab terpanjang dalam bab ini. Beneran deh, kalau cuma kuliah-ujian-kuliah-ujian doang, gw rela kuliah sampe post doc sekalian, tapi ngerjain tugas akhirnya itu yang pusing dan nggak santai. Tapi alhamdulillah bisa selesai juga. Teman-teman, percayalah berkah Ramadhan itu nyata adanya. Gw bener-bener ngerasain, hehehe. Awalnya, ragu-ragu untuk maju sidang periode ini, soalnya deadline-nya ketat banget dan gw merasa tidak ada energi untuk ngejar deadline tersebut. Terus singkat cerita, saat ketemu dosen pembimbing untuk izin nggak jadi maju sidang, eeeh dia malah nggak ngizinin :D. Malah dikasih motivasi untuk maju sidang aja, kata beliau "saya jarang-jarang nih kayak begini, biasanya anaknya mau maju sidang, tapi saya nggak kasih. Kalau kamu sayang nggak maju sekarang karena selama ini progresnya cepet. Udah maju aja, biar nanti pas lebaran kalau ditanya "kapan sidang?", bisa jawab "udah sidang". Ahahaha bapak nggak tau aja, pertanyaan "kapan" paling malesin saat lebaran bagi saya adalah bukan "kapan sidang", tapi "kapan" yang lainnya :p. Yah, singkat cerita obrolan dengan beliau waktu itu efektif meningkatkan semangat gw untuk "lari sedikit lagi karena garis finish udah kelihatan :)" Ah thanks a lot pak!.

Keajaiban Ramadhan lainnya terjadi di H-1 sebelum sidang, dimana dosen penguji yang gw khawatirkan dari setelah Seminar 1 (fyi, gw merasa mental breakdown setelah Seminar 1 karena merasa dibantai habis, hahaha), beliau tidak bisa jadi penguji gw karena harus keluar kota. Syalalalala. Beneran ajaib banget rasanya, karena H-2 gw masih ketemu beliau, gw bilang ke beliau kalau berkas sidang gw udah gw taro di ruangannya. Dia sudah mengiyakan. Gw sudah pasrah. Tiba-tiba besok paginya, temen gw whatsapp ngasih tau kalau beliau ke luar kota. Dengan polosnya dia bilang "Kak, doa kak venes diijabah nih, si ibu keluar kota". Terus gw bengong aja baca whatsappnya, sambil habis itu rasanya pengen sujud syukur, hehehe. Entah mengapa gw menganggap ini berkah Ramadhan, pertolongan Allah :). Apalagi kalau inget jadwal sidang gw yang lebih cepet dari waktu yang diajukan. Gw ngajuin sidang tanggal 13 Juni, terus jadinya malah tanggal 8 Juni. Gw udah minta mundurin, eh pembimbing gw gak bisa. Yaudah aja gw pasrah. Hingga akhirnya H-1 sidang, begitu tau ada perubahan di line up dosen penguji gw, rasanya gw malah bersyukur sidangnya dicepetin jadi tgl 8, hihihi. Masih ada kemudahan-kemudahan lain juga, termasuk sidang 2 jam yang ternyata tidak semenakutkan yang gw bayangkan. Nggak semua pertanyaan bisa gw jawab, bahkan ada yang salah jawab. Tapi secara keseluruhan menurut gw, gw bisa menguasai sidang tersebut dengan baik. Revisi tetap ada, tapi bisa diselesaikan, hingga Selasa, 20 Juni yang lalu, gw berhasil menyerahkan ini:
Nggak tau kenapa selesai ngerjain tesis rasanya lebih puas dari ngerjain TA. My masterpiece. Semoga bermanfaat. Semoga jadi amal jariyah. Amiiin

Ngomong-ngomong soal revisi, ada satu pelajaran penting yang gw dapet banget dari proses mengerjakan tesis ini. Gw nggak inget pernah mengerjakan sesuatu yang digempur sama kritik dan revisi sebanyak ketika mengerjakan tesis. Ada saat-saat dimana gw merasa "duh kok gw stupid banget yaa". Ada juga suatu titik dimana gw merasa kayaknya yang gw tulis udah bener semua, tapi teteep ajaa ada kurangnya. Hahaha. Gw bukan orang yang pay more attention to detail, apalagi perfeksionis, Tapi proses mengerjakan tesis ini nampaknya berhasil meningkatkan standar ketelitian dan kesempurnaan pekerjaan gw. Sebenernya waktu dijalanin rasanya lebih banyak kesel dan capeknya, tapi sekarang gw bisa paham kalau itu semua adalah konsekuensi dari pilihan gw untuk sekolah lagi. Atas nama cita-cita dan hasrat mengembangkan diri, dua tahun lalu gw memutuskan untuk kembali ke sekolah, dan semua rasa lelah, pusing, kesal yang dirasakan selama prosesnya, sebenarnya cuma tanda kalau gw sedang berkembang. Jadi mustinya gw bersyukuuuur :)

