Tampilkan postingan dengan label #puisisaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #puisisaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2018

Penolong

Dear my self,

sadarilah bahwa,

kamu tidak bisa mengendalikan semuanya sehingga melepaskan itu jauh lebih baik,

lebih sehat untuk jiwa dan raga,

dan pahamilah bahwa terlalu banyak berpikir hanya akan membuat hidup jadi sulit.

Sudahlah, sudah jelas kok.

"Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu"







Salam,
Venessa Allia

Minggu, 04 Februari 2018

Untuk Hati Yang Lain


Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lembut.
Hati yang mudah menangisi dosa,
serta mudah tersentuh kebaikan,
juga mudah merasakan yang manusia lain rasakan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang kuat.
Hati yang tahan digempur omongan,
serta teguh pada niat baik,
juga keras menolak apa yang Pemilik hati tidak inginkan.

Aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lapang.
Hati yang sanggup bersabar,
serta dipenuhi prasangka baik,
juga selalu ingat keberlimpahan.

Terakhir, aku berdoa kepada Tuhan untuk hati yang lain.
Hati yang melengkapi hati ini.
serta yang jatuh pada hati ini.
juga yang menangkap jatuhnya hati ini.

Aku berdoa kepada Tuhan, saat ini, ketika jutaan butir hujan turun ke bumi dan ditangkap oleh malaikat-malaikat yang turut mendengar doa-doaku.
Semoga Allah, Tuhan pemilik hati setiap insan mengabulkan.

Aamiin.


Salam,
Venessa Allia








Kamis, 23 November 2017

Sekedar Mengeluh Saja


Aku suka waktu berjalan lambat.
Tapi tidak saat ini.
Jika ini masih terasa begitu berat,
Mana bisa kubilang iman sudah kuat.
Aku ingin meloncati waktu, namun aku tak berdaya.
Aku ingin tiba di puncak tanpa harus menyusur bukit, hampa

Ketika kutahu bahwa langit dan bumi diciptakan dalam 6 hari,
seketika kupaham bahwa
Tuhan sedang mengajarkan aku untuk bersabar.
.
.
.
Dalam kesabaran, bolehkah aku sekedar mengeluh saja?



Minggu, 22 Mei 2016

Tidak Pernah Sedikit Tahu


Kemana pikiran ini akan membawaku pergi
Jauh yang terlalu jauh
Susah payah kutarik kesadaranku kembali kesini
Ke rebahan, kasur dan kenyataan

Aku dan pikiranku
Mengarang kisah
Memudarkan iman
Mematikan

Badai yang bergemuruh di benak ini
Bahkan mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti
atau merajut skenario yang aku sukai
Padahal siapa aku

Aku dan pikiranku tidak pernah sedikit tahu

Minggu, 13 Maret 2016

Teduh


Ketika manusia terjebak dalam kompleksitas standar yang dibuatnya sendiri, ternyata disitulah sumber penyakit hati. Ketika pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna dan nilai sudah berhenti ditanyakan, melainkan berganti kepada seruan-seruan keinginan. Maka mudah sekali setan-setan jahat merasuk dan membuat diri sejatinya makin terpuruk. 

Pengembara yang pergi sejauh-jauhnya pun, hatinya tetap harus pulang, supaya tidak hilang arah kebenaran. 
Ingatkan aku untuk pulang teman
Ingatkan aku untuk kembali kepada pilihan yang benar
Ingatkan aku untuk tetap menanam bekal kebaikan
Ingatkan aku bahwa biarpun mulia, tetap saja aku seorang makhluk

Ternyata tidak ada hidup yang berkelok-kelok, yang ada adalah hati dan pikiran yang tak tentram.
Teduh, teduhlah.
Bukan langit di luar, tapi kalbu di dalam.
Supaya ringan langkah kaki menapak, berlari atau berjalan, syukuri  dan susuri hidup.


sebuah renungan pagi

Salam,
Venessa Allia




Minggu, 29 November 2015

Rumah

Kau sebut apa bata-bata tinggi itu?
Aku menyebutnya rumah
Kau sebut apa pohon-pohon lebat itu?
Aku menyebutnya rumah
Kau sebut apa suara berisik itu?
Aku menyebutnya rumah
Kau rasakan keramahan itu?
Itulah kehangatan rumah.

Tempatku kembali pulang disaat tidak ada lagi yang rela mengizinkanku tinggal
Tempat kaki ini menapak dan sulit sekali untuk berpindah pijak.
Tempat hasrat ini mengalir diiringi lusinan ilusi gila.
Tempatku hidup dan mencintai kehidupan.


Rumah ini pastilah hanya peristirahatan sementara, tapi ini adalah surga bagi mereka yang diizinkan Tuhan untuk memilikinya.

Minggu, 14 Juni 2015

Bayang-Bayang


Mengapa aku selalu ragu?
Padahal ada Dia yang selalu tahu.
Mengapa aku selalu rindu?
Padahal nikmatnya tak bisa kutipu.
Aku yang mudah digoyang angin.
Dimakan pasir.
Dijatuhkan.
Dirobohkan.
Mataku yang gampang menjadi samar.
Suaraku yang dibungkam.
Padahal cukup padanya aku berlindung.

Padahal cukup kuluruskan saja niatku.
Lalu biarkan bayang-bayang sekedar menjadi bayang-bayang.