Selasa, 27 Februari 2018

Hidup Tanpa Target

“Saat ini gue lagi di tahap nggak punya target apa-apa sih”

Kurang lebih, kalimat itulah yang saya ucapkan beberapa jam yang lalu dalam suatu obrolan bersama beberapa teman di meja makan. Entahlah, saya nggak tahu apa mungkin ini ciri-ciri penuaan yang membuat semangat berprestasi menyusut. Secara usia, umur saya masih muda, walau udah bukan abg sih, tapi terlepas dari ketidaktahuan saya soal jatah umur yang Tuhan kasih untuk saya, usia produktif saya juga masih panjang banget.

Achievement lock or unlock, rasanya sudah tidak terlalu penting lagi.

Yang terjadi adalah, in term of career, pendidikan dan pencapaian, saat ini ingin saya lepaskan semuanya. Bener-bener hidup untuk detik ini, menikmati apa yang ada di depan mata, mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan, tanpa terlalu merisaukan yang terjadi di kemudian hari. Berusaha memberikan yang terbaik untuk kondisi saat ini, bukan karena ingin yang lebih baik di masa depan, tapi karena sudah semestinya usaha terbaik itu dilakukan.

Keinginan seperti ini tentunya bukan serta-merta terasa, tapi hasil dari rangkaian kejadian yang sering membuat saya terkesima sendiri.

Apa yang dulu sekali pernah terbayang, benar-benar dikabulkan Tuhan setelah bahkan keinginan tersebut sudah saya kubur dalam.

Apa yang benar-benar saya harapkan dan doakan, tidak dikabulkan oleh Tuhan lewat cara dan jawaban yang manis.

Apa yang tidak pernah saya bayangkan, menjadi sesuatu yang benar-benar saya usahakan dan Tuhan kabulkan.

Pengalaman-pengalaman ini yang membuat saya jadi mikir, “Yaudahlah ya, apa yang ada sekarang, jalanin aja sebaik-baiknya, sambil didoain. Insya Allah jalan kebaikan akan terbuka, dan nanti juga akan tahu harus gimana”

Pikiran itu juga yang membuat saya nggak terlalu ngoyo lagi. Dari dulu udah ingin sekali berhenti sok tahu tentang apa yang paling baik untuk diri sendiri. Kayaknya baru sekarang bisa memahami apa itu pasrah, kenapa pasrah itu penting, dan bagaimana kepasrahan itu berhubungan langsung dengan ketenangan dan pertolongan Tuhan. Yah, memang ada hal-hal yang perlu proses panjang dulu sih baru bisa beneran paham.

Sekarang, kalau pun ada target, biarlah target itu menjadi rahasia saya bersama Tuhan. 

Ada satu lagi pemahaman baru yang Tuhan anugerahkan untuk saya, jika harus ada target dalam kehidupan yang sementara ini, targetnya haruslah besar dan abadi, dan target terbesar itu hanya satu: Surga. 
Untuk target yang satu ini, tanpa kompromi selama sisa hidup saya, saya harus memperjuangkannya, apapun caranya.

Stay positive ya J.

Salam,
Venessa Allia

P.S: Tulisan ini ditulis di salah satu kamar di Wisma PPSDM Aparatur (dulu disebut sebagai Pusdiklat Geologi), kenapa saya bisa ada disini juga bagian dari skenario Tuhan yang bikin saya terkesima. Nanti pada waktunya saya cerita yaah. 

4 comments:

Merisa Putri mengatakan...

ga banyak org yg dianugrahi kemampuan membaca hikmah lho mba ... mudah2an kita selalu dibuka mata hati mata batin atas semua hikmah dr takdir yg kita dapati ya ... aamiin .. salam kenal 😉

Venessa Allia mengatakan...

Aamiiin. Salam kenal juga Mbak Merisa. Thank you banget sudah main-main kesini :)

Ayu Welirang mengatakan...

Kalau kata satu frasa Latin, "Amor Fati!" :D

octyvz mengatakan...

Keren banget <3