Beberapa orang pernah bilang kalau S1 di ITB itu lebih susah dari S2nya. Buat gw nggak seperti itu. Kalau buat gw, S2 di ITB lebih banyak kasih pelajaran. Entah efek gwnya yang lebih dewasa dalam menjalani kuliah ini atau emang prosesnya yang sulit. Resign kerja dan masuk sekolah lagi dengan semua ketidakpastian masa depan, mungkin bukan keputusan yang bisa dipahami semua orang. Di tengah perjalanan gw menyelesaikan sekolah ini pun gw sempat kepikiran “gw ngapain sih sekolah lagi?”, tapi terus gw inget lirik lagu Kunto Aji “Ingatlah mimpimu, yang kau kejar dulu, jangan layu, jangan kau ragu-ragu sekarang” (Pengingat - Kunto Aji). Insya Allah, I am on the right track :). 

Gw termasuk orang yang percaya bahwa setiap kejadian dalam skenario hidup manusia itu bersifat unik, spesifik, disesuaikan dengan “desain” orang tersebut. Makanya gw nggak percaya ada orang yang hidupnya 100% sempurna, yang ada orang yang pintar menyembunyikan kesedihan atau orang yang jago bersyukur. Dan dengan segala desain yang Allah tetapkan pada diri gw, gw merasa mengerjakan tesis adalah ujian yang menantang. Jutaan orang udah ambil kuliah master. Ribuan orang ambil master di ITB. Sebanyak itu pula orang-orang sudah mengerjakan dan menyelesaikan tesis. Harusnya menyelesaikan ini semua tidak jadi terlalu istimewa ya? Tapi bagi gw, bisa menyelesaikan ini semua sesuai target adalah sebuah prestasi tersendiri. Rasanya pengen nepuk-nepuk bahu sendiri lalu bilang “goodjob Allia!”. Gw banyak belajar dari seluruh proses S2 dan mengerjakan tesis ini. Bukan cuma soal keilmuan yang berkaitan Life Cycle Assessment (topik tesis gw), tapi jauh lebih dari itu. Untuk siapapun di luar sana yang sedang mengerjakan tugas akhir, gw ingin sharing tentang refleksi yang gw dapat dari keseluruhan proses ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil. Ada tiga hal yang gw pelajari:

  1. Apapun obstacle yang gw temui, boleh bikin gw lelah dan istirahat, tapi gw nggak boleh berhenti. Karena berhenti adalah saat tugas sudah selesai, bukan saat tugas ini buntu atau kepala pusing. Silahkan istirahat, tapi jangan kelamaan karena pekerjaan ini juga tidak akan “selesai dengan sendirinya”. Keep moving forward, Insya Allah ada jalan J
  2. Tugas akhir itu selalu tentang perjuangan mengalahkan diri sendiri. Nggak usah peduli dengan pekerjaan orang lain. Nggak usah terganggu dengan pencapaian yang lain. Karena menurut gw dalam menyelesaikan tugas akhir, yang harus dikalahkan adalah ego diri sendiri. Malas, takut, khawatir, ragu-ragu, nah itu adalah musuh utama yang memperlambat speed kerja kita. Takut ketemu dosen pembimbing? Gw juga ngalamin bangeeet. Deg-degan nggak jelas tiap mau bimbingan. Takut yang udah dikerjain nggak disetujuin. Takut ganti judul. Pokoknya takut segala rupa. Tapi masalahnya ya gw musti bimbingan. Keadaan bisa makin parah kalau gw nggak bimbingan dan gw tidak akan menghasilkan progres apapun kalau nggak bimbingan. Jadi sekarang tinggal soal keberanian menghadapi apapun yang harus terjadi. Kalau harus dimarahin yaudah telen aja :D. Percayalah dosen-dosen itu sedikitpun tidak punya niat jahat, mungkin mereka cuma mau mengajarkan mahasiswanya apa yang disebut dengan tough love, hehehe. Dan ternyata setelah sekian kali bimbingan, gw jadi makin yakin kalau ketakutan itu hanya ada di pikiran sendiri aja, hahaha. Kalau kata ceramahnya Aa Gym "jangan suka mendramatisir masalah, jadi nelangsa karena pikiran yang dibuat sendiri". Hahaa waktu pertama kali denger ceramah itu rasanya nampol banget :D. 
  3. Nggak semua hal bisa kita kontrol. Jadi untuk hal-hal yang diluar kekuasaan kita, sudahlah daripada pusing, percaya ajaaa. Percaya pada diri sendiri, percaya pada pihak-pihak yang membantu, percaya pada dosen pembimbing, percaya pada proses yang dilalui dan lebih dari itu semua, percaya sama pertolongan Tuhan :)

