Kamis, 22 Juni 2017

It's A Wrap!

Haaiiii!! 
Udah 3 hari laptop ini mati setelah sebelumnya hampir setiap hari dinyalain. Hari ini buka laptop bukan untuk ngerjain tesis, tapi untuk ngasih tau ke dunia kalau:

TESIS GW SUDAH SELESAI! SEBENTAR LAGI WISUDA!!

Sekolah lagi adalah bab tersendiri dalam hidup gw, dan ngerjain tesis adalah subbab terpanjang dalam bab ini. Beneran deh, kalau cuma kuliah-ujian-kuliah-ujian doang, gw rela kuliah sampe post doc sekalian, tapi ngerjain tugas akhirnya itu yang pusing dan nggak santai. Tapi alhamdulillah bisa selesai juga. Teman-teman, percayalah berkah Ramadhan itu nyata adanya. Gw bener-bener ngerasain, hehehe. Awalnya, ragu-ragu untuk maju sidang periode ini, soalnya deadline-nya ketat banget dan gw merasa tidak ada energi untuk ngejar deadline tersebut. Terus singkat cerita, saat ketemu dosen pembimbing untuk izin nggak jadi maju sidang, eeeh dia malah nggak ngizinin :D. Malah dikasih motivasi untuk maju sidang aja, kata beliau "saya jarang-jarang nih kayak begini, biasanya anaknya mau maju sidang, tapi saya nggak kasih. Kalau kamu sayang nggak maju sekarang karena selama ini progresnya cepet. Udah maju aja, biar nanti pas lebaran kalau ditanya "kapan sidang?", bisa jawab "udah sidang". Ahahaha bapak nggak tau aja, pertanyaan "kapan" paling malesin saat lebaran bagi saya adalah bukan "kapan sidang", tapi "kapan" yang lainnya :p. Yah, singkat cerita obrolan dengan beliau waktu itu efektif meningkatkan semangat gw untuk "lari sedikit lagi karena garis finish udah kelihatan :)" Ah thanks a lot pak!.

Keajaiban Ramadhan lainnya terjadi di H-1 sebelum sidang, dimana dosen penguji yang gw khawatirkan dari setelah Seminar 1 (fyi, gw merasa mental breakdown setelah Seminar 1 karena merasa dibantai habis, hahaha), beliau tidak bisa jadi penguji gw karena harus keluar kota. Syalalalala. Beneran ajaib banget rasanya, karena H-2 gw masih ketemu beliau, gw bilang ke beliau kalau berkas sidang gw udah gw taro di ruangannya. Dia sudah mengiyakan. Gw sudah pasrah. Tiba-tiba besok paginya, temen gw whatsapp ngasih tau kalau beliau ke luar kota. Dengan polosnya dia bilang "Kak, doa kak venes diijabah nih, si ibu keluar kota". Terus gw bengong aja baca whatsappnya, sambil habis itu rasanya pengen sujud syukur, hehehe. Entah mengapa gw menganggap ini berkah Ramadhan, pertolongan Allah :). Apalagi kalau inget jadwal sidang gw yang lebih cepet dari waktu yang diajukan. Gw ngajuin sidang tanggal 13 Juni, terus jadinya malah tanggal 8 Juni. Gw udah minta mundurin, eh pembimbing gw gak bisa. Yaudah aja gw pasrah. Hingga akhirnya H-1 sidang, begitu tau ada perubahan di line up dosen penguji gw, rasanya gw malah bersyukur sidangnya dicepetin jadi tgl 8, hihihi. Masih ada kemudahan-kemudahan lain juga, termasuk sidang 2 jam yang ternyata tidak semenakutkan yang gw bayangkan. Nggak semua pertanyaan bisa gw jawab, bahkan ada yang salah jawab. Tapi secara keseluruhan menurut gw, gw bisa menguasai sidang tersebut dengan baik. Revisi tetap ada, tapi bisa diselesaikan, hingga Selasa, 20 Juni yang lalu, gw berhasil menyerahkan ini:
Nggak tau kenapa selesai ngerjain tesis rasanya lebih puas dari ngerjain TA. My masterpiece. Semoga bermanfaat. Semoga jadi amal jariyah. Amiiin

