Minggu, 11 November 2018

Tribute to a Cheerful and Brilliant Friend.




Ada satu dialog dalam film The Last Samurai yang saya ingat hingga sekarang, padahal nontonnya udah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dialog ketika Emperor Meiji bertanya kepada Nathan Algren tentang bagaimana Katsumoto wafat.

Emperor Meiji: Tell me how he died.
Nathan Algren: I will tell you how he lived.

---

Setiap hari ada manusia lahir, ada manusia mati.

Kalau yang lahir adalah anak dari kerabat atau sahabat sendiri, kebahagiaan yang hadir pasti terasa berlipat ganda. Demikian pula jika yang wafat adalah kerabat atau sahabat sendiri, duka yang ada pun tidak biasa.

Yeah, seperti yang kita semua tahu, 29 Oktober 2018 terjadi kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Kecelakaan itu tidak akan betul-betul membekas dalam memori saya jika tidak ada orang yang saya kenal menjadi salah satu penumpangnya.

Tapi begitulah memang bunyi takdirnya, satu orang yang saya kenal baik menjadi penumpang dalam pesawat tersebut. Dalam perjalanan dinas bersama dua orang rekan satu timnya. Dua orang tersebut tidak saya kenal secara personal, tapi yaa namanya satu kantor, saya pun tahu mereka berdua. Teman saya ini adalah korban pertama yang teridentifkasi dalam kecelakaan JT 610. Seorang yang baru saya kenal sekitar sembilan bulan karena qadarullah kami satu batch penerimaan calon pegawai negeri sipil di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Cewek yang usianya lebih muda dari saya, tapi otaknya jauh lebih brilian dari saya. Namanya Jannatun Cintya Dewi. Yaampun Jan, pernah nggak kamu berpikir kenapa orang tuamu memberimu nama Janna ?

Ini adalah kali pertama (dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi) saya mengalami pengalaman seperti ini. Seseorang yang biasa makan siang di kantor bareng saya dan teman-teman yang lain, tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat mengalami musibah, menjadi terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Saya coba ketik “Jann” di Google dan salah satu pilihan teratas yang muncul adalah “Jannatun Cintya Dewi”. Teman-teman saya yang nggak kenal Janna sama sekali pun ikut mengucapkan bela sungkawa. Bahkan pejabat selevel Wakil Menteri turut melepas jenazahnya. Yahh.. tapi itulah masalahnya. Janna mungkin tidak akan pernah tahu, karena dia sudah pulang ke rumah yang sebenarnya, dan rumah itu Insya Allah sesuai dengan doa yang tersirat dalam namanya..Jannah, surga. 

Untuk saya pribadi, berada dalam situasi seperti ini terasa bukan hanya sedih (ini sudah pasti), tapi juga aneh dan benar-benar membuat saya berkali-kali menghela napas panjang.
Begitu lemahnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa. Begitu mudahnya Dia merubah kondisi dari ada menjadi tidak ada. Kalau sudah begini, pantas saja Khalifah Umar Bin Khatab mengenakan cincin yang bertuliskan “Kafaa bil Mauti waa ‘Idhan yaa Umar” (cukuplah mati sebagai pengingat untukmu wahai Umar). 

Cukuplah mati sebagai pemberi nasihat, sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini bisa berakhir kapan saja, dan ketika sudah berakhir, maka semua kesempatan itu hilang: kesempatan beramal, kesempatan bertaubat, dan semua kesempatan baik lainnya. Tapi ya gimana dong, udah dari “sananya” kehidupan dibuat seperti ini. Dibuat sementara oleh Yang Maha Kekal. Kalau kata Heiji Hattori dalam komik Detective Conan "Life is limited, that's why it's so precious. Since there's a limit, we try our best to live"


Tapi bagi Muslim yang percaya adanya kehidupan akhirat, mungkin quote ini perlu disempurnakan menjadi..


"Life is limited, that's why it's so precious. Since there's a limit, we try our best to be able to live in the Jannah." Tentunya dengan ridho Allah.  

Kalau saya boleh mengutip perkataan Ustad Adi Hidayat, “Jadikan dunia itu untuk kepentingan akhirat, Insya Allah, Allah akan berkahi kehidupan kita.” Ushikum wa nafsi bitaqwallah. Aslinya ini gue nulis juga sambil deg-degan. Takut cuma bisa nulis doang tapi nggak bisa ngamalin. Huhuhu. Ya Allah, please make it easy for us, don’t make it difficult. Aamiin.


And finally Janna, this is a tribute to you, my cheerful and brilliant friend. Walau kamu tidak akan pernah tahu kalau saya pernah menulis ini di halaman blog ini.


Saya mungkin bukan orang yang paling sedih dengan kepergian kamu, ada banyak orang lain yang hatinya lebih terluka, yang kehilangannya lebih dalam.

Saya pastikan juga bukan orang yang paling mengenal kamu. Ada teman-temanmu yang lain, yang mengenalmu lebih lama. Mereka yang lebih memahamimu, mengetahui rahasiamu, dan segala alasan dibalik keputusan-keputusanmu yang tidak pernah kamu ceritakan.

Tapi perkenalan kita yang singkat, dan cara pergimu yang dahsyat, menjadi wasilah bagi saya dan banyak sekali orang untuk merenung sejenak tentang betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Sungguh apa yang kita kenang darimu adalah kebaikan. Keceriaan dan energimu yang tidak ada habisnya. Kecerdasan yang membuatmu selalu bisa diandalkan. Usiamu boleh muda, tapi pribadimu dewasa. Kamu ibarat perekat dan pelunak suasana.  

Ada dan tidak adanya kamu memberikan banyak sekali hikmah. Kami disini sudah ikhlas karena kamu ditakdirkan pulang lebih dulu. Semoga di surga nanti, kita bisa berkumpul lagi.


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un



Salam,
Mbak Venes

1 comments:

Novya Ekawati mengatakan...

innalillahi wa innaillaihi roji'un, turut berduka cita ya mbak