Hmm..tapi gw sadar sih, bisa nulis tiga point diatas juga karena sudah menyelesaikan ini semua. Waktu ditengah proses juga rasanya up and down. Bersyukur banget punya banyak teman baik yang mau dicurhatin kalau lagi lelah J.

Agustus 2015, gw memulai semua konsekuensi yang harus gw tanggung dari keputusan untuk sekolah lagi. Insya Allah Juli 2017, bab “Allia ambil S2” akan tamat, dan berganti dengan cerita baru lainnya. Bukankah setelah selesai satu urusan kita harus bersungguh-sungguh untuk urusan yang lain? Minta doanya yaaa. Semoga ilmu ini berkah, semoga jadi jalan dakwah, jadi jalan rezeki (jalan jodoh juga termasuk didalamnya :p), semoga jadi jalan untuk bisa menjadi khalifah yang lebih baik di muka bumi. Ammmiinn.

Ohiyaaa, ibarat pemenang Grammy Award, gw ingin bilang terimakasih untuk semua pihak yang udah membantu gw selama 2 tahun ini. Nggak mungkin banget bisa menyelesaikan ini semua sendirian. Mustahil. Gw akan selalu ingat semua proses dan kebaikan orang-orang, supaya gw sadar untuk tidak boleh tinggi hati. Please, untuk siapapun di sekitar gw, kalau suatu hari merasa gw malah jadi sombong karena udah beres S2, Anda dipersilahkan jedotin kepala saya ke tembok, biar saya sadar lagi.

Terimakasih sudah berkenan membaca. Maafin kalau redaksionalnya nggak bagus, antar paragraf nggak koheren. Ini bener-bener tulisan spontan, ngeluarin isi hati dan isi kepala J

It’s a wrap baby, it's a wrap!!


Salam,

Venessa Allia

Minggu, 26 Maret 2017

Hati

Ada yang pernah nonton serial “Dunia Tanpa Koma” (DTK) di RCTI sekitar 10-11 tahun yang lalu?
Serial ini bertemakan dunia jurnalistik, lika-liku wartawan yang meliput berita-berita kriminal, politik dan isu kontroversial lainnya. Jarang-jarang ada sinetron di Indonesia yang topiknya kayak gini. Udah gitu pemainnya papan atas semua: Dian Sastro, Tora Sudiro, Fauzi Baadila, Wulan Guritno, dan banyak lagi. Sutradaranya Maruli Ara lagi. Saya inget banget dulu saya rutin nonton sinetron ini, bener-bener ngikutin. Sayang sinetronnya cuma tayang 14 episode, dan nggak dilanjutkan lagi. Ide kasus kriminalnya memang tidak semenarik CSI, masih ada bagian-bagian yang agak janggal aja gitu. Tapi saya tetep suka. Anggap aja itu sebagai ketidaksempurnaan yang sempurna (apa sih Allia :p)

Nah, beberapa jam terakhir, saya habiskan untuk menonton beberapa eposide DTK di HOOQ. Nggak nyangka juga sih bisa nonton film ini lagi, dan ternyata ada di HOOQ. Begitu ngeliat ada DTK, saya langsung klik, pilih episode paling terakhir, terus lanjut nonton episode lainnya, random klik aja pilih episode J.

sumber: http://www.wikiwand.com/ms/Dunia_Tanpa_Koma

Terus apa kaitannya serial DTK dan judul tulisan saya hari ini? Kaitannya adalah dari semua konflik yang ada di serial tersebut, saya bukan mau menyoroti dunia wartawan yang katanya tanpa titik, tanpa koma, alias berjalan terus, atau cara-cara polisi meringkus target yang diceritakan dalam serial ini. Tapi saya pengen bahas masalah hati yang dialami 2 pemain utama di film ini: Raya (Dian Sastro), Bram (Fauzi Baadila) dan Bayu (Tora Sudiro). Beneran deh ya, manusia itu mau sepinter, setangguh, secantik dan setampan apapun, bisa menjadi mendadak bego kalau udah urusan soal hati.