Ngomong-ngomong soal revisi, ada satu pelajaran penting yang gw dapet banget dari proses mengerjakan tesis ini. Gw nggak inget pernah mengerjakan sesuatu yang digempur sama kritik dan revisi sebanyak ketika mengerjakan tesis. Ada saat-saat dimana gw merasa "duh kok gw stupid banget yaa". Ada juga suatu titik dimana gw merasa kayaknya yang gw tulis udah bener semua, tapi teteep ajaa ada kurangnya. Hahaha. Gw bukan orang yang pay more attention to detail, apalagi perfeksionis, Tapi proses mengerjakan tesis ini nampaknya berhasil meningkatkan standar ketelitian dan kesempurnaan pekerjaan gw. Sebenernya waktu dijalanin rasanya lebih banyak kesel dan capeknya, tapi sekarang gw bisa paham kalau itu semua adalah konsekuensi dari pilihan gw untuk sekolah lagi. Atas nama cita-cita dan hasrat mengembangkan diri, dua tahun lalu gw memutuskan untuk kembali ke sekolah, dan semua rasa lelah, pusing, kesal yang dirasakan selama prosesnya, sebenarnya cuma tanda kalau gw sedang berkembang. Jadi mustinya gw bersyukuuuur :)

Beberapa orang pernah bilang kalau S1 di ITB itu lebih susah dari S2nya. Buat gw nggak seperti itu. Kalau buat gw, S2 di ITB lebih banyak kasih pelajaran. Entah efek gwnya yang lebih dewasa dalam menjalani kuliah ini atau emang prosesnya yang sulit. Resign kerja dan masuk sekolah lagi dengan semua ketidakpastian masa depan, mungkin bukan keputusan yang bisa dipahami semua orang. Di tengah perjalanan gw menyelesaikan sekolah ini pun gw sempat kepikiran “gw ngapain sih sekolah lagi?”, tapi terus gw inget lirik lagu Kunto Aji “Ingatlah mimpimu, yang kau kejar dulu, jangan layu, jangan kau ragu-ragu sekarang” (Pengingat - Kunto Aji). Insya Allah, I am on the right track :). 

Gw termasuk orang yang percaya bahwa setiap kejadian dalam skenario hidup manusia itu bersifat unik, spesifik, disesuaikan dengan “desain” orang tersebut. Makanya gw nggak percaya ada orang yang hidupnya 100% sempurna, yang ada orang yang pintar menyembunyikan kesedihan atau orang yang jago bersyukur. Dan dengan segala desain yang Allah tetapkan pada diri gw, gw merasa mengerjakan tesis adalah ujian yang menantang. Jutaan orang udah ambil kuliah master. Ribuan orang ambil master di ITB. Sebanyak itu pula orang-orang sudah mengerjakan dan menyelesaikan tesis. Harusnya menyelesaikan ini semua tidak jadi terlalu istimewa ya? Tapi bagi gw, bisa menyelesaikan ini semua sesuai target adalah sebuah prestasi tersendiri. Rasanya pengen nepuk-nepuk bahu sendiri lalu bilang “goodjob Allia!”. Gw banyak belajar dari seluruh proses S2 dan mengerjakan tesis ini. Bukan cuma soal keilmuan yang berkaitan Life Cycle Assessment (topik tesis gw), tapi jauh lebih dari itu. Untuk siapapun di luar sana yang sedang mengerjakan tugas akhir, gw ingin sharing tentang refleksi yang gw dapat dari keseluruhan proses ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil. Ada tiga hal yang gw pelajari:

  1. Apapun obstacle yang gw temui, boleh bikin gw lelah dan istirahat, tapi gw nggak boleh berhenti. Karena berhenti adalah saat tugas sudah selesai, bukan saat tugas ini buntu atau kepala pusing. Silahkan istirahat, tapi jangan kelamaan karena pekerjaan ini juga tidak akan “selesai dengan sendirinya”. Keep moving forward, Insya Allah ada jalan J
  2. Tugas akhir itu selalu tentang perjuangan mengalahkan diri sendiri. Nggak usah peduli dengan pekerjaan orang lain. Nggak usah terganggu dengan pencapaian yang lain. Karena menurut gw dalam menyelesaikan tugas akhir, yang harus dikalahkan adalah ego diri sendiri. Malas, takut, khawatir, ragu-ragu, nah itu adalah musuh utama yang memperlambat speed kerja kita. Takut ketemu dosen pembimbing? Gw juga ngalamin bangeeet. Deg-degan nggak jelas tiap mau bimbingan. Takut yang udah dikerjain nggak disetujuin. Takut ganti judul. Pokoknya takut segala rupa. Tapi masalahnya ya gw musti bimbingan. Keadaan bisa makin parah kalau gw nggak bimbingan dan gw tidak akan menghasilkan progres apapun kalau nggak bimbingan. Jadi sekarang tinggal soal keberanian menghadapi apapun yang harus terjadi. Kalau harus dimarahin yaudah telen aja :D. Percayalah dosen-dosen itu sedikitpun tidak punya niat jahat, mungkin mereka cuma mau mengajarkan mahasiswanya apa yang disebut dengan tough love, hehehe. Dan ternyata setelah sekian kali bimbingan, gw jadi makin yakin kalau ketakutan itu hanya ada di pikiran sendiri aja, hahaha. Kalau kata ceramahnya Aa Gym "jangan suka mendramatisir masalah, jadi nelangsa karena pikiran yang dibuat sendiri". Hahaa waktu pertama kali denger ceramah itu rasanya nampol banget :D. 
  3. Nggak semua hal bisa kita kontrol. Jadi untuk hal-hal yang diluar kekuasaan kita, sudahlah daripada pusing, percaya ajaaa. Percaya pada diri sendiri, percaya pada pihak-pihak yang membantu, percaya pada dosen pembimbing, percaya pada proses yang dilalui dan lebih dari itu semua, percaya sama pertolongan Tuhan :)

Hmm..tapi gw sadar sih, bisa nulis tiga point diatas juga karena sudah menyelesaikan ini semua. Waktu ditengah proses juga rasanya up and down. Bersyukur banget punya banyak teman baik yang mau dicurhatin kalau lagi lelah J.

Agustus 2015, gw memulai semua konsekuensi yang harus gw tanggung dari keputusan untuk sekolah lagi. Insya Allah Juli 2017, bab “Allia ambil S2” akan tamat, dan berganti dengan cerita baru lainnya. Bukankah setelah selesai satu urusan kita harus bersungguh-sungguh untuk urusan yang lain? Minta doanya yaaa. Semoga ilmu ini berkah, semoga jadi jalan dakwah, jadi jalan rezeki (jalan jodoh juga termasuk didalamnya :p), semoga jadi jalan untuk bisa menjadi khalifah yang lebih baik di muka bumi. Ammmiinn.

Ohiyaaa, ibarat pemenang Grammy Award, gw ingin bilang terimakasih untuk semua pihak yang udah membantu gw selama 2 tahun ini. Nggak mungkin banget bisa menyelesaikan ini semua sendirian. Mustahil. Gw akan selalu ingat semua proses dan kebaikan orang-orang, supaya gw sadar untuk tidak boleh tinggi hati. Please, untuk siapapun di sekitar gw, kalau suatu hari merasa gw malah jadi sombong karena udah beres S2, Anda dipersilahkan jedotin kepala saya ke tembok, biar saya sadar lagi.

Terimakasih sudah berkenan membaca. Maafin kalau redaksionalnya nggak bagus, antar paragraf nggak koheren. Ini bener-bener tulisan spontan, ngeluarin isi hati dan isi kepala J

It’s a wrap baby, it's a wrap!!


Salam,

Venessa Allia

1 comments:

Annisa Maulida mengatakan...

Neeeessss aaaaa selamaat yaaah.
Thx tulisannya, gw bener2 lagi maju mundur buat sekolah lagi, padahal dah keterima. Mweee
Lagunya kunto aji jleb juga ya. Inget mimpi aja kali ya

Sekali lagi selamaaat semoga ilmu nya berkah, dan terus bermanfaat bagi orang lain.