Minggu, 04 September 2011

Nightmare Traffic

Gw menulis ini bukan karena moment musibah yang dialami Bang Ipul Jamil yang ramai diberitakan di televisi. Gw menulis ini lebih karena pengalaman yang gw rasakan sendiri. Saat ini gw sedang berada di Kota Padang, salah satu kota (yang menurut gw) terkenal di Indonesia. Semenjak dua tahun lalu gw bisa dan berani nyetir mobil, kalau gw mudik ke Padang, gw beberapa kali dipercaya sebagai sopir keluarga untuk jalan-jalan di dalam kota (in case bokap atau kakak gw capek, atau gak ada sopir lagi). And you know what, traffic in this city is a super nightmare.

Gw berani bilang kalau lalu lintas di Bandung dan Jakarta masih lebih baik daripada lalu lintas kota ini. Nyetir di Jakarta dan Bandung paling stress karena macet. Sementara di Padang, menurut gw, stress di jalan raya terjadi bukan karena banyaknya jumlah kendaraan yang menimbulkan kemacetan seperti yang terjadi di kota-kota maju. Berdasarkan pengalaman gw selama ini, ke-stress-an di jalan raya terjadi karena kedisiplinan masyarakatnya dalam memanfaatkan fasilitas umum yang masih sangat kurang (ini pendapat gw secara umum berdasarkan pengalaman dan penglihatan loh ya). Mobil seenaknya ngebut, nyalip ga pake etika, motor ditengah jalan lambat-lambat, gak pakai helm atau sabuk pengaman, berentiin penumpang seenak jidat, parkir pinggir jalan udah tau jalan sempit, orang jualan seenaknya sampe nutupin jalan, klakson sesuka hati (berisik mampus), dan berbagai tindakan tidak terpuji lainnya. Semua itu terangkum menjadi suatu kombinasi kondisi jalan raya paling mematikan yang pernah gw alami. Macet karena jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan ruas jalan emang bikin stress, tapi ga sampe bunuh orang kan? Sementara dimanapun juga berlalu lintas tanpa otak, tanpa etika, tanpa kedisiplinan dan kesabaran, bisa bikin orang wafat dan bikin stress orang yang berhasil hidup.

Gw merasa, secara umum kemajuan masyarakat di suatu daerah bisa dilihat dari bagaimana mereka berperilaku di jalan raya. Berdasarkan sekian banyak pengalaman yang gw rasakan, maaf-maaf aja nih, bukan bermaksud menghina (no hard feelings people), tapi beneran deh, kota ini masih jauh dari maju. Bokap gw sering nyuruh gw untuk lebih banyak sabar kalau nyetir di Padang. Walaupun tetep makan ati, gw berusaha sabar sebagaimana yang bokap sarankan, kenapa begitu? Karena begitulah yang orang-orang "sadar etika jalan raya" harusnya lakukan.

Semoga tulisan ini bisa sedikit memotivasi siapapun yang membacanya (termasuk gw sebagai penulisnya) untuk lebih sadar etika dalam memanfaatkan jalan raya. Yang butuh cepet bukan diri sendiri. Yang pakai jalan juga bukan cuma diri sendiri. Ingat kesalahan yang dilakukan di jalanan umum bisa bikin kita dan/atau orang lain terbunuh. Tunjukan kalau diri ini adalah orang yang berpendidikan dengan memanfaatkan jalan raya dengan sabar dan disiplin. Jangan nunggu dimarahin polisi. Anggep aja polisi ga ada. Polisi juga kadang-kadang suka speechless dan gak tau harus gimana ngeliat kelakuan pengguna jalan raya (no offense ya pak/bu polisi).

Just change the attitudes guys.


Salam sopir handal tapi sopan

Venessa Allia


2 comments:

Andriani Oktadianti mengatakan...

pengalaman yang sama juga gw rasakan kalo gw lagi mudik ke palembang nyes. itu masih mending di dalem kota, coba kayak gw yg nyetir MENUJU palembang (lintas sumatera), stok kesabaran umat manusia amat sangat diuji.

yah mau gimana lagi nyes, kalo kata bapak gw semua orang pake jalan raya dari kaya-miskin, berpendidikan-tidak. jadi kita yg mengaku berpendidikan ya harus paling sabar. tetap semangat jadi supir keluarga! salam jong sumatran! ;)

Venessa Allia mengatakan...

Sepakat nti, kita yang mengaku berpendidikan harus lebih sabar.

Salam Jong Sumatran :)