Hati. Perasaan. Disentuh dikit, bisa bikin meleleh layaknya lelehan adonan kue cubit yang dipanggang setengah mateng.   Hati. Perasaan. Disakitin dikit, kelar urusan.

Jadi ceritanya, pemeran utama wanita di sinetron ini bernama Raya yang diperankan oleh salah satu artis favorit saya: Dian Sastro. Raya adalah reporter muda, terhitung baru, tapi cerdas, gigih dan sangat passionate dengan pekerjaannya. Raya ditaksir oleh 2 orang pria, yang pertama adalah Bayu (Tora Sudiro), atasannya di majalah Target tempat Raya bekerja, dan yang kedua adalah Bram (Fauzi Baadila), wartawan senior di harian yang jadi kompetitor majalah Target. Dalam sinetron ini diceritakan Bayu adalah tipe cowok baik, pintar, kalem, sangat mengayomi, sopan, bertanggung jawab, pokoknya bikin adem deh. Sementara Bram adalah cowok tampan, seru, womanizer, jago ngomong (he is so damn good), bandel, dengan reputasi playboy yang melekat. Kasus 2 cowok ngeributin 1 cewek kan biasa banget ya di dunia layar kaca dan dunia nyata. Menurut kamu Raya bakal pilih mana?
Menurut gw, kalau berdasarkan logika wanita pada umumnya, harusnya Raya pilih Bayu nggak sih? Males banget kan punya hubungan sama cowok yang emang sih jago bikin meleleh, tapi obral omongan ke banyak cewek. Nah tapi dalam sinetron ini diceritakan pada akhirnya Raya lebih memilih Bram, dan tidak menghiraukan semua peringatan yang sampai ke telinga dia terkait reputasi Bram yang nggak bisa melekat hanya dengan satu cewek. Alasannya sederhana, karena Raya ikutin kata hati.

Eh bukannya tadi saya bilang kalau Raya itu cewek pintar ya? Iyaa tapi seperti yang saya bilang juga sebelumnya, kalau udah urusan hati, maka siap-siap aja jadi bodoh seketika :p

Soal hati juga yang bikin saya nggak paham sama apa yang ada di pikiran tipe cowok seperti Bram? Kalau udah sama satu cewek, kenapa masih tebar jala di hati cewek-cewek lain sih? Yaa mungkin maksudnya bukan mau sengaja tebar pesona, mungkin cuma mau bersikap baik aja. Tapi kalau kelewat baik terus hati ceweknya jadi ‘kesetrum’ kan bahayaaa. Dear boys, kalian pernah mikir kesana nggak ya? Nggak kepikiran atau nggak peduli?

Terus, dalam sinetron ini juga digambarkan bagaimana Bayu yang perasaannya campur aduk waktu lihat Raya pada akhirnya memilih Bram. Ada dialog antara Bayu dan Raya dimana Bayu kurang lebih bilang “Saya seneng sih kamu udah berhasil menentukan pilihan” (ngomongnya teh bari ngarokok, dan mati lurus kedepan, terus selesai kalimat langsung balik kanan). Ahaha kayaknya saya paham perasaannya :p. Masalah hati juga yang membuat Bayu merasa tidak bisa berada dekat dengan Raya, saat Raya sudah memilih Bram (padahal nggak sekantor juga). Hingga akhirnya Bayu minta ke bos besar untuk di transfer ke biro di Aceh. Tuhkan, sebagaimana yang tadi saya bilang, urusan hati kalau udah sakit sedikit aja, bisa kelar urusan. Urusan kerjaan juga ikutan kena efeknya. Masalah hati 1 orang bisa jadi masalah 1 kantor yang kena efek tidak langsungnya. Luar biasa kan?

Ohiya satu lagi problema hati yang sering bikin kesel. Di episode terakhir diceritakan kalau Raya juga labil sama keputusannya. Dia bingung gitu sama perasaannya sendiri. Waktu malem-malem ada moment dia berduaan sama Bayu di kantor, Raya bertanya kepada Bayu "ada nggak satu hal yang bisa bikin kamu nggak pergi?". Terektekdengjes. Itu kan pertanyaan yang udah nggak perlu ditanya. Nggak perlu ditanya bukan hanya karena sudah jelas jawabannya, tapi juga karena buat apa juga ditanyain. Dalam tulisannya kepada Nella, Raya curhat dan bilang kalau dia merasa ada ruang kosong dalam hatinya (lagi-lagi hati) saat Bayu memilih menjauh. Tapi saat kesempatannya ada, dia pun nggak bisa bilang apa-apa. Itulah hati, masalah sederhana jadi tidak sederhana. Ternyata labil itu bukan middle name milik saya sendiri. Karena labil adalah middle name semua wanita di dunia, hahaha (#nyaritemen) 

Sebenernya apa sih tujuan saya nulis begini? Saya panjang-panjang cerita pada akhirnya cuma mau bilang, hati-hati sama urusan hati. Pinter-pinter jaga hati, baik hati sendiri sama hati orang lain. Dan banyak-banyak berdoa minta tolong sama Sang Pemilik Hati supaya hati ini dibiarkan hidup dalam petunjuk-Nya. Jangan sampai jatuh ditempat yang salah. Jangan juga sampai nyakitin hati orang lain J

Kata Aa Gym juga kan jagalah hati, jadi jangan sampai mati deh tuh hati. Manusia kan dikasih sama Tuhan 2 perangkat penting: hati dan logika. Jadi seharunya digunakan bersamaan secara seimbang dong ya.

Ngomong-ngomong soal hati, hati saya apa kabar ya? If you talk about liver, hati saya Alhamdulillah masih aktif menjadi penawar racun yang masuk melalui berbagai jalur yang menghubungkan tubuh saya dengan lingkungan yang semakin tercemar. Tapi kalau kamu bertanya soal hati dalam konteks yang lainnya, maka jawabannya hati saya sedang mengambang, menunggu jatuh di tempat yang tepat, setelah lelah melaju naik turun dalam roller coaster kisah klasik (duuuh apaa sih Alliaaa) :p

Udahan ah. Mau lanjut nonton DTK satu episode lagi. Habis ini garap tesis deh (should I say Amiin? :p)

Stay positive yaa.

Salam,

Venessa Allia

Selasa, 21 Maret 2017

Kebiasaan berganti, mungkinkah blog ini harus pergi?


Hi guys!

Setuju gak kalau blog ini gw hapus aja?
Gw udah memikirkan hal ini dari sebulan yang lalu. Blog yang dirintis dari 2010 ini, sudah 7 tahun umurnya, dan sudah tidak diurus. Udah nggak ada yang baca juga kayaknya (barusan gw lihat statistiknya juga rendaaah banget). Nggak aneh sih, gw udah terlalu jarang nulis. Bukan karena nggak punya waktu, gw nggak sesibuk itu juga. Emang gwnya aja yang tidak menyediakan waktu untuk nulis. Kenapa yaa, interest buat nulis di blog ini udah rendah banget. Terus belakangan keasikan main Instagram. Sebenernya sedih sih kalau bener-bener harus deactivate blog ini, banyak rekaman kehidupan gw tulis disini. Mungkin di masa depan anak cucu gw bisa baca kehidupan neneknya saat kuliah dan bekerja dulu. Gw juga kadang-kadang iseng baca tulisan-tulisan lama, terus jadi inget lagi emosi-emosi yang gw rasakan saat nulis itu.
Bener sih kalau ada yang bilang menulis itu membuat jiwa manusia abadi.
Beberapa tahun lalu kan gw punya cita-cita nulis buku, dan saat ini keinginan itu entah bagaimana sudah jatuh ke prioritas nomor sekian. Yaaah kecuali kalau tesis itu bisa dianggap sebagai buku, berarti saat ini gw sedang merealisasikan salah satu mimpi gw sih, haha

Terus, ini gw buka blogspot sambil buka Facebook. Ngepoin orang.
Facebook udah nggak seseru dulu ya. Satu-satunya alasan gw masih pakai FB adalah untuk tetap menjaga kehadian di dunia media sosial aja, sekedar untuk tahu kabar orang-orang, ngintip kehidupan orang lain, syukur-syukur dapat informasi bermanfaat. Yah gw masih positive thinking ini akun FB masih ada manfaatnya jadi nggak usah deactivate dululah. Waktu FB masih seru, gw rajin nulis status, post foto, komen di wall orang. Sekarang mah jadi silent reader aja udah bagus. Kadar fun-nya FB saat ini udah jauuuh banget berkurang. Apalagi sejak Pilpres 2014 tuh, panas2 nggak jelas gitu deh facebook, dan trend seperti itu menurut gw bergulir hingga saat ini, cuma ganti-ganti topik aja.
Gw udah paling pusing kalau orang-orang udah pada ribut ngomong ABCDEFGHIJ di FB. Kenapa sih orang-orang tuh doyan banget ngomong? Yaaa nggak ada yang salah sih dengan menjadi vokal, mengutarakan pendapat dan sebagainya. Mungkin gwnya juga yang kelewat kalem. Tapi yaa kalau semua orang pada ngomong terus siapa yang dengerin. Oke gw ambil peran untuk jadi pendengar aja nggak apa-apa ya. Gw biasanya baru ngomong di socmed kalau udah ada sesuatu yang mengusik banget. Hingga saat ini entah kenapa menurut gw, FB itu bukan sarana untuk bicara panjang lebar. Menurut gw sih media untuk mengutarakan pendapat itu lebih tepat di blog. Tapi itu menurut gw loh yaaa.

Duh kenapa jadi ngomongin FB, tadi kan lagi bahas kelanjutan blog ini.
Kalau blog ini gw deactivate, gw tidak janji bakal bikin blog ini. Nulis tuh bener-bener less priority saat ini. Banyak hal yang terjadi dalam hidup gw, up and down, tapi tidak banyak yang ingin gw ceritakan. Kenapa? Nggak ada alasan khusus, cuma tidak ingin memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan, itu aja.

Yaudah deh kalau gitu.
Gw putuskan saja blog ini akan tetap ada, tapi gw tidak tahu kapan bakal nulis lagi.
Blog ini akan tetap ada hingga entah kapan, tapi seperti yang tadi sudah gw sebutkan blogging sudah bukan lagi menjadi prioritas gw saat ini, sehingga bisa jadi blog ini baru ditulis lagi beberapa bulan kemudian, atau malah mungkin tahun depan. Yaaah, tapi since labil is my middle name, jadi mungkin banget sih kalau minggu depan gw udah berubah lagi, hahaha.


Dear venessaliveinvenus, blog kesayangan aku, kamu hibernasi dulu ya, terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini, atas semua cerita yang kamu simpan untuk nanti aku dan siapapun baca kembali. Semoga selalu ada pelajaran baik di setiap halaman :).


Waktu berjalan terus. Manusia datang dan pergi. Kebiasaan berganti. Prioritas berubah. Maka dewasalah. Dewasalah. Dewasalah.


Stay positive ya :)

Salam,
Venessa Allia

Sabtu, 25 Februari 2017

Acceptance


Sedih, kecewa dan segala perasaan negatif lainnya, orang bilang akan sembuh oleh waktu. Katanya kesibukan dan rasa lelah akan menghapus rasa pahit. Setelah beberapa hal terjadi, satu hal yang saya cermati, rasa pahit itu bukan hilang karena waktu. Waktu hanyalah media yang bisa diisi dengan apapun juga. Kepahitan juga bukan hal yang harus dilawan atau diingkari dengan kesibukan. Pengobatan terbaik hanya satu, menerima.

Penerimaan adalah cara terbaik mengobati semua pengalaman pahit. Paham bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan adalah kunci penerimaan. Penerimaan itu bisa mudah bisa pula sulit, tapi bukan tergantung dari hal apa yang dialami, melainkan dengan seberapa yakin manusia dengan Tuhan yang menciptakannya
.
Sibuk dengan segala urusan dunia membuat manusia sering lupa, bukan dialah yang berkuasa atas hidupnya. Ada Tuhan yang mengizinkan semua hal terjadi. Segala kenyataan terjadi atas izin-Nya. Maka apa yang bisa dilakukan ketika kenyataan pahit yang terjadi? Terima, terima, terima. Menerima adalah cara paling ampuh untuk menyembuhkan semua rasa sakit. Karena menerima adalah bentuk penghambaan makhluk kepada Tuhannya yang Maha Berkuasa. Menerima sama juga berarti mempercayakan diri ini kepada pemiliknya.

Sekarang saya baru paham, kenapa ada yang bilang penerimaan (acceptance) adalah level tertinggi dari segala respon manusia terhadap sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Terima dan percaya, itulah awal dari sebuah usaha dan doa terbaik. 

Salam,
Venessa Allia